Citra buruk sudah menjadi sesuatu yang melekat pada video game, sama melekatnya dengan citra bahwa hal itu mengasyikkan. Benarkah memang demikian? Ataukah justru ada sesuatu yang luput seputar penilaian itu?

ADA ORANGTUA YANG membatasi anaknya bermain video game. Hal tersebut jamak ditemui karena orangtua takut anaknya mendapat pengaruh negatif dari video game.

Pembatasan itu kemudian meluas tidak hanya dilakukan orang tua, Agustus 2016 lalu rektor Universitas Ahmad Dahlan mengeluarkan surat edaran yang melarang semua dosen dan karyawan bermain Pokemon Go di lingkungan kampus UAD karena dianggap mengganggu kinerja. Aturan ini sempat memantik pembicaraan di media sosial. Beberapa waktu berselang, Imam, kepala kantor rektorat menjelaskan maksud dan tujuan dari surat edaran tersebut di acara Hitam Putih Trans 7.

Rektor UAD konsisten dengan larangan bermain video game ini. Satu tahun sebelumnya, dalam pidato sambutan di hadapan ribuan mahasiswa baru tahun 2015, Kasiyarno juga menghimbau kepada mahasiswa baru untuk fokus belajar dan melakukan penelitian. Jangan sampai terjerumus dalam dunia gelap bernama video game.

Citra video game sudah telanjur buruk di Indonesia. Tidak hanya rektor, Presiden RI ke-6 pun turut menyarankan masyarakat agar tidak kecanduan video game. Tercatat sebanyak dua kali SBY menyerukan larangan tersebut. Keduanya disampaikan dalam acara yang sama, yakni pada acara pembekalan calon perwira remaja tahun 2012 dan 2013. Pernyataan SBY ini banyak menuai protes dari para gamers, meski tak sedikit juga yang memujinya.

Hampir sebagian besar dari kita memandang bermain video game sebagai aktivitas yang buang-buang waktu, kontra produktif, malas dan sederet stigma negatif lainnya. Berkat predikat tersebut, tidak jarang seorang anak akan mencuri waktu untuk bermain vdeo game. Di kamar mandi, malam ketika mengerjakan PR, bahkan di sela-sela jam pelajaran berlangsung.

Sampai pada titik ini, ngegame tak ubahnya perbuatan dosa yang menantang dan nikmat bila dikerjakan. Kenapa video game bisa membuat orang kecanduan hingga lupa waktu? Benarkah video game hanya sebatas media untuk mengisi waktu senggang yang memiliki dampak buruk?

Buku berjudul Glued to Games yang ditulis Scot Rigby dan Richard Ryan menjelaskan secara lugas mengapa orang bisa sampai kecanduan video game. Dalam buku ini disebutkan orang bisa kecanduan video game disebabkan adanya kompetensi, otonomi dan relasi  pergaulan yang terdapat di video game. Kompetensi bisa didapatkan melalui kebiasaan. Kendali penuh didapatkan player atas tokoh yang dimainkan karena otonomi penuh yang dimilikinya dalam permainan itu. Relasi pergaulan diperoleh dari interaksi yang terjalin antar pemain. Relasi ini biasa terjadi pada player video game online. Tiga hal tersebut tidak bisa didapatkan jika menikmati lagu atau film.

Ideologame adalah buku yang diterbitkan oleh Ekspresi Buku. Dalam buku ini terhimpun beberapa tulisan para pegiat Pers Mahasiswa Ekspresi, Universitas Negeri Yogyakarta. Buku yang disusun Azis Dharma dkk ini mencoba menyajikan pandangan berbeda atas stereotip negatif yang menimpa video game selama ini.

Jika para penulis dalam buku ini berkenan, izinkan saya mengecap buku ini sebagai buku cuci otak. Buku yang akan mencuci otak anda yang selama ini memandang sebelah mata video game. Sedikitnya ada tiga poin yang membuat saya berani berkata demikian.

Pertama, penyataan Johan Huizinga yang dikutip di buku ini. Menurut sejarawan dari Belanda ini manusia adalah makhluk bermain (Homo Ludens).

Semua makhluk hidup pada dasarnya gemar bermain. Tidak hanya manusia, bahkan binatang pun melakukan aktfitas ini.

Anda pasti pernah melihat anjing atau singa berlarian saling tindih, cakar dan gigit. Tidak ada kemarahan di antara mereka. Itu semua dilakukan atas dasar kesenangan. Dari sini kita bisa lihat bahwa bermain adalah sifat alami makhluk hidup, tak terkecuali manusia. Sejak kecil, setiap dari kita pasti gemar bermain. Saya meyakini bahwa para orang tua, rektor dan SBY sekalipun pasti pernah terlibat dalam permainan. 

Kedua, video game bisa mendatangkan uang. Jika Pak Rektor jauh-jauh hari sudah mengenal Felix Arvid Ulf Kjellberg, bisa jadi ia akan mengurungkan peraturan kontroversialnya itu. Felix, sang pemilik kanal Youtube PewDiePie adalah salah satu Youtuber terkaya di dunia. Penghasilannya pada tahun 2015 mencapai 159 miliar berkat video ngegame yang diunggahnya. Mahasiswa yang di-drop out dari kampusnya di Gothenburg, Swedia ini tidak menyesal sedikit pun. Bahkan berkat hobinya itu dia sekarang bisa menjadi miliarder. Masih banyak contoh lain yang membuktikan bahwa video game bisa merubah nasib jadi lebih baik.

Gusti Raden Ajeng Nurabra Juwita atau yang terkenal dengan sebutan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu juga hobi bermain video game. Putri keempat dari Sri Sultan Hamengkubuwono X ini juga pernah bekerja di Gamloft Indonesia, yang merupakan salah satu industri video game mobile terbesar di Indonesia. Hingga kini, putri keraton ini sering mengisi waktu luangnya dengan bermain video game.

Ketiga, sarana ideologisasi. Tidak banyak yang mengira video game bisa menjadi media penyebaran ideologi tertentu. Amerika melalui video game Call of Duty: Black Ops memiliki misi untuk membunuh Fidel Castro supaya revolusi Kuba gagal. Video game bisa menjadi media paling efektif untuk penyebaran ideologi. Lebih berdampak daripada melalui buku, drama, ataupun film. Sebab, player akan terlibat langsung dalam permainan dan secara tidak sadar dia akan menjalankan perintah untuk membunuh Fidel Castro. Jika saja SBY memahami ini, barangkali dia akan meralat pidatonya dan mengimbau TNI dan Polri untuk membuat video game serupa. Tentu membasmi koruptor dan teroris bisa dijadikan sebagai misi.

Buku ini ingin menjelaskan bahwa anti-sosial dan tidak peduli lingkungan sekitar yang menjadi citra para penggemar video game bisa menimpa siapa saja.

Orang yang hobi olahraga dan baca sekalipun jika sudah sampai pada tahap sublim juga akan sampai pada posisi anti-sosial. Artinya, apapun yang digeluti, meskipun memiliki nilai moral positif, akan berdampak buruk jika sampai taraf kecanduan.


Bintang W. Putra
Koordinator Aliansi Wisuda Maret. Menggarap skripsi kalau lagi mood. Kasir Jejak Kopi. Mahasiswa nomaden Bercita-cita menjadi Hacker.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara