Sebuah buku yang sukar ditentukan jenisnya, antara "novel sejarah" atau "jurnalisme sastrawi". Teror Subuh di Kanigoro merekam Peristiwa Kanigoro dari satu sudut pandang dan disajikan dalam kemasan sastra.

SAYA MENGHABISKAN buku ini tak lebih dari tiga jam. Panjangnya hanya 89 halaman dan terbagi menjadi empat bab saja. Isinya singkat: penyerbuan Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) terhadap pelatihan kader Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kanigoro berdasar penuturan Anis Abiyoso, ketua PII sendiri. Hari ini, kita mengenal insiden itu sebagai Peristiwa Kanigoro. Dari penuturan Anis, Ahmadun Yosi Herfanda merangkainya jadi sebuah narasi, terbit pertama kali pada Februari 1995, kemudian dicetak ulang pada Agustus tahun lalu.

Kejadian itu dimulai pada subuh, 13 Januari 1965, di Desa Kanigoro, Kras, Kediri. Ribuan orang menyerbu sebuah masjid di mana PII sedang melaksanakan pelatihan kader selama beberapa hari. Massa dalam jumlah besar itu segera menghentikan kegiatan PII, mengumpulkan para peserta yang laki-laki, kemudian menggelandang mereka menuju kantor polisi Kras. Kendati jarak dari masjid ke kantor polisi hanya sekitar 5 km, Anis dan rekan-rekannya harus diarak dulu keliling desa, dipertontonkan kepada masyarakat dan dipermalukan di hadapan mereka. Mereka disebut antek Malaysia, antek nekolim, dan dituduh sebagai anggota DI/TII. Jarak tempuh ke kantor polisi pun menjadi belasan kilometer.

Di Kras, peserta pelatihan kemudian diserahkan kepada polisi dengan alasan yang, menurut Anis, “direka-reka”. Massa PR dan BTI beranjak pergi. Tak lama kemudian, karena pihak kepolisian tak punya cukup bukti untuk menahan para anggota PII, mereka pun dibebaskan.

Meski singkat dan tanpa korban jiwa, Peristiwa Kanigoro menjadi satu kisah penting yang selalu digunakan untuk memperlihatkan betapa biadabnya orang-orang komunis. Di negara yang mayoritasnya muslim ini, isu agama selalu gampang dijadikan sesuatu yang memobilisasi banyak orang. Sebuah peristiwa dapat dijadikan simbol perlawanan di jalan Allah. Peristiwa Kanigoro bukanlah yang pertama.

Pada Februari 1918, seperti yang ditulis oleh Agung Dwi Hartanto dalam Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Tjokroaminoto berhasil menghimpun ratusan ribu umat muslim di Jawa dan Sumatra setelah seorang jurnalis bernama Martodharsono menghina Nabi Muhammad. Martodharsono setelahnya memang tidak dihukum dan hariannya, Djawi Hiswara, tetap terbit. Yang menarik sejatinya adalah bahwa Tjokroaminoto berhasil menghimpun dukungan dari seluruh cabang Sarekat Islam, ditambah dengan ratusan ribu umat muslim lainnya, untuk maju menjadi anggota volksraad (dewan rakyat).

Begitu pula dalam kasus Kanigoro. Satu hal yang membuat masyarakat muslim benar-benar benci pada kaum komunis adalah cerita bahwa saat menggerebek pelatihan kader PII di Kanigoro, mereka turut merobek-robek Alquran, melemparnya ke lantai, kemudian menginjak-injaknya. Anis melihat kejadian itu, dan turut menuturkannya di dalam buku.

Dalam versi yang lain, yang dimuat oleh tempo.co dan dituturkan oleh Masdoeqi Moeslim, seorang panitia diskusi, beberapa orang dari massa komunis mengambil Alquran dan memasukkannya ke dalam karung. Mereka membawanya keluar baru kemudian menginjak-injaknya.

Akan tetapi, ternyata tidak semua orang di dalam masjid melihat kejadian tersebut. Hermawan Sulistyo dalam Palu Arit di Ladang Tebu menulis bahwa seorang peserta dengan inisial K, mengaku tidak tahu-menahu mengenai insiden penginjak-injakan Alquran. Namun tak pelak, kabar mengenai penginjakan Alquran tersebut menyebar dengan cepat. Umat muslim jadi geram. Konsolidasi segera dilakukan untuk membalas aksi yang dilakukan orang-orang komunis.

Anis berkeliling Jawa Timur. Mula-mula ia ke Pare, kemudian Ngawi, Surabaya, dan terakhir Jember. Ia menggalang aksi dari kota ke kota, bertemu tokoh-tokoh agama setempat, dan menyebarkan informasi mengenai peristiwa di Kanigoro. Di Jember, ia mendapat kabar bahwa ia dicari polisi sebab diskusi yang digelarnya di Kanigoro saat pelatihan kader PII itu diduga bermuatan subversif. Setelah berdiskusi dengan beberapa koleganya, ia menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Malang.

*

Buku ini ringan untuk dibaca. Bahasanya santai, meski elemen-elemen dramatisasi di beberapa bagian begitu kentara. Ahmadun Yosi Herfanda berhasil mengemas penuturan Anis layaknya seorang jurnalis yang juga sastrawan.. Kendati begitu, pembaca nampaknya akan kesulitan menentukan jenis buku ini. Ahmadun sendiri dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa Teror Subuh di Kanigoro dapat disebut sebagai “novel sejarah”, tetapi bukan tidak mungkin buku ini dianggap sebuah karya jurnalistik bergaya sastra.

Sastra dan sejarah memang dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seperti pernah ditulis oleh Bambang Purwanto dalam Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!, keduanya bermain pada tataran bahasa. “Rekonstruksi sejarah,” tulis Bambang, “adalah produk subjektif dari sebuah proses pemahaman intelektual yang dilambangkan dalam simbol-simbol kebahasaan”. Kebenaran di sini menjadi satu hal yang relatif. Sebab itulah, memahami buku ini secara menyeluruh artinya turut pula menelaah bagaimana ia disajikan.

Teror Subuh di Kanigoro tidak hanya memuat fakta-fakta keras, namun juga imajinasi Ahmadun dalam melukiskan suasana dan keadaan yang terjadi pada masa itu. Kita harus berusaha adil, bahwa apa yang tertulis dalam buku ini adalah berdasar dari penuturan seseorang, pada satu waktu tertentu, yang memiliki posisi yang jelas dalam peristiwa yang dibicarakan.

Anis Abiyoso benar-benar mengalami suatu kengerian di Kanigoro, namun yang bekerja ketika menuturkan kisahnya adalah ingatannya. Mengalami dan mengingat, seperti kata Alessandro Portelli, adalah dua hal yang berbeda. Ingatan menjadi satu jendela untuk sekalian melongok apa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa. Dan jujurlah, bukankah saat kita berusaha mengingat satu hal, saat itu pula kita melupakan hal yang lain?

Oleh sebab itu, menjadi wajar bila salah satu bab dalam buku ini bertajuk “Ganyang Dibalas Ganyang”. Aksi-aksi balasan yang dilakukan oleh PII dan umat muslim yang lain pasca-insiden di Kanigoro, dari mulai tuntutan pemecatan seorang professor di Universitas Negeri Jember yang dianggap ateis hingga perusakan kantor PKI dan rumah-rumah anggotanya, menjadi sah. Logikanya menjadi amat sederhana: karena orang-orang komunis telah melakukan “teror” terhadap umat muslim, maka mereka harus dibalas dengan “teror” yang sama pula.

Logika ini, pada akhirnya, juga digunakan dalam persekusi orang-orang komunis (juga yang hanya diduga komunis) pasca-peristiwa ’65. Saya capek dengan logika macam itu. Logika yang merawat dendam dan lupa bahwa kita bisa saja berbuat lebih kejam. Saya justru tertarik pada satu bagian dalam buku ini, yang porsinya amat kecil namun begitu membekas, yaitu pengalaman Anis ketika berada di penjara dan bertetangga sel dengan Suryadi, gembong PR yang memimpin aksi di Kanigoro.

Setelah Suryadi meminta tolong kepada Anis untuk mengobati temannya yang kesakitan, hubungan keduanya menjadi agak cair. Mereka dapat bertegur sapa dan mengobrol layaknya teman. Saat itulah, pada momen itu, kita akan sadar bahwa keduanya juga manusia biasa, yang karena ide-ide tertentu, entah itu Islam, komunisme, atau organisasi ini atau itu, bisa saling bunuh di luar penjara.

Rasa-rasanya, buku ini lebih bijak dimaklumi dalam perspektif yang demikian.


Aufannuha Ihsani
Masih sekolah di Program Pascasarjana UGM, Jurusan Sejarah. Istrinya orang Madura, Alhamdulillah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara