Pernikahan dua orang yang berbeda latar kebudayaan ternyata melahirkan banyak hal jenaka. Kejenakaan yang segar sekaligus juga bisa memancing perenungan budaya itulah yang ditawarkan buku Kesetrum Cinta.

ANDAI SAJA saya tak bertemu dengan Mojok Store mungkin saya sampai hari ini tak akan mengenal nama Sigit Susanto beserta karyanya.

Buku Kesetrum Cinta ialah buku karya Om Sigit yang saya miliki pertama kali lewat pembelian di Mojok Store saat sedang mengadakan promo 1 paket 4 buku. Meski demikian, buku Kesetrum Cinta bukanlah karya pertama om Sigit, karena sebelumnya pada tahun 2005 Om Sigit sudah menyalurkan karya lewat buku ‘Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Jilid 1, 2, 3’ yang berisi catatan perjalanannya di dataran Eropa. Selain itu Om Sigit rajin menerjemahkan buku-buku sastra laris dunia.

Buku Kesetrum Cinta secara kover langsung menarik perhatian saya. Dengan gambar sepasang pengantin memakai pakaian adat Jawa beserta ragam perabotannya memikat saya untuk memulai membaca isi buku ini. Pada kover buku ini juga kita sudah diberitahu bahwa buku ini kumpulan kisah jenaka pria Jawa menikah dengan perempuan Swiss. Jadi buang jauh angan-anganmu akan menemukan kisah romatis dengan latar kota-kota di Eropa.  Malah kamu akan banyak menemukan kejadian-kejadian jenaka yang dialami Sigit setelah menikah dengan Claudia Beck yang dituangkan dalam 135 kisah.

Tak heran jika dibandingkan dengan buku sejenisnya, buku ini tergolong sangat tebal.

Kepiawaian Om Sigit dalam meramu tulisan terlihat pada setiap cerita yang disajikan. Cerita yang diambil dari pengalaman-pengalaman pribadi berdasarkan ingatan ia sajikan tak terlalu panjang, namun sanggup membuat pembaca larut dalam kejadian demi kejadian. Gaya penulisan yang digunakan pun sangat santai bisa dibilang cenderung menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab di telinga kita, jadi tak usah sering-sering membuka KBBI atau kamus bahasa Indonesia yang mana pun. Gaya seperti ini membuat pembaca lebih mudah memahami setiap kejadian yang menimpa Om Sigit ataupun Claudia Beck.

Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, meskipun judulnya Kesetrum Cinta bukan berarti buku ini selalu membahas kisah cinta. Malah lebih sering memunculkan cerita atau pengalaman-pengalaman menarik yang tak terduga akibat gegar budaya yang ia dan istrinya alami. Gegar budaya atau ‘culture shock’ ini terjadi ketika dua orang yang mempunyai budaya berbeda harus menjalani hidup bersama, tentu akan banyak perilaku unik atau dianggap baru karena latar budaya yang dibawa berbeda.

Cerita-cerita yang disajikan Om Sigit dalam buku ini begitu jujur dan lugas seperti pengalaman pertama kali Claudia Beck mudik ke Indonesia menemui keluarga Sigit. Tenyata keluarga Sigit sudah mempersiapkan acara perkawinan yang akan dihadiri banyak orang. Walaupun sebenarnya mereka sudah melakukan perkawinan di Swiss yang dihadiri keluarga dan kerabat dekat Claudia.

Kejadian ini tentu membuat Claudia kaget sebab di negara asalnya perkawinan tidak dihadiri banyak tamu karena biaya yang dikeluarkan akan sangat mahal dan masyarakatnya cenderung individualis. Dan yang paling membuat Claudia mengeluh adalah dia tak terbiasa untuk bersalaman terus-menerus dengan banyak orang. Pernikahan Sigit dengan seorang wanita  bule sangat jarang terjadi di kampungnya, maka ketika itu banyak sekali yang ingin berfoto dengan Claudia Beck.

Ada juga cerita lucu yang menimpa Sigit ketika tinggal di Swiss, saat itu istrinya sedang giat belajar bahasa Indonesia lewat buku yang dibelinya. Suatu ketika ia sedang mandi, Claudia membuka pintu kamar mandi sedikit dan bilang: “Selamat mandi.”

Lagi-lagi aku harus tertawa. Seumur-umur di Indonesia tidak ada saudara atau temanku menyelamati orang mandi. Apa istimewanya orang mandi sampai harus diselamatkan? Tulis Om Sigit. Selidik demi selidik ternyata buku yang menjadi panduan Claudia ditulis oleh seorang bule seperti dia.   

Selain kejadian lucu ada beberapa cerita yang cukup menampar saya sebagai warga Indonesia. Pertanyaan cara orang bertanya antara orang Indonesia dan Swiss tak luput dari pengamatan Om Sigit. Saat menghadiri forum tanya jawab ketika Pramoedya Ananta Toer berkunjung ke Swiss pada tahun 2002, teman penulis yang orang Swiss berkata:

“Perhatikan dengan saksama ketika orang Swiss bertanya dan orang Indonesia bertanya. Kebanyakan orang Indonesia lebih suka bercerita dulu yang panjang, pertanyaannya pendek sekali, malah kadang lupa apa yang ditanyakan, saking panjangnya pengantar.”

Demikian Sigit mengaminkan pernyataan teman penulisnya

Pertanyaan yang dilontarkan orang Swiss kebanyakan langsung ke tema yang ditanyakan. Terkesan ringkas, lugas, dan efektif. Pertanyaan orang Indonesia kebanyakan didahului pengantar, kadang bertele-tele. (hlm 197).

Tentunya masih banyak cerita menarik lainnya yang terdapat di buku ini. Cerita yang ringan namun kita dapat banyak mengambil pelajaran tentang akulturasi budaya yang terjadi. Bahwa setiap budaya punya kelebihannya masing-masing, tidak ada budaya yang lebih superior, karena budaya mewakili kehidupan di tempat tersebut dan sudah seharusnya kita saling menghormati dan menghargainya.

Sedikit catatan saja dari saya, satu cerita ke cerita lainnya tidak terhubung secara baik atau terkesan melompar-lompat. Sehingga cukup sulit untuk merunut setiap kejadian berdasarkan kronologi waktu dan tempat. Mungkin karena penulisan buku ini tidak memakai data tapi lebih berdasarkan  kejadian-kejadian yang paling diingat oleh Om Sigit. Maka tak heran jika buku ini lebih mendekati pada buku catatan atau buku keseharian Om Sigit.

Walaupun begitu buku ini masih menarik dan menghibur untuk dibaca oleh remaja atau orang dewasa. Buku ini juga cukup mewakili era sekarang, di mana kita sedang menjalani hidup di zaman globalisasi. Orang-orang asing berbondong-bondong menuju negara lain untuk mencari pekerjaan, tak jarang pula mereka menemukan jodohnya di negara lain. Setelah membaca buku ini kita sudah tidak kikuk lagi atau kita sudah siap dengan akulturasi budaya yang akan dihadapi.

Jadi, bagaimana, setelah membaca buku ini jadi tertarik untuk menikahi orang bule?


Rulfhi Alimudin Pratama
Sekarang masih tinggal di Bandung, bergiat, belajar di Komunitas Aleut dan dapat ditemui juga lewat tulisan di upitea.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara