Sebuah puisi lahir dari proses yang berbeda-beda pada tiap penyair. Terkadang kita bisa menemukan sedikit gambaran proses itu dengan membaca puisi-puisinya dan mencoba menapak tilas.

Mula-mula ia (penyair) khusyuk merenungi dirinya sendiri. Menggali yang masih tersembunyi di balik timbunan diri. Sesekali ia menoleh ke masa lampau, meneropong jauh ke masa depan, dan menyimak segala peristiwa yang ditangkapnya hari ini. Lalu, apa-apa yang telah ditemukan dari sekian proses tersebut ia rumuskan melalui ungkapan-ungkapan menakjubkan. Begitulah kerja kepenyairan. Hingga akhirnya puisi hadir dalam bentuknya yang nyata: teks.

Pernyataan di atas tentu terlalu general bila dinisbatkan pada semua kerja kepenyairaan. Setiap penyair pasti memilih jalan proses kreatifnya masing-masing. Akan tetapi, setidaknya kita bisa menyebut demikian pada kerja kepenyairan Muhammad Ali Fakih. Karena galibnya puisi-puisi yang terkumpul dalam buku Di Laut Musik memang memantulkan nada pencarian jati diri penyairnya.

Sejak awal menulis sajak hingga sekarang ini, tema kegemaranku adalah tentang pencarian jati diri dalam relasinya dengan Tuhan—singkatanya: sajak-sajak eksistensial,” ujar Cak Fakih—sapaan akrab Muhammad Ali Fakih—dalam epilog buku puisi pertamanya ini.

Alunan nada pencarian jati diri dalam puisi-puisi Cak Fakih sangat nyaring sekali. Gemanya hampir bisa terdengar di saban bait puisi penyair pemilik motor pitung warna biru ini. Kadang ia bimbang, kadang begitu yakin. Pertanyaan-pertanyaan emosional berulang kali muncul, tapi entah ditujukan pada siapa pertanyaan itu; mungkin pada dirinya sendiri atau mungkin pula pada apa yang dicari. Sehingga dialog-dialog yang ikut bermunculan sepanjang puisi penyair muda yang juga sarjana fisika ini terasa seperti monolog.

Lalu apa faedah membaca puisi yang hanya banyak menampung kegelisahan penyairnya sendiri dan abai pada persoalan sosial? Sekali lagi setiap penyair telah menentukan jalan prosesnya masing-masing, termasuk gaya berbagi (pesan) pada pembacanya. Yang jelas, membaca puisi-puisi dalam buku Di Laut Musik seperti kita memasuki medan diri kita sendiri. Di mana akan kita dapati bahwa diam-diam kita juga telah lama bersitegang dengan diri kita sendiri.

Sejauh ini kita telah banyak mengamini disikursus yang menyatakan: dibandingkan karya sastra lain, puisi lebih banyak memilih jalan simbol untuk menyampaikan pesan-pesannya. Puisi tak ubahnya sebuah taman tempat bunga-bunga metafora tumbuh dengan begitu suburnya. Oleh karena itu, puisi tidaklah monotafsir. Puisi membuka banyak pintu tafsir. Kesubjektivitasan penyair dalam puisi-puisinya pun lebur dalam keuniversalitasan pembacanya. Sehingga, dari puisi yang mengusung tema-tema eksistensial kita juga bisa mengetam sebuah pembelajaran.

Subjektivitas yang universal tersebut bisa kita temukan seperti dalam puisi Cak Fakih “Aku Ingin Tahu Segalanya”:

Aku ingin tahu segalanya:

bangkai bintang di sudut langit

denyut semesta di nadi setiap orang

atau jawaban atas pertanyaan purba:

“Dari bahan apakah kebahagiaan tercipta?”

Bait puisi di atas mengingatkan saya pada ajaran Hindu yang diterangkan Huston Smith dalam bukunya Agama-agama Manusia, bahwa yang benar-benar kita (manusia) ingin adalah menjadi ada, menjadi tahu, dan menjadi bahagia. Rasa ingin tahu dan bahagia sangat manusiawi, karena siapa pun pasti tidak mengingingkan dirinya bodoh apalagi sengsara.

Dengan pengetahuan kita bisa survive untuk terus mengaktualisasikan diri di kehidupan ini. Tidak akan didapat kebahagiaan itu jika kita tak mampu bertahan. Maka sampai detik ini masih kita lihat bagaimana orang-orang menyesaki sekolah. Atau juga mereka yang masih memegang teguh tradisi; pergi ke gua-gua untuk bersemadi. Semua lelaku itu tentu demi kebahagiaan yang setiap saat kita inginkan. Tapi pernahkah kita berpikir bahan yang digunakan untuk mencipatakan sebuah kebahagiaan. Mengapa kita selalu mengimpikannya? Apakah kebahagiaan tercipta dari emas dan intan? Atau bunga? Atau mungkin juga perempuan berambut ikal?

Di akhir puisi ini Cak Fakih pesimis keingintahuan pada segala jawaban dari pertanyaan yang menumpuk dalam kepalanya bisa didapatkan. Penyair yang mengidolakan Muhammad Iqbal, Rabindranath Tagore, dan Omar Khayyam ini seolah sadar bahwa kemampuan manusia begitu terbatas. Mari kita simak dua bait terakhir puisi ini:

Aku ingin tahu bagaimana langit mengembang

Bagaimana peradaban dibangun

di atas jutaan mayat dan sebuah manifesto

Bagaimana dunia tumbuh

dan menelusup ke dalam mimpimu

 

Aku ingin tahu segalanya

Tapi aku tak tahu

Bagaimana pun

aku tak akan pernah bisa tahu

Puisi-puisi yang terkumpul Di Laut Musik ini seakan saling berkait-kelindan; sahut-menyahut antara satu puisi dengan puisi lainnya. Bahwasanya kita tidak akan menemukan sebuah jawaban final atas sebuah pertanyaan ditegaskan juga dalam puisi yang berjudul “Kau Boleh Melahap Apa Saja”:

Kau boleh melahap apa saja:

bunga, pisau atau puisi

Kenyataan toh hanya sebuah tafsir

Kau boleh menangis dan tertawa

Waktu toh akan bertepuk tangan

 

Dunia adalah cermin retak

dan kebenaran adalah kau

yang berdiri di depannya

tak pernah mampu

menyelesaikan solek dan duka cita

Dunia didefinisikan sebagai cermin retak. Hal itu menegaskan bahwa dunia menyimpan begitu banyak dimensi sebagaimana banyaknya bagian pada sebuah cermin yang retak. Apabila kita berdiri di depan sebuah cermin yang retak, kebenaran diri kita yang terpantul ke dalam cermin tersebut tidak akan sama persis di masing-masing bagiannya. Maka kenyataan diri kita hanya sebatas tafsir; seberapa besar masing-masing  retakan cermin sanggup menampung pantulan diri kita.

Sungguh pun demikian, kebenaran di dunia ini juga relatif. Tergantung dari perspektif apakah kita melihat kebenaran itu. Jika sebuah kebenaran mengandung kemutlakan, maka sudah lama kehidupan ini selasai. Tak ada lagi dialektika. Dan tentu kehidupan ini akan menjadi sangat menoton dan membosankan. Tetapi semua itu tidak akan pernah terjadi.

Dalam puisi “Dunia Botol Arak”, Cak Fakih kembali seperti menguatkan ungkapan di dalam puisi lainnya. Begini katanya, Dunia lahir dari tanda tanya/ dan tumbuh di botol arak. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah berhenti bertanya. Mencari jawaban apa yang ada di balik labirin-labirin hidup ini. Sebab pertanyaan beserta jawabannya terasa seperti arak; memabukkan dan kita akan ingin meneguknya berulang-rulang.

Kuatnya dorongan rasa ingin tahu dalam diri manusia membuat kita mengenal yang namanya impian. Impian untuk terus hidup, impian menjadi tahu, impian menjadi bahagia, dan sebagainya-sebagainya. Saking banyak impian yang menyala bayang-bayang kebahagiaan dan duka cita sulit dibedakan sehingga merangsang jatuhnya bulir-bulir air mata.

Dalam puisi “Burung-Burung Air Mata” Cak Fakih memotret beribu-ribu impian yang kerap kali menciptakan kondisi dilematis dalam diri manusia. Ketika menyadari bahwa mimpi-mimpi kita berisiko menjauhkan dari Sang Pencipta, kita dipaksa berjudi dengan diri kita sendiri. Konsekuensinya kita harus kehilangan satu di antara keduaya. Dengan idiom-idiom puitik yang menggetarkan Cak Fakih begitu bernas menarasikan sebuah situasi pelik dalam diri manusia. Di mana situasi tersebut tidak menutup kemungkinan siapa saja akan mengalaminya.

Berikut ini saya akan mengutip secara lengkap puisi “Burung-Burung Air Mata”:

Burung-burung air mata

terbang dari dan hinggap ke dalam

bayang-bayang mimpi dan khayal

 

Bulu-bulunya putih oleh duka

Kedua sayapnya

dikepakkan rindu dan cinta

 

Mimpi mendaki langit

langit memanjat khayal

mencari dasar palung batinku

 

Burung-burung air mata

dengan paruhnya yang gemetar

menelan seluruh ingatan

dan menyenandungkan doa-doa

 

Ada ribuan riwayat minta dibaca

Ada ribuan surat minta dialamatkan

Dan hanya ada satu dari dua dahan

yang mesti dipilih untuk bersarang:

aku atau Tuhan

Kesadaran transendental sebagaimana tertuang pada puisi “Burung-Burung Air Mata” merupakan salah satu fitrah manusia. Seliberal apa pun seseorang di kerak batinnya pasti menyimpan sebuah kesadaran akan adanya zat Yang Maha Agung. Oleh sebab itu manusia disebut sebagai “homo-religius”. Maka saat impian duniawi merentangkan jarak antara manusia dengan Tuhannya, niscaya ia akan merindukan asal-muasalnya tersebut.

Cak Fakih—yang mewarisi darah Madura tulen—dalam konten puisinya tidak jauh berbeda dengan para seniornya seperti Abdul Hadi W.M., D. Zawawi Imron, Ahmad Nurullah, dan Kuswadi Syafi’ie. Meski memiliki gaya ungkap yang berbeda-beda, tetapi semangat religiusitas dan sufistik dalam puisi-puisi mereka memang sangat kental. Entah karena pengaruh siosio-kultur masyarakat Madura yang religius, atau lamat-lamat mereka saling mempengaruhi.

Sepanjang 100 halaman Di Laut Musik, 51 judul puisi anggitan Muhammad Ali Fakih mensugesti pembacanya untuk juga mengaji dirinya sendiri. Mendengar jiwa Fakih sekaligus jiwa kita mengalun Di Laut Musik. Sebagai penutup, mari kita simak puisi yang saya pikir merepresentasikan kemustahilan jiwa manusia akan hanya dihuni kesunyian. Karena di dalam jiwa yang sunyi sesungguhnya juga berdiam suatu persoalan.

 

Di Laut Musik

 

Di laut musik

aku ombak

Berdebur

Memanjang

Mencari diam

yang hilang

di dalam engkau


Mohammad Ali Tsabit
Mahasiswa Studi Agama-agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah menjadi loper koran. Aktif di Komunitas Kutub.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara