Yusi Avianto Pareanom sepertinya dicintai semua orang. Hal itu terlihat ketika diskusi buku terbarunya; Muslihat Musang Emas (Banana: 2017) di kafe Nyatakopi, Jl. Wahid Hasyim, Caturtunggal, Depok, Sleman, Minggu (26/11).

Setelah diskusi rampung, Prima Sulistya pamit ke sudut lain kafe sebentar, lalu kembali sambil membawakan kue tar buah untuk Yusi. Lima buah lilin yang tertancap di atasnya segera dinyalakan. Suasana langsung meriah—meski sebelumnya diskusi yang dibawakan Safar Banggai dan Bernard Batubara juga menyenangkan.

“Hari ini bukan ulang tahun saya,” jelas Yusi saat peserta diskusi langsung menyanyikan lagu Happy Birthday To You.  Ia terangkan pula, ulang tahunnya jatuh pada 9 November. Tapi karena kadung dirayakan, ditiupnya juga api lilin-lilin kecil di atas kue. Peserta diskusi kemudian ramai-ramai menikmati kue tersebut—tak terkecuali saya dan teman-teman dari Radio Buku.

Tercatat, Muslihat Musang Emas adalah buku fiksi ketiga karya Yusi. Bernard Batubara, salah satu pemantik dalam diskusi menyatakan; membaca kumpulan cerpen (kumcer) ini membuatnya teringat kenangan saat remaja, ketika ia masih kelas 2 SMA.

Saat itu, Bernard berpacaran dengan adik kelasnya. Di hari Valentine saat keduanya resmi berpacaran selama setahun, Bernard tidak punya uang sama sekali untuk memberikan kado pada pacarnya itu. Alhasil, ia kemudian mengajak sang pacar berkendara dengan motor, keliling-keliling kota Pontianak, menyusuri jembatan tol yang melintangi Sungai Kapuas.

Setelah puas, Bernard mengantarkan sang pacar pulang. Ia minta maaf karena tidak bisa memberi kado apapun untuk pacarnya itu. Pacar Bernard pun menjawab bahwa ia tidak apa-apa. Menghabiskan waktu bersama Bernard saja sudah membuatnya senang.

“Perasaan kecewa, hangat namun sedih itulah yang saya rasakan ketika membaca buku Mas Yusi, tentu saja dalam level yang berbeda. Tapi poinku adalah, kalau teman-teman sudah membaca karya Mas Yusi, hal pertama yang tertangkap tentu kelucuan. Tapi, komedi itu seringkali hanya pengantar untuk menuju sesuatu yang ada di balik cerita,” terang Bernard. Menurut Bernard, kesedihan adalah ‘sesuatu’ yang tersembunyi di balik cerita-cerita Yusi.

Bernard mencoba membandingkan buku Muslihat Musang Emas dengan karya Yusi yang lain, Rumah Kopi Singa Tertawa (Banana: 2017) misalnya. Selain cerita dalam kumcer bersampul warna kuning dengan cangkir kopi berwarna merah yang dikerubungi musang ini lebih banyak (21 cerpen), cerita dituturkan dengan efektif.

Dalam satu cerpen berjudul “b.u.d.”, tokoh utama yang menyukai permainan kata palindrom; kata yang jika hurufnya dibaca dari belakang ke depan akan berbunyi sama mengalami serangkaian peristiwa yang sedih. Namun, kisah diakhiri dengan keharuan.

“Ada satu pola kepatuhan di buku ini, tentang hubungan sebab-akibat antara satu peristiwa dengan peristiwa lain yang sangat gampang dicerna,” ujar Bernard. Ia kemudian menggunakan teori teknik informatika untuk membedah cerpen-cerpen Yusi—sesuai latar belakang pendidikan Bernard di Jurusan Informasi dan Teknologi (IT), dalam hal ini tentang alogaritma.

“Algoritma itu serangkaian instruksi yang dapat membuat komputer itu berfungsi. Kita sebagai manusia sebaiknya menggunakan cara berpikir yang algoritmik. Yaitu, memperhatikan satu  peristiwa, lalu memutuskan pilihan atas peristiwa itu. Kemudian, ke peristiwa lain berdasarkan pilihan itu,” ungkap pria yang akrab dipanggil Bara itu. Menurutnya, cerita-cerita dari buku Yusi memiliki pola seperti itu.

*

Safar Banggai, pemantik diskusi selanjutnya menyampaikan pendapat yang berbeda dengan Bernard. Ia membuka dengan pujian yang tulus tentang ketidakadaannya salah ketik dalam antologi cerpen yang dibahas.

“Kalau sampai teman-teman menemukan typo, saya belikan rokok dan kopi deh,” jaminnya.

Safar mengaku menyukai gaya menulis Yusi yang baginya dibumbui data-data yang akurat tentang nama tokoh maupun kejadian-kejadian yang aktual.

“Data-data itulah yang bisa membuat pembaca percaya terhadap cerita yang ditulis, bahkan seandainya data-data tersebut bohong atau karangan belaka,” terangnya.

Safar juga mencatat ada peralihan gaya bertutur dalam Muslihat Musang Emas. Di cerpen pertama hingga cerpen berjudul “Samsara”, gaya bercerita masih mirip dengan cerpen-cerpen dalam Rumah Kopi Singa Tertawa. Sementara cerpen setelah “Samsara” telah menggunakan gaya bercerita yang berbeda. Safar menduga itu terjadi karena Yusi telah bertemu banyak orang baru maupun mengalami pengalaman-pengalaman baru. Perbedaan gaya bercerita ini, sayangnya tidak dijelaskan Safar lebih jauh.

Bernard menambahkan, cerpen-cerpen yang terkumpul dalam Muslihat Musang Emas aktual dengan kondisi sekarang karena ditulis pada tahun 2017. Dapat terlihat dari cerpen “Nasihat Bagus”. Bagi Bernard, cerpen itu menggambarkan bagaimana tim sukses politikus menyerang lawan politiknya menggunakan media sosial. Ia mengajak warganet untuk tidak terlalu naif ketika masuk ke dunia media sosial, menganggap pendukung politikus tertentu memang mendukung dengan tulus.

“Cerita yang bagus adalah cerita yang menambah wawasan,” ujar Safar setelah Bernard menyampaikan pendapatnya. “Ada beberapa tokoh sastra yang ditulis Paman Yusi di bukunya. Misalnya soal Ernest Hemingway yang berusaha menghindari kata sifat dalam ceritanya,” tambahnya. Ia mencontohkan pula dalam cerpen “Samsara”, di mana Yusi bermain-main dengan menggabungkan nama-nama tokoh literasi yang dikenalnya. Ada Sabda Dhani Wibisono, Arlian Sulistya, Amin Khadafi, Irwan Anugrah, Arlian Siauw, Arswendo Atmowiloto, dan lainnya. Khusus nama terakhir memang nama asli yang tidak digabung dengan nama lain.

“Ada lagi nih!” Bernard berseru. “Cerita bergagasan baik tidak lantas enak dibaca. Karena, tergantung pada bagaimana si penulis menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.” Ia menilai, cerpen-cerpen Yusi banyak dikemas dengan gaya ala cerita detektif. Contohnya pada cerpen “Alfion” dan “Pergi ke Malang”.

*

Sebenarnya, setelah bagian ini, banyak hal yang dibahas oleh Safar maupun Bernard. Tapi, kebanyakan memberi spoiler cerita yang mungkin akan mempengaruhi penjualan buku Muslihat Musang Emas. Karenanya, saya putuskan untuk tidak menyertakannya di sini.

Memasuki akhir diskusi, Yusi Avianto Pareanom yang malam itu hadir diminta maju untuk membacakan beberapa karyanya secara langsung. Namun, sebelumnya Irwan Bajang memberi tanggapan terhadap karya-karya Yusi. Baginya, membaca karya Yusi membuatnya menemukan rumusan tertentu untuk menulis.

“Misalnya meletakkan satu tokoh di awal. Biasanya tokohnya biasa saja, kemudian nanti ada kejadian-kejadian; sang tokoh mengalami kesialan-kesialan yang mempertemukannya dengan tokoh sial lainnya. Nanti diakhiri dengan sesuatu yang biasa-biasa saja. Justru kekuatan cerita Mas Yusi ada di plot: bagaimana kejadian-kejadian itu membuat tokoh bertemu,” beber Bajang.

Yusi yang malam itu mengenakan kemeja putih menjawab, setiap penulis akan menyerap apa-apa yang dibaca. Bagian-bagian yang diambil dan dimasukkan dalam karyanya itu tergantung kebutuhan.

“Aku penulis yang tergantung sama bahan. Kalau bahannya tidak ada, aku harus cari. Mungkin ada kaitannya dengan latar pendidikanku. Aku anak teknik, jadi kalau misalnya membuat rumah, aku sudah membayangkan bentuk per lantainya itu bagaimana. Kemudian, kekuatannya seperti apa. Jadi, fondasi bangunan sudah kubayangkan. Baru nanti disusul warna atau ornamennya seperti apa,” runut Yusi.

Dalam tulisan, ia memulai dengan membayangkan bagaimana ide pokok cerita, kemudian mencari bahan yang dapat dipakai untuk menguatkan cerita tersebut.

“Tentu tidak semua bahan faktual, ada juga yang aku ngibul. Tapi, bagaimana cerita itu dapat diterima, itu yang penting.” Yusi menggarisbawahi satu hal, bahwa sebuah karya fiksi yang bagus adalah karya yang bisa meyakinkan pembacanya. Terlepas dari premis cerita yang seperti apa pun, jika cerita itu mengasyikkan untuk dibaca, orang akan meyakininya.

Ia mencontohkan, ketika membuat novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi mendatangi para pembuat kapal di Pulau Pagerungan Kecil yang letaknya di antara Sulawesi dan Madura. Ia tinggal dan bergaul dengan para pemuat kapal selama seminggu untuk mengetahui kehidupan tukang pembuat kapal hingga bagaimana bahan-bahan pembuatannya.

“Kalau bahan kita mencukupi, bagian yang lain jika disisipi dengan fiksi, pembaca tidak akan keberatan, kok. Dulu, ada pertanyaan apakah racun-racun yang disebutkan di Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi benar semua? Jawab saya gampang; coba saja racunnya. Kalau bekerja berarti aku tidak membual. Kalau tidak ya, begitu...,” kelakar Yusi yang langsung disambut tawa.

*

Sebelum diskusi selesai, Yusi Avianto Pareanom, sastrawan rendah hati itu menyempatkan waktu membacakan sepenggal cerita dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Ia bacakan Bagian 10 tentang telur angsa ajaib dengan gaya yang tenang, namun tetap dapat membuat tertawa ketika sampai di adegan-adegan satir yang jenaka.

Setelah Safar dan Alfin turut membacakan cerpen dalam “Muslihat Musang Emas dan Elena”, diskusi ditutup dengan foto bersama. Beberapa pengunjung yang membeli buku kumcer itu langsung meminta tanda tangan dan foto bersama pria berusia 49 tahun itu. Kemudian, seperti yang telah diketahui, peserta diskusi merayakan ulang tahun Yusi yang terlambat dua minggu tiga hari.


Fitriana Hadi
Tertarik pada isu-isu gender. Beberapa esainya terbukukan dalam Aku & Buku 4: Para Penyair pun Memilih Buku (2017) dan ID.1 Perayaan Ide, Penghormatan pada Keragaman (2017). Aktif di Komunitas Radio Buku Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara