28 Mar 2018 Amar Ar-Risalah Sosok

Banyak sekali nama penulis hebat yang tak kita kenal kini karena satu dan lain hal. Salah satunya Joesoef So’uyb, penulis hebat generasi awal negeri ini yang fotonya saja pun tak disimpan internet.

SAYA mengenal kisah para Khalifah Rasyidah, orang-orang yang teradil dan terjujur sepanjang zaman, pertama kali waktu kecil dulu melalui penuturan Joesoef So'uyb. Waktu itu saya tidak tahu siapakah Joesoef atau adakah kisah-kisah itu fiksi semata, atau nyata.

Caranya menuturkan kisah teramat menarik hati saya. Ia dengan piawai, sekaligus pilu, mengisahkan detik-detik terbunuhnya Khalifah Utsman oleh para demonstran, dan selanjutnya huru-hara yang  terjadi pada masa Khalifah pengganti beliau, Ali bin Abu Thalib.

Mulanya, ia paparkan gundah hati Khalifah Ali mengurai bara api yang muncul di tengah umat. Ia kisahkan pada saya, bagaimana munculnya Syiah, Murjiah, Khawarij, dan pada gilirannya, Muktazilah.

Waktu itu saya tak berpikiran apa-apa. di luar sana, saya mendengar banyak orang saling menyesatkan dan saling mencela. Padahal mereka beribadah, dengan tata cara dan kepada Tuhan yang sama. Pena Joesoef tak berhenti sampai di sana.

Ayah saya membelikan lagi terbitan lanjutan dari kisah itu, kisah Daulah Umayyah di Damaskus dan Andalus. Dengan terbitan dari Bulan Bintang bertarikh 80-an itu, saya terhenyak, betapa keragaman aliran adalah hal yang niscaya.

*

Sekarang zaman beredar. Lewat belasan tahun setelah saya membaca buku-buku Joesoef yang ditulisnya dengan bahasa Melayu-Medan tahun 30-an itu. orang-orang saling menerkam.  Ke mana saja mereka pergi, mereka memegang seutas tali sumbu yang mudah terbakar dan meledak.

Di media sosial, ramai orang berdebat tentang sesat, tahdzhir, dan bidah. Mereka membawakan argumen sejarah. Argumen-argumen itu bagi saya asing; mengapa argumen itu, dari peristiwa yang sama dalam kehidupan para Khalifah, digunakan untuk saling menyalahkan, sementara kesimpulan itu tak saya dapatkan sama sekali dari tuturan Joesoef, yang sangat saya hafal?

Orang ramai membahas Syiah. Padahal dari Joesoef saya tahu bahwa syiah adalah sebuah anasir politik bagi memperkuat kedudukan sang Khalifah Ali untuk menjalankan keadilan di dunia yang karut marut kala itu.

Suatu ketika, saya menemukan sebuah buku, terbitan Badan Bahasa. Isinya, berkaitan dengan sebuah roman Medan yang menjadi aliran utama sastra kelas bawah pada masa lampau. Judul roman yang dibahas, adalah Elang Emas.

Elang Emas berkisah tentang seorang tokoh yang hilir mudik lari menghindari kejaran pemerintah; atau kejaran para penjahat dan meloloskan diri dengan trik-trik yang musti dipecahkan pihak berwajib. Kiranya, tidak sehebat Pacar Merah Matu Mona, tetapi dari potongan kisah yang saya baca, hebat betul Elang Emas itu.

Pada bab-bab selanjutnya, buku itu memastikan nama Joesoef sebagai pelopor kisah detektif Indonesia. Kemudian, saya terkejut. Bukankah ini Joesoef yang sama, yang mengajari saya baca tulis sejarah dengan sederhana itu?

Kemudian dari bahasan mengenai roman Elang Emas yang terbit pada 1930-an itu, saya menemukan literatur lain mengenai roman karya Joesoef, berjudul Derita. Roman ini mengisahkan situasi di sebuah desa yang menolak kehadiran sebuah partai Islam dan sekaligus tokoh Islam. Masalahnya, penolakan ini bersifat adat dan kebiasaan masyarakat.

Pengarang, hendak bicara pada kita, bahwa jangan mimpi merdeka kalau orang masih berdebat tentang agama, tentang agama orang kota dan agama orang desa!

Sontak, 1940 itu, berbagai kalangan membicarakan tulisan itu. Betapa kagetnya mereka setelah mengetahui, bahwa yang menulisnya adalah seorang ulama muda bernama Joesoef So'uyb!

Ulama muda ini menarik perhatian kalangan populer waktu itu. Kalau orang-orang--sebut saja sastra betulan atau sastra serius--terhenyak-henyak dengan manifesto gelanggang, maka orang-orang papa negeri kita membaca Roman Medan.

Joesoef So'uyb adalah orang pertama yang mengembangkan cerita detektif dengan bahasa melayu, dengan tokoh utama Elang Emas yang menentang Belanda. Tentu kita pisahkan dulu imajinasi sastra pop dan picisan di zaman metropop ini dengan sastra yang disebut "murahan" atau "picisan” di zaman dulu.

Karena, yang disebut "murahan" pada zaman dulu adalah mereka yang "dihargai sepicis" oleh Belanda, karena salah satu isinya membangkitkan perlawanan orang-orang kecil dengan bahasa yang mudah dan ringan!

Tantangannya adalah, bagaimana membuat orang yakin bahwa melawan penjajah adalah cara yang benar dengan bahasa seringan-ringannya. Dan, Joesoef berhasil.

*

Dari buku-buku itu; kemudian saya bertanya-tanya. Selain Buya Hamka dan Ali Hasjmy, orang yang mengembangkan penulisan sejarah dalam bentuk sastra pada zaman itu, hanyalah Joesoef So'uyb. Setidaknya, itulah yang saya catat dari berbagai potongan literasi tentang beliau.

Saya memburu jawaban dari pertanyaan ini: betul, ia adalah seorang sastrawan dengan bahasa roman Medan. Akan tetapi, mengapa ia menunjukkan pemahaman yang kuat tentang peristiwa dalam sejarah islam? Siapa dia?

Joesoef, adalah seorang muslim yang luar biasa. Semasa sekolah, ia lulus dengan ijazah takhasus agama Islam. Ia sendiri memiliki minat khusus kepada perbandingan mazhab dan terbilang ahli di zamannya.

Ia menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Turki Utsmani yang besar, runtuh pada 1924 saat ia berusia 8 tahun. Ia saksikan bagaimana kepiluan umat Islam ditinggal rumah besarnya. Ia saksikan pula umat Islam yang ada di Nusantara ini, setelah ditinggal Khalifah dan Kekhalifahan, gagap memandang kemajuan dunia.

Ia yang lahir pada 1916 ini, menyaksikan jatuhnya logika umat Islam waktu itu. Mereka melihat perbankan Barat dan bingung mendefinisikannya. Mereka memandang filsafat, dan gagap menghadapinya. Mereka memandang pers a la Barat dan terlongong-longong menyaksikannya.

Zaman apakah ini? Bagaimana orang-orang itu memandang zaman ketika produk Barat adalah sesuatu yang ‘ajib? Tahun-tahun 30-an hingga 50-an inilah, lahir kebesaran sosok Joesoef yang paripurna sebagai sastrawan, ulama, sejarawan, sekaligus jurnalis islam yang hebat. Orang yang mendalami karya Joesoef mungkin sulit mendeteksi ke mana keberpihakannya pada dua kutub islam yang ada kala itu.

Di sini, Joesoef sebagai ulama mencoba mengambil jalan tengah. Tapi, jalan tengah inilah yang membuat beliau kelak akan menderita berbagai tuduhan. Menarik mengetahui fakta bahwa pemikirannya tentang Islam, sebagaimana pada bidang sastra, tidak memihak golongan manapun.

Ia tidak mengharamkan bunga bank konvensional. Ia juga yakin bahwa Nabi Isa memang wafat secara harfiyah. Di sisi lain, dalam perkara tauhid, ia begitu terpengaruh ajaran Muhammad Abduh, termasuk sebagaimana Abduh juga yakin bahwa terbelahnya bulan dan masih hidupnya Nabi Isa adalah perkara yang mustahil.

Tetapi, nanti kita akan melihat bahwa sebagai ulama, sastrawan ini menulis belasan buku yang kelak akan meluruskan jalan bagi kehidupan islam mengejar ketertinggalan zaman. Itulah warisan besar Joesoef.  Setelah Indonesia merdeka, ia mendapatkan peluang belajar lebih jauh. Dalam sebuah kesempatan menuju Inggris, ia membeli sebuah buku besar: Historian's History of The World.

Kelak, dengan caranya sebagai seorang sastrawan dan penulis cerita detektif, ia menuliskan kembali kisah 4 Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Dinasti Umayyah di Andalusia dengan mengharu biru.

Kekuatan penulisan sejarah Islamnya begitu terpengaruh dengan romantisme. Tetapi, melalui dirinya, berkembang suatu cara baru menulis sejarah dengan bahasa Indonesia:

Menulis sejarah, dengan bahasa sastrawi Indonesia. Pada bahasa-bahasa bangsa lain, mungkin ini sudah umum. Tapi bahasa ini, kala itu barulah berumur sekian puluh tahun.

Kita saksikan, bagaimana dalam buku sejarahnya, orang bisa menangis jika membaca kisah terbunuhnya para khalifah.  Dari serial detektif Elang Emas, bentuk-bentuk Roman Medan, dan kemudian penulisan serial Kekhalifahan Islam, Joesoef turut menyempurnakan cara orang menulis dengan bahasa Indonesia.

Joesoef, membentuk saya menjadi orang yang memahami bahwa perbedaan adalah hal yang biasa. Ia seorang muktazil, tetapi menggambarkan Syiah sebagai kerabatnya sendiri, ahlus-Sunnah sebagai ayah kandung sejarah kita.

Bukankah itu sebaik-baiknya karya seorang sastrawan?


Amar Ar-Risalah
Pegiat sastra dari Jakarta. Pernah bergabung dalam antologi cerpen Rumah (2014), Amarah (2012), dan Desas-Desus Tentang Kencing Sembarangan (2016). Saat ini tinggal di Depok.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara