Toko buku alternatif Lawang Buku merupakan salah satu toko buku di Bandung yang selanjutnya bergerak di bidang online saja. Sebuah oase bagi para peminat dan kolektor buku-buku lawas, antik, dan tua di dunia modern.

SORE ITU DENI Rachman agak murung. Dalam kemurungannya ia masih tetap tersenyum menyambut setiap orang yang datang dihari-hari terakhir menjelang kios bukunya yang berada di salah satu lorong pasar modern, Balubur Townsquare itu tutup. 

Beberapa kerabat dan kawan-kawannya sesama penggemar buku satu-persatu menyalami tangan Deni sambil terus melempar canda, mencoba mencairkan suasana dengan mengusir sejenis rasa yang lazimnya dialami setiap orang yang pamit hendak pergi jauh atau semacam gelisah yang diiringi ucapan-ucapan selamat tinggal. Ya hari itu, 4 Oktober 2016 adalah hari terakhir kios kecil Lawang Buku yang disewa Deni tutup. Entah dimulai sejak kapan dan entah karena alasan apa, khususnya di kota Bandung, jika ada berita tutupnya sebuah toko buku dipastikan akan diikuti oleh letupan-letupan penyesalan.

Di tengah-tengah bisingnya wajah kota Bandung dengan segala konsumerismenya yang melumer, kehadiran toko buku dirasakan sebagai suatu oase bagi para pengelana intelektual, pembasuh jiwa-jiwa yang kering akan pengetahuan, para pecinta dunia buku. Kehadirannya menjadi semacam penyembuh rohani yang bersahaja ditengah tikaman hiruk pikuk kota Bandung yang kian hari kian dirasa menjauh dari dunia aksara, dunia baca, dunia pemantik gagasan, dunia buku.

Pada medio tahun 2000-an hingga 2007-an, di kota Bandung pernah menggeliat sebuah fenomena ‘toko buku alternatif’ yang menawarkan sebuah jalan baru bagi kebangkitan literasi di kota Bandung. Tak dipungkiri, kehebohan ini lahir dari sebuah fenomena booming buku-buku ‘kiri’ terbesar sepanjang sejarah perbukuan Indonesia pasca kejatuhan Suharto pada Mei 1998, dimana buku-buku ‘aneh’ yang menawarkan aneka gagasan-gagasan segar dan baru hadir setelah puluhan tahun mampet dan terkurung.

Beberapa kelompok anak muda yang umumnya berlatar belakang aktivis mahasiswa dan para pecinta buku dari berbagai elemen kampus mulai menjajal jalan baru itu, yaitu mendirikan toko buku yang menjual buku-buku yang tak kalah ‘aneh’. Konsep toko buku yang dirintisnya pun disesuaikan dengan selera idealisme dan konsep gagasan para pengelolanya.

Disamping berjualan buku-buku tematik dengan bandrol harga buku diskon, di toko-toko buku rintisan mahasiswa itu juga sering diadakan kegiatan-kegiatan diskusi, bedah buku, temu penulis, panggung musik, pertunjukan teater, kursus bahasa asing, les menggambar, pameran seni rupa, atau membuka warung kopi kecil-kecilan. Jam operasional tokonya pun tidak dibatasi, bahkan ada yang masih buka hingga larut malam. Tidak peduli apakah pengunjung akan belanja buku atau hanya sekedar nongkrong.

Memang, setidaknya dengan cara-cara seperti itulah sebuah toko buku alternatif bisa mendatangkan pengunjung. Berangkat dari pola-pola yang khas dan spesifik itulah istilah ‘toko buku alternatif’ itupun lahir, menjadikannya pembeda dibandingkan dengan toko-toko buku besar dan mapan yang ada di kota Bandung.

Jangan bayangkan para pendiri toko-toko buku alternatif itu bermodal keuangan yang besar, jika boleh dikatakan malah bermodal cekak dan pas-pasan. Hanya berbekal semangat idealisme dan dedikasi, menjalin komunikasi dan membangun jaringan perkawanan antar sesama komunitas, dan yang pasti kecintaan kepada bukulah yang membuat gerakan toko buku alternatif itu bertahan.

Pengadaan buku-bukunya diusahakan lewat cara menjalin kerjasama dengan rumah-rumah penerbitan yang tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan kota-kota lain yang memungkinkan kerjasama itu bisa berjalan. Bentuk kerjasamanya dengan cara kredit, konsinyasi atau titip jual. Maksudnya, ada beberapa kolektor buku yang menitipkan buku-bukunya untuk dijualkan di beberapa toko buku alternatif itu.

Pola usaha pun mulai berjalan. Bisnis buku mulai menggeliat, dengan tanpa menyampingkan pola-pola khas sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi.

Hingga dalam suatu putaran waktu yang ganas, entah karena alasan manajerial atau iklim perbukuan di Bandung yang mulai tampak lesu, toko-toko buku alternatif itu kemudian rontok satu persatu. Ada yang beralasan tidak seimbangnya antara pengeluaran dan pemasukan. Beberapa toko tak sanggup lagi bertahan. Ada beberapa yang membiarkan tokonya mati, sisanya mencoba untuk terus bertahan dengan nafas yang tersengal-sengal.

*

Dalam gelombang pasang dunia buku Bandung itulah Deni berada.

Tahun 2001 merupakan tahun-tahun yang bergelora bagi Deni. Kecintaannya pada buku-buku sastra menyeretnya untuk hengkang dari kampusnya di Jatinangor menuju kota Bandung. Rumus-rumus kimia yang dipelajarinya di ruang kuliah kampus Unpad itu membuatnya suntuk. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer membuatnya terlena dan tenggelam.

Lalu, menyadari diri akan kebutuhan tambahan uang saku, Deni berfikir keras. Bermodal uang 300 ribu hasil pinjaman dari kawannya, Deni membelanjakan semua uangnya dengan membeli 20 judul buku-buku sastra di pasar buku Palasari.

Berbekal modal 20 biji buku itulah Deni mulai berjualan. Ia menggelar lapak dagangannya saban hari Minggu di pasar kaget lapang Gasibu. Pagi-pagi benar Deni harus sudah berada di lapang Gasibu, bersicepat dengan para pelapak lain. Jika tidak, tentu Deni tidak akan kebagian tempat untuk menggelar dagangannya. Luas lapaknya memang tidak seberapa, tapi disanalah tumpuan hidupnya dimulai.

Terkadang Deni tidak kuasa menyembunyikan rasa malunya ketika mulai ngampar. Perasaan gengsi itu menyelinap dalam dirinya. Tapi hidup toh tidak akan bergayung sambut jika hanya mengandalkan gengsi.

Dari ngampar buku itulah nama ‘Lawang’ dipakai Deni untuk menamai lapak bukunya. ‘Lawang Buku Beranda’ yang kemudian lebih dikenal dengan ‘Lawang Buku’ saja. Filosofinya, kata lawang dalam bahasa Sunda berarti ambang pintu, semacam labirin memasuki jagat raya pengetahuan dan wacana.

Pengalaman ngampar buku di lapang Gasibu itu memberinya sebuah kekuatan dan pembelajaran. Karena frekuensi jualannya yang hanya satu kali dalam seminggu, Deni mencoba melebarkan sayap dagangannya dengan berjualan buku di beberapa kampus di Bandung. Di dalam kampus-kampus itulah Deni berkenalan dengan banyak aktivis kampus dan pegiat literasi.

Dalam perkenalannya dengan sesama pecinta sastra, pada 2003 Deni mendirikan ‘Klab Baca Pram’ yang kegiatannya membaca dan mendiskusikan karya-karya Pramoedya Ananta Toer bersama-sama. Bersama anggota klabnya itu, Deni sempat bertemu Pram di kediamannya di Depok.

Di tahun yang sama Deni berkenalan dengan seorang pegiat literasi, Wiku Baskoro, dan mengajaknya untuk membuat sebuah agen literasi yang bernama ‘Komunitas Dipan Senja’. Bersama komunitas barunya itu Deni berperan sebagai distributor buku dan penyokong pembuatan ‘Peta Literer Bandung’, semacam cikal bakal wadah pendokumentasian dunia literasi di Bandung.

Bersama ‘Komunitas Dipan Senja’ pula Deni mendirikan penerbit ‘indie’ yang menerbitkan sebuah buku karya Sigit Susanto, ‘Sosialisme di Kuba: Idealisme Setengah Hati’. Selain menerbitkan buku, Deni juga sempat membuat film dokumentasi, “Toko Buku Kembang Kempis”.

*

Tahun 2007 – 2009 merupakan tahun-tahun yang suram bagi dunia pasar buku, setidaknya begitu yang dialami Deni. Ia mendapati praktik-praktik jual beli buku yang dirasanya tidak adil. Buku-buku hasil perburuan akhirnya ditumpuk saja di kamar kosnya. Ia mulai berada di titik nadir. Deni mulai jenuh berjualan buku. Ia juga sempat berpindah-pindah pekerjaan.

Tentu jika dibiarkan, kejenuhan itu akan membunuhnya pelan-pelan. Tidak mau kondisi itu menimpa dirinya, Deni pun kemudian menghidupkan kembali tradisi diskusi yang sudah lama tidak digelutinya.

Pada kisaran tahun 2009 Deni dipercaya pengelola Museum Asia Afrika untuk mengampu sebuah kegiatan diskusi. Berbekal pengalaman ketika aktif di Klab Baca Pram tahun 2003, Deni membentuk komunitas Tadarusan Asia-Africa Reading Club.

Tadarusan buku yang digelar saban hari Rabu di sebuah ruangan Museum KAA itu menjadi babak baru bagi Deni untuk mulai lagi menggeluti usaha lapak bukunya, Lawang Buku yang mati suri. Deni mulai berbenah. Ia mulai merintis lagi strategi dan taktik berjualan buku. Salah satu strategi pemasaran buku-bukunya ialah dengan membuka lapak online di akun Facebook.

Pada tahun 2011, buku-buku koleksi lawas miliknya mulai dipasarkan di sana. Setahun berselang, Deni mengusahakan agar Lawang Buku tak hanya berjualan secara online, melainkan membuka sebuah gerai kecil yang berada di lantai 1, di kolong sebuah eskalator di Balubur Townsquare. Dengan begitu Deni bisa membuat gerainya itu sebagai medium perjumpaan antar sesama pecinta buku.

Sebab dalam keyakinannya, menjalani usaha buku itu bukan sekedar menjalani ritus dikotomi antara penjual-pembeli semata, tapi dibutuhkan sebuah perjumpaan yang rutin dan jejaring komunikasi dengan sesama penggiat literasi. Resep itulah yang membuat Lawang Buku kian dikenal luas dan bertahan.

Buku-buku yang dijual Deni sangat segmented dan ia memang sengaja melakukan diferensiasi itu. Itu sebabnya pelanggannya juga segmented, yaitu hanya para peminat dan kolektor buku-buku lawas, antik dan tua. Terbukti ketika Deni menjajal keyakinannya, suatu hari ia pun ketiban rezeki. Buku koleksinya The Great Books of the Western World sebanyak 54 jilid itu laku terjual seharga 4 juta rupiah dan sebuah buku tua Alkitab Bahasa Soenda laku terjual 1,1 juta rupiah.

Dengan label pembeda itulah Lawang Buku yang dikelolanya ternyata bisa bertahan. Pada akhirnya bisnis Lawang Buku bisa berjalan, baik berjualan buku secara offline dengan membuka gerai di pasar modern Balubur atau stan pameran buku, maupun secara online yang bisa dilakukan beriringan. Klop sudah.

Kini Deni sudah tidak lagi memiliki lapak offline. Yang ia lakukan, terus berjuang menjajakan buku-buku antiknya dari garis pinggir dunia maya, di akun Facebook yang selalu diasuhnya setiap hari. Jalan terjal untuk tetap menjadi penggiat buku mungkin akan jauh lebih rumpil esok hari. Tapi Deni terus menjalaninya dengan kreatif, sabar dan tabah sebab ia ingin terus bahagia bersama buku.

*


Andrenaline Katarsis
Andrenaline Katarsis, nama akun yang aslinya bernama Andrias ini nyemplung di dunia buku sejak tahun 2000. Tahun 2004-2006 pernah jadi penjaga perpustakaan - tokobuku 'Das Mutterland'. Kini sedang coba-coba menerbitkan buku secara "indie".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara