19 Nov 2017 Satya Adhi Bicara Buku

Dostoevsky kembali menemui pembacanya melalui terjemahan yang diterbitkan Papyrus: “The Gambler”. Novel dengan Rusia sebagai pusat dan ditulis (bukan) oleh tangan Dostoevsky sendiri.

FYODOR Mikaelovich Dostoevsky adalah mayat hidup yang dikasihi Tuhan. Ia adalah lakon yang dimainkan kembali, tubuh hina yang meruapkan aroma arak, langkah kaki tegap pembangkang kaisar, aksara rupa penuh keresahan, juga putaran rolet di padang judi.

Ia sok kaya. Kemudian banyak hutang. Ia mencinta. Kemudian dirundung amarah. Ia mencinta lagi. Kemudian mencinta lebih lagi. Dostoevsky adalah percampuran elegan antara kata-kata Tuhan dan firman Manusia.

Pada 1848, novel pertama Dostoevsky, Poor Folk [kembali diterbitkan OAK dengan judul Orang-orang Malang (2004, 2015, 2017)] berhasil cair ke khalayak. Karya ini sukses memukau pembaca lewat surat-menyurat pilu antara Varvara Debroselova dan Makar Devushkin, dua tetangga miskin yang payah dalam berasmara. Dostoevsky mulai dipuja.

Seperti karya sastra lain yang berkisah soal kemalangan, Poor Folk nyatanya meminta tumbal. Ini adalah novel yang jadi saksi lini masa kemalangan Dostoevsky. Ayahnya dibunuh para pekerja kebunnya sendiri, lantas Dostoevsky hidup berfoya-foya sebagai tentara, main judi, banyak hutang, hingga kemudian bernasib serupa Raskolnikov, tokoh progresif-utopis yang ia ciptakan di Crime and Punishment [diterbitkan YOI dengan judul Kejahatan dan Hukuman (2001, 2016)].

Dostoevsky kemudian bangkit dari kematian. Setelah novel pertamanya sukses, ia dijatuhi hukuman mati akibat dianggap membelot Tsar. Bersama 14 rekannya yang lain, Dostoevsky terlanjur pasrah dengan suratan ketika pelor senapan algojo akan menembus tubuhnya. Dostoevsky dapat giliran dieksekusi di kloter kedua, sementara kloter pertama sudah mangkat seluruhnya. Maut nyaris tipis menjemput ketika utusan Tsar akhirnya datang membawa pengumuman keparat: hukuman mati dibatalkan.

Entah takdir atau karma, pernikahan pertama Dostoevsky gagal. Maria Dmitrijavna Issayaf, janda sahabatnya sendiri, ternyata tak punya umur sepanjang Dostoevsky. Maria meninggal akibat TBC dan otomatis mengakhiri pernikahan mereka.

Tapi Dostoevsky memang bandel. Pada usia 45 tahun, ia kesengsem dengan ABG 19 tahun bernama Anna Snitkina. “Ia wanita yang setia, memahami pekerti suaminya, amat merawat dan meladeni suami” (Jakob Sumardjo, 2016: xxiii-xxiv). Seorang tipe perempuan bersifat ortodoks yang cocok dengan selera paruh baya Dostoevsky. Meski demikian, Anna sekaligus perempuan cerdas yang mampu menulis dengan cepat. Pada 1866, Dostoevsky mendiktekan The Gambler kepada Anna. Kata-kata Dostoevsky yang meruap di udara, segera, dipenjarakan oleh Anna ke dalam lembaran-lembaran kertas. Hanya dalam tiga minggu, novel ini berhasil dirampungkan.

The Gambler adalah novel yang tidak ditulis (langsung) oleh Dostoevsky.

Rusia adalah Pusat

Selain Notes from Underground (diterbitkan kembali oleh KPG dengan judul Catatan dari Bawah Tanah, 2016), The Gambler adalah salah satu novel Dostoevsky yang menggunakan sudut pandang orang pertama. Aku. Dari sini pembaca bisa melihat Dostoevsky bukan hanya sebagai sastrawan, tapi juga sebagai filsuf eksistensialis.

Melalui sudut pandang Alexey Ivanovitch si tokoh utama, di bagian-bagian awal novel pembaca akan menemui tatapan-tatapan Alexey terhadap orang-orang dan latar tempat dalam novel tersebut. “Si jenderal menatapku dengan dingin, menyapa dengan cara yang angkuh, dan memaksaku untuk berhenti sebentar memberi hormat pada adik perempuannya. Sangat jelaslah uang berbicara di tempat ini” (hal. 1).

Ini tentang Rusia feodal yang diisi orang-orang tajir nan kolot. Bagian awal novel memang tidak sekuat ketika Dostoevsky membuka Notes from Underground dengan sungguh khidmat. Namun seperti permainan judi, sebenarnya semua berpusat dan ditentukan bukan oleh nasib, tapi oleh diri sendiri. Sederhananya, dalam judi kita punya dua pilihan yang bisa dengan sadar kita pilih: berhenti atau lanjut bermain. Dan bagian pembuka menjadi awal seluruh permainan serta polemik keluarga jenderal yang berpusat pada Alexey.

Pusat cerita pada Alexey—seorang Rusia yang dikepung seorang lelaki Inggris, dua perempuan dan seorang lelaki Prancis, dan tentunya orang-orang Rusia lain yang ningrat—menyiratkan keinginan Dostoevsky untuk menempatkan Rusia sebagai pusat. Ini cukup lian dibandingkan mayoritas pemikiran yang berkembang saat itu.

“Reformasi Peter Agung di abad ke 18 memungkinkan kaum intelektual Rusia berkenalan secara lebih mendalam dengan pemikiran filsafat Barat” (Fahrurodji, 2008: xiii). Salah seorang pemikir Rusia kala itu, Pyotr Chaadayev, bahkan menilai demikian; “Rusia tidak memiliki peran dalam sejarah, dan karenanya harus belajar pengalaman sejarah dari Barat” (ibid.: xiii-xiv).

Anggapan semacam ini digambarkan Dostoevsky ketika Alexey tengah berbincang dengan seorang Le Comte dari Prancis. “’Apa yang menyelamatkanmu adalah pengakuanmu bahwa kamu adalah orang sesat dan barbar,’ kata si Prancis sambil tersenyum. ‘Kau tidak terlihat bodoh’” (hal. 12). Prancis sebagai simbol Renaisans, digambarkan mengejek peradaban Rusia yang barbar dan belum modern.

Sebaliknya, melalui rolet Dostoevsky mengejek para pemikir yang menganggap Rusia harus belajar dari Barat. Sebab, meski Reformasi sudah dilakukan, tetap saja orang-orang Rusia banyak yang kere dan buta huruf. Rolet ia sebut dengan nada sinis sebagai permainan yang Rusia banget.

“’Aku pikir rolet dirancang khusus untuk orang Rusia’…. ‘Berdasarkan fakta bahwa pandangan dan cara hidup orang Barat yang sudah menjadi sejarah, walaupun ini bukan sesuatu yang besar, kemampuan untuk menumpuk kekayaan. Walaupun, orang Rusia bukan cuma tidak mampu mengumpulkan harta, tapi juga sering bertindak bodoh dan ceroboh’” (hal. 52-53).

Dengan cermat, Dostoevsky memilih mesin rolet daripada bejibun permainan judi yang lain. Sejarah memang telah membuktikan bahwa penemuan mesin jadi tonggak lahirnya modernisasi ala Barat. Perkembangan teknologi yang muncul kemudian, membuat peradaban Barat jadi amat gagah dan menggagahi.

Di sini rolet tidak menjadi roda nasib yang berputar liar, tapi mesin canggih yang mengendalikan manusia. Ini merupakan kritik Dostoevsky terhadap modernisasi yang melunturkan jati diri bangsa Rusia. Manusia jadi kehilangan kemanusiaannya, digantikan kemanusiaan buatan yang dikendalikan para mesin. Pembaca juga harus ingat, kalau Dostoevsky bahkan tidak memakai mesin (ketik) untuk menulis novel ini.

Sayangnya, The Gambler terbitan Papyrus nampak masih memerlukan perbaikan dalam hal penyuntingan. Kalimat-kalimat Dostoevsky yang terkesan bertele-tele tidak mampu disunting dengan gurih. Jika boleh membandingkan maka bisa dikatakan bahwa kualitas terjemahan dan penyuntingannya masih jauh dari buku-buku Dostoevsky lain yang diterbikan OAK, YOI, KPG, juga pastinya Pustaka Jaya.

Beruntung kekecewaan pembaca bisa terobati berkat kisah Alexey yang konyol. Alexey—yang juga bisa dibaca sebagai sosok Dostoevsky sendiri—memang mulanya emoh dikendalikan mesin. Namun akhirnya ia tunduk juga pada putaran roda rolet. Tidak hanya itu, yang teramat konyol adalah ia juga tunduk pada perempuan. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Yang pertama, oleh Polina Alexandrovna ia dimanfaatkan sebagai lumbung uang hasil berjudi. Yang kedua oleh Le Comtesse Prancis yang juga hanya mengincar harta Alexey.

Lucu ketika Dostoevsky menulis sok gagah. “Seorang lelaki harus selalu berhati-hati” (hal. 52). Tapi kemudian pembaca bisa membayangkan Anna Snitkina tersenyum geli ketika sang suami terkasih mendiktekan kalimat berikut kepadanya. “Dalam banyak hal, aku memang takut pada wanita” (hal. 42).


Satya Adhi
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara