09 Aug 2017 Cep Subhan KM Sosok

Dia adalah salah satu nama besar dunia sastra Indonesia yang tak mungkin hilang sampai kapanpun. Dia memiliki banyak jasa yang tak mampu diberikan banyak tokoh besar lain. Dia: HB Jassin.

HB JASSIN: siapa yang tak kenal nama itu?

Kita mengenalnya sebagai sosok dengan banyak peran heroik yang natural, dari mulai kegigihannya mengangkat penyair Chairil, membela Hamka dalam kasus tuduhan plagiasi, membela Kipanjikusmin dalam kasus cerpen “Langit Makin Mendung”. Sebagian besar dari kita kini mungkin memang mengenalnya hanya lewat deretan buku bunga rampai yang sudah menjadi buku wajib baca sastra Indonesia di mana namanya tertulis sebagai penyusun: Pujangga Baru, Kesusasteraan Indonesia di Masa Jepang, Gema Tanah Air, Angkatan 66.

Di luar itu, Jassin ternyata menulis beberapa puisi, salah satunya ini:

Alam, apa bedanya di dalam kenangan

Orang yang mati dan orang yang hidup

Yang mati dan hidup keduanya

Hidup dalam kenangan?

Puisi itu berjudul Dalam Kenangan, satu dari 15 puisi karyanya yang dibukukan bersama dengan 10 cerpennya dalam satu buku setebal 88 halaman berjudul Darah Laut. Puisi itu bisa dikatakan merupakan puisinya yang paling indah dibandingkan puisi-puisinya yang lain dalam buku yang sama: dalam pengantar buku tersebut Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa dalam karya kreatifnya Jassin—yang dengan jeli melihat dan menjunjung tinggi kebaruan puisi Chairil Anwar—sama sekali tidak berminat terhadap pembaruan.

Maka kita temukan cerpen-cerpen dan puisi-puisinya sebagai karya yang lahir dari “keinginan untuk mencatat dan sedikit memberi komentar tentang apa yang terjadi di sekitarnya”. Tak ada tendensi berkenes-kenes membungkusnya dengan ragam perangkat sastrawi, tak ada kecenderungan mengeksplor teknik yang tak lazim dalam merangkai kata.

Dengan kata lain: sebuah karya yang sederhana yang jika melihat bandingannya di dunia kiwari bisa kita bandingkan dengan puisi-puisi mantan presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono dalam antologi Membasuh Hati di Taman Kehidupan.

Mungkin karena itulah dibandingkan sebagai sastrawan, kita lebih mengenal Jassin sebagai seorang kritikus dan pendamping perjalanan sastra Indonesia melalui ketekunannya mendokumentasikan. Deret buku bunga rampai yang judulnya sudah disebut di awal risalah ini lahir dari ketekunannya mendokumentasikan karya-karya penulis kita sejak era Pujangga Baru sampai Angkatan ‘66.

*

Dalam pembabakan kritik sastra Indonesia, Jassin biasa dimasukkan ke dalam kritik sastra Angkatan ’45, meski sebagaimana dikatakan oleh Rachmat Djoko Pradopo, ia tetap “mendominasi” periode setelahnya sampai awal tahun 1980. Karya utamanya dalam kritik sastra tentu saja adalah empat jilid kumpulan esainya Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei yang sayangnya kini tak mudah kita dapatkan di pasaran.

Esai-esai kritik sastra Jassin adalah esai-esai yang mudah dipahami dan menyenangkan untuk dibaca. Gaya yang juga tetap dia pertahankan ketika dia membuat kata pengantar untuk antologi karya seorang penulis. Selain itu, Jassin juga seorang pengulas yang jeli. Ketika dia menulis ulasan untuk antologi cerpen Djamil Suherman, Umi Kalsum: Kisah-kisah Pesantren misalnya, dia sampai menyinggung pula hal-hal kecil—tapi memang penting—seperti penulisan “3 orang gadis” yang idealnya “tiga orang gadis” atau ketidakkonsistenan semacam pada kalimat “berbeda dengan haji Tayib atau H. Ma’ruf, haji Basuni tak pernah mengeluarkan zakat”.

Salah satu jejak Jassin yang lain adalah penamaan periodisasi kesusasteraan Indonesia modern. Penamaan yang paling populer sebenarnya mengikuti periodisasi yang disodorkan Jassin: Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ’66.

Dalam historiografi sastra kita, tentu bukan hanya Jassin sebenarnya yang mengutarakan pendapat tentang periodisasi, ada juga yang lain, termasuk Pramoedya dan Ajip Rosidi. Dengan yang disebut terakhir ini Jassin bahkan sempat “berdebat” ketika Jassin menyodorkan ide tentang penamaan Angkatan ’66. Esai perdebatan mereka—yang merupakan salah satu esai terpenting dalam dunia sastra kita—masih bisa dibaca dalam bunga rampai susunan Ajip Rosidi, Laut Biru Langit Biru.

Esai HB Jassin berjudul Bangkitnya Satu Generasi, dimuat juga sebagai pengantar bunga rampai Angkatan ’66: Prosa dan Puisi, sedangkan esai Ajip Rosidi berjudul Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia. Esai Ajip tersebut adalah semacam tanggapan untuk esai Jassin: dia menolak penamaan Angkatan ’66 dan mengajukan bantahan  yang logis atas beberapa premis Jassin tentang ciri-ciri Angkatan ’66.

Tapi periodisasi Jassin-lah yang kemudian muncul dalam buku-buku pelajaran. Hal ini tentu berimbas juga pada karya-karya para sastrawan kita yang awal mula dikenal oleh para pelajar: puisi-puisi Amir Hamzah (Angkatan Pujangga Baru), puisi-puisi Chairil Anwar (Angkatan ’45), puisi-puisi Taufiq Ismail (Angkatan ’66).  

HB Jassin, dengan demikian, dengan seluruh rintangan yang dihadapinya, telah sukses membentuk kanonisasi sastra Indonesia. Kesuksesannya didukung oleh hal yang menunjukkan ketekunannya dan tak pernah diwarisi oleh angkatan kita kini, yakni penerbitan bunga rampai karya-karya sastrawan dalam satu periode, ditambahi dengan ulasan-ulasan karya mereka termasuk pemunculan salah satu tokoh yang menonjol dari angkatan itu melalui satu buku khusus, misalnya Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45.

Salah satu contoh pentingnya penerbitan bunga rampai ini nampak ketika pada tahun 1984 Korrie Layun Rampan memunculkan sebutan untuk angkatan baru setelah Angkatan ’66-nya Jassin: Angkatan ’80. Jassin konon mendukungnya, akan tetapi sebagaimana dikatakan Korrie dalam pengantar bunga rampai Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia susunannya, pencetusan angkatan ‘80 “seakan-akan terhapus dari sejarah sastra Indonesia” karena “tidak didukung antologi karya-karya yang memperlihatkan ciri dan watak angkatan sastra tersebut” hal mana disebabkan tokoh-tokoh utama angkatan tersebut menolak penamaan Angkatan ’80.

Mungkin juga ditambah lagi karena mencari penerbit yang mau menerbitkan buku tebal semacam itu bukanlah hal yang mudah. Buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia pun misalnya yang direncanakan terbit dalam dua jilid hanya bisa kita temukan satu jilid saja, sampai kini. Jilid keduanya belum lagi terbit.

*

HB Jassin, Hans Bague Jassin, situs wikipedia berbahasa Indonesia saat risalah ini ditulis mengatakan bahwa ia lahir pada 13 Juli 1917, sementara tanggal kelahirannya yang nampaknya lebih tepat sebagaimana biasa ditemukan pada bagian riwayat hidup pengarang dalam buku-buku karyanya—dan juga, anehnya, situs wikipedia berbahasa Inggris—adalah tanggal 31 Juli 1917. Tokoh yang sepanjang hidupnya tekun merawat sastra Indonesia ini pernah disebut sebagai Paus Sastra Indonesia, sedangkan kritikus A.Teeuw menyebutnya sebagai “Custodian of Modern Indonesian Literature”.

Bagi generasi kita salah satu warisannya adalah Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Tapi Jassin bukan hanya seorang dokumentator, kritikus, sastrawan, ia juga seorang penerjemah, dan ia seorang penerjemah yang baik. Jassin menguasai banyak bahasa, ia menerjemahkan dari bahasa Belanda (misalnya karya Syahrir, Indonesische Overpeinzingen, Renungan Indonesia), bahasa Inggris (misalnya karya Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, Api Islam), dari bahasa Perancis (misalnya karya Antoine de St. Exupery, Vol de Nuit, Terbang Malam).

Jassin juga menerjemahkan dari bahasa Jerman: Also Sprach Zarathustra karya Nietzsche yang kini edisi terbarunya masih bisa kita temukan di pasaran, diterbitkan oleh Narasi dan Pustaka Promethea. Jassin konon hanya sempat menerjemahkannya sebagian, penerjemah yang lain yang dicantumkan dalam kolofon buku adalah Ari Wijoyo dan Hartono Hadikusumo. Mungkin karena itu pulalah sumber terjemahan yang dicantumkan kemudian bukan hanya edisi bahasa Jerman melainkan juga edisi bahasa Inggris terbitan Penguin.

Tapi tak ada yang lebih menggemparkan dalam hubungan antara Jassin dan terjemahan selain ketika dia menerbitkan Alquranul Karim Bacaan Mulia pada tahun 1978, sebuah terjemahan Alquran yang berbeda dari terjemahan resmi rilisan Departemen Agama. Kontroversinya bermuara pada hal yang paling mendasar di dunia terjemahan: Jassin mengakui sendiri bahwa dia tak ahli bahasa Arab, sementara bahasa Arab adalah bahasa Alquran.

Metode Jassin tentu bisa dipertimbangkan, terutama karena ia melakukannya dengan teliti dan hati-hati. Ia melakukan pembandingan dengan sangat banyak terjemahan Alquran dalam bahasa-bahasa yang dia kuasai, bahasa Belanda, Perancis, Indonesia. Selain itu dia menggunakan juga beberapa kamus bahasa Arab. Tujuan penerjemahan kitab suci itu sendiri sangat sederhana: menciptakan terjemahan kitab suci Alquran dalam bahasa sastrawi.

Selain berhasil mencapai maksudnya itu, Jassin juga berhasil menunjukkan—melalui kenyataan bahwa banyak tokoh keagamaan yang mendukungnya, termasuk Abdurrahman Wahid—bahwa beragama idealnya dilakukan dengan dewasa, bukan dengan kepicikan yang menolak segala yang baru dengan alasan yang lahir dari akal sempit dan tanpa dialog.

Pelajaran itu termasuk salah satu yang bisa kita teladani dari Jassin pada hari-hari ini, ketika agama di negeri ini terasa semakin identik dengan wajah yang berang dan mudah gusar.

*

Pada 11 Maret 2000, Jassin meninggal, empat tahun setelah dia terserang stroke. Kita mungkin teringat pada kalimat yang ditulisnya pada ujung cerpennya yang berjudul Sahabatku:

Dari Tuhan aku datang,

Dengan Tuhan aku hidup,

Kepada Tuhan aku kembali.

Semasa hidupnya Jassin mengajarkan kita banyak hal: kekukuhan memisahkan imajinasi dalam sastra dengan realitas, kearifan menerima kebaruan, keberanian melakukan hal baik meski ditentang banyak orang. Dan, satu hal yang tak bisa disangkal: wajah sastra Indonesia akan jauh sangat berbeda tanpa Jassin.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara