Komunitas Indonesia Buku, atau Iboekoe, Yogyakarta, memiliki tiga komunitas di bawahnya: Radio Buku, Warung Arsip, dan Gelaranibuku. Masing-masing memiliki spesifikasi sendiri-sendiri di bidang literasi.

Penulis yang menulis tanpa data akan lumpuh. Wartawan yang menulis tanpa data akan menyesatkan. Seniman yang berkarya tanpa arsip akan kehilangan arah. Perusahaan yang bekerja tanpa arsip akan tumbuh lamban. Jika semua orang ditanya, pentingkah arsip, maka semuanya menjawab penting. Namun, arsip juga adalah ihwal yang paling diabaikan. Bahkan hanya satu trip berada di atas sampah. - Indonesia Buku

MENGUNGGAH FOTO di akun Facebook atau Instagram, maka Anda telah mengarsip foto. Menyimpan buku harian di rak lemari yang hanya Anda dan Tuhan tahu, maka Anda telah mengarsip dokumen tertulis. Sesungguhnya kita semua adalah arsiparis partikelir.

Kesadaran dalam mengarsip saya dapatkan selama belajar pada Muhidin M. Dahlan di Komunitas Indonesia Buku (Iboekoe).

Awal pertemuan dengan Gus Muh (sapaan Muhidin M. Dahlan) dan berkutat di Iboekoe bukan karena saya cinta dunia kearsipan. Jangankan arsip, buku yang ada ISBN-nya saja, saya belum tahu bagaimana bentuk dan baunya. Kalau ada yang bertanya bagaimana model sampan yang kerap saya gunakan untuk bermain di pantai, mungkin, saya akan jawab dengan tangkas.

Pertemuan itu bermula dari kesadaran saya mencuri buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur saat kuliah di Kota Makassar. Selesai membaca buku kontroversi itu, saya beli buku Gus Muh yang lain berjudul Jalan Sunyi Seorang Penulis (Cetakan kedua dari Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta).

Membaca buku Gus Muh sudah, membaca esai-esainya di akubuku.blogspot.com sudah. Rasa ingin bertemu langsung dengan penulisnya pun muncul.

Pertengahan Juli 2015, saya berkunjung di markas besar Indonesia Buku, Jl Sewon Indah No 1, Kecamatan Sewon, Bantul. Di sana saya melihat banyak buku, koran, majalah, dan benda asing lainnya. Dari situlah, saya mulai rutin meminjam buku-buku di perpustakaan dan menjadi relawan di Warung Arsip.

Mengarsip Itu Menguji Daya Tahan

Komunitas Iboekoe memiliki tiga komunitas di bawahnya; Radio Buku, Warung Arsip, dan Gelaranibuku. Namun, banyak orang menyebut tiga komunitas ini adalah Radio Buku.

Tiga komunitas ini berkelindan dalam ihwal literasi. Radio Buku menjadi garda terdepan mengabarkan perkembangan literasi. Warung Arsip menjaga/merawat arsip literasi. Dan Gelaranibuku adalah perpustakaan.

Kalau diumpamakan Iboekoe adalah tubuh manusia; Radio Buku sebagai kakinya; Warung Arsip menjadi jantung; dan Gelaranibuku sebagai otaknya. Nafas dan darahnya adalah relawan-relawan yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya. Tanpa relawan, hancurlah Indonesia Buku.

Alumni Iboekoe sudah beredar ke mana-mana, salah tiganya adalah Zen RS, Irwan Bajang, dan Indrian Koto. Iboekoe semacam laboratorium anak-anak muda, setidaknya memiliki jiwa muda yang siap belajar apa saja. Khusus di Radio Buku dijadikan gelanggang oleh para relawan untuk menempa konsistensi belajar.

Radio Buku telah meluluskan relawan angkatan kelima. Mereka wisuda apabila menyelesaikan esai yang akan dijadikan antologi bersama. Setiap angkatan memiliki buku dari hasil proses belajar selama tiga bulan. Selama tiga bulan itu relawan belajar menulis esai, membuat radio, dan jurnalisme warga dengan langsung dipantik oleh tiga begawan; Muhidin M. Dahlan (Pemantik esai), Fairuzul Mumtaz (Pemantik pembuatan Radio), dan Faiz Ahsoul (Pemantik jurnalisme warga).

Pada pertemuan pertama, ruangan Iboekoe dipenuhi peserta, tapi seleksi alam berbicara. Berangsur satu per satu relawan mundur malu-malu tanpa pamit atau mereka pamit dengan cara terhormat. Yang bertahan, yang menulis, dan menjadi abadi. Buku antologi esai mereka sudah beredar di toko buku daring seluruh Indonesia.

Selain kelas relawan, Radio Buku juga memiliki kelas esai. Bagi kelas esai ini tidak diajarkan bagaimana membuat radio atau menjadi jurnalis warga, melainkan murni berkutat dalam proses kepenulisan esai. Peserta sama sekali tidak diminta uang sepersen pun, malahan Radio Buku memberi honor kepada semua peserta. Gus Muh pernah berujar:

“Saya tidak ingin membuat pelatihan menulis yang berbayar sebab saya belajar menulis bukan dari pelatihan berbayar seperti itu.”

Para pemantik selalu mengingatkan kepada peserta esai bahwa mereka mesti konsisten mengikuti kelas dan menulis hingga tuntas di meja editor. Nah, di meja editor inilah penulis esai akan dihancur leburkan—menurut saya lebih menyakitkan daripada dosen penguji saat ujian akhir. Contoh kasus: peserta kelas esai bernama Prima H. Trilaksono menulis esai dengan jumlah 7.000 kata. Faiz Ahsoul selaku editor menghapus 4.000 kata.

Kalimat yang cacat tata bahasa akan dikurasi di hadapan editor. Proses hadap-hadapan antara penulis dan editor adalah pembelajaran yang efisien dan membekas pada diri penulis. Kelas esai ini telah menetaskan dua buku esai: Pendidikan Komunitas: Merajut Keragaman dari Pinggir Yogyakarta dan Keluarga Bahagia: Sembilan Memoar Luka Keluarga Indonesia.

Para relawan dan peserta kelas esai mesti mencari referensi yang berkaitan dengan tulisan yang mereka garap. Referensi didapatkan melalui riset lapangan dan riset literatur. Referensi literatur inilah yang disiapkan di perpustakaan Gelaranibuku. Gelaranibuku mengoleksi ribuan buku yang didominasi buku-buku sastra Indonesia dan dunia. Gelaranibuku mengambil urutan daftar Sumpah Pemuda untuk mengatalogisasi buku: Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa. Bukan hanya menjadi nama rak di Gelaranibuku, tiga Sumpah Pemuda ini yang kerap dijadikan diktum oleh Faiz Ahsoul di pelosok-pelosok Indonesia. Khusus, di Indonesia timur. “Indonesia barat telah selesai. Kita mesti bergerilya di Indonesia timur,” Faiz Ahsoul berujar saat kedatangan kawan dari Papua.

Radio Buku mendidik para relawan, Gelaranibuku masif mengoleksi buku-buku pilihan, sedangkan Warung Arsip menjadi garda terdepan menyimpan dan merawat koran, majalah dan buku lawas. Sejak Februari 2016 hingga tulisan ini ditulis, saya telah mengunggah sekitar 1.000 lebih file pdf di website warungarsip.co. Jumlah itu sangat belum sebanding dengan koleksi Warung Arsip yang tak terhingga banyaknya.

Tidak ada metode sistematis dan formal untuk mengarsip di Warung Arsip. Cukup Anda duduk selama delapan jam untuk memindai arsip dari hard ke soft. Namun, ada dua metode yang Gus Muh ajarkan kepada saya untuk memindai arsip tersebut. Pertama, menggunakan mesin scanner Cannon LiDE 110 untuk arsip berukuran kecil; buku dan majalah. Kedua, menggunakan kamera untuk arsip ukuran besar seperti koran.

Rony K. Pratama (Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta) keliru mengamati ihwal kearsipan Indonesia dalam esainya, Literasi dan Pelajaran Kliping (Kompas, 15 Juli 2017) bahwa setelah Jassin tak ada lagi sosok yang bergelut secara intens dalam dunia arsip, atau konsisten dan memutuskan jalan kearsipan sebagai jalan hidup.

Sebab setelah HB Jassin dan Pramoedya Ananta Toer, ada Muhidin M. Dahlan. Gus Muh sangat teliti dan tekun perihal pengarsipan. Saking cintanya pada dunia arsip, maaf, giginya yang patah pun diarsipkan.


Safar Banggai
Lahir di Pulau Paisubebe, Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Arsiparis di Warung Arsip, Indonesia Buku (I:BOEKOE). Salah satu pegiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara