Penerbit Epigraf, digawangi oleh Daniel Mahendra dan berdomisili di Bandung. Penerbit indie yang satu ini baru berdiri tahun 2016 tapi kini sudah menerbitkan 20 buku. `

“Sebab kami percaya, setiap orang punya cerita, maka: terbitkanlah bukumu dengan bangga!” – Moto Epigraf

*

TEKNOLOGI RUPANYA berkontribusi dalam membangun sebuah budaya baru. Cukup gulirkan gawai dan sentuh beberapa lokasi pilihan, orang dengan mudah dapat melakukan perjalanan ke mana pun yang ia mau. Dengan teknologi pula cerita selama dalam perjalanan tersebut bisa dilihat orang lain dalam waktu ringkas melalui media sosial.

Akan tetapi, pernahkah Anda membayangkan kalau catatan-catatan perjalanan yang ada di gawai misalnya, suatu hari  ternyata dapat dikumpulkan menjadi sebuah buku? Mungkin terbayang, tapi bingung penerbit mana yang mau menerbitkan kumpulan catatan perjalanan pribadi. Siapa juga yang mau membacanya. Atau karena memang Anda tak begitu percaya diri untuk menjadi seorang penulis?

Hal-hal seperti di atas coba ditawarkan Penerbit Epigraf, sebuah penerbitan buku independen yang ada di kota Bandung. Epigraf didirikan pada tahun 2016 oleh Daniel Mahendra, penulis yang telah merampungkan berbagai karya, mulai dari cerpen, novel puisi, biografi, esai, travel narrative, hingga skenario film. Selama 15 tahun, DM—demikian sapaan akrabnya—telah mempersiapkan Epigraf.

“Selama periode itu nyaris selalu menerbitkan buku-buku dengan semangat independen. Hanya saja kini bernama Epigraf dan digarap secara profesional sebagai publishing service, “ ujarnya.

Berdomisili di Bandung, Epigraf didukung jaringan yang sudah berpengalaman, mulai dari penyunting, penata letak, ilustrator, desainer, dan perangkat mesin cetak. Iklim literasi kota Bandung juga sangat mendukung visi dan misi Epigraf guna menjembatani para penulis yang tetap ingin menjaga idealismenya. Menurut DM, banyak sekali penulis berbakat yang naskahnya lebih baik dari penerbit mayor namun belum menembus pasar penerbit mayor karena beberapa alasan, seperti tak mau bersinggungan lebih jauh dengan takaran industri.

Meski baru berusia satu tahun, Epigraf sudah menerbitkan 20 judul buku yang sebagian besar bukunya bertemakan perjalanan dan petualangan. Meski begitu, DM tak menampik bahwa Epigraf juga menerima semua genre naskah.

“Namun sejak awal Epigraf tidak diplot sebagai penerbit buku-buku petualangan dan perjalanan. Paling tidak humaniora-lah,” ujar pendiri Pramoedya Institute ini.

Epigraf sendiri dalam Bahasa Indonesia artinya adalah prasasti. Umumnya, kita bisa mengetahui adanya sebuah peradaban di masa lampau karena adanya penemuan atau peninggalan berupa prasasti.

“Maka, filosofi Epigraf di sini tak lain untuk mengabadikan cerita, kisah, maupun karya manusia. Karena cerita atau kisah, jika tidak dituliskan, ia akan menguap begitu saja dimakan zaman,” tutur ayah yang bercita-cita keliling dunia dengan kereta api ini.

DM sendiri tidak khawatir dengan menjamurnya penerbit buku independen yang belakangan begitu semarak mewarnai dunia literasi tanah air. Menurutnya justru itu bagus sebab jumlah buku yang terbit di Indonesia setiap tahunnya masih belum mengakomodir jumlah penduduk secara keseluruhan. Karenanya ia tidak menganggap penerbit lain sebagai sebuah saingan.

“Sejak zaman dulu orang sudah membuat dan berjualan jam. Entah itu jam saku, jam tangan, jam dinding, jam meja, dan jam-jam lainnya. Herannya, hingga saat ini, jam tetap diproduksi, diperdagangkan, dan ada saja yang beli. Buku juga begitu. Mengapa harus takut? Justru kian banyak penerbit indie, akan semakin memperkaya dunia literasi Indonesia. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siapapun untuk berkarya,” lanjut DM menambahkan.

Untuk menyiasati hal di atas, Epigraf memiliki dua senjata. Pertama, kesan yang muncul bahwa Epigraf merupakan penerbit buku-buku petualangan dan atau perjalanan menjadikannya memiliki nilai lebih, baik di mata penulis maupun pembaca. Meskipun sejak awal Epigraf tidak dengan sengaja memplot ke sana, tetapi karena image yang muncul seperti itu, tidak sedikit naskah yang masuk bernuansa dua tema tersebut.

“Tidak banyak penerbit yang memiliki image atau brand seperti itu,” tukas DM.

Kedua, Epigraf mencoba mengakomodir keinginan penulis dalam jumlah cetakan buku. Artinya tidak ada batasan minimal dalam jumlah oplah. Sehingga penulis tidak mengeluarkan modal besar di awal. Cetak saja semampu dan secukupnya. Kalau bukunya laris, cetak ulang. Semakin laris, semakin sering cetak ulang.

Meski begitu, Epigraf tidak serta merta meloloskan semua naskah untuk diterbitkan. Hal ini sekaligus menjawab banyak anggapan bahwa setiap penerbit independen dengan sistem print on demand sudah pasti akan meloloskan setiap naskah yang masuk demi keuntungan.

Penerbit Epigraf tidak berprinsip demikian karena selalu ada diskusi awal dengan calon penulis. Kalau memang tidak layak untuk terbit jadi buku, akan dibicarakan dulu bahwa naskahnya masih mentah, banyak kekurangan, atau masih bolong di sana-sini. Kemudian membedah naskah, di mana ketidaklayakannya sehingga naskah tersebut tidak bisa terbit. Sebab menurut DM kalau semua naskah dipaksakan terbit, yang akan kena getah justru penulisnya itu sendiri. Karena bagaimanapun kualitas sebuah karya tetap akan dipertaruhkan di ladang pembaca.

“Kalau semua naskah yang masuk otomatis terbit, Epigraf cuma jadi alat produksi sampah. Tidak memiliki karakter sama sekali,” kata DM yang sedang asyik nyeruput kopi sambil mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals.

Bukan di Mana Ladangnya, Tetapi Siapa Petaninya

Bandung terkenal dengan anak mudanya yang kreatif dan unik. Iklim literasinya pun begitu mendukung seperti keberadaan taman kota dan ruang publik untuk membaca buku yang terus digalakkan pemerintah kota. Untuk usia dini, Bandung mewajibkan agar anak didik di tiap sekolah membaca buku non pelajaran selama 15 menit. Sayangnya Epigraf tak pernah melihat domisili sebagai acuan untuk terus mengepakkan benih idealismenya. Artinya, jika suatu hari Epigraf pindah kota pun, Epigraf akan tetap ada dengan semangat independennya memberi ruang pada siapa pun untuk berkarya.

“Prinsip Epigraf: bukan di mana ladangnya, tetapi siapa petaninya!”

Meski demikian, sebagaimana ruang berkarya yang lain, dalam perjalanannya Epigraf bukan tak memiliki halangan dan kendala. DM pun mengakui hal ini, terutama menyoroti metode print on demand. Menurutnya, salah satu kekurangan dari cetak satuan adalah cost produksi per bukunya di atas harga cetak offset. Tetapi kelebihan dari cetak satuan ini adalah mampu mencetak berapa pun jumlah yang diinginkan. Tidak ada batasan minimal. Sementara cetak offset, untuk mendapatkan harga murah per bukunya, harus ada batas minimal oplah.

“Dan itu cost-nya, kalau dihitung-hitung, besar juga,” tegas DM.

Padahal di sisi lain, Epigraf selalu ingin agar cost atau harga produksi buku itu murah. Sehingga harga jual pun tidak terlalu tinggi.

Di Epigraf segalanya diserahkan kembali kepada penulis, mulai dari royalti, harga buku, hingga jenis promo. Epigraf mempersilakan penulis menjual sendiri bukunya dengan sistem yang mereka miliki. Namun, jika ada penulis yang tak ingin dipusingkan dengan segala hal yang berhubungan dengan distribusi, mulai dari pemesanan, pengepakkan, serta pengiriman, Epigraf memiliki divisi untuk mengurus itu semua. Dan, selama ini, kebanyakan penulis memilih itu. Karenanya Epigraf tak pernah mengharuskan bahwa buku yang terbit praktis dijual atau didistribusikan oleh Epigraf. Apalagi di era informasi sekarang ini, hampir semua penerbit memiliki penjualan secara daring. Tak sedikit penerbit mengakui: rata-rata penjualan daring nyaris mengambil lebih dari 30% penjualan sistem luring.

“Angka itu cukup besar. Epigraf mencoba maksimalkan ceruk itu. Fokus di sana. Terlebih era media sosial seperti sekarang ini, alangkah sayang jika kita tak memanfaatkan itu,” lanjut DM.

Memiliki Toko Buku Tanpa Memajang Buku

Di sesi akhir obrolan, Daniel Mahendra sebagai pimpinan redaksi Epigraf tak pernah berkeinginan menjadikan Epigraf sebagai penerbit mayor. Ia malah balik bertanya, “Lantas kalau demikian, apa bedanya Epigraf dengan kebanyakan penerbit mayor?”

Mimpinya bersama Epigraf di masa yang akan datang adalah memiliki toko buku yang tidak memajang buku fisik sama sekali. Hanya berupa mesin cetak di mana pengunjung datang atau secara daring memesan judul tertentu, langsung dicetak saat itu juga dengan waktu relatif cepat.

“Tak sampai menghabiskan secangkir kopi, buku yang dipesan langsung jadi,” ujarnya menutup obrolan.


Kredit Gambar : penganyamkata.wordpress.com
Ali Zaenal
Pejalan kaki, kretekus, dan peminum kopi. Giat menulis di Ngopi Jakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara