03 Jan 2018 Setyaningsih Sosok

Kisah tentang HB Jassin tak pernah habis. Termasuk satu yang jarang disinggung: bagaimana pandangan Jassin tentang para pengarang perempuan Indonesia.

PADA 31 Juli 2017 yang lalu, tepat 100 tahun pengingatan kita pada sang Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin. Kita tidak mengingat bahwa mimbar akademisi ataupun kesusastraan telah mengadakan agenda yang bombastis untuk menghormati sang tukang kebun sastra modern Indonesia. H.B. Jassin adalah sebentuk nama di masa lalu, yang sekalipun menentukan jejak ketokohan para sastrawan, penerbitan majalah sastra dan budaya, dokumentasi tulisan para penulis, dan etos menuliskan kritik, barangkali hanya sempat teringat sekilas di buku pelajaran atau soal ujian bahasa Indonesia. Kita memang tidak dan tidak harus diajari untuk sekadar mau tahu apa yang telah dilakukan H.B. Jassin bagi nafas hidup kesusastraan Indonesia.

Pelopor Angkatan ’45, Chairil Anwar, adalah satu dari sekian nama (laki-laki), yang bisa dikatakan telah diasuh oleh kasih (kata) H.B. Jassin. H.B. Jassin mengusahakan puisi-puisi Chairil layak dibaca, mendapat pertimbangan dari para penulis era Poedjangga Baroe, dan tampil ke publik. Dan meski jumlah pengarang perempuan sungguh begitu sedikit, H.B. Jassin tampaknya tidak melakukan diskriminasi bahwa perempuan memiliki ruang yang setara dalam kesusastraan. H.B. Jassin tidak luput memberikan perhatian pada perempuan yang menulis.

Kedekatan H.B. Jassin dengan para pengarang perempuan salah satunya tampak dalam surat-surat. Salah satu surat menjelaskan pertalian dengan pengarang era revolusi, Nh. Dini. H.B. Jassin adalah pembaca, redaktur, bapak, sekaligus kawan yang memberikan komentar sekaligus semangat terus menulis. Dalam surat bertanda Jakarta, 13 September 1967 (Surat-surat 1943-1983, H.B. Jassin: 1984), H.B. Jassin menulis:

“Saya sungguh gembira Dini masih terus menulis dalam bahasa Indonesia dan berdoa semoga novel-novel yang sedang dikerjakan dapat diselesaikan dengan baik. Menurut perhitungan saya, dalam kurun waktu 50 tahun ini kita hanya mempunyai 175 pengarang dengan seluruhnya 450 judul buku yang bisa dikemukakan. Di antaranya yang berbentuk roman dan novel jumlahnya 180 buku, ditulis oleh 67 orang pengarang. Di antara 180 roman dan novel itu, hanya ada 10 romah sejarah. Pengarang wanita hanya 19 orang, diwakili oleh 26 judul karya. Kita sungguh masih miskin sekali.”  

Penyataan “hanya” untuk menyatakan pengarang perempuan secara tersirat menampilkan keprihatinan sekaligus harapan. Kita, terutama perempuan yang memutuskan menulis, sering sadar bahwa dunia di luar domestik adalah pertarungan yang melelahkan untuk sampai pada etos.

Saat menerima permintaan menjadi juri cerita bersambung dalam Sayembara Majalah Gadis, H.B. Jassin tidak menyatakan secara langsung bahwa keterlibatan ini memiliki harapan akan menambah jumlah penulis perempuan. Sekalipun, ada kesan bahwa majalah Gadis memang cenderung lebih menarik minat para penulis perempuan dan pembaca perempuan. H.B. Jassin meninggalkan kesan yang penting:

“Membaca cerber-cerber Sayembara Majalah Gadis ini saya berbesar hati karena tampak bakat-bakat pengarang muda yang memberikan harapan besar” (Koran dan Sastra Indonesia, H.B. Jassin: 2008).   

Laku Keras

Perhatian H.B. Jassin kepada para penulis tidak hanya ikatan antara seorang kritikus sastra dengan penulis atau pengirim dengan redaktur, tapi lebih sebagai seorang personal yang melakukan pembacaan mendalam. Di buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II (1985), H.B. Jassin menampilkan dua nama pengarang perempuan, prosais S. Rukiah dan penyair Waluyati.

Tentang Waluyati, H.B. Jassin mengatakan secara personal, “Sudah lama hati tertarik hendak berkenalan dengan penyair Waluyati. Sebuah gambar lukisan tangaanya, seorang perempuan muda pakai kebaya,—melihat dandannya seorang wanita Jawa—, yang tergantung menghiasi dinding Aoh K. Hadimadja, menambah besar hasrat hendak bertemu dengan penyair muda itu, yang kabarnya pandai pula bermain musik.”    

Kejadian laku keras dan mengalami cetak ulang dalam kesusastraan Indonesia pun sudah pernah dialami oleh pengarang perempuan era Balai Pustaka, Selasih dengan romannya yang melankolis berjudul Kalau Tak Untung. Di buku Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983), H.B. Jassin menegaskan, “Wanita Indonesia yang pertama kali muncul dengan sebuah roman berupa buku ialah Selasih dengan Kalau Tak Untung (Balai Pustaka, 1933), yang disusul kemudian dengan Pengaruh Keadaan (Balai Pustaka, 1937).

Pada waktu yang hampir bersamaan, yaitu dalam tahun  1935 terbit pula novelet Kehilangan Mestika karangan Hamidah. Dekat sebelum perang tampil  Saadah Alim dengan Pembalasannya (sandiwara, Balai Pustaka, 1940) dan Taman Penghibur Hati (kumpulan cerita pendek, Balai Pustaka, 1941).” Di masa Jepang, H.B. Jassin mengingatkan kita pada nama-nama seperti Maria Amin, Nursjamsu, Marlupi atau Utari Kusno yang tulisan-tulisannya menyapa pembaca melalui surat kabar atau majalah.   

Deretan nama perempuan beserta identitas, garapan, dan kritik yang diberikan H.B. Jassin dalam buku-buku bunga rampai atau antologi seiyanya mengingatkan bahwa warisan H.B. Jassin tidak melulu ketokohan laki-laki yang menulis. Memang, jagat kepenulisan masihlah dunia yang patut didayakan oleh perempuan bukan karena soal kemampuan kognitif, tapi tuntutan ekonomi, keluarga, dan konstruksi budaya yang sering menyiutkan nyali sejak dalam psikologi. Mukjizat keberanian untuk tampil di publik masih perlu dipertaruhkan.

Di Barat, pada abad ke-19, pengarang-pengarang perempuan menggunakan nama samaran laki-laki.

Dunia kesusastraan masih sungguh begitu elitis, mendiskriminasi perempuan turut terlibat di hadapan maskulinitas kata (Toety Heraty, 2000). Jagat kepengarangan adalah ruang kebudayaan, setara dengan negara dan kekuasaan, yang harus direbut dari kultur maskulin.  

Ketika H.B. Jassin telah tiada, semakin banyak novelis, cerpenis, dan penyair perempuan meramaikan kesusastraan Indonesia mutakhir. Kita barangkali masih bisa menantikan bahwa akan ada lagi sesosok seperti H.B. Jassin yang tidak hanya merawat tulisan-tulisan, tapi juga memberikan kritik-apresiasi yang secara tidak langsung bukan hanya menjadikan pembaca sebagai pembelajar, tapi juga para penulis mampu menjadi apresiator pertama bagi tulisannya sendiri.

Kita tentu merasa bosan mendapati pamer tulisan itu terlalu sering dalam bentuk potret atau sampul buku di media sosial berganjar jempol atau like dan komentar singkat-padat. Melalui H.B. Jassinlah kerja sederhana, remeh, biasa, tapi rutin dengan ketekunan mencipta etos bersastra. Juga dari H.B. Jassinlah kita pantas mengenang para pujangga atau prosais di masa lalu tidak pernah cukup hanya laki-laki, nama, foto, atau penghargaan.


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara