19 Jul 2017 Cep Subhan KM Sosok

Seperti Amir Hamzah, ia seorang pangeran yang tergila-gila sajak, tapi hidupnya dijalani seperti seorang Chairil sebagai bohemian. Kisah hidupnya penuh dengan kontroversi: ia dikagumi sekaligus dibenci.

KESUSASTERAAN KITA memiliki Chairil Anwar si “binatang jalang”, kesusasteraan Inggris memiliki Lord Byron dengan “byronic hero”-nya, kesusasteraan Perancis memiliki Baudelaire, lalu kesusasteraan Arab klasik memiliki Imru al-Qays bin Hujr al-Kindi.

Setiap kesusasteraan memiliki poete maudit-nya sendiri-sendiri. Selalu ada mereka yang posisinya menempati posisi Byronic Hero. Dalam terminologi kesusasteraan, frasa poete maudit adalah frasa yang populer pertama kali di Perancis merujuk pada meluasnya jurang pemisah antara penyair berbakat dengan khalayak. Penyair dikatakan selalu dikutuk (maudit/cursed) oleh mereka yang memiliki kekuatan di muka bumi. Para penyair—karena mereka memiliki kualitas-kualitas superior—selalu menjadi sumber rasa iri dan benci masyarakat dan penguasa yang takut pada kebenaran-kebenaran yang mereka ungkapkan

Tentu kita musti membedakan terlebih dahulu antara Qays yang satu ini dengan Qays yang dipopulerkan di negeri ini melalui terjemahan Layla Majnun-nya Nidhami Ganzawi yang bejibun. Qays-nya Layla seringkali dinisbatkan pada penyair Qays Ibn al-Mulawwah, dia hidup sekitar pertengahan abad ketujuh dan meninggal pada tahun yang tak pasti antara tahun 685 dan 699 M sedangkan Imru al-Qays meninggal sekitar tahun 550 M.

Karena itulah dalam perdebatan tentang bagaimana pandangan Imru al-Qays tentang agama, seringkali sebagian orang menyebutkan Qays sebagai sosok yang hidup pada masa fatrah, masa kekosongan kenabian di antara dua nabi: Nabi Isa di awal tarikh Masehi dan Nabi Muhammad yang diutus tahun 609 M. Maka dia tak bisa disebut sebagai si sesat.

Sebagian lain menganggap dia sebagai penganut paganisme. Meski menarik untuk membaca kisah yang satu ini tentang bagaimana dia memperlakukan dewa-dewa pagan:

Ketika ayahnya dibunuh, Imru al-Qays mempersiapkan diri untuk balas dendam. Pada masa itu adalah suatu kelaziman untuk mempertanyakan nasib dengan menggunakan panah melalui berhala sebagai orakel sebagaimana kemudian dilarang dalam ayat Alquran. Dia kemudian pergi ke berhala besar yang terbuat dari batu putih dan disebut Dzul-Khalasa. 

Orakel-orakelan itu dilakukan dengan tiga panah, yang satu bertuliskan “lakukan”, yang satu “jangan lakukan”, yang satu lagi “menantilah”. Dia mengacak tiga panah itu dan mengambil satu, yang terpegang olehnya ternyata panah yang bertuliskan “jangan lakukan”. Dia melakukan tindakan yang sama dua kali lagi dan kesemuanya menghasilkan ramalan yang sama juga.

Imru al-Qays lalu mematahkan tiga panah itu, melemparkannya di muka berhala, lalu memaki: “Bangsat kau! Andai yang dibunuh adalah bapakmu, kau pasti tak akan menghalangiku!”

Nampaknya, andaikan Qays adalah seorang penganut pagan pun, dia bukanlah seorang penganut pagan yang saleh.

*

Hidup pada abad keenambelas dan meninggal sekitar tahun 550, Imru al-Qays meninggalkan bagi kita sebanyak 68 teks menurut satu versi, termasuk teks puisi Muallaqat-nya yang sepanjang 81 baris.

Imru al-Qays bukan orang kebanyakan: ia adalah putra seorang raja, nama aslinya Khunduj bin Hujr. Bapaknya adalah raja Kindah yang kemudian dibunuh oleh Bani Asad. Setelah itulah dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk membalas dendam dan mendapat gelar al-malik adh-dhallil, “raja yang mengembara”.

Konon hubungan Qays dengan sang bapak tidaklah beres: semacam tarik ulur antara kagum dan benci seorang Oedipus pada sang bapak. Ada beberapa sebab yang dimungkinkan tentang hubungannya yang semacam itu. Salah satunya adalah karena sang raja, Hujr, tidak menyukai perilaku anaknya yang menyukai puisi, dalam anggapan si bapak berpuisi adalah perilaku putra raja di zaman silam. Gara-gara itu pulalah konon Imru pernah hendak dibunuh, ketika kemudian gagal, bapaknya mengasingkannya ke tanah Dammun: di pengasingan itu pulalah dia mendapatkan kabar ayahnya dibunuh.

Lalu ia bersumpah tak akan memakan daging, meminum khamr, tidak menyentuh wanita mana pun, sampai dia membunuh seratus orang Bani Asad.

Kemungkinan yang lain: bapaknya pusing dengan deret afair sang anak, termasuk karena dia menyukai keponakannya sendiri yang bernama Unayzah. Unayzah adalah salah satu nama wanita yang termaktub dalam sajaknya (meski dalam salah satu tafsir Unayzah disebut juga sebagai nama tempat, bukan nama orang), di samping beberapa nama lain di antaranya: Ummu al-Harits dan Fatimah binti ‘Ubayd.

Berkaitan dengan Unayzah ini Imru al-Qays pernah menjadi Jaka Tarub, tapi dengan plot yang sedikit beda, dengan sukses yang lebih. Suatu hari ketika Unayzah dan kaum wanita kabilahnya sedang mandi di tempat bernama Darat Juljul, di tengah perjalanan, sambil mengendap-endap Qays mengambil semua baju wanita itu.

Ketika para wanita itu sudah selesai mandi, sambil cengar-cengir Qays berposisi di lokasi agak jauh tapi jelas masih terlihat dan terdengar, mengatakan bahwa dia akan memberikan baju masing-masing asalkan mereka mau datang mengambilnya sendiri-sendiri. Tentu saja telanjang.

Pada awalnya para wanita itu tak mau. Tapi setelah lama kungkum dan Qays boro-boro bosan malah nampak kian asyik menonton mereka, sedang mentari kian condong ke Barat, hawa tentu mulai semakin dingin, ditambah lagi kekuatiran bahwa mereka akan terlalu telat sampai tujuan, akhirnya mereka pun mau. Yang terakhir melakukannya adalah Unayzah.

Setelah semua sudah berpakaian kembali, mereka mengeluh bahwa perut mereka lapar karena terlalu lama menunggu tadi. Qays kemudian menyembelih unta tunggangannya dan membakarnya kemudian memakannya bersama-sama dengan para wanita itu. Lantas bagaimana Qays melanjutkan perjalanan? Dia menumpang unta Unayzah sampai Unayzah mengeluh bahwa untanya menanggung terlalu banyak beban, sedangkan Qays asyik menanggapi keluhan itu dengan puisi-puisi erotis, mungkin tangannya pun tak bisa diam ...

Ada banyak kisah memang yang menunjukkan Qays adalah penyair yang “gila perempuan” atau dalam ungkapan yang lebih merenah: “pemuja perempuan”. Puisi-puisi dia pun menyimpan banyak ungkapan romantis dan pasase erotis tentang wanita. Ungkapan-ungkapan seperti “cintamu membunuhku”, “dan dia telah menanggalkan pakaiannya selain baju tidur”, “kucium kau sembilan puluh sembilan kali”, atau bait ini:

O ramping pinggang, kulit putih, perut yang rata,

Seperti cermin, susu mengkilap pantulkan cahaya.

Tapi gara-gara wanita pulalah Qays mati. Alkisah, demi mendapatkan kembali kerajaan ayahnya, dia meminta bantuan Kaisar Justinian I di Konstantinopel. Ada banyak riwayat yang berbeda tentang bagaimana hasilnya. Sebagian mengatakan dia mendapatkan sambutan baik dan mendapatkan bantuan dari sana. Sebagian lagi menyatakan dia mendapatkan sambutan baik tapi tak mendapatkan apa-apa.

Singkatnya, Qays kemudian pulang. Dalam perjalanan sesampainya di Ankara, dia disusul oleh seorang utusan Kaisar yang memberinya baju sebagai hadiah yang tertinggal. Tanpa tahu bahwa baju itu telah diolesi racun, dia memakainya. Racun itulah yang membuatnya mati, meski ada juga cerita bahwa dia mati karena penyakit kulit yang lain yang tak ada hubungan sama sekali dengan baju itu. Imru al-Qays dimakamkan di Ankara, Turki.   

Apa yang sesungguhnya membuat Kaisar Justinian mengirimkan baju yang membuat Imru al-Qays mati sedangkan sambutan sang kaisar terhadap pangeran penyair itu semula baik-baik saja? Konon sang kaisar murka karena Imru al-Qays dalam waktunya yang singkat itu sempat menjalin afair dengan putri sang kaisar ...

*

Apa sebenarnya kelebihan Qays dibanding penyair-penyair Arab lain pada masanya sampai konon dia adalah penyair pertama yang puisinya digantungkan di pintu Kabah?

Sebagian orang menyoroti kayanya penggunaan citraan alam dalam puisi-puisinya. Peraturan prosodi puisi Arab baginya bukanlah menjadi sesuatu yang mengekang puisi, melainkan justru menjadi saringan yang menciptakan keindahan bentuk dan juga susunan. Dengan “bentuk” saya merujuk pada tidak adanya kondisi “dharurat syiir” yang kemunculannya akan menurunkan ketinggian dan kejeniusan penyair, sedang dalam “susunan” saya merujuk pada rangkaian diksi satu sama lain sehingga per bait menjelma satu pasase yang bisa dinikmati secara terpisah.

Sedang Ibn Rashiq lebih menyoroti ini: Imru al-Qays adalah penyair Arab pertama yang menggunakan puisi untuk mengekspresikan gagasan tertentu—ingat kata penyair Adunis bahwa pada awalnya bagi penyair-penyair Arab pra islam, puisi adalah kesaksian, semacam catatan apa yang terjadi, bukan pengungkapan gagasan—lalu tindakannya diikuti oleh para penyair yang lain.

Tokoh-tokoh Islam pada masa itu konon mengakui juga keunggulan puisi Imru al-Qays. Nabi Muhammad muda, misalnya, disebutkan pernah mengatakan bahwa Qays adalah penyair terbesar Arab, meski kemudian ada satu riwayat yang sering dikutip tanpa diteliti lebih dulu bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda Imru al-Qays pada hari kiamat akan menjadi hamilal-lawaa asy-syuara’ ilannar, pembawa panji para penyair ke dalam neraka.

Kutipan ini bisa ditemukan dalam beberapa kitab yang membahas Syair Islam. Kutipan di atas dikutip dalam pendahuluan kitab Syarh Diwan Imru al-Qays versi yang dipengantari oleh Hasan as-Sandubi, sedang dalam kitab karangan Adunis, Ats-Tsabit wal-Mutahawwil jilid 1, redaksi yang digunakan berbeda: huwa qaidu asy-syuara ilannar, dia adalah pemimpin para penyair ke dalam neraka. Hadis ini, sebagaimana juga dikatakan oleh Adunis dalam buku yang sama, adalah hadis yang dhaif, lemah, dan tak bisa dipercaya untuk dalil.

Sebagian orang sampai kini masih mengutuk Imru al-Qays sebagai si jalang yang hobinya main perempuan, sebagian yang lain membantah kisah-kisah erotis tentang sang penyair dan menunjukkan bahwa kisah-kisah itu tak memiliki jalur periwayatan yang valid. Terlepas dari keentahan seperti apakah sosok dia sebenarnya, tanpa ada pangeran penyair ini, wajah literasi Arab akan berbeda dengan yang kita temukan sekarang: minimal kitab-kitab ‘arudh, nahwu, dan balaghah seperti Mukhtashar Syafi, Irsyadu Asy-Syafi, Al-Khulashah, ‘Uqudu Al-Juman, akan memiliki beberapa contoh yang berbeda dengan yang kini ditempati oleh beberapa pasase dari sajaknya.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara