Puisi dan lingkungan. Puisi dan irama alat musik lokal. Mungkin benar bahwa karya sastra memiliki kelenturan adaptasi untuk tampil dibarengi apapun. Sebuah acara di Tasikmalaya menunjukkan hal itu.

SETELAH DUA tahun kuliah, saya dan Diwan mulai demam oleh rasa bosan. Kami mulai diserang kangen tak tertahan pada kampung halaman. Kangen dalam arti sebenarnya: kami ingin segera pulang, menetap, dan memberi sesuatu yang kami dapat selama kuliah—meski sampai kini saya masih bingung sudah dapat apa—demi perbaikan kampung halaman.

Dua bulan lalu, di asrama Kujang—tempat kami tinggal di Jogja—Diwan, yang saya kira ari-arinya hanya dipendam di bawah kloset rumah itu, mengutarakan keresahannya tentang kampung halaman, dan mengajak saya untuk merancang sebuah aksi, maksud dia, saya kira, sebuah tindakan untuk menenangkan keresahannya yang menyebalkan itu, mungkin. Maka sebagai sahabat, meski malas-malasan saya “iya”-kan saja ajakannya itu.

“Kita kumpulkan santri-santri, barudak sanggar kobong, dan teman-teman lainnya!” seru dia dalam bahasa Sunda dengan penuh semangat.

Semester berakhir, kami segera pulang ke rumah membawa beban pikiran masing-masing. Saya tidak menceritakan bahwa di balik jawaban “iya” beberapa bulan lalu, tersembunyi beberapa rencana yang, mungkin tak akan membuat saya leluasa membantunya.

Diwan adalah putera penyair kita, Acep Zamzam Noor yang lahir dan besar di Pondok Pesantren Cipasung itu, sedang saya tinggal di desa sebelahnya. Setibanya di Tasikmalaya, Diwan langsung menghubungi semua kawan yang bisa ia ajak kerja. Awalnya, saya pikir bahwa Tasik, mungkin tak akan kondusif untuk diajak acara-acara begituan. Sebab, kebanyakan  masyarakat sedang menggeliat untuk menambah volume perut dan pantat. Tapi di suatu siang,  dengan rencana mau ngeliwet, saat saya sedang malas-malasan mengusap layar gawai, datanglah berenyit yang diundang sahabat saya ini. Seusai makan itulah, mereka (saya menahan diri untuk banyak terlibat) merancang sebuah rencana: Diskusi Budaya.

Di sudut rumah yang dijadikan base camp Komunitas Azan oleh Acep Zamzam Noor, saya menyaksikan acara tersebut dirancang dari nol. Mereka yang diundang Diwan rata-rata berenyit semua, hanya beberapa yang terbilang tua, termasuk saya. Mereka berasal dari siswa/i MAN Cipasung, SMUI Cipasung, santri Cipasung, mahasiswa IAIC, mahasiswa Unsil, dan beberapa institusi lainnya, intinya mereka adalah pelajar, santri dan mahasiswa yang berasal di lingkungan Cipasung, bahkan ada seorang guru seni budaya. Kecuali guru tersebut, umumnya mereka tergabung dalam sanggar di sekolahnya. Di sudut itulah, sambil tetap mengusap layar gawai yang tak jelas menjelajah apa, saya mendengar mereka merancang aksinya.

Beginilah asyiknya jika memperkerjakan kaula muda, apalagi remaja yang masih diguna-guna oleh harapan (saya lebih senang menyebutnya “khayalan”) masa depan, mereka mudah digerakkan. Dalam tempo singkat, kami—atau tepatnya mereka—telah menyepakati sebuah tajuk diskusi, berawal dari keresahan Diwan beberapa waktu silam, lahirlah tajuk yang mirip judul skripsi ini: Wiyata Buana; Melaksanakan Kembali Nila-nilai Sunda sebaga Solusi bagi Krisis Ekologi di Tasikmalaya.

Berangsur-angsur mereka menyepakati tanggal, tempat, pembicara dan segala tektek bengek lainnya. Saat membahas siapa yang akan menjadi pembicara inilah, saya seolah kaget betapa sastrais-nya Tasikmalaya, beberapa nama muncul murudul, ternyata ada banyak budayawan, aktivis, penulis, dan pemerhati lingkungan selain bapaknya Diwan.

Terpilihlah seorang pemikir, aktivis dan penulis muda pengisi tetap kolom Marginalia di surat kabar Radar Tasikmalaya sebagai pembicara: Fauz Noor. Ia adalah penulis yang telah lama saya kenal dan saya baca karyanya. Namun, sebagai pembacanya, ada keheranan kenapa beliau yang kuliah strata awalnya fisika dan strata lanjutnya bukan ilmu lingkungan diminta membahas masalah kesundaan dan ekologi. Saya kira ada pemikir lain yang lebih konsen membahas lingkungan, namun, saya pun tak tahu siapa, jadi saya sepakati juga. Setelah berhari-hari dilewati bersama untuk mempersiapkan diskusi ini, tibalah waktu untuk menggelarnya.

Malam sebelum diskusi digelar, jin penghuni rumah Diwan merasuki saya, membuat saya demam dan muntah-muntah. Keparat. Saya tak bisa ikut diskusi, saya pikir. Lagi pula, saya tak terlalu banyak berperan dalam kepanitiaan ini. Sepanjang siang saya disibukkan dengan kerja bangunan, dan malamnya baru bisa membersamai mereka, itu pun hanya untuk menemani mereka tertawa. Dus, ketidakhadiran saya mungkin tak akan mengganggu jalannya acara.

Namun, inilah bajingannya Diwan. Dia punya daya tarik yang membuat teman-teman dekatnya tak akan sanggup meninggalkannya, dengan doping Neuralgin, saya pun meluncur. Tasikmalaya benar-benar dingin akhir-akhir ini, suhu hanya 20 derajat celsius, ditambah hujan yang enggan berhenti, juga udara yang seakan berkabut menambah kesulitan saya sepanjang jalan. Kacamata terkena embun sekaligus air hujan, bahu menggigil dan tulang belikat kanan kumat bergeletar-geletar. Untung jarak rumah saya tak terlalu jauh, dua puluh menit kemudian saya sudah sampai di tempat: Aula PSBB MAN Cipasung.

Motor saya parkir paling belakang, dari luar terdengar Fauz Noor sedang bicara. Rada gontai saya meniti tangga menuju aula. Di pangkal tangga, menghadap pintu utama, terdapat stan registrasi. Mejanya disusun memanjang, ada empat perempuan berjaga di sana, dua menjaga registrasi, dua lagi menjaga stan buku. Saya melihat-lihat sebentar buku yang dijual, meski beberapa sudah saya miliki. Terbanyak tentu buku puisi Acep Zamzam Noor, kemudian Soni Farid Maulana, lalu murudul nama-nama penyair lainnya, kemudian menyusul novel Semesta Sabda dan Marginalia karya Fauz Noor, dan beberapa buku lainnya. Sebagai pencinta buku, sejujurnya saya senang juga menyesal, kenapa tak dari dulu saya usahakan ini.

Setelah saya lemparkan senyum pada penjaga stan—mereka panitia, tapi karena mereka perempuan maka saya tak cukup mengenalnya—saya melangkah masuk ruangan. Di aula yang luas itu, 150 kursi yang telah dipersiapkan panitia hampir terisi semua, hingga saya pun duduk di kursi paling belakang. Diwan sebagai moderator mengangkat halisnya menatap saya demi menyampaikan selamat datang. Begitu mungkin maksudnya. Lalu saya edarkan pandangan ke segala arah, menyusuri segala sudut ruangan.

Karena saya memang tak mendapat peran apa-apa dalam diskusi ini, saya pun tak tahu menahu ihwal bagaimana mereka mendekorasi ruangan aula. Setahu saya aula ini kosong molongpong pada awalnya. Namun kini, terdapat sound system, kursi-kursi, banner dan segala atribut lainnya. Tapi dari segala pernak-pernik dekorasi, seperti angklung yang dengan linglungnya diselapkan begitu saja di sela-sela rak, kain-kain hitam yang direntangkan begitu saja demi menutupi kaca, dudukuy dan sangku nasi yang entah dengan maksud apa mereka simpan di atas balok-balok salon, ada satu yang benar-benar menarik perhatian saya: lukisan.

Saya tahu bahwa Acep Zamzam Noor, selain sebagai penyair, beliau juga pelukis. Namun aliran lukisan mooi indie ini berbeda sama sekali dengan empunya beliau. Setelah saya cari-cari informasi dari tim dekorasi, lukisan-lukisan tersebut memang bukan karya beliau, melainkan karya Yadi Mafie, Ade Darlin, Luki Lukita, Kang Deni dan Kang Anas. Mereka adalah perupa-perupa dari Tasik, yang bahkan baru saya tahu pas menghadiri diskusi ini.

Setelah selesai diskusi dan tanya jawab dengan durasi yang bisa bikin puyeng dan muntah, masuklah pada sesi hiburan. Sesi inilah, saya kira, yang membuat saya merasa perlu menuliskannya sebagai peristiwa literasi. Selain ada stan buku di luar tadi, juga pembacaan puisi dari salah satu panitia, ternyata ada banyak penampilan dari berbagai sanggar dan komunitas di Tasikmalaya. Dari beberapa sanggar yang tampil, saya tertarik untuk membahas penampilan Sekar Pitaloka. Saya tak tahu persis profil mereka, dan memang tak ada kesempatan lebih untuk mencari tahu. Maka saya nikmati saja penampilannya.

Sekar Pitaloka ini terdiri dari beberapa personil yang, bagi saya unik, karena tiga dari mereka adalah anak-anak SMP. Mereka memainkan alat musik tradisional Sunda seperti celempung, gong tiup, dan karinding, semunya dari bambu. Namun yang paling menawan bagi saya adalah, bukan suara karinding yang memang selalu bikin merinding, tetapi lirik-lirik yang mereka bawakan.

Dalam bahasa Sunda, mereka menyanyikan sajak-sajak, dan kami—sebagai penonton—bahkan dengan mudah dan refleksnya mengikuti mereka. Bukan hanya menyanyi, salah satu personil bahkan mendeklamasikan sajak sunda dengan diiringi alat musik tradisionl tersebut.

“Gunung-gunung dikerukan, susukan geus dibangunan, runtah-runtah ngabalaan!” teriaknya. Dan saya tak dapat mengingat dengan baik lirik-lirik lain lagu mereka yang demikian puitis itu. Karena saya hanya angguk-angguk mengikuti irama gong tiup. Terjemahan literal lirik itu dalam bahasa Indonesia begini: gunung-gunung dikikis, saluran air sudah pada dibangun, sampah-sampah memenuhi!

Laporan peristiwa ini mungkin terlalu singkat dan sangat parsial untuk merekam kegiatan yang kami rancang dari awal hingga detik akhir acara. Namun, pada kesempatan ini saya memang berusaha menunjukkan bahwa, meski kami pada awalnya hanya ingin membahas masalah lingkungan, mungkin karena kami hidup di lingkungan pesantren dan kami mengimani berkah, kami pun mendapat berkahnya.

Berkat diskusi itu, kami jadi tahu bahwa ada banyak anak-anak muda yang ingin bergerak, ada banyak budayawan dan bahkan secara khusus banyak sastrawan, artinya banyak puisi di sini. Dan, sesuai tajuk diskusi, selain dengan mengamalkan kembali nilai-nilai Sunda sebagai solusi bagi krisis ekologi, kami juga bisa menggunakan puisi. Secara jujur dan menyebalkan, dengan penuh sesal saya akui bahwa kekurangberperanan saya dalam kepanitiaan membuat ada atau tak adanya saya tak berpengaruh apa-apa dalam kelangsungan acara. Karenanya saya menulis laporan ini.

Tasikmalaya, 02 Agustus 2017


Riki Kurnia
Tergabung dalam Komunitas Azan Tasikmalaya. Pernah mengikuti Kelas Menulis di Balai Bahasa Yogyakarta. Kini sedang menyelesaikan studi S1 Ilmu Filsafat UGM.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara