Ensiklopedia berbahasa Indonesia datang dan pergi. Apa yang ditawarkan selalu memancing timbulnya harapan, tapi seringkali pula harapan itu pada akhirnya patah.

Djika ia hendak mengetahui sedikit tentang kesenian atau ilmu dimasa sekarang dan dimasa lampau, di Timur atau di Barat, tentang teknik atau ekonomi, haruslah ia lebih dulu mempunjai sedjumlah pengetahuan umum jang agak tertentu. Pengetahuan serupa ini tidak datang dengan sendirinja, melainkan hanja dapat diperoleh dengan tekun. Akan tetapi manusia itu, sekalipun ia berusaha dengan susah pajah untuk mengumpulkan pelbagai pengetahua, mustahil ia akan berhasil menemukan segala hal jang hendak diketahuinja atau jang harus diketahuinja dalam suatu waktu. Dalam pertjakapan atau pembatjaan tidak semua kata dan pengertian terang baginja. Ia merasa terhambat dan akan mentjoba mentjari keterangan jang diperlukannja dengan membatja rupa-rupa buku.

 

(Redaksi, Ensiklopedia Indonesia, 1975)

 

Tulisan berisi protes mengandung sesalan. Di majalah Tempo edisi 28 September 1985, tulisan dari Hadi S. tak pernah teringat oleh orang-orang berbeda masa. Tulisan agak menguak kesejarahan penggarapan dan penerbitan ensiklopedia di Indonesia. Hadi mengaku telah membeli Ensiklopedia Indonesia (1975), 3 jilid, terbitan N.V. Penerbitan W. van Hoeve. Ia menganggap ensiklopedia itu “jimat” dan “suluh” pengetahuan bagi diri dan keluarga. Kepemilikan ensiklopedia memberi girang tak berumur lama.

Pada 1980, Hadi membeli Ensiklopedi Indonesia, 6 jilid, keluaran Penerbit Buku Ichtiar Baru-Van Hoeve. Harga pasti mahal. Hadi direstui keluarga untuk membeli komplet pada 1985. Di rumah, tatanan ensiklopedia lama dan baru tak membuat si pemilik atau pembaca girang. Ia malah kecewa! Di tulisan pendek termuat di Tempo, Hadi mengungkapkan kecewa pada pengakuan penerbit bahwa Ensiklopedi Indonesia adalah “Ensiklopedi pertama dalam bahasa Indonesia setelah Indonesia berusia 35 tahun.” Kecewa imbuhan: ensiklopedia lama dan baru diterbitkan oleh penerbit sama. Kecewa tak membuat Hadi berlaku tolol, picik, dan picisan. Ia menelepon redaksi penggarap Ensiklopedi Indonesia (1980) agar meninjau kembali pengakuan di halaman pengantar. Redaksi diharapkan meralat pengakuan “pertama”. Keterangan itu mengelabui. Saran tak pernah diamalkan. Hadi tentu kecewa tapi tak hendak “mengusir” ensiklopedia lama dan baru dari rumah.

Hadi telanjur gandrung dan memuji ensiklopedia untuk mengetahui pelbagai hal. Dulu, pembeli dan pemilik ensiklopedia mestilah orang berduit. Harga mahal selalu mengiringi penerbitan ensiklopedia di Indonesia. Ensiklopedia jadi koleksi keluarga pantas mendapat salut. Kita terbiasa mengetahui ensiklopedia berada di lemari tertutup di perpustakaan. Konon, tatanan panjang dan mentereng ensiklopedia menandai derajat intelektualitas. Di puluhan perpustakaan besar di Indonesia, Frazer G. Poole (1981) jarang melihat ensiklopedia terbitan mutakhir tertata di rak atau lemari. Pada saat melakukan penelitian di Indonesia masa 1970-an akhir, Frazer mencatat perpustakaan besar cuma berani mengoleksi ensiklopedia berbahasa Inggris terbitan 1972. Orang-orang Indonesia masih menganggap ensiklopedia itu angker dan serius. Sebutan dari Hadi pantas diingat: “jimat” dan “suluh”.

Hadi, beralamat di Jalan M.H. Thamrin 9, Jakarta, termasuk kaum terpelajar. Ia bertanggung jawab untuk pendidikan keluarga. Kemauan menghadirkan ensiklopedia di rumah menjadi biografi tak lumrah dibandingkan jutaan penduduk Indonesia. Kita maklum Hadi menulis protes mengandung sesalan di Tempo bermaksud diketahui publik dan penerbit. Ensiklopedia ingin terpahamkan sebagai urusan besar, berkaitan sejarah perbukuan dan pengetahuan di Indonesia. Kita mengenang surat kecil bertahun  1985 dengan membuka lagi jajaran ensiklopedia, dari masa ke masa. Kita terlambat memberi jawab atau komentar melegakan ke Hadi. Puluhan tahun telah berlalu, jawaban disampaikan tanpa memastikan berterima dan menebus tumpukan kecewa.

Hasrat orang Indonesia menggarap ensiklopedia sudah muncul sejak puluhan tahun silam. Hasrat jarang tercatat di halaman terpenting perbukuan atau keilmuan. Pemenuhan hasrat pernah bertokoh Adi Negoro. Pada masa 1920-an, ia cenderung dikenali sebagai pengarang sastra dan wartawan. Pada masa kemerdekaan, Adi Negoro ingin mengerjakan ensiklopedia meski terasa berat dan mustahil. Ia masih sendirian untuk mengawali sejarah ensiklopedia “berselera” Indonesia.

Di majalah Minggu Pagi edisi 7 Maret 1954, pembaca disuguhi iklan megah. Kalimat permulaan, sebelum pembaca melihat gambar buku tebal: “Lekas pesan! Pasti siap Maret 1954.” Iklan buku agak aneh pada masa 1950-an. Di bawah gambar buku, kata-kata membujuk: “Penerbitan jang pertama di Indonesia, encyclopaedie umum dalam bahasa Indonesia.” Penggarap ensiklopedia bernama Adi Negoro. Pemberi dua kata pengantar adalah dua tokoh politik-intelektual tenar di Indonesia: Supomo dan Muhammad Yamin. Ensiklopedia diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang, beralamat di Jalan Teuku Umar 25, Jakarta. Harga ensiklopedia berkulit kertas karton: 35 rupiah. Pembeli berminat ke sampul berkulit linen mesti mengeluarkan duit 50 rupiah.

Ensiklopedia itu berhasil terbit, berjudul Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia. Di halaman awal, penjelasan nasionalistik: “Sumbangan untuk pembangunan rohani Indonesia.” Supomo memberi pujian dan keterangan: “Buku ini menurut kesan saja adalah satu pertjobaan untuk menerbitkan satu ensiklopedi ketjil. Saja tahu penerbit Belanda dan pengarang-pengarang Belanda sedang berusaha pula untuk mengeluarkan ensiklopedi jang lebih besar, lebih bagus barangkali tjetakannja dan lengkap pakai gambar-gambar. Akan tetapi tidaklah mengurangi arti usaha penerbitan dan pengarang ensiklopedi ketjil ini.” Adi Negoro nekat mengerjakan ensikopedia dengan segala keterbatasan, sadar bakal kalah bersaing dengan garapan pengarang dan penerbit Belanda.

Pada masa 1940-an dan 1950-an, kaum intelektual sedang sibuk turut dalam arus revolusi atau mengangkat diri sebagai tokoh politik. Penerbit-penerbit bermunculan memilih menerbitkan buku-buku politik, pelajaran, sejarah, ekonomi, pertanian, dan sastra ketimbang ensiklopedia. Adi Negoro merintis meski terlupakan di halaman sejarah perbukuan. Ensikpoedia sudah terbit dan beredar ke pembaca. Ensiklopedia masuk ke perpustakaan, kantor, dan rumah. Kerja tak sia-sia. Supomo malah memberi mimpi: “Saja sendiri mengharap, mudah-mudahan tidak lama lagi kaum tjerdik-pandai Indonesia dapat menulis ensiklopedi jang setingkat dengan umpamanja Brittanica atau Brochaus atau Larousse atau Winkler Prins...” Mimpi di tengah sengketa politik dan keamburadulan di Indonesia. Supomo berlebihan dalam membuat kalimat-kalimat demi sambutan pada penerbitan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia.

Perlakuan hampir sama dipamerkan Muhammad Yamin di halaman pendahuluan. Tulisan singkat tapi diberati obsesi: “Sesungguhnja kita sekarang perlu mempunjai satu ensiklopedi jang besar, tapi ongkosnja untuk itu tidak sedikit dan sangat lama mengerdjakannja. Ensiklopedi ini banjak kekurangannja, tetapi ada pula kelebihannja dalam kesederhanaannja itu. Walaupun banjak jang tidak (belum) lengkap, tetapi sebagai hasil pertjobaan pertama, ensiklopedi ketjil ini dapat diterima dengan baik.” Adi Negoro mungkin kecewa dengan sambutan berisi kalimat-kalimat menggunakan “tetapi” dan mengumbar obsesi. Adi Negoro mungkin salah menunjuk orang untuk memberi pendahuluan di ensiklopedia. Pilihan ke tokoh-tokoh tenar cenderung ingin lekas mengenalkan buku dan laris di toko buku.

Adi Negoro cuma bisa mempersembahkan ensiklopedia 404 halaman. Di buku, pembaca mustahil menemukan gambar, foto, atau peta. Ensiklopedia melulu kata dan angka. Ensiklopedia tak berwarna. Adi Negoro tak sedang mewujudkan impian termahal. Ia insaf atas kemampuan dan ongkos di percetakan. Ensiklopedia tetap harus digarap dan terbit. Kritik dan tuduhan buruk rela diterima. Di akhir tulisan, Yamin agak meledek dan jujur: “Masjarakat memang membutuhkan pendjelasan jang pendek-ringkas serta djelas.” Kalimat ambigu tercetak sebelum pembaca melihat tanda tangan Muhammad Yamin.

Kita menduga ensiklopedia garapan Adi Negoro laku. Barangkali berdalih tipis dan harga terjangkau. Iklan-iklan terus bermunculan di majalah Minggu Pagi, menebar godaan ke orang-orang agar mulai mencipta selera pengetahuan berpijak ensiklopedia. Laku pun dipengaruhi pemuatan petikan pidato Soekarno (1953), mendahului tulisan Supomo dan Muhammad Yamin. Ensiklopedia bercorak nasionalistik, ingin mengalir di arus revolusi. Empat tokoh tersohor berada di buku, mengenalkan ensiklopedia ke ribuan orang.

Penerbit Bulan Bintang dan Adi Negoro memberi tanggapan pada mimpi Supomo dan Muhammad Yamin. Jawaban memuat sindiran ke pihak penerbit asing dan pemerintah. Ensiklopedia perlahan urusan modal dan nasionalisme. Aliena agak keras dan sewot: “Segala sjarat itu tidak dapat dipenuhi oleh penerbitan bangsa kita diwaktu sekarang ini, jang biasanja bermodal ketjil sadja. Kabarnja telah diusahakan oleh salah satu penerbit Belanda jang bermodal besar untuk menerbitkan pula sebuah ensiklopedia ketjil  berbahasa Indonesia, tapi dengan djaminan order dan devisen dari pemerintah kita. Kalau penerbit asing dari negeri Belanda jang kuat modalnja, merasa perlu mendapat djaminan dari pemerintah kita, dapatlah kita membajangkan, betapa besar ongkos penerbitannja itu, makin sempurna makin meningkat belandjanja.”

Pamer mimpi dan cara menjawab itu tak pernah diketahui Hadi, sebelum menulis surat di Tempo. Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia tak pernah dibeli atau menghuni rumah Hadi. Ensiklopedia itu mungkin saja tak pernah diketahui alias sudah “menghilang” dari pasar buku dan ingatan publik. Ensiklopedia garapan Adi Negoro sudah terusir dari perpustakaan digantikan ensiklopedia-ensiklopedia berbeda. Adi Negoro pun luput dari pencatatan sejarah penggarapan dan penerbitan ensikloepdia di Indonesia. Nama dan judul buku tak disinggung Hadi di surat. Adi Negoro itu tokoh masa lalu. Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia telah kedaluwarsa.

Ensiklopedia dengan pengakuan “pertama” memicu kecewa tak tersembuhkan. Hadi menjadi pengingat bagi kita agar mengingat lagi perbukuan masa lalu. Adi Negoro dan Penerbit Bulan Bintang telah memulai meski (agak) terlupakan. Di akhir pengantar, pengakuan berharapan: “Kami berharap moga-moga penerbitan pertjobaan ini, jang telah dapat menghasilkan satu ensiklopedi Indonesia walaupun ketjil dan banjak kekurangannja, mendjadi dorongan untuk mentjapai keinginan jang tertjantum diatas kepada pihak jang bersedia mengetjam dan mengandjurkan sesuatunja untuk kemadjuan pertumbuhan ensiklopedi Indonesia, terlebih dahulu kami mengutjapkan terima kasih banjak.” Pengakuan itu bertanda tangan Adi Negoro dan pemilik penerbit bernama Amelz. Kita tak menemukan pengakuan gamblang jika Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia adalah ensiklopedi Indonesia pertama. Kita tetap menduga itu ensiklopedia terbit awal di Indonesia: dikerjakan orang Indonesia, diadakan penerbit Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Ketiadaan pengakuan di pengantar tak membatalkan pengesahan sementara bahwa Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954) mendahului penerbitan  Ensiklopedia Indonesia (1975) dan Ensiklopedi Indonesia (1980). 

Kita membelok sejenak untuk mengerti ensiklopedia menurut para tokoh  di masa lalu. Adi Negoro menulis “ensiklopedi”, bukan “ensiklopedia.” Dua terbitan belakangan juga berbeda dalam penulisan ejaan: “ensiklopedia” dan “ensiklopedi”. W.J.S. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) memuat “ensiklopedi”, berarti “kamus jang berisi keterangan tentang berbagai ilmu pengetahuan.” Adi Negoro di halaman 120, menaruh istilah ensyclopaedie mengandung penjelasan panjang: “Kitab kamus segala ilmu pengetahuan, asal kata dari enklyklios, artinja terletak dalam lingkungan pengetahuan umum dan paideia, pendidikan, peladjara. Kamus pengetahuan umum, ensiklopedi berisi pemandangan tentang seluruhnja atau sebagaian dari ilmu pengetahuan, kebudajaan atau kesenian....” Penjelasan masih panjang. Kita wajib mengutip kalimat terakhir: “Dalam bahasa Indonesia barulah dengan penerbitan ini ditjoba mengusahakannja.” Adi Negoro berulang mengakui “pertjobaan”, bermaksud menjelaskan penggarapan belum paripurna. Kalimat itu mengesankan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia sebagai terbitan ensiklopedia pertama di Indonesia. Penjelasan agak terselubung dan malu-malu.

Pengertian mirip tercantum dalam Ensiklopedia Indonesia (1975) di halaman 464. Ensiklopedia berasal dari terjemahan encyclopaedia. Istilah dalam  bahasa Yunani. Pengertian ensiklopedia: “Kamus tentang semua pengetahuan dan kesenian atau tentang semua bagian dari sesuatu ilmu pengetahuan.” Contoh ensiklopedia terkenal di dunia tak lupa dilaporkan. Di halaman 20, kita bisa membaca keterangan tentang Adi Negoro: “Nama sebenarnja Djamaluddin, lahir di Minangkabau tahun 1904, wartawan dan pengarang Indonesia, mendapat didikan di Eropah.” Penggarap Ensiklopedia Indonesia salah menulis judul buku Adi Negoro. Redaksi menulis Ensiklopedi Indonesia, bukan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia.  

Keterangan berubah malah terdapat dalam Ensiklopedi Indonesia (1980) halaman 80. Adi Negoro memang diterangkan ringkas tapi tak mencantumkan keterangan pernah mengerjakan Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia. Adi Negoro cuma dijelaskan menulis buku Asmara Djaja (1927), Darah Muda (1927), Melawat ke Barat (1931), Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi (1954), dan Atlas Semesta Dunia jang Asia Centris-Atlas Indonesia (1949). Warisan penting berupa  Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia tak dicantumkan. Barangkali redaksi tak mengetahui, lupa, atau sengaja tak memberitahukan ke pembaca. Pembaca agak lega melihat ada foto Adi  Negoro meski hitam-putih. Ensiklopedi telah memuat foto tanpa keterangan lengkap.

Kita kembali lagi mengingat kecewa atas pengakuan ensiklopedia pertama di Indonesia. Sampul Ensiklopedia Indonesia (1980) memuat data-data penting bagi pembaca: “Ensiklopedia umum dalam bahasa Indonesia disusun menurut abjad * 3 djilid * 1600 halaman * 22.000 kata-pokok * 900.00 kata * kompedium 144 halaman * 16 peta berwarna * 96 halaman jang bergambar diluar teks biasa * 100 gambar dalam teks.” Data-data itu memukau. Pembaca gampang terbujuk untuk membeli dan memiliki asa berduit. Redaksi dipimpin oleh Prof. Dr. Mr. T.S.G. Mulia (Jakarta) dan Prof. Dr. K.A.H. Hidding (Leiden). Kita perlu simak isi pendahuluan oleh redaksi. Penjelasan agak ambisius: “Oleh sebab dalam waktu jang singkat Indonesia telah merebut kedudukan jang merdeka didunia moderen maka tak dapat disangkal lagi, bahwa kini sangat dibutuhkan suatu ensiklopedia jang semata-mata ditudjukan kepada kepentingan Indonesia dimasa ini. Selaras dengan perkembangan masjarakat, makin bertambah djumlah orang jang mengikuti peredaran-peredaran didunia dan kedudukan kebudajaan internasional...” Penjelasan bermutu dan memberi kelegaan bagi pembaca untuk tekun membuka halaman demi halaman. Haus pengetahuan tebuslah dengan mempelajari isi ensiklopedia.

Masalah muncul di akhir tulisan redaksi: “Kami harap dengan sepenuh-penuhnja bahwa dengan terbitnja Ensiklopedia Indonesia jang pertama ini telah dapat disiapkan suatu alat sebagai jang dimaksudkan tadi dan jang akan membawa manfaat bagi perkembangan kebudajaan bangsa Indonesia seluruhnja.” Barangkali Hadi menandai pengakuan “jang pertama” untuk membandingkan dengan pengakuan di Ensiklopedi Indonesia (1980). Di sampul, redaksi Ensiklopedi Indonesia menerangkan keunggulan: “220 penyusun tenaga-tenaga ahli, 33 rubrik, 200 halaman kompedium, 35.000 judul dan kata pokok, 2.500 gambar hitam-putih, 80 halaman peta geografi.” Pemimpin redaksi bernama Hassan Shadily. Kejutan telah diberikan redaksi di halaman pengantar, alinea awal: “Ensiklopedi Indonesia terbit di masa negara Republik Indonesia berusia 35 tahun. Sebuah ensiklopedi pertama dalam bahasa Indonesia, serangkaian buku terdiri atas 6 jilid yang secara keseluruhan merupakan hasil kerja sama tenaga-tenaga Indonesia, baik redaksi, tenaga-tenaga ahli maupun dewan penasehat.” Pengakuan “ensiklopedi pertama” menguak kecewa demi kecewa pembaca bernama Hadi.

Dewan redaksi mungkin lupa telah pernah terbit Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954) dan  Ensiklopedia Indonesia (1975). Redaksi mungkin sengaja abai pada Ensiklopedi Umum (1973), terbitan Kanisius. Judul memang tak mencantumkan “Indonesia” atau “bahasa Indonesia” tapi ensiklopedia itu berbahasa Indonesia. Semula, redaksi dipimpin oleh Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo (1962-1967). Pengerjaan akhir dipimpin oleh Hassan Shadily (1967-1973). Kita menemukan nama Hassan Shadily berada di Ensiklopedi Indonesia (1980) dan Ensiklopedi Umum (1973). Di halaman pengantar Ensiklopedi Umum tak ada urusan pengakuan “pertama”. Redaksi malah berhasil memberi keterangan panjang tentang Adi Negoro. Warisan berupa Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954) dicantumkan lengkap dengan nama penerbit. 

Hadi kecewa cuma pada dua ensiklopedia terbitan N.V. Penerbitan W. van Hoeve dan Penerbit Buku Ichtiar Baru-Van Hoeve dengan dewan redaksi berbeda. Ensiklopedia dari Penerbit Bulan Bintang dan Kanisius tak teringat. Penulisan kecewa oleh Hadi telah kedaluwarsa, sejak kita mendapatkan ensiklopedia-ensiklopedia baru. Kita sejenak mengenang tulisan Hadi untuk mengetahui penerbitan ensiklopedia masa lalu. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara