Penerbitan dan penjualan buku-buku Marquez di Indonesia adalah kisah tersendiri. Ada banyak sekali karyanya yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan. Yang menarik: media sosial memiliki peran penting dalam penyebarannya.

MENYEBUT NAMA MARQUEZ, berarti kita tidak sedang sekadar membicarakan nama Gabriel Jose de la Concordia sebagai salah satu sastrawan besar penyabet Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1982 dengan sederet karya fiksi seperti: One Hundred Years of Solitude (1967), Chronicle of a Death Foretold (1981), Love in the Time Of Cholera (1985), The General in his Labyrinth (1989) atau karya-karya non-fiksi semisal The Story of a Shipwrecked Sailor (1970) dan Clandestine in Chile (1986), tetapi juga membicarakan Marquez sebagai satu dari sekian nama yang punya ceruk pasar luas dalam lintas niaga buku.

Nama tersebut adalah nama yang tidak hanya menjanjikan kualitas naskah sebagai teks, tetapi juga produk untuk menjadikan setiap apa yang ditulisnya memiliki nilai jual bagi penerbit dan mendapat sambutan hangat dari pembaca dunia. Tercatat sejak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Gregory Rabassa (1970), Cien anos de soledad telah terjual lebih dari sepuluh juta eksemplar dan menjadi salah satu karya Marquez yang paling ikonik.

Di Indonesia sendiri, buku-buku Marquez telah banyak diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Beberapa judul di antaranya: Tumbangnya Seorang Diktator (Masri Maris, YOI, 1992), Selamat Jalan Tuan Presiden (Bentang Budaya, 1999), Kisah Sedih Erendira yang Lugu dan Neneknya yang Kejam (Mahdi Husin, Akubaca, 2001), Badai Daun (BenTeng, 2001), Caldas (Rizadini, LKiS, 2002), Klandestin di Chile (Akubaca, 2002), Sang Jenderal Dalam Labirinnya (Jalasutra, 2005), dan Love in the Time of Cholera (Dian Vita Ellyati, Byzantium, 2010).

Khusus untuk Seratus Tahun Kesunyian, novel ini bahkan pernah diterbitkan tiga penerbit yang berbeda. Yang pertama adalah Penerbit BenTeng, lalu penerbit Bentang Budaya (Max Arifin, 2003) dan terakhir penerbit Bentang Pustaka (Nin Bakdi Sumanto, 2007).

Hanya saja, semua itu terbit jauh sebelum media sosial (Facebook, Twitter, Instagram) ramai sebagai lalu lintas alternatif niaga buku yang memungkinkan penerbit berinteraksi, mengukur pasar, dan menjual langsung produk yang akan terbit. Karya-karya Marquez bisa dibilang diterbitkan dengan ‘tanpa perhitungan’; dicetak lebih dari seribu eksemplar tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya ceruk pembaca Marquez.

Pada akhirnya, judul-judul tersebut sekadar lalu-lalang tanpa benar-benar dilirik secara serius. Para penerbit merasa tidak mendapatkan keuntungan dari produksi karya-karya penulis asal Kolombia tersebut kecuali kepuasan ideologis.

Buldanul Khuri selaku pemilik penerbit Bentang Budaya yang pernah menerbitkan dua judul buku Marquez menuturkan bahwa, “Seratus Tahun Kesunyian (Max Arifin, 2003) dan Selamat Jalan Tuan Presiden bukan produk unggulan. Penerbitan mereka adalah salah satu upaya Bentang Budaya memunculkan nama-nama sastrawan dunia. Penjualan untuk dua judul itu masih kalah jauh jika dibandingkan buku-buku Kahlil Gibran.”

Catatan tambahan dari data di salah satu toko buku Jogja, judul-judul seperti Kenangan Perempuan Penghibur yang Melankolis hanya terjual 10 eksemplar dalam kurun waktu Mei-Desember 2009, Chronicle Of a Death Foretold (Kematian Yang Telah Diramalkan) hanya terjual 15 eksemplar dalam kurun waktu Februari-Desember tahun 2010, sedangkan Cinta Sepanjang Derita Kolera terjual 19 eksemplar dalam kurun waktu Agustus 2010-April 2011.   

Penyebabnya, menurut dugaan saya, adalah pemajangan buku di toko yang berjangka waktu pendek. Selain itu, juga distributor buku yang sepenuhnya mendistribusikan buku ke toko tanpa melirik jaringan atau komunitas alternatif lain. Hal itu mengakibatkan karya-karya Marquez tak bisa beredar secara maksimal kepada pembaca yang memang menginginkannya.

Imbas dari hal itu kemudian segera terlihat. Pada tahun 2010-2013, judul-judul seperti Perempuan Mimpi-Mimpi (Mahdi Husein, Sumbu, 2002) atau Caldas (LKiS, 2002) diobral dengan harga murah dan tersedia melimpah di salah satu pameran buku.

Barulah sekitar tahun 2012-2013 saat media sosial semarak sebagai salah satu opsi lintas niaga buku, karya-karya Marquez kembali bermunculan menemukan momennya. Karya-karya yang sebelumnya sulit dicari tampak kembali dengan harga yang berbeda. Buku-buku yang sebelumnya diobral dengan harga murah berubah menjadi sedikit lebih mahal disebabkan antusiasme pembeli yang berani bersaing untuk mendapatkannya.

Niaga jual beli buku online pada akhirnya memberi ruang bagi buku-buku yang lama ‘tertidur’ di gudang, salah satunya buku-buku Marquez. Orang-orang memperbincangkan karyanya sekaligus mencari, bahkan tak jarang membelinya dengan harga tinggi. Bukan saja sebagai bentuk penghargaan terhadap Marquez sebagai salah satu penulis kaliber dunia, melainkan juga disebabkan mulai jarangnya buku-buku Marquez yang diterjemahkan.

Sejak meninggalnya Marquez pada 17 April 2014, hampir belum ada lagi karya Marquez terbit atau diterbitkan ulang. Sebelumnya beredar kabar, bahwa terjemahan Tia Setiadi atas naskah berjudul Living to Tell the Tale akan diterbitkan salah satu penerbit Jakarta, tapi sampai kini terjemahan itu tak kunjung muncul.

Pasar dan pembaca hampir tidak mau tahu bagaimana sebuah naskah diproses dan kemudian terbit. Setelah kejemuan akan buku-buku yang mungkin tidak membuat mereka tertarik, atau karena kerinduan akan satu penulis besar, mereka hanya berharap akan hadir naskah terjemahan yang bukan saja layak dibaca melainkan juga layak dikoleksi.

Kegamangan itu dijawab penerbit Circa pada tahun 2016. Sebagai salah satu penerbit baru alternatif yang fokus pada tema-tema jurnalisme, Circa merilis Kisah-Kisah Penculikan (News Of a Kidnaping) sebagai terbitan perdananya. 

Sebagaimana tercatat, jauh sebelum Marquez dikenal sebagai seorang sastrawan, ia memulai karir sebagai wartawan untuk harian Bogota, El Espectador dan belakangan bekerja sebagai koresponden asing di Roma, Paris, Barcelona, Caracas dan New York City. Hal itu pulalah yang memungkinkan Marquez menuliskan salah satu karya penting pada tahun 1996: News Of a Kidnaping.

Buku itu merupakan karya nonfiksi Marquez yang menggemparkan. Kisahnya mendedah penculikan sepuluh orang terkenal Kolombia, terutama jurnalis dan politisi, pada awal tahun 1990-an yang kemudian dijadikan sandera oleh kartel narkoba Medellin.

Tidak berselang lama, Circa kembali memunculkan Marquez lewat Memories of My Melancholy Whores (terbit sebagai Para Pelacurku yang Sendu). Buku ini adalah cerita tentang seorang tua yang mengidamkan hadiah ulang tahun kesembilan puluh bersama seorang perawan.

Dari dua judul di atas, nampak bahwa Marquez masih menjadi andalan penerbit untuk mengangkat penerbitnya agar lekas dikenal. Solihin, salah seorang yang membantu mendistribusikan buku-buku tersebut, mengakui bahwa dua buku itu sangat laku. Apalagi buku kedua, lebih kencang daripada yang pertama. “Mungkin karena lebih tipis dan terjangkau secara harga,” begitu tebaknya.

Pada titik ini, diakui atau tidak, semua yang pernah menerbitkan Marquez menikmati betul ceruk pasar yang basah itu. Ia adalah nama besar yang “bisa dijual”. Baik atau tidaknya kualitas baru akan disadari terkemudian, orang hanya tahu itu Marquez, dan karenanya perlu segera dibeli.

Jadi jangan heran apabila di bulan-bulan mendatang buku-buku Marquez masih akan terus bermunculan dari para penerbit (alternatif). Baik berupa judul yang sama dalam tampilan berbeda, ataupun memunculkan judul yang memang belum pernah diterbitkan.


Kredit Gambar : listelist.com
Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara