Literasi bukanlah sesuatu yang datang dari langit secara instan, ia musti dimulai dan dirawat. Seperti itu pulalah di Ternate, Komunitas Independensia.

PAULO Freire dan Donaldo Macedo (2005) mengatakan, literasi adalah ihwal membaca dunia. Namun, praktik membaca akan paripurna dengan laku menulis sehingga gerak dinamis antara membaca dan menulis membuat literasi mampu mencapai tujuannya: kesadaran dan pemberdayaan diri.

Independensia merupakan salah satu dari sekian komunitas yang masif merawat literasi di Ternate, Maluku Utara. Selain sebagai perpustakaan mandiri, Independensia juga  menyelenggarakan beberapa kegiatan literasi: Ternate Membaca, Kampung Literasi, Literasi Kampus, Literasi Sekolah, Literasi Nukila, Panggung Kebudayaan, Kopi Sastra, diskusi buku dan film, dan kursus bahasa Inggris untuk siswa SD.

Ketika saya terlibat sebagai anggota Independensia akhir 2010, lembaga ini masih berbentuk Forum Studi Independensia. Di forum tersebut, tiga kali dalam sepekan kami melakukan kajian filsafat, ilmu-ilmu sosial kontemporer, dan politik. Satu tahun sekali menggelar pelatihan metodologi penelitian, menulis karya ilmiah, dan pelatihan jurnalistik.

Bagi saya, Independensia merupakan ruang belajar nonformal yang memberikan makan ego untuk berkreasi, di luar rutinitas sebagai mahasiswa Komunikasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Saya belajar banyak hal; membangun kesadaran intelektual; hingga adu cakap berketerampilan. Adalah Naiman Lek, senior  yang mengajak saya masuk agar mengambil bagian dalam forum tersebut. Kajian-kajian filsafat merupakan nutrisi menyehatkan yang wajib disantap  bagi anggota Forum Studi Independensia, pun yang masih hijau seperti saya.

Mendukung aktivitas kajian, forum itu memiliki perpustakaan mini yang mengoleksi buku filsafat, sosial, dan beberapa buku umum sebagai bahan diskusi. Buku itu diperoleh dari donasi alumni dan dibeli melalui pencarian dana dengan cara menjual buku-buku penulis lokal. Namun, Independensia masih meminjam aula asrama mahasiswa Topo Tidore sebagai sekretariat: tempat diskusi, kajian, dan kegiatan-kegiatan lain. Sekretariat itu beralamat di Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan.

Anno 2012,  separuh anggota mengusulkan pembentukan Lembaga Independensia sebagai lembaga induk, dengan harapan Independensia mampu memiliki jaringan yang lebih luas. Kegiatan-kegiatan lembaga lebih banyak berorientasi pada kepentingan publik; pemberdayaan jaringan, edukasi, survei, dan publikasi sosial budaya. Upaya kami terealisasi atas bantuan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Kota Ternate; 2013, Lembaga Independensia dapat membangun ruang kreasi berlantai dua di Kelurahan Sasa, Ternate Selatan. Lantai satu, berfungsi sebagai tempat kajian, diskusi, dan pelatihan-pelatihan organisasi kemahasiswaan. Lantai dua, perpustakaan.

Kini Lembaga Independensia secara struktural membawahi Forum Studi Independensia dan Perpustakaan Independensia. Forum Studi fokus mengembangkan pemikiran anggota melalui kegiatan kajian, diskusi, kopi sastra, dan menulis. Sementara Perpustakaan fokus membangun budaya baca dan menulis melalui kegiatan gerakan literasi kampus, literasi sekolah, literasi nukila, dan membangun kerja sama dengan komunitas literasi yang lain, menggelar Ternate Membaca, dan Kampung Literasi.

Suasana di Perpustakaan Independensia

Literasi Kampus, dilakukan sebulan sekali. Biasanya  kami menjalin kerja sama dengan Badan Eksekutif Mahsiswa  Fakultas dan Universitas, tetapi hampir semua buku disiapkan dari Perpustakaan Independensia. Di setiap kegiatan, kami membuka pameran buku di sekitar area kampus, sering juga disertakan dengan pembacaan puisi dan diskusi literasi. Seperti 21 Desember 2017, kami menggelar Literasi Kampus di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kieraha Ternate, disertai dengan pembacaan puisi, lalu masing-amsing membagikan cerita berliterasinya. Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi STKIP Muhamad Iksan dan Sokarna M Adam, sebagai pembicara.

Literasi Sekolah, sambil mengajak siswa membaca, kami juga mengajarkan mereka menulis puisi, cerpen, dan berbahasa inggris, tentu setelah di-acc guru-guru.

Literasi Nukila, dilakukan di Taman Nukila, setiap hari minggu, mulai dari jam sembilan pagi sampai delapan malam. Di taman kota itu, dengan mengalaskan karpet di atas bundaran, kami meletakan buku-buku—perpustakaan emperan, konsepnya. Di samping kiri-kanan bundaran tersebut, berdiri dua banner tertulis, AYO MEMBACA DI LITERASI NUKILAN; orang-orang datang menjenguk, satu dua lainnya duduk membaca.

Minggu, 3 Desember 2017, kami menggelar Literasi Nukila mengusung  tema sosok Almarhum M Adnan Amal sebagai penulis asal Maluku Utara. Kegiatan ini menghadirkan Marjorie Amal, salah satu Putri Adnan Amal—sebagai pembicara. Adnan Amal dibicarakan sebagai tokoh teladan literasi, karena selain sebagai mantan hakim, dosen dan salah satu pendiri Universitas Khairun Ternate, ia telah menulis beberapa buku, di antaranya, Sejarah Maluku Utara Jilid Satu dan Dua, Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Tahun-Tahun Yang Menentukan, Tobelo Tempo Doeloe, Portugis dan Spanyol di Maluku, dan Cerita Rakyat Halmahera.

Bagi Marjorie Amal—satu yang berkesan—ayahnya sangat gigih menularkan semangat literasi di lingkungan keluarga dan mahasiswa. Adnan Amal telah mengajari anaknya membudayakan membaca dan menulis sejak kecil, hingga satu ketika ia melibatkannya dalam riset penulisan buku. Itulah mengapa, selain melahirkan karya tulis, Adnan Amal juga melahirkan tuju penulis: Taufik Amal, Chairunnisa Amal, Anastasya Amal, Marjorie Amal, Wardah Amelia Amal, Nukila Amal, dan Melly Amalia Amal. “Sebagian besar hidup papa dihabiskan untuk dunia literasi, sampai ketika pada usia tua sekalipun, upaya itu tetap beliau lakukan,” kata Marjorie.

Seperti itu cara kami  merawat literasi di Ternate. Karena intensitas kegiatan tersebut pula, 12 September 2017, Perpustakaan Independensia meraih juara dua lomba Perpustakaan Kelurahan Cluster C tingkat Nasional, mewakili Provinsi Maluku Utara.

Independensia diambil dari kata “Independen” yang berarti mandiri dan otonom. Dengan harapan, para anggotanya senantiasa teguh pada pendirian, serta berorientasi pada kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan yang menjadi tujuan perjuangan.

Independensia didirikan oleh M. Sofyan Daud, di Ternate, 26 Oktober 1996 sebagai Forum Studi. Namun, seiring berjalannya waktu, karena anggota mulai sibuk di ruang-ruang pengabdian, pada 1999 Independensia mengalami kefakuman. Atas izin M. Sofyan Daud, Independensia kembali diaktifkan oleh Mansur Djamal (2005). Langgeng sampai saat ini. Independensia telah memiliki ratusan anggota dan alumni. Sebab dalam setahun, dua kali kami merekrut mahasiswa sebagai anggota dan relawan untuk dibina, serta menggerakkan kegiatan-kegiatan literasi.


Ghalim Oemabaihi
Pegiat Literasi Independensia Ternate dan belajar menulis di Indonesia Buku Yogjakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara