Tipografi tak hanya mampu mempercantik, namun juga mampu membahayakan. Tipografi punya sejarah yang bisa sangat politis pada masa dan konteksnya masing-masing.

LAMBANG palu-arit sudah seperti hantu di Indonesia. Menempelkannya di kaus apalagi di sampul buku bisa jadi akan membuat Anda dalam masalah. “Orde Baru” dan “1965” bisa menjadi dua kata kunci untuk memahami ketakutan sebagian orang di Indonesia pada lambang ini. Kalau saja dulu Partai Komunis Indonesia menggunakan lambang kucing imut atau moncong putih atau pohon beringin, orang-orang pasti tidak akan terlalu takut sekarang-sekarang ini.

Dua puluh empat tahun sebelum palu-arit dilarang di Indonesia, kisah yang hampir-hampir mirip terjadi di belahan bumi yang lain. Nazi yang saat itu berkuasa di Jerman melarang simbol-simbol tertentu untuk digunakan di negaranya. Bukan palu-arit, bukan. Yang dilarang oleh mereka adalah jenis-jenis tipografi Blackletter atau sering disebut juga Gothic.

Tipografi? Ya, satu dari sekian pemerintah paling kuat di dunia pada masanya pernah melarang tipografi.

Blackletter adalah jenis font yang padat, berpenampilan tua, dan terkesan rumit. Di tahun 2017 ini, pantaslah kita menyebutnya anakronisme. Atau jika masih menganggapnya relevan, mungkin font ini hanya akan cocok untuk sampul album musik black metal atau tipografi tato-tato bergaya narapidana atau sampul buku-buku lawas yang mungkin akan sulit terjual. Kalau untuk font badan teks buku, kiranya kita perlu berpikir kembali soal itu.

Kisahnya bermula ketika Fraktur—font Blackletter paling populer di Jerman—diasosiasikan sebagai Judenlettern atau jenis huruf orang Yahudi. Januari 1941, Martin Bormann atas perintah Hittler menulis dekrit yang mengatakan bahwa Blackletter bukanlah tipografinya orang Jerman. Padahal, sejak tahun 1800-an, Antiqua dan Fraktur adalah dua font paling banyak digunakan orang-orang di Jerman. Antiqua digunakan untuk penulisan huruf Latin populer, sedang Fraktur digunakan untuk dokumen.

Ketika Nazi muncul pada 1920-an, mereka juga menggunakan font Fraktur dan turunannya. Semua dokumen-dokumen resmi Nazi dicetak dengan Fraktur. Kop-kop surat Nazi menggunakan Fraktur. Bahkan, sampul buku Mein Kampf yang ditulis Hittler menggunakan gaya Fraktur yang ditulis tangan. Namun, dekrit itu memang blunder Nazi seiring sikap politiknya pada kaum Yahudi. Melalui dekrit itu, Bormann memutuskan Antiqua adalah standar baru penulisan dokumen-dokumen resmi di Jerman.

Dekrit yang ditulis Bormann tentang pelarangan font Blackletter/Gothic yang dianggap milik Yahudi

Kiranya, kalau dokumen di atas diartikan menjadi sebagai berikut:

... Saya mengumumkan hal berikut, atas perintah Führer:

Salah jika menganggap tipe huruf Gothic/Blackletter sebagai tipografi Jerman. Pada kenyataannya, jenis huruf Gothic/Blackletter yang disebut huruf Schwabacher-Yahudi. Sama seperti mereka kemudian datang untuk memiliki surat kabar, orang-orang Yahudi yang tinggal di Jerman juga memiliki mesin cetak ... dan dengan demikian muncul penggunaan umum surat-surat Yahudi Schwabacher di Jerman.

Hari ini Führer ... memutuskan bahwa tipe Antiqua harus dianggap sebagai tipografi standar. Seiring waktu, semua barang cetakan harus dikonversi ke jenis huruf standar ini. Hal ini akan terjadi sesegera mungkin berkenaan dengan buku teks sekolah, hanya skrip standar yang akan diajarkan di sekolah dasar dan desa. Penggunaan surat-surat Schwabacher-Yahudi oleh pihak berwenang akan diakhirkan nanti. Sertifikat penunjukkan untuk pejabat, rambu jalan, dan sejenisnya di masa depan hanya diproduksi dalam huruf standar ...

Ditandatangani, M. Bormann.

Ada banyak protes dari orang-orang soal dekrit itu, tapi tak berhasil barang sedikit pun. Buku-buku sekolah semuanya diganti. Guru-guru tidak boleh lagi mengajarkan gaya menulis Blackletter di sekolahan. Ironi yang bisa ditertawakan dari pelarangan keterlaluan ini: kop dekrit itu masih menggunakan font Fraktur.

Selain di Jerman, pembatasan font juga terjadi di negara-negara Arab yang jatuh dalam kolonialisme Barat. Penulisan dengan huruf arab/hijaiyah sama sekali berbeda dengan huruf Latin. Dalam penulisan Latin, masing-masing huruf bentuknya sama ketika berada di depan, tengah, ataupun di akhir kata. Sedangkan di huruf arab, posisi huruf dalam kata akan berbeda-beda. Singkatnya, penulisan dengan huruf arab tidak sesuai dengan tradisi tipografi yang dibawa bangsa kolonial.

Hal ini menjadi tantangan dalam penguasaan media cetak yang saat itu jadi sarana informasi yang sangat berpengaruh. Alih-alih mengembangkan huruf Latin agar mudah diterima masyarakat, bangsa Barat mengubah huruf arab hingga seperti yang saat ini digunakan di televisi, koran, dan buku-buku berbahasa arab. Pengembangan tipografi arab di media massa dikuasai kolonial.

Untuk melihat bagaimana dampaknya, mari kita lihat perbandingan. Saat ini ada 20.000 lebih cara yang bisa digunakan dalam tipografi Latin berbahasa Inggris karena memang perkembangan terjadi di seluruh belahan dunia. Sedangkan tipografi bahasa arab, tidak lebih dari 100 buah untuk mendukung komunikasi antara setengah miliar orang!

Namun demikian, akhir-akhir ini banyak desainer dari jazirah arab yang mulai mengembangkan tipografi huruf arab. Satu dari desainer itu ada Rana Abou Rjeily, seorang warga Lebanon yang kuliah desain di Amerika dan Inggris. Ia membuat Mirsaal, sebuah tipografi untuk huruf arab yang dirancang mampu menjembatani jurang pemisah antara corak huruf Arab dan Latin.

Mirsaal didesain untuk memastikan huruf arab tetap bisa relevan dan terlihat modern ketika bersanding dengan huruf Latin. Karya Rana ini memang menyederhanakan kompleksitas huruf Arab, namun tipografi ini memang didesain agar lebih ekspresif dan otentik.

Bergeser ke utara, kita akan menemui Balkan, negara dengan daerah yang terpisah-pisah dan ketegangan rasial dan etnis lebih lama dan terasa dibanding Indonesia saat ini. Sebagai negara dengan masyarakat yang majemuk, ada banyak tipikal penulisan yang berjalan di negara ini: Latin, Arab, blackletter, cyrilic. Pada saat perang dingin mulai terjadi, pertarungan budaya semakin memperlihatkan variasinya. Bagi negara-negara pecahan seperti Balkan, pilihannya ada dua: nostalgia era Uni Soviet atau beranjak dan mau selaras dengan budaya barat.

Selain bahasa, tipografi adalah hal lain yang kentara dalam pertarungan budaya di Balkan. Menggunakan penulisan Latin artinya menerima kebudayaan bangsa barat. Jika berbahasa ataupun menulis di tempat kelompok yang salah, seseorang tentu akan mendapat masalah.

Alfabet Balkan Sans

Meski jarak waktunya sudah sangat lama, segregasi dan diskriminasi rasial dan etnis rasanya masih enggan pergi dari Balkan. Hal inilah yang kemudian mendasari desainer Kroasia Nikola Djurek dan Marija Juza untuk membuat Balkan Sans. Balkan Sans dibuat untuk merepresentasikan tipografi penulisan yang egaliter antara Latin ataupun Cyrilic.

“…demistifikasi, depolitisasi, dan rekonsiliasi mereka untuk kepentingan pendidikan, toleransi, dan terutama komunikasi.”

Mungkin langkah Balkan Sans tidak akan langsung berhasil membuat kedamaian di Balkan. Sama halnya Nazi yang tidak begitu saja berhasil memusnahkan Yahudi dengan hanya melarang Fraktur. Namun demikian, langkah Nikola Djurek dan Marija Juza nyatanya mampu menguatkan gerakan toleransi di sana. Dan bukankah setidaknya kita jadi tahu bahwa tipografi punya sejarah yang bisa sangat politis pada masa dan konteksnya masing-masing?

Tentu tidak menutup kemungkinan akan muncul para desainer khususnya yang fokus pada bidang tipografi yang akan berkarya dengan semangat-semangat politis serupa.


Aziz Dharma
Pekerja grafis serabutan. Bisa dihubungi via Facebook.com/AzizDhar atau surel azizdarma@gmail.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara