Usia empat puluh bagi Kepala Suku Mojok adalah patokan untuk pensiun. Puthut EA. Pernahkah Anda penasaran tentang dua huruf di belakang namanya dan menjadi nama depan salah satu penerbit indie Jogja itu?

KEMARIN, KEPALA SUKU genap berusia empat puluh. Satu fase yang ditunggu dalam hidupnya. Setidaknya dalam satu percakapan di usianya yang ketigapuluh sembilan. Sebagai patokan untuk pensiun. Tidak mengurus hal lain, kecuali memikirkan rencana yang telah jauh hari dibicarakan. Membuat ‘sekolah’ atau mengajar TPA. Menanam sayur dan memancing. Merawat Kali sembari menikmati puisi.

Sulit untuk tidak menyebut namanya dalam ranah literasi kita. Sebagai penulis, ia menjelajahi berbagai ruang: cerpen, novel, esai, drama, dan puisi (walau yang terakhir belum pernah saya baca langsung, tapi konon menurut pengakuan kawannya, puisinya mirip sajak Whalt Whitman). Sebagai aktivis literasi, ia pernah jadi bagian dari AKY, lembaga di bawah naungan Insist Press yang mewadahi kerja-kerja kreatif, membuat jaringan penulis dan komunitas di berbagai daerah, membuat media alternative ON/OFF, membuat berbagai proyek penelitian dan penerbitan.

Penerbit Gelombang Pasang dilahirkannya bersama Bagor sekitar tahun 2000. Menerbitkan Rosa Luxemburg dengan niat revolusi, walau kemudian berhenti setelah dua terbitan. Hingga akhirnya ia melahirkan situs web Mojok yang diam-diam kita kagumi sekaligus ingin kita bakar (dan akhirnya pamit kemarin), adalah rentetan jawaban dari pertanyaan tentang apa dan bagaimana ia di literasi kita hari ini.

Tapi ada sudut lain untuk menceritakan tentangnya. Cara pandang seorang pelaku buku.

Ada sekian jenis pertanyaan sampai di telinga saya ketika pameran, beberapa akan terdengar sangat sering di kota-kota yang kami kunjungi. Buku Indie, selama beberapa waktu bergerak ritmis mencari bentuknya. Dari satu tempat ke tempat lain. Dan di meja pajangan, para pengunjung yang memandangi buku satu demi satu, sampul demi sampul, judul demi judul, diam-diam mengamati juga nama penerbit demi penerbit (logo demi logo). Beberapa dari mereka sering berkerut pada merek yang tidak biasa, terdiam sebentar, lantas hanya dua kemungkinan. Tidak memikirkannya atau berbalik pada saya untuk bertanya, mengapa EA?

Sejujurnya kadang saya malas menjawab terlalu panjang. Ketika itu terjadi, saya akan menunjuk satu buku di mana dua huruf tertera di belakang satu nama. Sembari menambahkan sedikit kata, "dia pemiliknya."

Dua huruf itu begitu identik. Memunculkan irama. Puthut EA. (Baca: Eyaaaaaa).

Sebermula saya mengetahui namanya adalah dari dua judul buku yang (maaf) diobral oleh satu agen dagang. Menumpuk di pojokan. Pada sebuah suasana pameran yang malas dan mengantuk. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, dan Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta.

Jika kebetulan Anda adalah orang yang suka diam-diam menghampiri stan buku murah, berharap membawa beberapa judul yang cocok dibawa pulang, satu waktu tentu melihat salah satu dari dua buku itu (jika beruntung, peroleh pula tambahan judul Kupu-Kupu Bersayap Gelap). Sekarang, buku-buku itu kembali di harga normal. Bahkan salah satunya dicetak ulang. Semua disebabkan pasar daring yang mulai populer. Juga Kepala Suku (Mojok) memang sedang moncer. Menemukan pembaca baru.

Kemudian lewat Adhe (serta penerbit lawasnya Jendela), Sarapan Pagi Penuh Dusta menjadi milik saya lewat tawar-menawar yang mustinya berakhir lebih cepat. Seorang pedagang menawarkan 30 ribu. Saya meminta separuhnya. Ia beralasan bahwa itu buku langka. Saya membela diri bahwa jika tidak saya temukan ditumpukan buku pelajaran, ia pasti tidak akan menganggap itu buku yang penting.

Lalu saya pura-pura pergi. Pertimbangan saya, seorang pedagang sepertinya hanya jenis pedagang yang mengambil kesempatan. Saya tahu ia akan memanggil saya kembali dan mengalah setelah beberapa langkah. Jurus lama. Tetapi sial, bahkan setelah saya hampir mencapai belokan blok, ia masih diam. Saya tetap berusaha memenangkan tarik ulur. Gagal.

Saya memutar satu blok. Kembali padanya, berpura-pura mencari kunci motor yang mungkin jatuh di sekitar situ. Sampai akhirnya, saya menawarkan menambah lima ribu. Ia sepakat. Saya dongkol.

Pada sebuah acara buku Indie di Toga Mas, saya menanti di sebuah kursi. Membawa beberapa judul karyanya. Jika Anda adalah pedagang buku, cara terbaik mengambil hati pelanggan adalah memberi mereka sesuatu yang tidak mereka sangka, jarang mereka harapkan. Tanda tangan penulisnya!

Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan. Yang saya pikirkan, bagaimana mengambil momen, dan cara mendekati paling baik agar ia sedia menandatangani beberapa eksemplar Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh, Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta.

Saya berhasil. Ia menandatangani buku-buku itu. Tentu dengan suara-suara kawan di belakang: "Lumayannn, harganya bisa naik." Saya tertawa.

Setahun setelahnya, saya justru orang yang menjadi bagian dari buku-bukunya. Merencanakan. Menerbitkan. Mendistribusikan.

*

EA Books merupakan ruang lain bagi Puthut. Bermula dari sebuah singkatan, bergerak sebagai merek penerbitan. Bersama Eko Susanto dan Iqbal Aji Daryono, konon penerbitan itu dimaksudkan untuk merubah dunia perbukuan (Jogja). Hanya kemudian, berhenti di tengah jalan oleh karena beberapa hal. Salah satunya karena Iqbal migrasi ke Benua Kanguru. Sampai saat ini, saya masih tak habis pikir, apa yang menjadi dasar EA Books periode awal menerbitkan buku Vampire Clan bla bla (saya lupa judul tepatnya). Bersampul kartun. Berwarna pink mencolok. Membuat Anda sakit gigi memegangnya.

Kami menjadi sering berjumpa di angkringan Mojok. Sebagai pedagang yang selalu membawa buku, sebagai penulis yang mesti menandatangani buku-buku itu. Kami bertukar cerita. Mencari frekuensi yang sama. Sampai pada titik; mungkin kami memang bisa bekerja bersama.

Saya menjualkan bukunya. Judul yang mendekam di gudang keluar. Menemui pembacanya. Judul yang lesu di penjualan salah satu distributor, menemukan kembali celahnya. Di titik ini, karyawan yang bertanggung jawab atas buku keluar di gudang distributor tersebut, harus berterimakasih. Statistiknya jadi baik. Setidaknya untuk dua judul: Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh, Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta.

Media daring menemukan gairahnya pada 2015-2016. Ledakan buku-buku terbitan Jogja periode 2001-2007 terjadi. Sebagian akan membuat Anda menepuk jidat dengan harga yang muncul, sebagian biasa saja. Sialnya, Anda selalu kalah cepat. Toko daring memaksa Anda musti memiliki akses yang kencang. Jika tidak ingin terlewat.

Penerbit Sumbu, menerbitkan Sebuah Kitab Yang Tak Suci pada tahun 2001. Jendela, menerbitkan Sarapan Pagi Penuh Dusta pada tahun 2004. Dua judul tersebut masuk kategori produk unggulan. IBC menerbitkan kembali Sebuah Kitab Yang Tak Suci pada tahun 2014. Hanya 100 eks! Tandas dalam waktu tak lebih dari sebulan. Sebuah momentum yang baik.

Oleh karena EA Books tidur begitu nyenyak, saya memberanikan usul. Ia harus bangun kembali.

"Naskah apa?" Tanya Puthut.

"Sarapan pagi."

"Menarik. Kapan mau mulai?"

"Secepatnya."

"Baik. Mari kerjakan."

Saya mencatanya di buku kerja. Mengetik ulang, mengonsep visual, mencari penata letak. Sembari meyakinkan diri, semua akan dimulai kembali dari sini. Yang kemudian jarang diketahui, betapa dia telah memberi saya banyak kesempatan dengan sekian kelalaian dan kesalahan yang saya lakukan. Mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Saat perayaan di tahun berikutnya, ketika berusia empat puluh satu.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara