Tak semua buku "menyehatkan". Ada jenis buku yang dikenal dengan sebutan "Snap Book", buku kacangan. Nah, seperti apakah buku semacam ini sampai-sampai ia tidak bisa "menyehatkan pikiran"?

“Karena sesungguhnya kepekokan itu ialah hak segala bangsa, maka tanggung jawab keilmuan di setiap penerbit harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan omzet dan pemasukan.”

-status Facebook Ronny Agustinus, 17 Juni 2017, pemimpin penerbit Marjin Kiri.

 

Setelah membaca status rekan sejawat saya itu mungkin Anda tergelak lantaran sekitar bulan Juni 2017 ini muncul klaim di berbagai sosial media bahwa Patih Gajah Mada sudah selayaknya mengganti nama menjadi ke Arab-Araban, yaitu Gaj Ahmada. Memang sebelumnya juga bukan hal baru dan sudah sejak lama ketika interpretasi ulang atau penulisan kembali buku sejarah kuno mulai menarik ditekuni industri buku Indonesia.

Pelbagai buku “sejarah alternatif” bermunculan, bahkan pernah booming tatkala Langit Kresna Hariadi pada 2005 membuat buku sejarah Gajah Mada dengan gaya penulisan bak novel petualangan. Dia menerbitkan dan mendistribusikan sendiri karyanya ke berbagai toko buku sampai penerbit besar Tiga Serangkai tertarik menerbitkan ulang. Sampai di sini industri perbukuan sempat bergairah. Penerbit besar yang semula meneruskan penerbitan artikel pentingnya di media massa ke bentuk buku seperti Penerbit Buku Kompas turut menerbitkan karya baru sejarah Indonesia yang bukan dari kumpulan tulisan.

Selain memang banyak buku non fiksi terutama sejarah alternatif terbit, bermunculan penulisan ulang sejarah dengan gaya novel sastra. Semisal 2010 Dhamar Shasangka “Sabda Palon” dengan menonjolkan Kejawen, 2015 Hendri Teja “Tan” biografi Tan Malaka, 2016 “Calabai” karya Pepi  AL-Bayqunie membahas kehidupan bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur Suku Bugis, atau 1985 Umar Nur Zain menulis ulang biografi WR Supratman, “Namaku Wage”. Belum ditambah sampai di dunia penulisan kreatif bukan hal baru begitu banyak cerita fiksi dikawinkan sejarah sungguhan misalnya “Da Vinci Code” Dan Brown, novel Isabel Allende, Carlos Fuentes, sampai Pramoedya Ananta Toer.

Sayang, kondisi ini tercederai dengan penerbitan buku sejarah yang jelas isinya mengada-ada ke dalam karya yang diniatkan secara sadar sebagai buku non fiksi! Terbitnya buku “Hitler Mati di Jawa” dan “Napoleon Bonaparte ternyata Muslim” ditambah sederetan buku lain (ini sudah sejak 2009!) baik diterbitkan terbatas, pun besar, terbit!

Memang di industri penerbitan buku seluruh dunia menerbitkan “Snap Books” lumrah. Saya ingin menyampaikan dulu soal “Snap Books” yang dalam pengertian harafiahnya bisa diartikan sebagai “buku cetek/kacangan”. Dalam buku “Book Editors Talk to Writers” susunan Judy Mandell, Anda akan menemukan apa itu “Snap Books”. Buku yang diterbitkan 1995 oleh penerbit John Wiley & Sons itu bertahun-tahun menjadi panduan terpercaya banyak orang  maupun institusi yang tertarik membangun lembaga penerbitan, baik skala kecil dan besar. Beberapa isinya yang dirasa kontekstual dan bisa diterapkan di Indonesia pernah saya terjemahkan dalam buku kecil Seri Penerbitan IKAPI 2005. Apalagi buku tersebut tak ditulis dengan “dingin” karena mengumpulkan serangkaian wawancara penulis jebolan Universitas Cornell itu dengan orang-orang penting yang puluhan tahun bergelut di industri buku Amerika dan Inggris.

Di buku tersebut Mandell menyebut “Snap Books” yang dilakukan di industri perbukuan dengan maksud menerbitkan buku “cepat laku” untuk menopang penjualan buku lainnya. Di sini pun sudah lama terbentuk gagasan begitu dengan menerbitkan buku bergambar anak-anak, komik anak terjemahan/lokal, buku mewarnai, kumpulan anekdot/humor, panduan bisnis/motivasi, cara sukses ujian masuk PNS, buku mewarnai yang dirancang untuk orang dewasa sebagai pereda stress, sampai TTS. Sampai di batas ini lumrah, tak terhindari untuk menopang industri penerbit manapun di seluruh dunia.

Sayang, iklim demokrasi di sini nyata tercederai. Sejarah dibengkokkan, dipaksakan, diperkosa, “otak atik ghatuk” kalau kata orang Jawa, bahkan nyata menghapuskan “tanggung jawab keilmuan”. Memang ketika hal ini mengemuka kembali di sosial media selama bulan Juni 2017 sebagai “isu lama kemasan baru” kontan menjadi bahan lelucon warganet. Anda tertawa, lalu ramai-ramai membuat lelucon sinis di akun sosial media sampai kita lupa mungkin memang ada di luar lingkaran teman-teman dekat Anda sendiri yang sungguh percaya! Kalau bohong MENGAPA sampai harus muncul pernyataan bahwa buku Sejarah Gajah Mada itu tidak benar dari lembaga macam Lesbumi NU (bisa dibaca di https://www.facebook.com/LESBUMI.official/posts/857248717755454:0) dan Kepala Museum Nasional (bisa dibaca di http://www.wartabali.net/2017/06/klaim-gajahmada-seorang-muslim-benar.html)? Bukankah dengan begitu kita dengan mudah mengartikannya buku itu memang pernah best seller?!

Ya, ini mungkin masih bisa digugat atau suatu saat nanti memang ada yang berniat menyelidiki sungguh-sungguh hingga bisa menyebut dengan pasti secara nominal berapa eksemplar buku macam itu terjual, meskipun saya ragu jika misalnya dilakukan wawancara ke penerbit bersangkutan tentu sudah disiapkan beragam data yang sungguh sulit Anda uji kebenarannya! Di negeri yang selalu membuat Anda sial ini kita hanya menyesal buku itu sudah telanjur terbit dan beredar di berbagai toko buku besar! Juga tak mungkin lantas saya atau bahkan banyak orang lain yang yang sudah bertungkus lumus di dunia buku misalnya membuat petisi “tolak buku kacangan pengacau sejarah” karena selain kita sadar ini demokrasi, menerbitkan apapun boleh (kumpulan HOAX saja bisa terbit!) tentu nanti akan suatu saat bisa dibalikkan kembali oleh sindikat gerombolan pengacau sejarah dengan membuat petisi tandingan menentang penerbitan sejarah alternatif!  

Peran penerbit kembali dipertanyakan, apakah Noura Books (ah, terpaksa juga saya akhirnya menyebutkan nama! Ya, ini imprint penerbit besar!) merasa MEMANG buku macam itu yang dibutuhkan masyarakat? Apa belum cukup fakta harus kita akui dengan berat hati minat baca serta beli masyarakat kita terhadap buku masih rendah lantas harus bikin sensasi murahan ala infotainment!? Apakah hanya karena ditulis oleh lulusan kampus terkemuka penerbit rela mengedarkannya?  Apakah benar segitu rendahnya nalar orang Indonesia mau membaca dan mendiskusikan buku tersebut?

Tulisan ini bukan bermaksud mengajakmu “tarik saja buku itu dari toko” karena sudah telanjur terbit dan institusi lain semacam IKAPI saja seolah tak berdaya. Jika benar bisa ditarik ini malah membuatnya makin dicari orang dan jadi “promosi gratis”! Selamat berpikir, sobat!

 Rawamangun, Juni 2017.

 

 


Kredit Gambar : internet
Donny Anggoro
Redaktur Jakartabeat.net dan CEO Roundabout Music Shop, tinggal di Jakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara