Buku-buku sufi selalu mendapat tempat di hati pembaca. Di dunia yang kian meriah ini, hening yang ditawarkannya adalah oase indah. Penerbit Forum adalah salah satu penerbit yang konsen menciptakan oase itu.

SUFI, TASAWUF, ZUHUD. Berada di dunia, tetapi bukan bagian dari dunia. Begitu Robert Graves, seorang novelis, penyair, dan kritikus sastra dari Amerika mengilustrasikan tentang sufi. Dan tasawuf, menurut William Chittick adalah being a good man, mendekatkan diri kepada Tuhan. Sementara zuhud, rujukan paling populer sepertinya adalah apa yang disebut Max Weber sebagai “the calling”, “panggilan” untuk menentukan arah hidup antara hedonisme, liberal, ataupun good attitude (kesalehan) dalam konsep asketisme Protestan, yang dalam Islam dipersepsikan sebagai zuhud itu.

Tentu saya tidak akan panjang lebar, runut, dan runtut untuk membahas tiga istilah di atas. Apalagi sejarah dan perkembangannya. Cukuplah yang saya nukil atas ketiganya itu menuntun kita untuk bisa memahami bahwa ketiganya memang berkait erat, terkadang tumpang tindih, tetapi berada di wilayah masing-masing. Jika harus disederhanakan, saya menarik simpulan bahwa sufi adalah pelakunya, tasawuf adalah caranya, dan zuhud adalah sikapnya. Dan, saya juga simpulkan bahwa tiga istilah ini, selanjutnya hanya akan saya wakili dengan istilah sufi saja, akan seperti mengajak kita memasuki jalan sunyi. Jalan yang menjauhi hiruk pikuk dunia tentang apa saja, dari politik dan konflik hingga bisnis dan harta benda.

Saya akan coba membahas bagaimana posisi tema sufi ini dalam dunia penerbitan kita. Data-data yang saya munculkan tentu saja bukan sajian komprehensif yang melalui proses riset panjang. Pengamatan-pengamatan parsial saja, tetapi cukuplah untuk mendapatkan gambaran. Dan gambaran umum yang tersaji adalah betapa tema “jalan sunyi” ini tak pernah sepi. Selalu meriah dalam dua dasawarsa terakhir, utamanya di periode 2000-2004 dan sempat redup sejalan dengan pergeseran tren di pasaran ke buku-buku how to, lalu menguat lagi di tiga-empat tahun terkahir ini. Buku-buku tentang tokoh-tokoh sufi dan karya-karyanya, kajian-kajian atas tokoh sufi dan atau pemikirannya oleh penulis luar maupun lokal, pun pembicaraan atas seluk beluk sufi, tak pernah kekurangan untuk kita dapatkan.  

Al Hallaj, Abdul Qodir Al Jaelani, Jalaluddin Rumi, Abu Nawas, Syekh Siti Jenar. Saya sebut lima saja dari sekian banyak tokoh sufi itu. Nama-nama itu begitu akrab di telinga kita, berikut spesifikasinya.

Al Hallaj dengan kisah tragis hukuman matinya di tiang gantungan. Abdul Qodir Jaelani dengan kemasyhurannya, dianggap wali, dan mendapat penghormatan yang luar biasa oleh pengikut-pengikutnya hingga kini. Jalaluddin Rumi dengan syair-syairnya, yang di masa kekinian menjadi trending sebagai qoute. Abu Nawas dengan kemunculannya dalam sastra epik Timur Tengah di Abad Pertengahan, Seribu Satu Malam, dan tentu saja kekocakannya. Syekh Siti Jenar, sufi dari negeri kita dengan ajaran “Manunggaling Kawula Gusti”-nya.

Tentu, sekali lagi, masih banyak tokoh sufi lainnya.

Kitab Al-Tawasin adalah karya Al-Hallaj pernah diterbitkan dalam bahasa Indonesia setidaknya oleh dua penerbit, Pustaka Sufi (2003) dan Titah Surga (2015). Kajian tentang Al-Hallaj yang yang cukup menonjol adalah yang dilakukan oleh Louis Massignon, pemikir orientalis kelahiran Prancis, yang dalam versi bahasa Indonesia setidaknya kita menemukan Diwan Al-Hallaj, diterbitkan oleh Putra Langit (2001) dan Al-Hallaj Sang Sufi Syahid, diterbitklan Fajar Pustaka Baru (2000).

Syekh Abdul Qodir Jaelani. Inilah tokoh sufi yang karyanya mungkin paling banyak diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia di kurun dua dasawarsa terakhir.  Mulai dari Tafsir Al Jilani, Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Fathur Rabbani, Sirr Al Asrar hingga kumpulan surat-suratnya. Sederet penerbit yang pernah merilis karya Abdul Qodir Jaelani di antaranya adalah Zaman, Pustaka Hidayah, Sahara Publisher, Pustaka Sufi, Diva Press, Pustaka Hidayah, Turos Publishing, dan Penerbit Forum. Buku tentang biografi, kajian karya, juga intisari pemikiran Syeh Abdul Qodir Jaelani pun tak kalah meriahnya. Di wilayah ini setidaknya ada Keira Publishing, Narasi, dan Beirut Publishing ikut memeriahkan.

Abu Nawas adalah sebuah keunikan. Ia dikenal sebagai penyair besar di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad pada 800-an Masehi. Penggalan syair yang sangat populer berikut ini konon pun adalah ciptaan Abu Nawas.

Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga.

Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.

Tapi, kekocakan dan kecerdikan telah menjadi identitasnya. Sehingga, sulit menemukan karya Abu Nawas dalam bahasa Indonesia. Yang banyak kita temui justru buku-buku a la humor dan buku-buku cerita untuk anak dengan karakter Abu Nawas sebagai tokoh yang lucu dan cerdik. Yang paling fenomel adalah Abu Nawas hasil petikan Nur Sutan Iskandar dari kisah Seribu Satu Malam yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Konon, sudah dicetak puluhan ribu eksemplar. Terbitan dengan model serupa itu dan terbitan untuk anak-anak, yakinlah ada puluhan judul dari puluhan penerbit. Saking banyaknya, saya mengkhawatirkan satu hal. Apabila kita mengenal Abu Nawas hanya dari buku-buku model petikan kisah Seribu Satu Malam dan buku anak-anak, tidak menutup kemungkinan kita akan mengira Abu Nawas hanya tokoh rekaan seperti halnya tokoh Kancil yang begitu pandemik di wilayah folklor kita.

Sementara, Syekh Siti Jenar tentu saja sebuah kekhususan mengingat ia berasal dari bangsa kita sendiri. Ada pembacaan khusus dari penulis dan penerbit kita. Sehingga, buku-buku yang mengkaji Syekh Siti Jenar, bukan karya Syekh Siti Jenar seperti Serat Pupuh, yang lebih mendapat perhatian pembaca kita. Muncullah di antaranya beberapa buku berikut. Achmad Chodjim dengan bukunya Syekh Siti Jenar: Makna “Kematian” dan Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan diterbitkan oleh Serambi; Abdur Munir Mulkhan dengan Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar diterbitkan oleh Kreasi Wacana dan Syekh Siti Jenar Pergumulan Islam-Jawa diterbitkan oleh Bentang; Prof. Dr. Hasanu Simon dengan Misteri Syekh Siti Jenar diterbitkan oleh Pustaka Pelajar; Agus Sunyoto dengan Suluk Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar,  Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar, dan Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar diterbitkan oleh LKIS; Muhammad Solikhin dengan Manunggaling Kawula Gusti Filsafat Kemanunggalan Syekh Siti Jenar dan Trilogi Syekh Siti Jenar diterbitkan oleh Narasi.

Rumi

Jika ada sosok dan karyanya yang dianggap mampu “mengembalikan” kemeriahan tema sufi di penerbitan saat ini, maka menurut saya adalah Jalaluddin Rumi. Syair-syair Rumi begitu shareable di media sosial, era yang justru memantik harapan baru bagi model pemasaran penerbitan kita saat ini. Maka hasilnya, Matsnawi Senandung Cinta Abadi yang diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M yang pernah terbit oleh Bentang di tahun 2006, terbit kembali oleh Diva Press dengan judul Masnawi Senandung Cinta Abadi di 2017. Di tahun 2000, Masnawi juga pernah diangkat oleh Gramedia yang disertai komentar dan penjelasan Anand Krishna dengan judul Masnawi: Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai langit Biru Tak Berbingkai. Masnawi  atau Matsnawi dianggap magnum opus Jalaluddin Rumi yang terdiri dari 6 jilid. Sepertinya beberapa sastrawan dan pengkaji Rumi dari berbagai penjuru dunia menyarikannya sehingga ada beberapa versi Masnawi yang tampil cukup dengan satu jilid saja. Sementara, Fihi Ma Fihi¸ karya prosa Rumi, yang pernah diterbitkan oleh Risalah Gusti (2004) dengan judul Fihi Ma Fihi; Inilah yang Sesungguhnya, saat ini diterbitkan juga oleh Penerbit Forum dengan judul Fihi Ma Fihi; Mengarungi Samudera Kebijaksanaan, cetakan pertama tahun 2013 dan oleh Zaman dengan judul Fihi Ma Fihi; 71 Ceramah Rumi untuk Pendidikan Ruhani tahun 2016.

Kajian-kajian tentang Jalaluddin Rumi pun jauh dari sepi. Beberapa contoh bisa saya sebutkan berikut ini. Rubaiyat Terlarang Rumi: Syair Terlarang Tentang Cinta, Bida’ah, dan Kemabukan (Nevit O. Ergin dan Will Johnson) diterbitkan Elex Media Komputindo, 2010; Akulah Angin Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi (Annemarie Schimmel) diterbitkan oleh Mizan, pertama kali muncul tahun 1993; Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi (Reynold A. Nicholson) diterbitkan oleh Pustaka Firdaus, 2008.

Begitulah. “Jalan sunyi” sufi ternyata gemerah, ramai di penerbitan kita. Buku-buku di atas sekadar contoh saja. Setidaknya saya telah menyebut 20-an penerbit. Penerbit-penerbit tersebut baik secara khusus maupun tidak, cukup concern menerbitkan karya dan kajian sufi. Di luar itu, ada beberapa penerbit yang sejauh pengamatan saya juga pernah dan bahkan sering menerbitkan kajian sufi, di antaranya Pustaka Jaya, Kanisius, Senja Publishing, Sega Arsy, Pustaka Prabajati, dan sepertinya masih banyak lagi.

Riah.


Wawan Arif
Penyair. Penyelia di Penerbit Forum.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara