Perpustakaan seringkali menjadi ruang yang tak menarik untuk dikunjungi. Dari sanalah kemudian lahir pustaka bergerak yang salah satunya dilakukan oleh Gubuk Cerita. Semboyannya: mengutamakan gembira.

SAYA BERSENANG-SENANG dengan membaca. Ada kebahagiaan tersendiri ketika menelusuri alur halaman demi halaman, mengikuti setapak kata-kata yang kadang bisa berkelok dan menanjak, hingga akhirnya merampungkan sebuah perjalanan gagasan yang utuh dalam kepala kita—selalu ada hal baru yang bisa saya temukan dalam perjalanan itu.

Bagian paling menyenangkan dari membaca adalah ketika saya menutup buku dan mulai membuka percakapan dengan pembaca lainnya. Kita bisa duduk ngobrol berjam-jam dan terkaget-kaget mendapati pengalaman berbeda dari ‘rute perjalanan’ yang sama. Kita, misalnya, bisa sama-sama membaca Haji Murad-nya Leo Tolstoy atau Belenggu-nya Armijn Pane, namun pada akhirnya kita tetap memiliki isi kepala berbeda soal karya-karya itu. Saya rasa banyak orang juga mencandu kebahagiaan seperti ini.

Namun, masalahnya, tak semua orang bisa rajin membeli buku dan perpustakaan begitu membosankan untuk dikunjungi. Jejeran buku di rak-rak berdebu dan wajah dingin para pustakawan yang tak bisa diajak ngobrol soal buku barangkali tak akan mengganggumu dalam sekali-dua kunjungan, tapi kau pasti muak berhadapan dengan suasana semacam itu terus-menerus.

Apa yang membuat perpustakaan menarik dikunjungi? Buku-buku? Bagaimana jika saya pembaca awam yang tak tahu banyak soal buku? Bagaimana jika saya tak tahu buku apa yang harus dibaca untuk mempelajari subjek tertentu? Saya pernah iseng mengajukan pertanyaan terakhir itu ke para petugas perpustakaan kampus.

Jawaban mereka tipikal: mending langsung ketik aja di komputer, cari-cari sendiri. Jika seorang penggemar kuliner, misalnya, tak memperoleh informasi yang cukup soal keberadaan literatur sejarah kuliner Nusantara atau ia tak mendapat perbincangan menarik soal buku-buku kuliner maka muskil ada ketak-ketik di komputer perpustakaan, orang itu akan langsung balik kanan entah pergi ke bioskop atau yang-yangan di kos pacar atau melakukan hal lain yang lebih menyenangkan.

Hal-hal membosankan seperti tadi membuat perpustakaan, bagi banyak orang, tak ada bedanya dengan WC umum: dikunjungi bilamana perlu saja. Masih alhamdulillah jika keperluan itu adalah pencarian bahan-bahan bacaan. Saya kerap mendapati beberapa kolega khusyuk menikmati wi-fi gratis di perpustakaan kampus HANYA untuk bermain Dota.

Saya sempat mencoba mengubah keadaan ‘dari dalam’ dengan menjadi staf perpustakaan (paruh waktu). Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya adalah tempat permulaan yang buruk.

Harapannya: saya dapat menyumbang, minimal menawarkan, warna baru dalam aktivitas kepustakaan, semisal model interaksi pustakawan-pengunjung yang lebih diskursif.

Kenyataannya: saya berhadapan dengan para birokrat konservatif tua bangka yang kekeh mengharuskan suasana perpustakaan sesunyi kuburan.

Dengan dalih kenyamanan, pustakawan tak boleh terlalu banyak bicara dan ikut campur urusan pengunjung—jadi, kalau saya sedikit bercerita soal puisi-puisi Pablo Neruda kepada pengunjung yang meminati sastra Amerika Latin, misalnya, itu sudah melanggar aturan kerja. Hal-hal yang boleh saya lakukan sebagai pustakawan magang hanyalah menata buku-buku di rak subjek sosiologi sesuai urutan nomor-kodenya, mengembalikan buku-buku peternakan atau manajemen bisnis yang secara ajaib nyempil di rak subjek agama, dan merapikan letak kursi-kursi yang telah ditinggal pengunjung.   

Masa magang di perpus kampus belum rampung ketika saya memutuskan hengkang ke Omah Munir di Batu. Di tempat baru ini saya mengurusi sebuah ruang baca yang baru dibikin, ini pun tak lama. Saya menempuh perjalanan melelahkan bolak-balik Malang-Batu tiap hari untuk pekerjaan yang, yaah, masih begitu-begitu saja: membuat penomoran buku, menyusun katalog, menata buku, meratapi nasib...

Akhirnya saya menyadari bahwa nasib pustakawan tak lebih baik dari nasib pengunjung perpustakaan. Sebagai pengunjung, saya merasa ingin mati bosan membaca berlama-lama di perpustakaan. Namun, menjalani rutinitas kerja yang serba mekanis dan tak manusiawi membuat saya, sebagai pustakawan, ingin pergi diam-diam ke pojokan, membaca Dead Souls-nya Nikolai Gogol, lalu menenggak sebotol racun tikus.

Saya harus melakukan sesuatu agar saya atau orang lain tak perlu bunuh diri di perpustakaan. Jika saya bisa bersenang-senang dengan membaca, berarti saya pun harusnya bisa membuat perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan.

Membangun Perpustakaan Alternatif

Selepas dari Omah Munir pada pertengahan 2015, saya mulai berpikir membuat perpustakaan sendiri. Perpustakaan ideal dalam benak saya tak harus berupa ruang(an), karena tentu saja saya tak punya duit untuk menyewa gedung atau bangunan. Selain itu, toh esensi perpustakaan bukanlah pada bentuk ruang.

Perpustakaan bukan sekadar ruang berisi buku, lebih dari itu perpustakaan adalah medium interaksi sosial. Saya tidak hanya bicara soal interaksi administratif antara pengunjung dan koleksi perpustakaan, tapi juga interaksi diskursif antarpembaca. Tak diperlukan bentuk ruang spesifik untuk membangun interaksi diskursif. Kita bisa ngobrolin buku di mana saja, mulai dari kantin kampus hingga taman kota.

Lantas, bagaimana dengan koleksi? Bukankah perpustakaan harus punya buku? Benar, tapi orang tak harus melihat buku-buku saya untuk meminjam, mereka hanya cukup tahu judul apa saja yang saya punya. Untuk itu, saya cukup membuat sebuah katalog yang bisa disebarluaskan via internet. Katalog ini membuat saya tak perlu menunggu jadi saudagar minyak untuk memodali pembangunan perpustakaan dan orang tak perlu ribet untuk meminjam buku—tinggal pesan lalu ketemuan. Ada sekitar 800-an koleksi pribadi saya yang mula-mula masuk dalam katalog.

Saya membuat Buku Besar Peminjaman yang fomatnya sangat sederhana: hanya berisi tabel Tanggal, Identitas Peminjam, Judul Buku, dan Masa Peminjaman.  Buku ini berfungsi mencegah kehilangan-kehilangan tak bermakna—sedih sekali jika saya harus kehilangan buku-buku hanya karena lupa kepada siapa meminjamkannya.

Setelah merampungkan pembuatan katalog, saya menamai perpustakaan virtual ini Gubuk Cerita. Nama ini saya pilih untuk menyampaikan pesan soal keluwesan ruang—gubuk adalah bentuk ruang tak tetap, berpindah, bisa muncul di mana-mana—dan aktivitas inti yang ingin saya bangun dengan perpustakaan ini: bertukar cerita.

Saya merilis Gubuk Cerita ke publik pada November 2015, tapi katalog buku (yang saya juduli Daftar Pustaka) baru beredar sebulan kemudian via blog, Facebook, dan Instagram. Hanya ada 3 peminjam sepanjang Desember itu, perkenankan saya menyebut nama-nama mereka: Sarifah, Widiy Usmalla, dan Zarotul Laili alias Zeze.

Meski hanya berjumpa dengan 3 orang itu, tapi saya benar-benar puas bisa bertukar cerita dengan Sarifah tentang trilogi Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi, membandingkan The Naked Traveler-nya Trinity dan Titik Nol-nya Agustinus Wibowo bersama Widy, serta mendiskusikan posisi dan peran kelas menengah dalam The Making of Middle Indonesia-nya Gerry van Klinken dengan Zeze. Semua perbincangan itu diselenggarakan dengan asyik dan dalam tempo yang sewoles-wolesnya di warung soto, parkiran kampus, dan trotoar pinggir jalan.

Menjadi Gerakan Kolektif

Pada Maret 2016 Gubuk Cerita mulai menggelar lapak perpus di ruang publik. Langkah ini saya ambil setelah sebulan sebelumnya ‘diprovokasi’ habis-habisan oleh Kelana Wisnu, pencetus Perpustakaan Pijar di Blitar yang lebih mula bergerak ke ruang publik. Awal Maret itu, Mas Denny Mizhar, sesepuh komunitas Pelangi Sastra Malang, menawari saya untuk menggelar lapak perpus di Kedai Komika. Saya menyanggupi tawaran itu dan datang ke Komika bersama seorang kawan, Praba Nindita.

Hari-hari setelah itu, hingga akhir April 2016, Gubuk Cerita masih bergerak dari satu acara diskusi ke diskusi lain di kedai dan kampus-kampus. Ada kalanya Gubuk Cerita diundang di beberapa acara, ada kalanya saya yang meminta ruang kepada panitia acara. Meski koleksi Gubuk Cerita waktu itu berjumlah ratusan, saya hanya bergerak membawa seransel buku, menggelar buku-buku itu di meja kecil, dan menginformasikan kepada pengunjung bahwa mereka bisa mengakses katalog di blog untuk melihat daftar koleksi selengkapnya.

Sepanjang Maret dan April itu hari-hari saya disibukkan oleh 208 peminjaman. Peminjaman memang banyak terjadi ketika Gubuk Cerita meruang di kedai atau kampus, tapi pemesanan via internet pun tak sedikit. Jika tak meruang di kedai atau kampus, saya menghabiskan hari bersepeda mengantar buku kepada para pemesan, ngobrol dengan mereka, dan mencatat peminjaman. Kerja siang-malam melayani ratusan peminjaman itu sama sekali tak menghasilkan uang, tapi saya senang tak kepalang.  

Sepanjang Maret-April itu pun saya mendapat banyak sekali teman baru. Orang-orang yang saya jumpai dalam 2 atau 3 kali peminjaman biasanya lantas menjadi kawan yang menyenangkan. Sebagian dari mereka menawarkan koleksi pribadinya untuk masuk dalam katalog dan ikut bergerak.

Beberapa yang mula-mula ikut bergerak adalah Mas Seno, Zendra, Radhit, Jabar, Nurvi, dan Hamid. Bersama mereka Gubuk Cerita menjadi gerakan kolektif yang akhirnya turun ke jalan. Per 1 Mei 2016, Gubuk Cerita rutin menggelar lapak perpus di zona Car Free Day Malang di Jalan Ijen. Saban Minggu pagi, kami membawa koleksi pribadi masing-masing dan menggelarnya di trotoar.

Menarik bahwa jika sebelumnya saya banyak berjumpa dengan peminjam dari kalangan mahasiswa, di Car Free Day kami menjumpai peminjam yang lebih beragam: mamah-mamah muda pembaca Femina, anak-anak yang tertarik pada Petualangan Tintin, pedagang emperan yang terpukau pada National Geographic, hingga generasi milenial yang ingin bernostalgia dengan majalah Bobo dan seri Donal Bebek.

Selain di Car Free Day, Gubuk Cerita tetap bergerak mengedarkan buku ke acara-acara publik. Kami ‘bergerilya’ ke berbagai acara, mulai dari bedah buku, pementasan teater, pemutaran film, hingga konser musik; baik acara yang digelar di kampus atau di kampung. Pengunjung bisa membaca di tempat. Mereka pun dapat meminjam-bawa-pulang dengan batas waktu-baca yang mereka tentukan sendiri.

Sejauh ini, kami belum pernah mengagendakan diskusi khusus ketika menggelar lapak di ruang publik. Kami sengaja membiarkan diskusi-diskusi muncul secara spontan, temanya bisa berubah tak tentu arah, tapi tentu tak jauh dari soal buku. Dengan cara seperti ini kami bisa lebih luwes bertukar cerita.

Ketika menggelar lapak di ruang publik, kami biasanya lebih sering mengajak pengunjung bicara soal minat atau keseharian hidup mereka. Dua informasi ini penting sekali bagi seorang pustakawan. Dengan mengetahui minat dan keseharian hidup seseorang, pustakawan dapat menyarankan bahan-bahan bacaan yang relevan. Saya, misalnya, daripada berbuih-buih mengatakan betapa memukaunya novel Orhan Pamuk, akan langsung menyarankan biografi Sir Alex Ferguson kepada pengunjung yang menggemari sepakbola.

Mengutamakan Gembira

Belakangan saya tahu apa yang Gubuk Cerita lakukan secara konseptual disebut pustaka bergerak. Konsep ini memungkinkan perpustakaan menjumpai lebih banyak pembaca, artinya bahan bacaan, juga pengetahuan, bisa terdistribusi lebih luas. Konsep ini pun sedang digalakkan oleh banyak sekali komunitas atau gerakan literasi di berbagai daerah di Indonesia.

Pustaka bergerak juga memungkinkan pustakawan berpindah dari satu ruang sosial ke ruang sosial yang lain dan berjumpa dengan berbagai macam realitas sosial. Perjumpaan dengan banyak pembaca di berbagai ruang dan realitas sosial membuat pustakawan menjadi manusia yang terbuka terhadap beragam pengalaman baru dan tidak terpenjara dalam ruang serta aktivitas yang itu-itu saja. Saya rasa, memanusiakan pustakawan adalah pekerjaan urgen dalam aktivitas kepustakaan, sebab mereka pada dasarnya bukan robot penata rak-rak buku.

Saya tak hendak mengatakan bahwa kerja-kerja pustakawan pada lazimnya tak layak dilakukan, saya hanya ingin bilang bahwa, tanpa rasa gembira, cara kerja seperti itu tak bermakna untuk dilakukan. Kerja-kerja administratif itu penting, tapi tanpa hasrat menjalin hubungan yang menggembirakan semua itu sia-sia belaka. Apa gunanya buku-buku tertata rapi dan presisi sesuai penomoran Kode Desimal Dewey, misalnya, jika orang bahkan tak bisa membicarakan bagaimana rasanya romantisme menghirup aroma kertas tua?

Kegembiraan terbesar seorang pustakawan bukanlah ketika ia bisa hidup dari perpustakaan, tapi ketika ia bisa menghidupkan ruang kerjanya itu. Tentu saja kerja-kerja untuk menghidupkan itu pasti sama melelahkannya seperti kerja-kerja untuk mencari nafkah hidup.

Kerja-kerja kepustakaan di Gubuk Cerita juga melelahkan, tapi kami melakukan itu untuk bergembira ria. Membawa buku ke mana-mana, merawat koleksi, memeriksa rekam peminjaman, bergelut dengan cuaca, semua itu tak lain untuk bersenang-senang dengan makin banyak orang.

Hasrat bersenang-senang kami di Gubuk Cerita bisa direplikasi dengan sangat mudah dan murah. Orang tak perlu menggelontorkan anggaran sedemikian banyak hanya untuk bergembira membaca. Kau hanya perlu berkelompok dengan teman-temanmu dan bertukar bacaanlah, cerita akan bergulir bahkan bergerak dari situ; mempertemukan isi kepalamu dengan isi kepala orang lain itu jauh lebih seru daripada setiap orang sibuk dengan isi kepalanya masing-masing.

Intinya, jika kau tak merasa gembira dengan perpustakaan, hanya ada dua cara menghindari bunuh diri di sana: jangan kunjungi atau bikinlah perpustakaan menyenangkan seperti yang saya dan teman-teman lakukan dengan Gubuk Cerita.


Ragil Cahya Maulana
Pustakawan partikelir berdomisili di Malang.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara