Kisah Bung Hatta dan buku adalah sebuah narasi yang manis. Tekun membaca sejak kecil, ia memperlakukan buku seperti memperlakukan manusia. Saat ia wafat, koleksi bukunya sekitar 10.000 buku.

DI POJOK halaman sebuah rumah di jalan Diponogoro Jakarta Pusat, ada beberapa buah peti yang tergeletak. Para penghuninya baru beberapa hari menempati rumah itu kembali, sehingga mereka masih sibuk menata dan peti-peti itu belum dipindahkan. Ketika tiba waktunya untuk diangkut ke dalam rumah, sang empunya memerhatikan dengan saksama. Dua pembantu di rumah itu pun mengangkat satu per satu peti yang penuh berisi buku-buku itu. Mbah Surip dan Munthalib, dua pembantu itu, berhati-hati menaiki tangga. Sang tuan memperhatikan dari dapur dan tidak jarang memperingatkan Munthalib dan Mbah Surip untuk berhati-hati.

Satu demi satu peti akhirnya berhasil diangkut menuju lantai dua, tempat buku-buku disimpan. Penataan pun mulai dilakukan. Sang tuan lalu mendatangi sendiri buku-buku miliknya itu. Ia hendak memeriksa apakah pembantu-pembantunya menjalankan tugas dengan benar.

“Thalib! Mana ada orang berjalan dengan kepala ke bawah.”

Munthalib yang masih sibuk menata buku-buku itu pun kaget. Pandangannya tertumbuk pada satu buku yang ditunjuk oleh tuannya. Kekagetan yang bercampur dengan kebingungan karena dia tidak memahami maksud perkataan tuannya.

Sang tuan lalu melanjutkan, “Orang berjalan dengan kaki. Buku saya juga tidak boleh diletakkan terbalik.”

Kata ‘maaf” seketika meluncur dari mulut Thalib. Ia akhirnya paham maksud tuannya. Dengan segera ia perbaiki posisi buku itu dan melanjutkan penataan. Masih nampak mengawasi, sang tuan tidak beranjak. Satu per satu ia amati lagi koleksi buku-bukunya.

Sepenggal kisah ini dinarasikan Sergius Sutanto dalam novel sejarahnya berjudul Hatta: Aku Datang Karena Sejarah, Novel yang disusun berdasarkan riset langsung dengan keluarga dan lingkungan karir Bung Hata. Dari satu bagian ini bisa kita lihat sendiri betapa kuat ikatan Hatta dengan buku, baik emosional maupun intelektual. Tak ada satu pun buku Hatta yang ia tulisi, kecuali untuk sekadar memberi tanda tangan. Semua buku ia perlakukan seperti tubuhnya sendiri, dijaga bersih dan rapi.

Ada satu kebiasaan Hatta terhadap buku-bukunya: spontan saja Hatta selalu meniup sampul buku yang hendak dia buka-buka kembali. Ada debu maupun tidak, Hatta selalu melakukannya.

Selain cukup keras menyikapi cara pembantunya menata buku, Hatta pun tak kalah keras pada sahabat-sahabat yang meminjam bukunya. Saat berada di pengasingan Banda Neira, Sjahrir pernah meminjam buku berjudul Kolonial Politiek. Buku itu tak kunjung dikembalikan Sjahrir sampai sebulan lebih. Hatta lalu mendatangi Sjahrir langsung dan menagihnya.

Kisah Hatta yang memberikan buku karangannya, Alam Pikiran Yunani, sebagai maskawin rasanya takkan pernah lekang diceritakan dari generasi ke generasi. Dari situlah bisa jadi kita memiliki pandangan lain tentang buku. Ia bukan sekadar sejilid kertas yang berisi pengetahuan tertentu. Buku adalah lambang cinta yang tak mudah pudar. Pernikahan Hatta yang langgeng setidaknya mampu membuktikan anggapan itu. Hanya maut yang memisahkan Hatta dari buku-bukunya.   

Hatta bukan satu-satunya tokoh negeri ini yang mencintai buku dengan sungguh-sungguh. Namun tiada yang menampik bahwa hubungan Hatta dan buku adalah sebuah narasi yang manis. Narasi yang membuat kita merenung, sudah sejauh mana buku menjadi tumpuan pengetahuan kita.

Hatta mulai mengoleksi buku sejak usia belasan saat ia bersekolah di Batavia. Enam jilid De Socialisten karya H.P Quack, dua jilid Staathuishoudkunde karya N.G Pierson, dan Het Jaar 2000 karya Bellamy, adalah buku-buku pertama pertama yang ia miliki. Oleh Mak Etek Ayub Rais?kerabat keluarga ibunya di Bukittinggi?buku-buku itu diberikan pada Hatta muda yang cerdas.

Masa-masa studi berikutnya di Belanda semakin meningkatkan kecintaan Hatta pada buku karena aksesnya yang semakin luas. Saat studi di Rotterdam, Hatta kerap berbelanja buku di took De Westerboekhandel. Koloniale Politiek dan De Ethische Koers in De Koloniale Politiek karya P. Brooshoft adalah dua buku yang juga Hatta beli di toko buku itu. Buku yang berisi kajian politik kolonial ini amat berjasa memperkaya pledoi Hatta di Mahkamah Pengadilan Den Haag.

Hatta muda pun memanfaatkan inflasi Jerman pada 1921 untuk memborong buku sebanyak-banyaknya dari sana. Saat itu Hatta sedang berada di Hamburg. Inflasi menyebabkan gulden yang Hatta bawa melonjak tinggi nilainya. Buku-buku jadi murah dan kesempatan itu segera Hatta manfaatkan. Selain Rotterdam dan Hamburg, Hatta juga berbelanja buku di Brussel, Leiden, Paris, dan berbagai kota lain yang pernah ia kunjungi. Saat diasingkan di Banda Neira pun Hatta tetap aktif belanja buku dengan uang hasil honor menulisnya. Tak tanggung-tanggung, buku-buku itu ia pesan dari Den Haag.

*

Kecintaan Hatta pada buku tidak datang tiba-tiba. Ikatan ini dipupuk sekian tahun lamanya sejak Hatta masih kanak-kanak. Lahir dari keluarga yang berkecukupan di Bukittinggi, Hatta menerima pendidikan sekolah sedari amat muda. Usia enam tahun ia sudah bersekolah, di kala tangan kanan maupun kirinya belum cukup panjang menjangkau telinga saat dilingkarkan di kepalanya. Sejak kanak-kanak pula Hatta diajarkan Bahasa Belanda dan Perancis. Tak heran, saat dewasa buku-buku berbahasa Belanda dan Perancis dilahapnya sampai habis.

Meskipun sudah bersekolah sejak usia lima tahun, Hatta awalnya tidak ingin bersekolah. Ada dua alasan, pertama Hatta kecil lebih terobsesi berangkat haji. Obsesi yang dipupuk sejak dini oleh kakeknya yang akrab disapa Pak Gaek. Tamat atau tidak tamat dari Sekolah rakyat, Hatta akan diajak pak Gaek ke Mekkah untuk belajar Islam. Kedua, kawan-kawan mengaji Hatta mengatakan bahwa sekolah itu bikinan orang Belanda. Untung saja Hatta mengatakan hal ini pada Pak Gaeknya. Ia pun dinasehati Pak Gaek bahwa sekolah itu penting agar manusia itu pandai dan berbudi baik.

Dielo karajo jo usaho, diirik parang jo barani (suatu hasil baik hanya bisa diperoleh dengan kerja keras). Itulah salah satu pepatah Minang yang begitu membekas pada Hatta kecil. Mak Alieh, kusir kereta kuda yang kerap menghantar Hatta kecil ke sekolah, mengungkapkan pepatah itu saat menunjuk sekelompok anak-anak dari Kota Gedang yang menempuh perjalanan jauh menuju sekolah.

Kota Gedang terletak di seberang Ngarai Bukittinggi. Anak-anak itu harus berangkat pagi-pagi dari rumah mereka, menyeberangi sungai untuk tiba di pasar Bukittinggi, berganti pakaian lalu lanjut menuju sekolah mereka. Perjalanan panjang yang membuat Hatta tercengang. Anak-anak itu setidaknya harus menempuh perjalanan yang sama panjangnya selama tujuh tahun agar bisa melanjutkan sekolah ke Padang. Satu pengalaman yang kelak menanamkan prinsip menomorsatukan pendidikan di benak Hatta.

Hatta paham betul, untuk menjadikan dirinya orang yang terdidik, membaca adalah jalan yang tidak saja harus ditempuh tapi juga patut dicintai. Segala macam pengetahuan yang didapatkannya dari buku, pengalaman berorganisasi dan diskusi, membuat Hatta fasih menuliskan banyak hal.

Hatta amat gemar menulis. Semasa sekolah di Batavia, Hatta aktif di pers siswa Jong Sumatranen Bond. Ia menjadi bendaharanya. Di Belanda, bersama organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia, Hatta kembali menulis. Organisasi mempunyai sebuah majalah mahasiswa di mana Hatta menjadi penulis tetapnya. Inilah cikal-bakal pers mahasiswa di Indonesia, sebuah majalah yang diberi nama Indonesia Merdeka. Hatta adalah seorang penulis yang handal. Ia menulis banyak karangan tentang pergerakan kemerdekaan Indonesia.   

Rangkaian pendidikannya, perjuangan sebelum dan sesudah merdekanya adalah satu kesatuan dengan ribuan buku yang ia baca. Hingga wafatnya pada 1980, ada sekitar 10.000 judul buku yang Hatta koleksi, dengan tahun tertua terbitannnya adalah 1800. Namun Hatta tidak lepas dari kekhawatiran perihal nasib buku-buku itu bila ia tutup usia kelak.

Suatu kali, kepada Meutia puteri sulungnya, Hatta pernah berujar untuk menjual buku-buku itu saja. Menurutnya, mungkin buku-buku itu akan tetap terjaga jika ada orang lain yang memilikinya sendiri setelah ia wafat nanti. Lagipula hasil penjualan buku itu menurut Hatta pasti akan sangat berguna bagi keluarganya.

Meutia tidak berpendapat bahwa itu ide yang paling tepat. Ia tahu, bagaimana pun juga akan berat bagi ayahnya berpisah dengan buku-buku itu. Kedua adiknya pun berpikiran sama. Itulah sebabnya mereka dengan tekun dan setia memelihara warisan besar ayah mereka ini. Romantisme Hatta dan buku bisa jadi tiada bandingannya. Bukan saja soal keterikatannya, tapi bagaimana ikatan itu mampu memberi sumbangan yang amat besar bagi negara dan generasi sesudahnya.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara