Penerbit-penerbit alternatif Jogja kembali menggeliat. Data penerbit alternatif yang mengikuti KBJ#2017 adalah 55 penerbit. Lalu apa yang sebenarnya melahirkan kembali gairah penerbitan yang dulu pernah mengalami kelesuan ini?

SAYA tidak tahu, apakah judul itu akan jadi gambaran yang tepat. Tapi musti diakui bahwa gerak penerbitan kita hari ini sangat dipengaruhi oleh berkembangnya media digital. Baik kemunculannya, pola produksi, maupun pemasarannya.

Kita yang pernah (atau akan) membaca buku Declare karangan Adhe, dipertontonkan bagaimana pada saat itu, riuh redam reformasi menghasilkan penerbit alternatif yang banyak jumlahnya. Mereka muncul dari latar belakang pembaca dan penulis, dengan tema-tema yang sebelumnya mungkin dianggap tabu. Kebebasan itu, memunculkan ragam olah wacana yang sempat tertahan. Kemudian kita menyaksikan, dikemudian hari, ada banyak yang terbenam dan tumbang. Kita tidak pernah benar-benar tahu penyebabnya, atau bagaimana dapur masing-masing penerbit bekerja. Kita hanya merasa ada masa jeda bagi dunia penerbit alternatif (Jogja), yang kemudian kembali menemukan gaungnya di era serba digital.

Munculnya Para Penerbit Baru

Belakangan ini muncul fakta menarik, bahwa seorang atau kelompok bisa dengan mudahnya menjadi penerbit. Dalam satu perbincangan dengan pelaku buku Jogja yang lebih senior, sulit untuk membayangkan bahwa hari ini, kita bisa mencetak buku dengan oplah yang kita mau. Di waktu sebelumnya, standar oplah minimum adalah 1000 sampai 2000. Sekarang, kita bisa mencetak hanya 200 eksemplar, 20 eksemplar atau bahkan malah 5 eksemplar!

Anda bisa hanya mencetak 5 buku, dan menjualnya seolah buku itu diproduksi sebanyak 1000 eksemplar. Saya kira kemudian kita paham. Sesuatu yang menarik bermula dari sana.

Menilik pada data pagelaran Kampung Buku Jogja perdana di tahun 2015, hanya ada 9 penerbit altenatif mendaftarkan diri terlibat.1 Di tahun berikutnya, pada 2016, meningkat menjadi 22 penerbit . Ada kenaikan 144%!

Puncaknya adalah tahun 2017. Ada 55 penerbit alternatif menjadi penopang utama dalam acara #KBJ2017. Naik 159%! (angka yang sangat besar dibanding gelaran yang kedua). Itu tidak saja berhasil menjadi sebuah isu, namun juga memperlihatkan awal sebuah geliat. Keberagaman tema yang ditawarkan, menampilkan kembali perwajahan penerbit alternatif sebagai satu gerakan yang bukan saja berbeda, namun sedikit liar.

Dalam hal ini, Kampung Buku Jogja, diakui atau tidak, berhasil memberi ruang bagi buku-buku “aneh” untuk dikenal dan diserap pasar.  

Fenomena itu bukan tanpa sebab, kemudahan dalam memperoleh akses ke percetakan yang bersedia mencetak sedikit dan dibayar belakangan, juga kemungkinan saling silang pekerja buku, membuat seorang atau kelompok tidak kesulitan ketika hendak mengolah suatu wacana. Mereka akan berbicara tentang tema, kemudian berhitung kasar dengan modal yang ada, mengandalkan jejaring dalam membuat barometer serapan, lantas mengeksekusi dengan dingin.

Media Sosial Sebagai Jaminan

Pada tahun 2013-2015, Facebook dan Twitter sebagai media sosial menjadi tren bagi para penjual buku daring. Segala transaksi nampak jelas dari cara pedagang memposting produknya 4-5 kali sehari. Maka tak heran linimasa facebook—apabila Anda berteman dengan lima sampai sepuluh akun dagang buku—selalu penuh dengan buku.

Harga buku-buku yang ditawarkan pun terbilang sangat tinggi. Buku-buku alternatif dianggap langka. Bukan saja karena terbatas, melainkan juga karena entah di mana penerbitnya sekarang.

Pada tahun yang sama pula (tepatnya kurun 2015-2016), Adhe (Jendela) dan Buldan (Bentang Budaya) adalah dua dari sekian pelaku buku senior yang mencium momen ini. Mereka mulai turun gelanggang untuk menerbitkan kembali beberapa judul yang dianggap langka tersebut.

Di satu sisi, Diandra dan Utama Offset adalah dua dari sekian percetakan yang sedang gencar mempopulerkan tren cetak POD (Print On Demand). Satu pola produksi yang bisa dibatasi oplahnya.

Dua pergerakan itu, berbanding lurus dengan gairah yang diinginkan reseller untuk selalu memiliki barang dagangan yang berbeda, jarang di toko buku, dan yang paling penting: terbatas. Sehingga sebagai pedagang, mereka punya daya tawar terhadap konsumen. Mereka tidak memikirkan persaingan dengan ritel besar, sebab mereka mengincar segmen yang berbeda. Terjadilah simbiosis mutualisme antara penerbit-percetakan-dan pedagang.

Pola Produksi dan Pemasaran

Para penerbit di atas, adalah pelaku yang sadar betul dalam memanfaatkan media sosial. Sebab lewat medium tersebut, para penerbit melakukan banyak hal dengan “biaya rendah”. Mula-mula akan memunculkan isu. Isu tersebut disambut oleh reseller dengan ikut menyebarkan dan membuka PO. Dari tenggat batas promo, penerbit akan lekas punya gambaran seberapa banyak daya serap untuk produknya (bahkan bisa mulai mengumpulkan modal). Untuk kemudian diteruskan kepercetakan.

Barometer itu menjadi sangat penting di tengah keterbatasan modal. Jumlah pasti yang akan diserap, memudahkan penerbit mengatur sirkulasi keuangannya. Tidak ngawur, dan cenderung mengukur kemampuannya.

Dengan medium yang sama juga, mereka bisa memberi solusi bagi reseller dengan modal terbatas. Yakni menawarkan pola dropshiper. Para reseller hanya perlu memajang foto buku, menunggu transaksi dari pelanggan yang lantas diteruskan ke penerbit. Tak heran jika beberapa situs web, memajang foto buku dengan template yang sama: scan cover/jpg.

Kesimpulan yang bisa kita lihat dari fenomena di atas, saya kira ada dua. Pertama, perkembangan media digital melahirkan banyak penerbit baru dengan segala akrobatnya. Kedua, ada satu rantai yang diputus oleh para penerbit yakni proses distribusi/peran distributor.

Penerbit “zaman now” berkesempatan saling sapa dengan konsumen. Penerbit bahkan bisa melibatkan pembaca berperan aktif ketika hendak memproduksi buku. Semisal ketika memilih kover.

Oleh karenanya, saya kira itu sesuatu yang menarik. Tinggal kita lihat, apakah di waktu-waktu yang akan datang; pola ini memang efektif atau akan sama nasibnya dengan penerbit-penerbit sebelumnya pada zaman yang berbeda.

 

Catatan kaki:

1. Menurut pendapat saya, penerbit alternatif di sini adalah mereka yang memperjuangkan wacananya sendiri dalam dunia penerbitan. Masuk atau tidak masuk toko buku, bukan barometer utama. Melainkan apa yang ditawarkan dan bagaimana penerbit itu memperjuangan identitasnya.

 

 


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara