Sebuah peta kota adalah semacam kamus bagi bahasa, ia memberikan panduan dan informasi seluk-beluk kota itu dengan lengkap dan berdasarkan penjelajahan nyata di lapangan.

TUGAS kerja membawanya tinggal di Jakarta. Gunther W. Holtorf datang ke Jakarta pada 1973 sebagai manajer kantor perwakilan perusahaan penerbangan Jerman, Luthfansa. Ia datang tanpa informasi yang cukup tentang seluk-beluk kota Jakarta. Pergilah ia ke Dinas Tata Kota untuk mencari peta Jakarta yang lengkap. Dari sana ia mendapat peta tua zaman Belanda yang hanya berisi daerah Jatinegara, Menteng, Kota, dan sediki daerah Kebayoran. Seorang pegawai Dinas Tata Kota “menyuruhnya” kalau mau peta yang lengkap buat saja sendiri.

Ia malah tertantang dengan seruan dari si pegawai tadi. Kedatangan ke Jakarta bakal mengemban tugas mulia: membuat peta Jakarta. Sejak itu, dimulailah perjalanan berpetualang menyusuri Jakarta. Sebelum ke kantor, setiap hari pukul 06.00-09.00 ia gunakan untuk berkeliling Jakarta. Waktu akhir pekannya habis untuk mengelilingi Jakarta. Ia tampak serius dalam misi ini. Pelbagai rintangan yang menghampirinya gagal membuatnya frustrasi dan putus asa. Bertemu preman ketika riset di Tanjung Priok dan Tanah Abang. Digembesi ban mobilnya. Dicuri tasnya. Dan, ia sepertinya menikmati kepahitan itu.

Pada 1977, bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta yang ke-450. Peta edisi pertama diluncurkan. Gubernur Ali Sadikin menyambut peta ini sebagai peta pertama di Indonesia yang memberikan gambaran menyeluruh  dan nyata tentang ibu kota Jakarta. Peta ini dibuat di Budapest, Hongaria. Gambarnya dibuat temannya seorang kartograf Agnes G. Hegedusne.

Ternyata edisi pertama adalah permulaan dari edisi selanjutnya. Sampai pada 1997, ia menerbitkan edisi ke- 11 peta tersebut. Cepatnya pembangunan di Jakarta membuatnya terus memperbarui alamat-alamat peta. Kerja melelahkan itu terus ia lakukan secara sendirian dalam jangka waktu yang panjang. Sejumlah 1.150 real estate ia cek satu persatu. Begitu pula 600-an komplek perumahan ia datangi. Ratusan gedung perkantoran ia periksa alamatnya. Dan beberapa ribu jalan dan gang ia telusuri di seluruh kota Jakarta.

Keseriusan menghimpun alamat-alamat di Jakarta menemukan kesalahan-kesalahan fatal penulisan nama jalan. Ia mengoreksi penulisan “Cileduk” yang seharusnya “Ciledug”. “Patimura” yang seharusnya “Pattimura”. Dan, kepada kantor Gramedia ia mengingatkan bahwa penulisan alamatnya bukan di Jalan Palmerah Selatan, tetapi di Jalan Gelora VII. Tampaknya kantor Gramedia “ngeyel” tidak mau menuruti saran Holtorf. Sampai kini di buku terbitan Gramedia atau Kompas alamat yang tertulis tetap “Jl. Palmerah Selatan 26-28.”

Pada periode 1990-an, penulisan alamat bukanlah perkara sepele. Myra Sidharta pernah membahas secara panjang persoalan alamat dalam majalah Matra edisi September 1992. Di kota, orang memerlukan buku alamat untuk mencapai suatu tempat. “Ia merupakan benda penting bagi manusia masa kini, terutama yang tinggal di metropolitan dan yang sudah mengikuti globalisasi. Di kampung, alamat-alamat tidak perlu dicatat dalam buku, tetapi berada di dalam ingatan.”

Myra mengisahkan masa ketika orang-orang Jakarta memiliki buku alamat masing-masing. Setiap orang memiliki buku alamat yang sesuai tujuan perginya. Agaknya cara ini merepotkan. Karena satu buku alamat yang ditulis seseorang berbeda dengan buku alamat yang ditulis orang lain. Buku alamat hanya berisi alamat-alamat yang sesuai kebutuhan penulisnya.  Cara pencatatan seperti ini barangkali berakhir ketika Holtorf menawarkan peta Jakarta yang menghimpun seluruh alamat gedung perkantoran, real estate, perumahan, jalan, dan gang di kota Jakarta.

Holtorf bersusah payah menyusun alamat-alamat bahkan bertaruh data soal penulisan alamat agar alamat-alamat yang sudah dipindahkan ke peta tidak menyesatkan penggunanya. Holtorf memang tidak secara gamblang mengatakan bahwa penggarapan peta itu untuk menggantikan penggunaan buku alamat ke peta. Ia menggarap peta atas dalih kecintaannya pada Jakarta. Peta garapan Holtorf terus terbit dari tahun ke tahun dengan perbaruan data. Ia terus memperbarui peta garapannya meski tidak ada jaminan bahwa peta itu bakal digunakan semua orang.

Peta adalah bukti penghormatan Holtorf kapada Jakarta.  Ini menjadi sumbangsih besar Holtorf terhadap perkembangan Jakarta. Peta garapan Holtorf telah terbit dan menghampir pembaca. Ketika ditanya berapa orang yang dilibatkan dalam penggarapan peta itu, ia dengan nada bercanda menjawab,”First was myself, then me, and then I, … and then… Saya.”

Ia sendirian mengerjakan peta ini.

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Peta yang ia buat berguna bagi semua orang. Termasuk juga berguna bagi para penerbit besar yang secara tidak tahu malu menjiplak dan meraih untung besar dari kerja keras Holtorf. Ia tidak memerkarakan kasus penjiplakan ini. Katanya, tidaklah uang yang ia cari tetapi bagaimana hidup ini berarti!.

Marco Kusumawijaya dalam buku Jakarta Metropolis Tunggang-langgang (2004) mengatakan, “Apa yang spesial dari peta Holtorf, pada akhirnya, adalah jumlah informasi yang terkandung di dalamnya. Karena sedikit buku yang ditulis tentang keadaan kontemporer Jakarta, atlas ini sungguh sebuah “buku” tersendiri tentang Jakarta kontemporer. Nama jalan hanyalah 30 % dari isi dan nilai “buku” ini. Ia memberikan basis bagi banyak peta tematik di masa depan, termasuk Peta Hijau Jakarta yang telah menggunakannya sejak awal.”

Kini, ketika Jakarta ribut soal antara pribumi dan non pribumi. Dengan melihat kerja keras Holtorf membuat peta. Kita mesti malu, ada sumbangsih besar dari non pribumi pada Jakarta.

*

Sumber tulisan:

Intisari, Mei 1997

Matra, September 1992

Metropolis Tunggang-langgang (2004)                 


Muhammad Yunan Setiawan
Bergiat di Kelab Buku Semarang. Selain aktif di komunitas itu, aktivitas lainnya adalah menjadi muazin “part time” di musala Alharomain
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara