Didirikan oleh tiga anak muda, 10 tahun yang lalu, penerbit Interlude mengukuhkan diri sebagai penerbit “alternatif kecil”. Para pendirinya dipertemukan oleh puisi, beberapa terbitannya kini tercatat mampu “melangit”.

Pada mulanya kami dipertemukan oleh puisi. Agus Manaji, seorang penyair muda dengan puisi-puisinya yang sudah akrab di majalah Horison,  beberapa koran nasional, dan antologi bersama. Tia Setiadi menjadi penganut setia kolom Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. Sedang saya, sibuk mengumpulkan buku-buku Emha Ainun Nadjib.

BEGITULAH. INTERLUDE LAHIR dari 3 (tiga) orang muda kala itu, yang sampai hari ini, dengan caranya masing-masing masih bergulat dengan  buku dan tetap saja merasa muda. Pertemuan kami bertiga di tahun 2005 terus membawa kami pada ruang-ruang obrolan soal buku, puisi, dan cerita hidup masing-masing.

Dari obrolan-obrolan itu, lahirlah Interlude di tahun 2007, di sebuah warung kopi di utara 2 (dua) kampus besar Yogyakarta. Di bawah naungan pohon Angsana (Pterocarpus indicus) dan pohon Johar (Senna siamea). Tanggalnya saya tidak bisa mengingatnya dengan benar. Seingat saya, lahir ketika beberapa penerbit alternatif Yogya  mulai berguguran.

Perjalanan keluyuran dari angkringan ke angkringan, kamar kos, warung Burjo, juga toko buku sambil sesekali minum kopi, teh jahe atau es teh, menjadi agenda rutin. Di sana kami meluapkan gairah soal buku. Di sela-sela mengunyah sate usus kami tumpahkan semangat muda kami tentang komunitas penerbit buku yang serius. Di sela mencomot bakwan jagung hangat, terlontar gagasan yang segar berenergi dalam semangat mengisi kekosongan keadaan. Atau saat bersandar di rak-rak buku di kamar, sambil sesekali menghela napas panjang, kami memandang jauh ke depan tentang dunia penerbitan. Dan terminalnya adalah di tahun 2007 di bulan Juni, terbitnya sebuah buku terjemahan Tia Setiadi, Van Gogh: Sebuah Biografi. Buku ini menandai sekaligus menjadi penanda perjalanan kami. Sebuah mesin ketik tua dan warna oranye menjadi pilihan simbol perjoeangan kami. Biografi dan Sastra, menjadi visi misi sekaligus ambisi kami.

Gairah itu terus tumbuh seiiring pertemuan dan perjumpaan kami.

Gairah tak terbendung dan meluap memenuhi hari-hari kami.

Segalanya tampak akan terlihat indah, mudah, dan menghasilkan. Mata-mata kami berbinar, dada kami berdegup penuh gairah menanti kelahiran buku pertama itu. Dicetak dengan oplah yang lumayan  (1000 eksemplar, lumayan bagi kelas penerbit ‘kos-kosan’ macam kami) dengan modal patungan.

Saat itu, demi kelancaran kerja penerbitan, pembagian kerja dan peran pun kami lakukan. Tia Setiadi berada di meja redaksi, Agus Manaji di kursi pimpinan dan saya masuk ke daerah produksi dan pemasaran. Tiga orang muda yang tetap saja dipenuhi keyakinan dan gairah tentang buku.

Pasca-terbit, distribusi dijalankan, titip jual ke toko-toko buku di seputaran Yogya, ke komunitas dan diskusi masuk ke kampus-kampus bahkan sekolah-sekolah. Semua dilakukan dengan harapan masa depan yang cerlang. Dengan pengalaman minim serta jaringan yang masih terbatas, kami terus berjalan. Keyakinan masih kukuh disandang. Penjualan dalam diskusi memang tidak bisa diharapkan. Di Toko-toko mesti sabar menanti laporan, modal semakin menipis, semangat tetap tebal. Buku kedua terus digadang dalam doa dan harapan.

Masih di tahun 2007, di bulan November, terwujud buku biografi dan sastra. Buku Biografi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karya lahir. Masih dengan keyakinan dan harapan yang nyaris sama. Proses distribusi terus dijalankan dengan pola yang sama: nitip jual, bahkan kemudian kami melakukan semacam ‘roadshow’ diskusi di tahun 2008.

Di Yogya sendiri, kami menggelar peluncuran buku. Saya ingat ketika itu di toko buku baru milik Grup Mizan di jalan Kaliurang dan Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan sastra (monoplay cerpen Edgar Allan Poe oleh Dinar Setiyawan) kami hadirkan sebelum diskusi digulirkan.

Kemudian kami berkeliling ke Solo, Semarang, dan Malang. Pasukan yang tiga gelintir itu pun dibagi geraknya, didukung kawan-kawan Yogya kami berangkat mengabarkan Edgar Allan Poe. Ke Solo rame-rame digelar peluncuran diskusi di Kampus UNS, di UNDIP Semarang, sementara di Malang digelar di komunitas Poestaka Rakjat dan sebuah SMA (saya lupa nama sekolahnya). Begitulah, semua berjalan dengan baik dan indah. Hanya penjualan buku yang memang belum sesuai doa dan harapan.

Safari dari angkringan ke angkringan pun tetap dilakukan. Mencoba membaca kembali perjalanan lewat kursi kayu panjang sambil mendengar dendang dangdut lama dari suara radio tua di angkringan. Ya, di angkringan Pak Mul di Karanggayam kami sering berkumpul. Menghitung kembali modal dan juga langkah. Lembaran laporan belum juga memberikan hasil yang memuaskan. Buku-buku sebagian besar masih menumpuk di kamar kontrakan. Namun semangat terus menyala dan tetap teguh keyakinan. Jeda waktu penerbitan, pelajaran tentang cashflow keuangan, serta tema buku yang diterbitkan menjadi catatan.

Salah satu kesimpulan yang kami ambil saat itu adalah ini: Edgar Allan Poe belum begitu dikenal, bahkan di kalangan para mahasiswa sastra. Maksud hati hendak mengenalkan sosok penulis gotik dan perintis cerita detektif ini, namun ternyata semua memang butuh waktu dan perjalanan. Pada akhirnya Edgar Allan Poe masih terus dikabarkan.

Tahun 2008 tidak ada buku yang terbit, baru di tahun 2009, setelah mendapat sedikit laporan dan cuilan harapan. Kami bertiga tetap kukuh dengan pendirian, memang agak sedikit goyang keyakinan, namun bukankah sebuah keniscayaan? Buku Ketiga yang kemudian kami gulirkan adalah puisi! Soneta Cinta!

Ya, Ciuman Hujan: Seratus Soneta Cinta Pablo Neruda kami luncurkan. Dengan perwajahan sampul yang kami akan tersenyum saat kami melihatnya kini. Di buku ini kami bekerjasama dengan teman-teman Parikesit Institute yang juga sedang bergairah dalam menggerakan diskusi-diskusi. Nama-nama seperti Lukmanul Hakim, Dwi Cipta, Faisal Kamandobat sering hadir ngangkring bersama kami. 

Buku puisi yang satu ini, di kemudian hari pada tahun 2014 dan 2016, kami terbitkan ulang, bekerja bersama dengan Jual Buku Sastra (JBS) dengan tambahan isi terjemahan. Dan menjadi buku ‘payu’, laris kami. Neruda lahir dengan cita-cita Imprint kami bernama Madah. Dengan pengalaman sebelumnya, buku ini dicetak dengan oplah lebih terbatas (selain juga modal yang juga bertambah batasnya).

Selepas Ciuman Hujan : Seratus Soneta Cinta Pablo Neruda lahir, tahun 2009-2011 Interlude seperti tiarap. Mati tidak, hidup tidak. Mungkin bisa dikatakan sekarat. Kami bertiga berangkat menjadi pribadi-pribadi yang terus tumbuh. Kami menempuh jalan dan peruntungan masing-masing. Meskipun sesekali tetap bersua di angkringan, namun, ada yang tiba-tiba hilang dalam diri Interlude, seakan perlahan luruh. Meski demikian, kami belum mengibarkan bendera putih. Kami belum tumbang dan belum menyerah. Demikian pekik lirih kami sesekali saat bertemu di angkringan atau kos-kosan.

*

Jer basuki mawa bea, begitu kata pepatah Jawa. Bea yang kami keluarkan, entah tenaga,  uang, waktu, kekonyolan, perlahan terbayar. Memang bukan dengan angka-angka. Namun tempaan dan pengalaman, jaringan, serta kepercayaan.

Tia Setiadi, misalnya, kemudian meneguhkan diri di dunia penerjemahan, juga menjadi penulis esai kenamaan. Tentu dengan dongeng proses yang kelak bisa menjadi sebuah buku tersendiri. Ia menjadi juara di beragam lomba kepenulisan, mendapat banyak tempat di kancah sastra.  Menjadi pembicara di mana-mana.

Agus Manaji, selain sebagai seorang Guru SMK, penyair, ia pun membuka gerai Bukulawas Menk-menk, lapak buku-buku lama lewat online. Menjadi bapak yang penyabar dan suami yang romantis.

Sementara itu, saya sendiri, serabutan ke sana ke mari, menyambung hidup lewat kerja-kerja sambilan. Hingga kemudian pada tahun 2011, saya kumpulkan keberanian, menyampaikan niat untuk meneruskan langkah Interlude. Mencoba ngopeni, merawatnya lagi. Gayung bersambut, Interlude ajar trantanan, belajar berdiri lagi dengan segenap kemampuan dan keterbatasan. Dan puisi tetap menjadi rumah kembali.

Interlude: rumah kerja kami, sawah ladang kami

puisi perjuangan kami dalam bertani buku

Saya lahir dan tumbuh di kampung yang miskin buku bacaan. Bapak dan Simbok saya petani kecil dengan sawah sempit. Yang harus eguh, ubet agar isa ngliwet dan menyekolahkan anak-anaknya. Saya kemudian belajar kepada kehidupan masa kecil. Selain kepada para pelaku buku di Yogya yang pating tlecek, melimpah, dalam meneruskan Interlude. Saya kembali belajar kepada peralatan Bapak saya: cangkul, luku garu dan tentu Ibu saya yang sejak kecil berjualan apa saja di pasar. Satu hal yang kemudian saya yakini hingga kini, jiwa saya ini bukanlah pedagang murni, yang mumpuni menggelar dagangan, lihai menawarkan barang-barang. Jiwa saya ini petani, yang harus menanam dan merawat. Demikian keyakinan yang kemudian saya sepakati dengan diri sendiri dalam meneruskan perjalanan Interlude.

Petani yang berkeringat, yang belajar mandiri dalam mengolah sepetak sawah sendiri.  Petani yang wajib tekun dengan setia kepada hukum-hukum alam. Petani yang kemudian  akan tersenyum riang saat berjumpa dengan pedagang yang pangerten, yang berhati mulia. Petani yang belajar kepada sanak kadang, orang-orang di jalan, kepada alam dan musim. Petani yang hatinya harus benar-benar belajar kepada padi, rumput teki, pohon pisang dan segenap tumbuhan. Terus nandur, menanam tidak boleh kendor.

Satu hal lagi, dalam mengelola Interlude, saya berangkat dari semangat open-open, ngopeni, merawat, memelihara. Interlude adalah bagian dari saya dan saya adalah bagian darinya. Interlude yang dulu punya cita-cita dan ambisi besar, kini berangsur menapak bumi, mawas diri. Interlude harus menemukan dirinya sendiri dalam meneruskan perjalanan. Dan tentu, dengan semangat pembelajar tanpa henti. Srawung dan tegur sapa dengan semua. Salah satunya belajar menata organisasi dan olah niaga. Pencatatan dan akuntansi pun harus dipelajari. Selain ‘restu’ kedua teman, Tia Setiadi dan Agus Manaji, saya juga dibantu banyak pihak yang secara diam-diam maupun terang-terangan menjadi bagian tim kami. Juga atas persetujuan Istri saya. Merekalah yang membantu Interlude untuk terus  bisa menggelinding sampai hari ini.

Saya tegakkan Interlude dan diri saya di penerbitan ‘alternatif kecil’ dengan terus belajar tumbuh dan mengakar. Mengusung semangat patembayatan dan musyawarah bersama. Saya belajar diam-diam kepada para pelaku buku di Yogya yang luar biasa ini. Saya gulirkan lagi Interlude. Perlahan dan memang perlahan sekali. Buku-buku puisi lahir dengan semangat dan asas yang kami usung. Maka kemudian lahir pola-pola yang kami kembangkan dalam menerbitkan buku.

Dari sanalah kemudian muncul ragam pola penerbitan Interlude. Ada yang murni dibiayai penulis, ada yang ditanggung bersama, juga ada yang kami biayai dengan sistem royalti versi kami. Semua bergulir dan bergulir dengan asas musyawarah bersama. Buku-buku pun terbit dan hadir dengan polanya masing-masing. Buku terbit untuk kepentingan pribadi-pribadi, untuk keperluan admisnitrasi si penulis, juga hadir menjadi bagian dari ‘pasar’ buku alternatif.  Buku-buku, bersama sederet kisah lucu, haru, dan terkadang wagu, perlahan-lahan terus lahir: puisi, cerpen, novel, dan kumpulan esai.

Dalam rentang perjalanan 2012-2016. Ada buku-buku yang kemudian masuk menjadi pemenang atau nominator dalam gelaran sayembara buku. Tahun 2013-2016, berturut, buku puisi terbitan Interlude, Kata Hujan (2013) karya Ulfatin Ch., Piknik yang Menyenangkan (2014) Hasta Indriyana, kemudian Tasbih Merapi (2015) karya Hamdy Salad, serta terbaru Lukisan Anonim (2016) Umi Kulsum, masuk 5 (lima) besar Sayembara Hari Puisi Indo Pos di Jakarta.

Di Yogyakarta, beberapa terbitan kami juga masuk dalam nimonasi penghargaan karya sastra serius Balai Bahasa Yogyakarta. Antara lain Antologi Puisi Burung-Burung di Tiang Duka karya Aly D. Musyrifa (2014), antologi Puisi Rajawali Satu Sayap (2015) Ulfatin Ch. Dan Kumpulan Puisi Wayang dan Lain-lain (2015) karya Purwadmadi. Di Tahun 2013, kumpulan puisi Tangan yang Lain, karya Tia Setiadi memenangkan Hadiah Sastra MASTERA.

Terbaru, di tahun 2016, kumpulan esai Petualangan yang Mustahil karya Tia Setiadi menjadi pemenang penghargaan Karya Esai Sastra di Balai Bahasa. Kami turut berbahagia, berbangga dan tentunya bersyukur, bisa menjadi saksi kecil dalam proses kelahiran buku-buku tersebut.

Dan sampai hari ini, di awal tahun 2017, Interlude masih terus belajar hadir, belajar mandiri, belajar mengisi dan menjadi bagian dari Yogya yang penuh dengan para pelaku dan penghikmat buku.  Dan sekali lagi, pada mulanya kami, Interlude, dipertemukan oleh puisi. Puisi tetap menjadi pintu bagi kami untuk terus berjalan sebagaimana ungkapan Poe, puisi bukanlah arah, melainkah gairah. Begitulah, secuil dongeng kecil perjalanan kami, gairah kami dalam bertani buku. Tabik.

Interlude,  saya turut mendirikan dan akan berusaha terus  merawatnya.

Yogya, Januari 2017


Cak Kandar
Cak Kandar/Sukandar, adalah pengelola Penerbit Interlude.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara