02 Jul 2017 Danang T.P Bicara Buku

Pembahasan gender adalah pembahasan yang tak bisa sewenang-wenang mencari menang-kalah. Pembahasannya tak pernah bisa berjarak, karena siapapun sang pembahas, maka ia merupakan perempuan, atau laki-laki.

APAKAH AKTIVIS atau intelektual mempunyai instrumen keilmuan bagi tercapainya perubahan sosial? Apakah perangkat keilmuan menyediakan jalan terbaik bagi upaya emansipasi berbagai ketimpangan dalam tatanan sosial?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu bukan jenis pertanyaan yang memiliki purna jawaban. Tulisan ini juga tidak ingin memberi purna jawaban untuknya. Kita hanya akan berusaha melihat, betapa ilmu (science) bisa seperti yang pernah ditulis dalam frasa pesimisme penyair Subagio Sastrowardoyo: seribu rumus (ilmu) yang penuh janji, yang melemparkan aku jauh dari bumi yang kukasih.

Tulisan ini adalah upaya menghayati buku Katrin Bandel, Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial (Sanata Dharma University Press, 2016), menangkap dan memaknai corak pesimisme Katrin atas peran ilmu untuk upaya emansipasi. Suatu corak pesimisme yang—mungkin—lebih pelik daripada bait Subagio.

Katrin mengajak kita terayun dari optimisme ke pesimisme dalam soal mewujudkan keadilan gender. Memahami identitas gender ternyata bukan hanya memahami bagaimana manusia mengambil peran gendernya, akan tetapi juga jalinan rumit yang mengkondisikannya. Ada politik, agama, ekonomi, kebudayaan dan juga kepentingan skala global.

Dalam 10 esai Katrin, kita akan diajak melihat persoalan-persoalan pelik seputar gender, kekuasaan, kolonialisme, dan bagaimana mewujudkan politik emansipasi. Yang menarik, 10 esai Katrin selalu berangkat dari persoalannya sendiri: perempuan, bule, tinggal di negara bekas koloni, belajar sejarah, teori gender, pemikiran pascakolonial, dan mualaf berhijab. Kita tidak akan hanya mendapat penjelasan naratif yang memadai, tetapi juga akan merasakan bagaimana posisi dilematis Katrin di tengah ruang senyap perdebatan gagasan dan ide-ide ilmu sosial yang ia pelajari.

Katrin berulang kali menegaskan bahwa gender sangat mempengaruhi apapun yang dilakukan manusia. Sebab jangkauan pengaruh pemaknaan atas gender yang amat luas, maka Kajian Gender sebagai ilmu interdisipliner sudah sewajarnya dipertimbangkan dalam berbagai disiplin ilmu (2016:20-21). Selain itu, studi terkait gender tidak bisa lepas dari konteks sosial, politik, dan ekonomi yang spesifik, sebab konteks sangat berperan dalam proses memahami identitas.

Mempertimbangkan konteks pascakolonial adalah upaya Katrin untuk mengelaborasi lebih lanjut argumen bahwa identitas gender adalah kontruksi politik, endapan proses sosial, dan maujud nilai-nilai budaya tertentu. Studi pascakolonial menyediakan pandangan alternatif tentang identitas gender yang terbentuk di daerah bekas koloni. Membaca gender dalam konteks pascakolonial berarti adalah proses pemaknaan identitas dalam relasinya dengan “wacana kolonial”.

Pesimisme Pascakolonial

Memahami gender dalam konteks wacana kolonial adalah mencari upaya perlawanan untuk lepas dari dominiasi kolonial, “dekolonisasi”, “resistensi”. Keadilan gender adalah hasil akhir yang diharapkan dalam upaya perlawanan tersebut. Akan tetapi, studi pascakolonial mengajak setiap kita melakukan refleksi tentang keadilan bukan sebagai sesuatu yang universalis, begitu Katrin menegaskan dalam esai yang berjudul Sex/Gender (2016:37-46).

Emansipasi dalam pengertian sederhananya berarti lepas dari dominasi kolonial. Di sisi lain, kolonialisme telah jauh mengakar-mengurat dalam kehidupan di daerah kolonial, misalnya Indonesia. Ada 84,6 % bagian bumi ini pernah menjadi wilayah jajahan Eropa. Hal itu bukan hanya berarti proses penundukan politik dan ekonomi. Kolonialisme adalah juga proses penundukan tata pikir, dan dominasi kehidupan seutuhnya, Katrin menyebut proses global ini sebagai “wacana kolonial”.

Prinsip wacana kolonial menegaskan bahwa bangsa Eropa memiliki kedewasaan, keunggulan dan kemajuan yang harus digunakan untuk membimbing bangsa jajahan. Bangsa jajahan diandaikan sebagai bangsa yang belum dewasa, penuh ketidakadilan, represif dll. Olehnya harus dibimbing untuk mencapai apa yang dicapai bangsa Eropa (2016:118-119).

Masyarakat daerah jajahan sudah lama mengalami proses indoktrinasi substansial “wacana kolonial”.  Bahwa kemajuan emansipatif adalah hidup dengan cara bangsa koloni “tuan” mereka hidup. Di tengah ketegangan dilematis itu upaya mencari jalan lain bagi politik emansipatif berkeadilan gender tak semudah membalik telapak tangan.

Misalnya dalam esai Pengalaman Mualaf dalam Konteks Pascakolonial, Katrin melengkapi esainya dengan kisahnya sebagai seorang perempuan Eropa yang lima belas tahun tinggal di Indonesia, menekuni kajian pascakolonial, seorang yang mengalami konversi iman menjadi seorang muslim. Hibriditas identitas dalam diri Katrin menguatkan argumentasinya tentang bagaimana jalan alternatif memahami identitas gender dalam konteks pascakolonial bukanlah hal mudah. Hibriditas identitas adalah arena pertarungan pemaknaan atas diri yang terus berproses dan berusaha lepas dari “wacana kolonial”. Diri yang menolak dibakukan dalam satu pemaknaan tunggal.

Katrin—sepertinya—sangat terpesona dengan hibriditas sebagai jalan resistensi “wacana kolonial”, bentuk perlawanan yang tak melulu dengan cara-cara frontal. Melawan bisa dimulai dari diri sendiri. Katrin dalam Kartini Manusia Hibrid, memahami sosok Kartini sebagai tunjuk ajar tentang proses hibriditas dalam diri seseorang, dan bagaimana hibriditas itu dipertahankan dalam pemaknaan atas diri Kartini (2016:47-57).

Kekaguman Katrin pada bentuk perlawanan yang tidak melulu frontal juga terlihat dalam esai Ambivalensi Wacana Kolonial dan Masalah Resistensi (Sebuah Pembacaan Pascakolonial terhadap In God We Trust, Kisah Perjalanan Spiritual Seorang Indonesian-American). Esai itu mengurai bagaimana diskriminasi dan ketidakadilan yang selayaknya melahirkan tindakan perlawanan frontal, malah menuntun seorang dokter gigi perempuan Indonesia anggota angkatan udara Amerika menemukan jalan spiritual menuju Tuhan. Kita lalu tahu bahwa, laku sufistik bisa memberikan corak lain bagi upaya resistensi atas “wacana kolonial”.  

Konteks pascakolonial yang dipaparkan Katrin mengajak kita memahami gender dalam ketegangan tarik ulur “wacana kolonial” sisa proses global kolonisasi. Identitas, dalam bentuk gender maupun yang lainnya, menyimpan pertentangannya sendiri. Apa yang disebut politik emansipatif dalam kerangka universalis Barat belum tentu sesuai. Misalnya dalam Esai Dilema Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial, Katrin memposisikan feminisme dalam sudut pandang kritis, bukan jalan politik emansipatif yang siap pakai.

Feminisme menyadarkan kita akan ketidakadilan gender dalam masyarakat kita, di manapun kita berada. Dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang mempersoalkan dan menganalisis ketidakadilan itu secara kritis, dan berusaha mengubah keadaan. Namun, kalau kita berada di negara pascakolonial, kritik feminis semacam itu bisa menjadi buah simalakama. Di satu sisi, kritik itu sangat relevan untuk mengugat ketidakadilan gender yang ada. Di sisi lain, ketika kritik itu diutarakan, ia berpotensi menjadi bagian dari “wacana kolonial”. Sebagai bukti bahwa masyarakat setempat bersifat kolot, patriarkhis, dan represif (2016:3-4).

*

Upaya mencari bentuk politik emansipatif yang berkeadilan gender dalam konteks pascakolonial bisa jadi selamanya adalah ketegangan di antara ruang senyap akademis dan pengalaman keseharian. Resistensi atau tindakan perlawanan bukan selamannya upaya merumuskan kesimpulan dari ruang senyap perdebatan akademis. Kesimpulan-kesimpulan akademis ditantang justru saat dibenturkan dengan kenyataan sosial, politik dan budaya di negara pascakolonial.

Seorang pekerja akademis seperti Katrin tidak bisa menolak untuk terlibat, sebagaimana yang ia tulis dalam esai Gender dan Posisionalitas: Kajian gender memiliki agenda untuk mewujudkan masyarakat yang adil gender. Namun yang tidak adil gender itu siapa? Apakah orang lain di luar sana yang akan kita jadikan subjek penelitian kita? Bukankah kita sendiri juga adalah perempuan atau laki-laki?

Kita tidak mungkin mendekati topik gender manapun secara berjarak, seakan kita tidak terlibat. Kita selalu memandang, berbicara dan menulis dari posisi tertentu. Jika kita andaikan bahwa gender adalah kontruksi sosial, maka diri kita adalah juga bagian konstruksi sosial (2016:19-21).

Esai-esai Katrin selalu menyertakan refleksi kontekstual yang lebih bersifat pengalaman pribadi. Hal itu adalah potret bahwa upaya akademis apapun itu, apalagi yang berkaitan dengan agenda-agenda transformasi sosial-politik adalah upaya merefleksikan posisi dalam ruang tegang dilematis. Satu kaki berpijak pada rumusan-rumusan teoretik dalam belantara senyap keilmuan. Sementara, kaki yang lain tenggelam dalam silang sengkarut ruang hidup keseharian. Ruang kehidupan tempat bertumbuh suburnya hujatan pada kelompok LGBT, daripada keinginan untuk memahaminya.

Secara khusus buku ini bagi saya adalah ajakan untuk melihat posisi instrumen keilmuan secara kritis. Ilmu bisa jadi hanya membantu kita menguraikan gejala dan memahaminya. Seperti cahaya lentera untuk membuka sedikit kegelapan di depan kita. Setelah semua terbuka, bisa jadi solusi jalan perubahan sosial harus kita cari dengan bantuan instrumen lain. Ilmuwan boleh pesimis, bahwa perubahan sosial, emansipasi dan gambaran ideal sejenis punya potensi untuk menggantung di ruang akademis. Akan tetapi, ilmuwan punya pilihan menjadi optimis, terus melakukan upaya yang paling memadai guna menguraikan jalinan rumit yang menenun setiap persoalan sosial ketidakadilan gender.

Katrin dengan pemaparannya tentang persoalan gender dalam masyarakat pascakolonial seolah mengajak kita tidak hanya ingat Subagio Sastrowardoyo, tapi juga mengingat kembali frasa Raymond Rolland yang pernah dikutip dalam catatan harian Antonio Gramsci: I’m a pessimist because of intelligence, but an optimist because of will. Akhirnya, sikap sadar gender tidak mungkin diwujudkan tanpa kesadaran tentang posisi kita sendiri yang dilematis, kesadaran yang mewujud dalam optimisme kemauan untuk berusaha merefleksikan dan mengolah posisi diri kita sendiri secara kritis.


Danang T.P
Lulusan Fakultas Filsafat UGM, menetap di Yogyakarta, bersenang-senang dan menghibur diri di www.danangtp.wordpress.com, bantu-bantu di www.lsfcogito.org
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara