Ekspresi Buku lahir dari rahim LPM Ekspresi pada tahun 2005. Menerbitkan buku hampir setiap tahun satu, dengan tema condong ke sosial-humaniora. Tak hanya itu, penerbit ini pun menjadi wadah untuk belajar penerbitan.

“Kalian boleh menjadi apapun asal jangan jadi pemalas” – Zen RS

*

Terus berkembangnya zaman tentu saja menuntut umat manusia untuk terus berbenah diri. Itu seperti menjadi sifat alamiah manusia: tidak mau ketinggalan dan terus melakukan terobosan.

LPM Ekspresi merupakan salah satu persma yang terus memperbaiki diri. Pada saat pandangan sinis birokrasi terhadap persma terus meningkat, LPM Ekspresi pun terus tampil eksis, seperti biduan yang terus mencari sensasi di atas gemerlap panggung.

Sekilas LPM Ekspresi

Setelah berkiprah selama 27 tahun di dunia tulis-menulis, berbagai produk telah dilahirkan LPM Ekspresi. Pada awalnya, LPM Ekspresi menerbitkan Majalah Ekspresi. Seiring waktu berjalan muncullah buletin dwimingguan—Buletin Expedisi yang mengangkat tema isu-isu seputar kampus UNY. Menyadari informasi cepat bergulir di gawai, LPM Ekspresi kemudian melahirkan situs web yang diberi nama ekspresionline.com.

LPM Ekspresi sendiri berdiri tahun 1989 namun baru mendapatkan SK Rektor 3 tahun kemudian pada 20 April 1992. Kelahiran LPM Ekspresi sendiri merupakan wujud keinginan untuk menciptakan keseimbangan intelektual di kalangan mahasiswa. Secara sadar, LPM Ekspresi berusaha meningkatkan pemahaman jurnalistik kepada anggotanya serta memberikan suatu produk yang bisa mengedukasi dan memberi pemahaman kepada mahasiswa UNY khususnya.

Sekilas LPM Ekspresi memang tak ada bedanya dengan persma lainnya. Kemudian muncullah produk buku yang diterbitkan langsung oleh penerbit Ekspresi Buku. Ekspresi Buku merupakan penerbitan yang dikelola oleh kawan-kawan LPM Ekspresi, beralamat di Gedung Student Center Lt. 2 Karang Malang.

Adalah satu hal yang tak kalah menarik bahwa LPM Ekspresi sebagai salah satu persma tingkat universitas berani untuk menerbitkan buku. Walau selama ini hanya menerbitkan karya-karya anggotanya, LPM Ekspresi mencoba untuk mewadahi wacana yang ada di kepala setiap anggota. Lahirlah buku pertama penerbit ini, tepatnya pada tahun 2005 silam.

Selama ini genre buku yang diterbitkan oleh Ekspresi Buku memang tidak memiliki aturan tertentu. Namun tema yang diangkat lebih condong ke sosial-humaniora.

Sampai tahun ini, rentang 12 tahun dari terbitan pertamanya, Ekspresi Buku telah melahirkan sepuluh judul buku: Muslim Tanpa Mitos, Sang Guru, Jagad Upacara, Galeri Urban, Sabda Ramalan, Ruang Kota, Karnaval Caci Maki, Pemain Kedua Belas, Fenomenolough, Online, dan Ideologame. Hampir setiap tahunnya Ekspresi Buku selalu memproduksi buku. Hal tersebut sesungguhnya merupakan kebutuhan semua anggota, bahwa menulis menjadi hal utama saat berada di salah satu lembaga pers mahasiswa ini.

Posisi Ekspresi Buku

Bicara penerbit buku memang tak lepas dari orang-orang yang sudah terjun langsung ke dunia penerbitan. Entah itu penerbit mayor ataupun indie. Intinya semua memiliki kapabilitas untuk urusan terbit-menerbitkan buku. Hampir semua genre buku ada penerbitnya tersendiri. Setiap kota besar di Indonesia memiliki penerbit buku.  

Pertanyaannya: apakah penerbit buku hanya milik orang-orang yang menjadikan proses penerbitan sebuah karya buku sebagai profesi?

Saya rasa tidak demikian. Kehadiran Penerbit Ekspresi Buku menjadi alasan utama. Ya, walau berbeda dengan penerbit lainnya, Ekspresi Buku tetaplah penerbit yang secara berkala menerbitkan buku. “Memang, kita nggak punya akte notaris penerbitan, karena kita bukan badan usaha yang bentuknya CV atau PT,” ujar Hesti Pratiwi, mantan Pimpinan Redaksi LPM Ekspresi 2015.

Namun muncul pula sebuah pertanyaan lain, apakah Ekspresi Buku merupakan penerbit profesional yang menggunakan dana independen untuk proses produksi? Apabila ada klasifikasi semacam itu tentu Ekspresi Buku belum termasuk ke dalamnya. Ekspresi Buku, dalam proses menerbitkan buku, masih menggunakan dana utama dari kampus. Namun demikian, proses menerbitkan buku hingga penjualan, LPM Ekspresi melakukannya secara independen.

Kemudian, bagaimana dengan legalitas Ekspresi Buku sebagai penerbit? Sejak tahun 2012, Perpustakaan Nasional sebagai lembaga resmi yang menerbitkan nomor ISBN di Indonesia mewajibkan penerbit baru melampirkan legalitas berupa akte notaris. Namun demikian, Ekspresi Buku sendiri telah terdaftar di Perpusnas sebagai penerbit.

Tak ingin wacana anggota menguap ke permukaan begitu saja, LPM Ekspresi berusaha mewadahinya dengan produk yang mereka punya. LPM Ekspresi percaya wacana yang ada di kepala harus diwujudkan secara konkret. Salah satunya dengan menerbitkan sebuah buku. Hingga saat ini, saya belum pernah mendengar persma se-Indonesia menerbitkan buku secara berkala. Bolehlah rasanya, LPM Ekspresi ini berbangga atas pencapaiannya selama ini. Persma yang telah melahirkan nama-nama penulis handal seperti Zen RS, Muhidin M. Dahlan, dan Eddward S. Kennedy ini merupakan tempat belajar semua mahasiswa—khususnya di bidang jurnalistik. Tapi tak menutup kemungkinan bagi siapa saja yang senang belajar untuk saling berbagi ilmu.

Namun, laiknya lembaga independen, LPM Ekspresi tak menuntut anggotanya fokus pada dunia tulis-menulis saja. Masih banyak divisi yang bisa ditekuni. Salah satunya adalah urusan proses menerbitkan buku ini. Proses tersebut mencakup survei percetakan, sortir, peluncuran buku, hingga pemasaran buku.

Selama ini untuk pemasaran produknya, LPM Ekspresi biasa hadir di bazar buku, bekerja sama dengan distributor, dan yang paling mudah untuk pemesan bisa melalui media sosial resmi LPM Ekspresi.

LPM Ekspresi adalah rumah belajar bersama. Tak ada yang membatasi anggotanya ingin belajar apa. Untuk menumbuhkan benih-benih analisis wacana anggotanya, LPM Ekspresi memiliki banyak cara. Tak bisa dimungkiri forum diskusi merupakan cara untuk memantik anggota agar aktif bertukar pikiran. LPM Ekspresi memiliki beberapa diskusi, antara lain: Komunitas Cinta Baca (KCB), Komunitas Cinta Menulis (KCM), Komunitas Kesengsem Foto (KSF), Kajian Jumat Malam (KJM), dan Komunitas Kajian Gender (KKG).

Ekspresi Buku memang bukan penerbit indie apalagi mayor. Ekspresi Buku hadir untuk ruang belajar bagi siapa saja. Tak menutup kemungkinan dari sana kelak muncul jebolan-jebolan yang mampu mendirikan penerbitannya sendiri. Tak melulu harus menulis.


Kredit Gambar : fitrianiaprilia.wordpress.com
MS Fitriansyah
Mahasiswa yang gagal cumlaude.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara