17 May 2017 Nur Janti Sosok

Mendengarkan dongeng sejak kecil membuat Irwan Bajang menggemari karya-karya fiksi. Kecintaan Bajang, begitu ia biasa disapa, pada fiksi mengantarkannya ke Yogyakarta untuk menjadi penulis.

SEJAK KECIL, Bajang suka menikmati cerita-cerita fiksi lewat dongeng yang diceritakan oleh orang tuanya. Kadang neneknya bercerita, lain waktu ibunya, dan ayahnya-lah orang yang paling sering mendongeng untuk Bajang dan saudaranya.

Bajang memiliki dua orang adik laki-laki yang jarak umurnya tak jauh. Karena merasa sepantaran, tiga saudara ini sering kali bertengkar, pertengkaran khas anak-anak. Di lain waktu mereka akan begitu rukun seolah tidak pernah terjadi pertengkaran, saling bertukar baju atau memasak bersama ketika di rumah tidak ada makanan. Orangtua Bajang memang mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang mandiri.

Dari banyak dongeng yang pernah didengar Bajang, ada dua cerita yang paling diingatnya. Ayah Bajang sering kali bercerita tentang perjalanan dua bersaudara, salah satunya adalah dongeng khas Lombok, Cupak Gerantang. Cupak adalah orang yang gendut dan hobi makan, sedangkan Gerantang berbadan kecil tetapi cerdas dan bertenaga. Mereka memiliki misi untuk menyelamatkan puteri raja.

Kisah lain yang masih ia ingat adalah cerita anak kembar dan ayam jago peliharaannya. Dalam dongeng, konon orang yang memakan kepala ayam jago itu kelak bisa menjadi raja. Seorang raja daerah kemudian merayu ibu anak kembar untuk menyembelih si jago. Ketika si anak kembar pulang, mereka mendapati ayamnya sudah menjadi hidangan di piring, lalu mereka memakan kepala ayam jago itu. Di akhir cerita, saudara kembar itu menjadi raja.

Kebiasaan mendengarkan dongeng tersebut menjadi awal mula Bajang menggemari cerita fiksi. Ketika sudah mulai lancar membaca, Bajang sering meminjam buku di perpustakaan SD. Buku yang paling sering ia pinjam adalah buku cerita dan dongeng.

Selain gemar membaca, Bajang juga murid yang menonjol di sekolah sejak secil. Kepintarannya ini, dibarengi juga dengan kebengalan. Ada saja kenakalan yang ia lakukan sejak SD hingga SMA. Bajang mengingat salah satu kenakalannya ketika masih SD. Saat itu, gurunya sedang menjelaskan di depan kelas. Karena Bajang dan teman-temannya tidak suka dengan cara guru itu mengajar, akhirnya mereka membuat tantangan. Siapa yang berani kencing di kelas, dialah jagoannya. Satu-satunya orang yang berani mengambil tantangan tersebut adalah Bajang. Tapi kejahilannya tentu saja berbuntut tidak enak. Di hari berikutnya dia ketahuan kencing di kelas karena ada teman sekelasnya yang mengadukan kejahilan Bajang ke guru. Akhirnya ia dimarahi dan dihukum untuk mengepel kelas sendirian.

Meski sering jahil, Bajang sempat menjadi anak yang lemah di awal-awal masuk sekolah karena memiliki badan yang kecil. Akan tetapi begitu ia naik kelas 4 badannya mulai tumbuh besar, “aku mikir, kenapa harus cengeng?”.

Sejak itu ia berpikir untuk melawan segala kejahilan temannya. Ia pernah melawan teman sekelasnya yang berbadan lebih besar karena tiba-tiba saja didorong. Ia tidak akan diam saja bila ada orang yang mengganggu padahal dia sendiri tidak melakukan kesalahan.

Setelah lulus SD, Bajang menikmati libur kelulusan bersama teman-temannya. Kadang mereka jalan-jalan sampai jauh, mandi di sungai, atau bermain layang-layang. Yang paling Bajang sukai dari liburan kelulusannya saat itu adalah ketika menginap di rumah kakeknya. Kakek dari ayah Bajang adalah seorang nelayan.

Mengikuti kakek pergi melaut adalah salah satu momen liburan yang paling membekas. Bau laut yang khas, perahu yang mengapung, jaring yang dilemparkan. Dia masih ingat betapa bahagianya mendapati ada banyak ikan di jaring kakeknya. ”Itu lebih mengasyikkan daripada sekolah," katanya.

Liburan yang menyenangkan tentu, sampai-sampai Bajang dan temannya lupa untuk mendaftar sekolah. Sejak awal, ia memang tak terlalu memikirkan urusan pendaftaran sekolah. Pasalnya pendaftaran untuk masuk SMP di zaman itu diurus oleh guru asal sekolah. Pendaftaran sudah ditutup karena jumlah siswa yang diterima sudah mencukupi ruang kelas yang tersedia. Beruntungnya ia masih bisa diterima untuk masuk ke SMP itu. Bajang dan temannya yang terlambat mendaftar baru masuk sekolah ketika MOS sedang dilaksanakan. Mereka juga harus menempati ruang kelas yang sebetulnya adalah perpustakaan. Pihak sekolah membuat ruang kelas dengan menggunakan rak buku sebagai pembatas antara ruang kelas dan perpustakaan. Bagian belakang rak berada di ruang kelas, sedangkan bagian depannya menghadap ke perpustakaan.

Ruang kelas Bajang yang bersebelahan dengan perpustakaan membuat ia leluasa untuk membaca dan meminjam buku. Hal tersebut ditambah dengan ketiadaan pustakawan sekolah. Perpustakaan di sekolahnya memang tidak terlalu diurus, tapi ini justru menguntungkan Bajang. Masa ini menjadi titik di mana Bajang mulai benar-benar menikmati buku. Ia sering mondar-mandir dari kelas ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku. Ada banyak buku yang ia baca, beberapa kali ia meminjam buku untuk dibawa ke rumah. Tentu saja buku itu ia kembalikan, namun laiknya manusia, ada pula yang lupa dikembalikan.

Buku yang ia nikmati ketika SMP antara lain karya sastra Pujangga Baru dan Balai Pustaka. Beberapa judul yang masih ia ingat adalah Tenggelamnya Kapal van der Wick, Jalan Tak Ada Ujung dan biografi Kapitan Patimura. Buku yang disebut terakhir adalah yang paling membekas untuk Bajang. “Aku ingat fragmen dia digantung karena dianggap memberontak. Aku suka tema-tema orang berani,” katanya.

Barangkali keberanian yang ia rasakan ketika membaca biografi Kapitan Patimura itu menular padanya.

Bajang tak terlalu suka dengan pelajaran matematika. Suatu hari saat pelajaran matematika, ia dan lima orang teman berencana untuk kabur ke kantin. Akan tetapi mereka bosan dengan makanan yang ada di kantin sekolah dan berencana membolos ke luar, menyelinap dengan melompati pagar. Ruang kelas yang ia tempati bersebelahan dengan ruang guru BK di sebelah kiri dan pagar sekolah di sebelah kanan. Pintu keluar paling dekat untuk membolos sekaligus penuh risiko.

Ketika Bajang dan kawan-kawannya hendak menyelinap keluar sekolah dengan memanjat pagar, mereka tertangkap basah oleh seorang guru BK. Tentu saja gerombolan pembolos ini berakhir di ruang guru BK dan dihukum. Ia masih ingat Pak Safrudin, guru BK di sekolahnya. Dia berasal dari Makassar dan terkenal sebagai guru paling galak di sekolah. Pak Safrudin marah besar, para pembolos bengal ini pun ketakutan hingga terkencing-kencing.

Saat melanjutkan ke SMA, kecintaan Bajang pada literasi membuatnya tertarik untuk belajar di Jurusan Bahasa. Sayangnya, ketika ia naik ke kelas 3, sekolah memutuskan untuk meniadakan Jurusan Bahasa karena peminatnya sedikit dan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, tidak memiliki banyak pilihan jurusan, berbeda dengan IPA dan IPS. Bajang dan teman-temannya yang sangat ingin masuk Jurusan Bahasa merasa kecewa. Bentuk protes mereka dari rasa kecewa adalah dengan menolak masuk kelas. Bajang yang saat itu kebagian ditaruh di kelas IPA oleh gurunya, memilih untuk membolos di lapangan sekolah bersama teman senasibnya. Ada 18 orang yang ingin masuk ke Jurusan Bahasa, sedangkan jumlah peminat minimal 20 orang. Agar Kepala Sekolah mengabulkan keinginan 18 orang muridnya, Bajang dkk. kemudian mencari 2 orang lain yang bisa diajak masuk Jurusan Bahasa.

Singkat cerita, permintaan sekelompok murid keras kepala ini dikabulkan kepala sekolah. Kelas mereka dulunya ruang pramuka. Luasnya memang tidak seluas kelas-kelas lain yang menampung sekitar 35 orang murid, tapi mereka merasa sangat senang. Mengecat, memperbaiki lemari, membuat mading, menata kelas, semua mereka lakukan sendiri.

Di SMA, Bajang mulai banyak belajar tentang bahasa dan sastra. Ia juga mulai membaca Lelaki Tua dan Laut-nya Hemingway, Sang Penyair karya Kahlil Gibran, juga Chairil Anwar. Beberapa buku yang ia baca adalah buku terbitan Yogyakarta. Dari sini, ia tertarik untuk kuliah di Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan studi di Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

“Setelah banyak baca aku jadi tahu kelemahan dan kelebihan satu penulis. Tapi bagaimanapun, merekalah yang mengenalkanku pada bacaan-bacaan. Aku suka tulisan Seno Gumira Ajidarma, Eka Kurniawan, juga Putut Ea. Kalau penulis luar aku suka Hemingway, John Steinbeck, Edgar Allan Poe, tiga itu yang paling suka, sisanya banyak, tapi yang dominan tiga itu.”

*

Tinggal dan kuliah di Yogyakarta membuatnya selangkah lebih dekat dengan mimpinya sebagai penulis. Di kota ini, ia mulai belajar tentang menulis, mengedit, menerbitkan buku, bahkan berorganisasi. Bajang mengakui bahwa dirinya bukan orang yang gemar dengan formalitas atau sesuatu yang sangat organisatoris.

“Sesuatu yang menarik harus dicoba saat itu juga. Jangan sampai kebanyakan mikir tentang cara, kemenarikan, dan kesuksesan. Sesuatu yang kusukai langsung kubuat. Perkara di tengah jalan tidak berhasil ataupun berhasil evaluasi itu belakangan. Kerjakan segera atau orang lain akan mengerjakannya.”

Dia sangat serius dengan hobi dan keinginannya untuk menulis. Bersama temannya, Renggo, mereka membuat komunitas untuk belajar tentang sastra dan menulis, bernama Gang Pitu. Laiknya komunitas, anggota datang dan pergi. Meski media sosial dan internet sangat membantu dalam memperkenalkan komunitas mereka, yang selalu ada hanya Bajang dan Renggo.

Sketsa Senja, Rumah Merah Kita, Kepulangan Kelima, adalah beberapa karya Bajang yang telah dipublikasikan. Sketsa Senja punya jalannya sendiri untuk diterbitkan. Sebagai karya pertama yang dibukukan, ketika ia belum mengerti tentang alur penerbitan buku, Sketsa Senja dicetak menggunakan mesin fotokopi. Bajang mengurus semuanya sendiri mulai dari me-layout, mendesain sampul, mencetak di tukang fotokopi, dan menjilidnya di kos. Bahkan untuk menjual buku pertamanya ini, ia melakukannya sendiri. Teman-temannya adalah tempat paling pas untuk menyebarkan karyanya.

Pengalaman inilah yang kemudian membuat Bajang mendirikan Indie Book Corner (IBC), sebuah penerbitan indie, pada 2009 bersama Anindra Saraswati yang saat itu masih pacarnya (sekarang mereka sudah menikah). IBC dibangun dengan tujuan awal untuk mewadahi gagasan para penulis muda. Meski begitu, seleksi naskah yang ketat tetap dilakukan IBC untuk menjaga kualitas konten. Hal yang ia yakini dalam berbisnis dengan sesuatu yang ia sukai adalah bahwa ia menawarkan sesuatu yang bernilai bukan sekadar menjual sesuatu agar mendapat untung. “Buku itu karya seni. Seni menulis, mendesain, mencetak, dan buku kaya wacana.”


Nur Janti
Penulis dan editor lepas. Menggemari bacaan sejarah kehidupan sehari-hari dan kajian gender.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara