07 May 2017 F Daus AR Bicara Buku

Dua jilid buku "Aku dan Film India Melawan Dunia" mengupas warna-warni film India. Selain itu, keduanya juga mencoba meyakinkan bahwa film India bukanlah melulu tarian, pohon, Inspektur Vijay, atau Tuan Takur.

1

Aku dan Film India Melawan Dunia, judul sempurna sebuah propaganda. Kesan itu saya rasakan sejak menemukan dushmanduniyaka.wordpress.com. Persisnya saya lupa, apakah blog itu saya kunjungi setelah Mahfud Ikhwan dinobatkan pemenang sayembara novel DKJ 2014 melalui Kambing dan Hujan atau sebelumnya.

Jelasnya, blog itu menurut saya, merupakan lorong panjang yang dapat dilalui untuk menjumpai masa lalu. Menemukan diri kita duduk termangu di depan layar kaca menyaksikan film India sebagai satu-satunya alasan sehingga tetangga tidak mematikan kotak hitam putihnya.

Tak dipungkiri, film Indialah yang mendewasakan kami (generasi saya di kampung di awal tahun 90-an menuju awal 2000-an). Mengetahui sebutan jatuh cinta bila tertarik kepada lawan jenis. Mengenal ada manusia sekejam Tuan Takur dan sebaik Inspektur Vijay.

Sehari setelah buku ini saya terima dari Pocer.Co, saya sempatkan menonton ulang Taare Zaamen Par, Slumdog Millionaire, 3 Idiots, dan film baru saya tonton, Jolly. Setelahnya, barulah membaca buku pertama. Oh iya, buku ini dibagi menjadi dua bagian layaknya kitab tafsir. Halah! Anggapan ini tentu berlebihan. Begini saja, buku ini diterbitkan menjadi dwilogi karena menurut penerbit, terlalu tebal jika dirangkum dalam satu buku.

Ketiga film itu tentu sangat berbeda dengan film India yang sering disaksikan di televisi yang penuh tarian dan nyanyian diselimuti kisah balas dendam. Tujuan menonton ulang adalah untuk menyambung colokan ingatan mengenai film India.

Saya pikir, Mahfud mengingatkan kita kembali tentang film India sebagai tontonan komunal masyarakat, utamanya di pedesaan pada dekade 90-an. Bagaimana serial Hayder Ali menjadi tontonan yang menghentikan permainan anak-anak untuk segera bergerombol menuju rumah warga yang memiliki pesawat televisi.

Generasi saya tidaklah serevolusioner perjuangan Mahfud dan teman-teman di kampungnya yang sampai mencuri aki masjid supaya digunakan sebagai daya menghidupkan televisi dan menantang malam menonton film India.

Setelah Hayder Ali, muncul Ramayana dan Mahabrata yang sialnya, tayang di tengah hari. Serial ini tak pernah dituntaskan anak-anak sejawat di kala itu karena harus duduk manis di ruang kelas sekolah dasar mengikuti pelajaran terakhir sebelum pulang. Serial ini selalu ditonton di rumah salah seorang guru kami yang rumahnya dekat gedung sekolah dasar tempat kami bersekolah.

 

2

Ini soal ruang dan kesempatan. Hiburan datang silih berganti seiring perkembangan. Lahirnya beragam stasiun televisi di akhir dekade 90-an turut mengubah selera menonton. Gempuran film bergenre vampir menjadi pilihan.

Pola film India sudah sangat klise. Mudah ditebak dan menjengkelkan. Generasi saya mempopulerkan guyon: Tuan Takur adalah manusia abadi yang tak mati walau dibunuh berkali-kali. Dan, bagian menjengkelkan itu ketika terjadi perkelahian dan tiba-tiba mereka bernyanyi. Berengsek sekali, kan.

Film India berlalu begitu saja. Seorang teman, sebut saja pengamat partikelir sampai mengatakan kalau film India baru bisa bersaing dengan film Hollywood kalau adegan menyanyinya dihilangkan. Ungkapannya itu lebih tepat dimaknai sebagai kejenuhan belaka. Sebab pola kami menonton film tak lebih sebagai hiburan.

Di situlah perbedaan posisi Mahfud Ikhwan. Di suatu ruang, posisinya sama dengan generasi yang menyandarkan selera film pada tayangan layar kaca. Tetapi, ia melangkah lebih maju. Ia memeluk film India lebih erat. Mengulitinya dan memasukkan sudut pandang yang, ketika membaca hasil olahannya membuat kita menyadari telah terjebak dalam penetapan selera.

Bahwa sesungguhnya, film India tak jauh berbeda dengan produksi film dari negara mana pun. Termasuk dominasi film Hollywood yang menggiring kita pada satu sudut pandang. Seolah-olah film terbaik melulu yang sering mendapatkan Oscar. Mahfud mengingatkan kalau relasi itu ada. Tarik-menarik pembacaan, daur ulang, hingga plagiasi.

Film dalam pandangan Mahfud, khususnya produksi India, tak ubahnya cermin di mana kita bisa berkaca. 3 Idiots adalah isu global. Bukankah pola pendidikan yang kita jalani di bawah lindungan Orba sama berengseknya. Miskinnya imajinasi guru juga kita rasakan sebagaimana disuarakan dalam film Taare Zaamen Par.

Analisis Mahfud yang melakukan secuil komparasi film bertema pendidikan produksi India dengan Indonesia, meski kikuk menyeruduk nama besar Riri Riza dan Jhon De Rantau. Denias dan Laskar Pelangi – meski tidak dituliskan gamblang. Saya menduga kalau Mahfud hendak mengatakan kalau kedua film itu tak ubahnya iklan pendidikan. Seolah tidak ada yang salah dengan dunia pendidikan kita.

“…film pendidikan kita ini dibuat seakan Paulo Freire tak pernah menulis risalah-risalah pendidikannya, kecaman-kecaman keras Ivan Illich terhadap sekolah tak pernah kita dengar, atau seakan-akan “Sajak Sebatang Lisong”-nya Rendra belum pernah didengar…” (Hal. 10-Buku II).

 

3

Saya tidak tahu kultur di kota di dekade 90-an. Apakah generasi yang tumbuh di sana juga menjadikan film India sebagai wahana hiburan. Namun, bukankah kota dan desa ada di bawah langit yang sama. Bukankah pula saluran televisi hanya yang itu juga: TVRI dan TPI. Artinya, sama-sama merasakan kejutan ketika lahir stasiun televisi yang menawarkan beragam tontonan.

Jika ada perbedaan, bisa jadi menyangkut komunalisme menonton. Di kota, yang memiliki pesawat televisi tentu lebih banyak ketimbang di desa. Karena itulah di desa, sosok Baim juga banyak dijumpai. Mahfud menceritakan sosok Baim di desanya yang banyak (sok) tahu soal film India terbaru.

Membaca kisah itu (Nonton Film India: Perjuangan Tak Berkesudahan. Hal. 71-Buku ke I), saya tersenyum dan mengingat seorang teman tak ubahnya sosok Baim. Teman itulah yang bercerita panjang lebar kalau film Mann lebih dramatis dari Kuch-Kuch Hota Hai. Persisnya ia tidak mengatakan demikian. Saya masih ingat ucapannya: Mann lebih sedih daripada kisah Rahul. Percayalah. Semua orang yang mendengarnya saat itu yakin. Dan, saat itu juga seseorang dari kami segera ke rental penyewaan film mencari VCD film Mann itu. Hasilnya, bagi saya, tidak sedih-sedih amat.

Cillang, nama teman itu, berasal dari kampung sebelah dan diterima di kampung kami dengan baik atas pengetahuan film Indianya yang ada di atas rata-rata. Dia pula yang meyakinkan kalau tembang Malaysia yang dinyanyikan Iwan berjudul: Yang Sedang-Sedang Saja, merupakan saduran dari salah satu lagu di film Mann.

“…Di film itu pula kita mendapati sebuah soundtrack yang iramanya mirip dengan sebuah lagu yang saat itu sedang hits di Indonesia. Belakangan terbukti bahwa lagu di film itu, “Tinak Tin Tana”, ditiru dari lagu “Yang Sedang-Sedang Saja” yang dinyanyikan penyanyi Malaysia bernama Iwan.” (Hal. 143-Buku I).

Entahlah siapa yang benar. Kami saat itu tak mau tahu. Intinya kami terhibur saja. Bahkan, setelah membaca kalimat yang dituliskan Mahfud. Saya tetap tidak mau tahu. Hanya saja, memercayai teman saya itu ketimbang Mahfud, tentulah kelewat pandir.

 

4

Mahfud hendak bilang kalau film India bukan melulu tarian, pohon, Inspektur Vijay atau Tuan Takur. Pergulatan sineas India juga membuka dialog melalui tema agama, sastra, tokoh, juga komunis.

Pada catatan Palu Arit di Film India (Hal. 21-Buku Kedua). Anasir ideologi komunis menjadi warna tersendiri dalam industri film India. Indian People’s Theatre Association (IPTA) merupakan sayap kebudayaan Communist Party of India (CPI) atau Partai Komunis India. Menurut Mahfud, lembaga itu serupa Lekra bagi PKI.

Ia mengenalkan tokoh bernama Satyajit Ray, anggota IPTA dan tokoh perfilman India yang pernah memenangkan festival Film Cannes dan meraih Piala Oscar lewat sejumlah film neorealisnya.

Ray tidaklah sendiri, masih terdapat beberapa sineas yang menjadikan wacana komunisme di film mereka. Jadi, mengenai geliat film India yang dikenal Bollywood sebagai satu-satunya pusat produksi adalah salah kaprah. Lewat IPTA, sejumlah sineas yang menolak eskapis, melankolis, dan materialistis sebagaimana yang diusung Bollywood yang berbasis di Bombay.

Mereka menginisiasi lahirnya Parallel Cinema yang membumi di Kalkota dan memproduksi film berbahasa Bengali. Berbeda dengan produksi Bollywood yang menggunakan bahasa Hindi. Ada juga pusat perfilman menggunakan bahasa Tamil di kota Chennai, negara bagian Tamil Nadu yang dulu menjadi pusat Dravida Munnetra Kazhagan (DMK), partai politik yang menjadikan film sebagai alat propaganda.

Meski demikian, Bollywood menawarkan beragam tema. Di tengah maraknya film berbasis tarian, jangan lupa The Legend of Bhagat Sing, biopik tokoh kiri India. Usianya masih 23 tahun ketika digantung pemerintahan kolonial Inggris. Ia menolak jalan ahimsa Ghandi dan menerapkan anarkisme Bakunin.

“… Tuntutan Anda untuk merdeka sepenuhnya sama persis dengan tuntutan Indonesia Merdeka 100%-nya Tan Malaka, pahlawan dan legenda kami…” (Hal. 55-Buku II).

 

5

Usaha Mahfud menelaah film India secara serius membantu kita menyadari atau malah menyingkap hijab ekslusivisme intelektual. Bahwasanya film India tidak bermutu dan penggemarnya merupakan kelas yang sebatas membutuhkan hiburan.

Sebagaimana produk film dari negara yang lain, tentu ada yang berkualitas dan sebatas mengumbar gerak gambar tanpa makna. Bagi kita yang tidak pernah menyuntuki film India akan menempatkan cara baca Mahfud sebagai pendongeng, terlebih jika film yang diulas tak pernah kita tonton.

Menelaah film biopik garapan India, misalnya, sineas India lebih berani mengabarkan hal yang, akan mengundang perdebatan. Bagaimana pun, gerak hidup tokoh yang dilegendakan perlu dijauhkan dari segala hal yang dapat memudarkan cara pandang. Begitu nilai dasar kaum yang menolak dialog.

Menyangkut Mahatma Gandhi, bukan hanya satu atau dua film saja yang diproduksi. Dari yang banyak itu tak semuanya menempatkan Gandhi manusia suci pembebas masyarakat India. Ada film tentangnya yang menceritakan sepetak kisah hidupnya yang gagal sebagai orangtua. Anaknya menjalani hidup 180 derajat berkebalikan dengannya.

Penggemar Gandhi yang mengultuskannya tentu saja marah. Tetapi, itulah fakta yang terjadi. Mahfud mencoba membandingkan dengan biopik Soekarno garapan Hanung Bramantyo. Pihak keluarga menolak film itu. Di sinilah tantangannya. Gandhi dan Soekarno adalah orang yang bertindak untuk orang banyak, karena itulah ia milik khalayak. Dan, jangan lupa, ada banyak cerita tentang tokoh itu.

Mahfud memang sangat cerewet dengan sejumlah alasan kalau dirinya telah menonton ratusan film India yang dapat ia akses. Bergulat sejak bocah hingga mahasiswa dan, sampai sekarang pun, ulasan film India yang telah ditonton terus ia posting di laman Facebooknya dan tentu saja di blognya.

Saya tidak menyayangkan bila Mahfud yang dikenal pula penulis bola tidak memasukkan satu pun ulasan tentang film India yang di dalamnya terdapat satu adegan pertandingan sepakbola. Sependek ingatan, saya pernah menyaksikan film India demikian. Sialnya, saya lupa judul dan pemerannya.

Sepotong ceritanya masih saya ingat, mengisahkan tentang pertandingan klub sepakbola di lingkungan kampus (koreksi jika keliru). Dua tokoh berada di klub berbeda. Menjelang pertandingan, tokoh protagonis, sebutlah demikian, melihat tokoh antagonis berambisi memenangkan pertandingan. Sementara klub protagonis merupakan klub  idola di kampus itu.

Sesaat sebelum pertandingan, si protagonis melihat si antagonis mencengkeram kawat pagar dan tak sadar tangannya meneteskan darah. Itu hanya sekilas. Selanjutnya dalam pertandingan terjadi tendangan bebas untuk tim si antagonis. Tendangan dilakukan oleh si antagonis sendiri, saya lupa skornya saat itu. Tetapi, setelah tendangan itu berbuah gol, klub si antagonis yang memenangkan pertandingan.

Proses terjadinya gol tak lepas dari aksi si protagonis yang sengaja mendorong pagar betis klubnya sendiri sehingga bola mampu melewatinya dan kiper telat melakukan antisipasi. Begitulah.

Tadinya saya pikir, film itu akan mendapat porsi di buku ini. Hingga buku kedua selesai, saya tidak menemukannya. Apakah Mahfud melewatkannya? Entahlah. Tetapi, itulah film India yang mengalir dalam ingatan saya, film itu pernah tayang di layar kaca.

 

6

Memungkinkan sekali jika pembaca buku ini tidak pernah menonton film India yang dikupas. Itu bukan salah Anda. Mahfud nampaknya berhasil mengganggu ketenangan pola pikir kita.

Sejumlah judul film yang dilampirkan di bagian akhir buku kedua adalah cara kejam yang indah yang dilakukan Mahfud. Kejam sekali.

Dan, bisakah kita berpaling untuk tidak menontonnya.

Makassar-Pangkep, 2 Mei 2017


F Daus AR
F Daus AR, saat ini terlibat kerja apa saja. Menerbitkan catatan di sejumlah media daring dan harian lokal di Sulawesi Selatan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara