Indonesia Tera dulu terkenal sebagai penerbit buku-buku sastra. Kini penerbit ini terkenal sebagai penerbit buku-buku bahasa dan kamus. Bagaimana perjalanannya sampai terjadi perubahan orientasi seperti itu?

SEJAK ERA kolonial hingga pergerakan nasional, dunia penerbitan buku di Indonesia begitu semarak. Penerbit yang lahir dan gulung tikar pun tak terhitung jumlahnya seiring perubahan angin politik di Indonesia. Mereka mewarnai perjalanan bangsa dengan ragam buku-buku yang diterbitkan.

Sekilas Dunia Penerbitan di Indonesia

Dalam catatan sejarah, Cornelis Piji merupakan orang pertama yang memprakarsai dunia penerbitan dan percetakan di zaman Hindia Belanda pada tahun 1659. Di bawah bendera Tijtboek, ia mengusung penerbitan buku agama Kristen, kamus, dan buku sejarah. Meski tak diketahui segmen seperti apa yang ditawarkan Tijtboek sebagai ciri khasnya, namun diketahui bahwa selain mencetak buku, penerbit dan percetakan ini juga mencetak beberapa dokumen dagang, surat kontrak, almanak, dan lembaran pengumuman. Sampai akhir abad ke-18, prosedur dan izin dunia penerbitan buku diatur oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Ketika bahasa Melayu mulai berkembang, penerbitan buku banyak digeluti generasi peranakan Tionghoa. Sebagaimana disebut  Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dalam Industri Penerbitan Buku Indonesia Dalam Data dan Fakta, pada periode tahun 1903 hingga 1928 terdapat ratusan novel dan cerita dari negeri Tiongoa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Akibatnya, Balai Pustaka yang dibentuk pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1921 mulai serius membenahi minat baca rakyatnya. Buku-buku dan karya asing lainnya mulai diterjemahkan Balai Pustaka ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.

Perkembangan dunia penerbitan buku yang begitu panjang dan pasang surut menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang berkecimpung di dunia penerbitan, tak terkecuali Indonesia Tera yang terkenal dengan buku-buku bahasa dan kamusnya.

Dari Yayasan ke Perseroan

Sepak terjang Indonesia Tera dalam dunia perbukuan memang tidak bisa dibilang sebentar. Sejak berdiri tahun 1995 dan resmi sebagai yayasan pada tahun 1998, Indonesia Tera yang berdomisili di Yogyakarta awalnya tidak hanya memfokuskan diri di dunia penerbitan, tetapi juga bidang penelitian, pendidikan, ekspresi dan apresiasi seni, hingga dokumentasi serta pengembangan jaringan kerjasama kebudayaan.

Perubahan yang cukup signifikan pun mulai terasa saat Indonesia Tera bergabung dengan Kelompok Agromedia di tahun 2006. Mulai dari perubahan manajemen hingga produk-produk yang dihasilkan. Sejak berada di bawah naungan payung Kelompok Agromedia pun, Indonesia Tera telah mengalami beberapa fase kepemimpinan. Dari Dorothea Rosa Herliany, Endro Wahyono, Monica, hingga era Tri Prasetyo sekarang.

Banyak sekali cerita yang sudah dilalui Indonesia Tera dalam kurun waktu 22 tahun perjalanannya. Menurut Tri Prasetyo, ada 3 hal yang menjadi catatan penting ketika Indonesia Tera sejak bergabung dengan Kelompok Agromedia.

Pertama, persinggungan antara idealisme terbitan dengan kebutuhan pasar secara luas. Hal ini mengingat Indonesia Tera pada awalnya merupakan yayasan yang menerbitkan buku berbasis Sastra dan Kebudayaan yang sebagian sumbernya ditopang oleh founding dari luar negeri dengan orientasi non profit. Sehingga tidak mudah ketika harus berubah orientasi karena kondisi yang ada ke arah penerbitan buku yang benar-benar bisa hidup  dari penjualan buku tanpa mengandalkan founding.

Yang kedua, ketika bergabung dengan Kelompok Agromedia Grup, Indonesia Tera harus menata kembali orientasi usahanya, manajemennya, dan fokus bidang garapannya dalam dunia penerbitan di Indonesia.

“Dan yang ketiga, menjadi tantangan tersendiri bagi Brand Indonesia Tera sebagai penerbit buku sastra pada masa berdirinya, kemudian harus bergeser ke Kategori Bahasa-Kamus dan pendukung lainnya begitu beratap dengan Kelompok Agromedia.” ujarnya.

Hingga kini, jumlah karyawan yang pernah bergabung dengan Indonesia Tera tercatat lebih dari 11 orang. Hal ini tidak lepas dari fase yang sudah dialami penerbit ini dengan beberapa perubahan struktur yang ada.

Fase pertama, ketika di bawah kepemimpinan Dorothea Rosa Herliany tahun 2006 sampai tahun 2008, jumlah karyawan ada 4 orang. Kemudian fase kedua, saat dipimpin Endro Wahyono tahun 2008 hingga tahun 2010, terdapat 2 orang karyawan. Tahun 2011 hingga tahun 2012 sebagai fase ketiga di bawah Monica, ada 2 orang. Kini di bawah kendali Tri Prasetyo, Indonesia Tera memiliki beberapa orang editor.

“Biarpun begitu, jaringan setter, desain cover, fotografer, model, editor khusus dan lain sebagainya menjadi salah satu bagian yang terlibat secara outsource,” lanjut Tri.

Setidaknya sudah 150-an judul buku yang diterbitkan Indonesia Tera sejak berdiri menjadi Perseroan Terbatas tahun 2006. “Rata-rata kita menerbitkan buku sebanyak 20-25 judul buku per tahun,” kata pria yang akrab disapa TP ini. Animo masyarakat sendiri mulai meningkat seiring branding yang dilakukan Tri untuk penerbit yang bermarkas di kota gudeg, Yogyakarta ini.

“Indonesia Tera mulai dikenal di kalangan pembaca dan mendapatkan kepercayaan di relasi toko buku sebagai penerbit buku Bahasa,” tukasnya.

Tantangan Buku Digital

Ketika dimintai pendapatnya tentang buku-buku digital yang mulai mendapatkan tempat, Tri dengan optimis punya penilaian sendiri.

“Sebagai penerbit,  keberadaan buku digital ini tetap menjadi hal yang menarik yang bisa disikapi secara positif. Sebab ini sesuatu yang tidak bisa terhindarkan seiring dengan era keterbukaan informasi dan teknologi yang sedang berkembang saat ini,” ucapnya.

Mengenai pengaruhnya bagi dunia penerbitan buku kertas, Tri kemudian mengatakan, ”Tentu merupakan hal yang juga tidak bisa dihindari. Biarpun untuk konteks dunia penerbitan buku Indonesia, hal ini pengaruhnya masih tidak terlalu besar karena banyak faktor yang melingkupinya (budaya, infrastruktur, dan lain sebagainya).”

Bagi masyarakat yang ingin menjadi penulis buku di Indonesia Tera, Tri memberikan beberapa bocoran ringkas. Menurutnya, calon penulis harus sesuai dengan kompetensi bidang yang disasar penerbit. Kompetensi ini bisa berupa kompetensi akedemik, skill, hobi, maupun bidang lain yang menjadi potensi si calon penulis. Dia juga harus terbuka terhadap ide-ide baru dan tidak menutup diri dari ruang pembaca, misalnya kerap bergaul dengan pembacanya di media sosial. Selain itu, calon penulis juga siap bekerjasama dengan target yang lebih terukur. 

Tri sendiri berharap, penerbit yang ia pimpin bisa semakin maju dengan buku-buku terbitan dan kegiatan-kegiatan pendukungnya. Ia juga berharap dari Indonesia Tera akan lahir para penulis dengan karyanya yang bisa melakukan terobosan-terobosan baru dalam pembelajaran Bahasa di Indonesia dan Dunia.

“Sebab mimpi saya untuk Indonesia Tera ke depan adalah menjadi penerbit buku Bahasa yang paling terpercaya bagi pembaca di Indonesia,” ujarnya menutup obrolan.

*

Ket. gambar: Tri Prasetyo di ruang kerjanya.


Ali Zaenal
Pejalan kaki, kretekus, dan peminum kopi. Giat menulis di Ngopi Jakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara