Masih ada banyak bagian penting dalam historiografi kesusastraan Indonesia yang belum benar-benar terjelajah. Salah satunya adalah perihal sastra majalah.

MEMBICARAKAN Sastra Indonesia Modern tidak bisa dilepaskan dari peran aktif media massa terutama majalah-majalah atau jurnal berkala yang tumbuh bak jamur di musim hujan setelah pengakuan kedaulatan RI. Istilah "Sastra Majalah" sendiri pertama kali dikenalkan Nugroho Notosusanto dalam artikelnya yang terbit di Majalah Kompas No. 7, Juli 1954.

Dalam tulisannya yang berjudul "Situasi 1954" itu Nugroho menyoroti maraknya penerbitan cerpen dan puisi di majalah-majalah seiring dengan munculnya perdebatan mengenai krisis kesusastraan Indonesia yang bermutu. Peran Balai Pustaka sebagai penerbitan milik pemerintah banyak disoroti sebagai salah satu penyebab krisis tersebut. Kurangnya dana dan kepemimpinan Balai Pustaka yang melempem dianggap memicu beralihnya para penulis untuk mengirimkan karya-karyanya hanya pada media massa seperti majalah dan koran. Karena dimuat di majalah, maka karya-karya sastra berbentuk cerpen dan puisilah yang bermunculan sesuai dengan kebutuhan media tersebut.

Menurut Ernst Ulrich Kratz dalam bukunya yang berjudul Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah, walaupun istilah “sastra majalah” muncul di tahun 1950-an, tetapi penerbitan kesusastraan Indonesia dalam majalah sudah muncul sejak awal abad ke-20. Karya-karya sastra Melayu Tionghoa dan bacaan liar sudah muncul dalam berbagai penerbitan media massa yang beraneka ragam bentuk dan jenisnya. Pada tahun 1924, di Surabaya terbit majalah bulanan 'Feuilleton' (dari bahasa Perancis, merujuk pada roman yang dimuat berangsur, cerita bersambung) yang khusus menerbitkan novel-novel pendek antara 40 sampai 60 halaman. Majalah ini hanya bertahan 3 bulan, tapi kemudian menginspirasi munculnya majalah-majalah Melayu Tionghoa lainnya seperti Padang Boelan, Penghidoepan, Hiboerankoe, Boelan Poernomo, Tjerita Roman dll. Sebelumnya di tahun 1918, Student Hidjo karya Mas Marco terbit secara bersambung di Surat Kabar Sinar Djawa (kemudian berganti nama menjadi Sinar Hindia). Sajak karya Mas Marco yang terkenal berjudul "Sama Rata dan Sama Rasa" juga diterbitkan oleh Sinar Djawa.

Pada tahun 1923, Balai Pustaka menerbitkan majalah "Pandji Poestaka", namun baru di tahun 1932 majalah ini memiliki ruang khusus untuk memuat cerpen dan sajak  dengan slogannya "Oentoek Memadjoekan Kesoesasteraan". Ketika kekuasaan Jepang runtuh di tahun 1945, majalah ini berganti nama menjadi Pantja Raja yang bertahan terbit hingga tahun 1947. Pada bulan Juli 1933, edisi perdana Poejangga Baroe terbit.

Didirikan oleh Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisyahbana, Poejangga Baroe adalah majalah sastra dan kebudayaan pertama yang hadir dengan semangat nasionalisme Indonesia.

Majalah ini bertahan hingga tahun 1942 seiring dengan runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia. Majalah ini kemudian bangkit lagi di tahun 1948 dan akhirnya tenggelam untuk selamanya di tahun 1954 dan digantikan oleh Majalah Konfrontasi yang terbit di bulan Juli 1954. Pada kisaran tahun 1932 hingga 1933, Majalah berbahasa Belanda bernama Timboel yang kemudian terbit dalam bahasa Melayu sebelum akhirnya bubar, juga banyak memuat karya-karya sastra milik Sanoesi Pane dan Amir Hamzah.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, majalah-majalah baru bermunculan terbit seperti Api Merdeka, Revolusioner, Arena, Bintang Merah, Hikmah, Mimbar Indonesia, Siasat, Minggoe Merdeka, Minggu Pagi dll. Majalah-majalah tersebut kebanyakan adalah majalah berita umum, namun juga memuat beberapa karya sastra, kebanyakan dalam bentuk cerita bersambung, cerita pendek dan puisi. Ruang khusus untuk kesusastraan dan kebudayaan dipelopori oleh majalah ARENA yang terbit di Yogyakarta antara tahun 1946-1947 dengan ruang kebudayaannya yang diberi nama 'SIPONGANG'. Dari sekian banyak majalah yang terbit di masa revolusi itu, hanya beberapa saja yang mampu bertahan hingga masa perang usai, contohnya adalah majalah Siasat dengan ruang kebudayaannya yang terkenal bernama "Gelanggang".

Hampir kebanyakan majalah yang terbit setelah tahun 1950 memuat karya sastra, terutama cerita pendek. Dari sekian banyak majalah yang memuat karya sastra di kisaran tahun 1950-1965, ada satu majalah yang mengkhususkan diri pada penerbitan cerita pendek. Majalah tersebut bernama KISAH yang diterbitkan oleh penerbit INTERPRESS milik Sudjati S.A. Selain menerbitkan majalah KISAH, penerbit tersebut juga menerbitkan majalah lainnya yakni Roman, Sarinah, Kontjo, Kuntjung dan Kampret yang juga banyak memuat cerita pendek. Sudjati S.A. dalam kata pengantar penerbitan perdana majalah Kisah menjelaskan:

"Bulanan tjerita2 pendek di tanah air kita adalah barang yang baru semata, bahkan dinegeri Belanda sendiripun belum ada, ketjuali di Inggris dan Amerika. Oleh karena itu tidak usah diherankan kalau ada pertanyaan: Apakah Indonesia sudah sanggup menerbitkan berkala demikian?”

Nampaknya usaha penerbitan majalah KISAH adalah bentuk respon dari perkembangan kesusastraan Indonesia setelah perang kemerdekaan. Hal tersebut nampak jelas dari pernyataan Sudjati mengenai mengapa majalah Kisah mengkhususkan diri pada cerita pendek:

"...bahwa bentuk tjerita pendek adalah bentuk jang ternjata paling produktif dalam lapangan kesusasteraan kita sekarang".

Majalah Kisah terbit perdana di bulan Juli 1953 dengan memuat 2 cerpen terjemahan dan 11 cerpen asli, salah satunya cerpen karya Idrus berjudul "Parlemen Baru Telah Dibuka Dirumah Saja" dan cerpen karya Rijono Pratikto berjudul "Pada Sebuah Lukisan".

Pada penerbitan awal, redaksi hanya dipegang oleh Sudjati sebagai pemilik majalah dibantu oleh M. Balfas, baru pada edisi kedua di bulan Agustus tim redaksi diisi oleh H.B. Jassin, Idrus dan M. Balfas. Kemudian tim redaksi bertambah gemuk dengan masuknya D.S. Moeljanto.

Menurut Nugroho Notosusanto, Majalah Kisah adalah majalah yang unik di dalam sejarah pers Indonesia, karena mengkhususkan diri pada penerbitan cerpen. Keunikan dari Majalah ini adalah tidak ditujukan untuk meningkatkan mutu kesusastraan Indonesia. Sudjati menyatakan:

"...bahwa penerbitan bulanan KISAH ini bukanlah mau menundjukkan suatu tingkatan tertentu dalam rangka kegiatan kesusasteraan kita, ia terbawa oleh pertimbangan-pertimbangan akan kemampuan dan kesediaan masjarakat sendiri."

Meskipun digawangi oleh tim redaksi yang telah memiliki nama, cerpen-cerpen yang dimuat oleh Majalah Kisah memang tidak terlalu mengejar standar tinggi sastra. Tak banyak nama penulis besar atau yang sudah terkenal sejak jaman sebelum atau semasa perang kemerdekaan yang cerpennya pernah dimuat di majalah Kisah, kebanyakan yang muncul adalah nama-nama baru. Nama-nama yang disebut Ajip Rosidi sebagai sastrawan angkatan baru, seperti Ajip Rosidi, Rendra, S.M. Ardan, Sobron Aidit, Koesalah Toer, Herman Pratikto, Ramadhan KH dll. Pramoedya Ananta Toer yang sedang naik daun di tahun 50-an menurut catatan Ulrich Ernst Kratz hanya 3 cerpennya yang dimuat di majalah Kisah sepanjang hidupnya. Idrus, salah satu penulis cerpen yang terkenal sejak masa perang kemerdekaan karya-karyanya juga pernah dimuat dalam majalah tersebut. Namun menurut A. Teeuw, cerpen-cerpen karya Idrus tersebut telah menurun kadar sastranya dibandingkan cerpen-cerpennya yang ditulis semasa perang.

Demi kebutuhan internal Majalah, maka cerpen-cerpen yang dimuat hanya yang sesuai dengan standar majalah Kisah, tidak terlalu panjang dan berat. Menurut H.B. Jassin dalam tulisan pengantar 2 tahun penerbitan Majalah Kisah, ada 2 faktor yang tidak memungkinkan bagi para penulis dalam menyelesaikan karya-karya yang lebih panjang, layaknya roman-roman yang bermunculan dimasa sebelum perang kemerdekaan.

Faktor pertama adalah perubahan dalam masyarakat yang cepat, dimana kondisi yang serba cepat tidak memungkinkan pembaca untuk membaca secara detil. Jassin menyatakan bahwa: "Degupan djantung kota lebih tjepat dari dahulu dan orang tak sempat membatja roman jang pandjang, apalagi ditulis dengan gaja jang memerlukan pemusatan perhatian seperti jang telah mendarah daging sekarang ini."

Faktor kedua menurut Jassin: "Karena tak ada orang jang mau membatja roman jang pandjang penerbit merasa gentar mentjetak barang jang tak laku begitu."

Berkurangnya minat penerbit untuk mencetak buku-buku sastra karena angka penjualannya yang terus menurun, membuat banyak penulis memilih menulis cerpen yang lebih ringan dan cepat menghasilkan uang. Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya yang berjudul "Keadaan Sosial Pada Pengarang Indonesia", maraknya penerbitan buku-buku "Tjabul dan Sensasi" memicu berkurangnya minat pembaca sastra, karena keadaan sosial yang semakin berat membuat para pembaca sastra memilih membaca buku-buku yang lebih ringan untuk lari dari keadaan sehari-harinya. Selain juga semakin menurunnya peran Balai Pustaka dalam mempelopori penerbitan buku-buku sastra, yang berujung pada semakin minimnya karya sastra yang muncul di era pertengahan tahun 1950-an. Pram menambahkan, meskipun banyak majalah yang memuat cerpen, namun itu tidak mampu mengangkat derajat kehidupan para penulis, karena minimnya honor yang diberikan oleh penerbit majalah kepada para penulis yang karyanya telah dimuat dan hal tersebut dianggap Pram juga memicu menurunnya mutu sastra Indonesia.

Kejayaan majalah KISAH pada akhirnya juga harus berakhir. Akibat semakin menurunnya angka penjualan, sejak penerbitan di bulan April 1957, majalah KISAH mengalami gagal terbit. Namun pihak penerbit tak berputus asa, mereka kembali mencoba menerbitkan majalah baru yang khusus memuat cerita pendek. Pada bulan November 1957, Sudjati S.A dibantu oleh Nugroho Notosusanto, D.S. Moeljanto dan Ekana Siswojo menerbitkan Majalah TJERITA guna mengisi kekosongan setelah gagal terbitnya majalah KISAH. Majalah TJERITA kembali meneruskan tradisi yang telah dibangun oleh majalah KISAH dengan lebih banyak memuat karya-karya penulis yang baru mulai menghasilkan karya. Namun dari kebanyakan nama yang karya-karyanya dimuat, di kemudian hari menjadi penulis-penulis yang produktif, seperti Budi Darma, Bokor Hutasuhut, Gerson Pyok, Titie Said, B. Soelarto, Bastari Anin dll.

Dari segi perwajahan dan illustrasi, majalah Tjerita juga jauh lebih bagus daripada majalah KISAH. Menurut catatan Ernst Ulrich Kratz majalah TJERITA hanya terbit hingga tahun 1959, itupun hanya terbit satu edisi. Penerbitan Majalah KISAH yang kemudian disambung dengan penerbitan Majalah TJERITA adalah cikal bakal terbitnya Majalah SASTRA, yang muatannya lebih sarat dibandingkan dua majalah pendahulunya.


Dodit Sulaksono
Dodit Sulaksono adalah seorang pedagang buku sekaligus seorang ayah. Sosok penyayang sekaligus pemarah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara