Dilan, dengan satu kalimatnya, telah menjadi sangat populer akhir-akhir ini. Dilan, nampaknya, telah menjadi saluran yang pas untuk menumpahkan energi baper yang mungkin selama ini tersumbat.

SETELAH Tere Liye dan Boy Candra yang belakangan ini menerbitkan buku-buku syarat dengan romantisme remaja, sehingga laris manis di pasaran nasional karena isinya yang mengharu biru, Pidi Baiq tak mau kalah dengan buku Dilan-nya yang membuat baper para pembacanya.

Mulai booming sejak difilmkan pada tahun ini, buku Dilan yang bergenre novel diterbitkan oleh Mizan dengan tiga seri; Dilan (2014), Dilan 2 (2015), dan Milea (2015). Masing-masing seri mengandung kesan yang berbeda. Seri Dilan (2014) misalnya, menuliskan perkenalan Milea sebagai tokoh utama dan perkenalannya dengan seorang lelaki yang dia sebut Sang Peramal. Sedangkan seri Dilan 2 (2015) dan Milea (2015) mencurahkan pokok isi novel tentang Pacaran, Perpisahan, dan Ritual Rindu yang dirayakan oleh Milea dan Dilan.

Dengan bahasa yang sederhana dan relevan dalam kehidupan remaja, Dilan memiliki ciri khas serupa dengan karya Tere Liye dan Boy Candra; ketiganya sama-sama menceritakan persoalan remaja yang lazim kita sebut kids zaman now. Bedanya, hanya ada pada tokoh dan perjalanannya, terutama dalam hal cinta.

Novel Dilan memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan karya-karya Roman penulis masa lampau, seperti Layar Terkembang (Armijn Pane), Burung-Burung Manyar (Y.B. Mangunwijaya), Jodoh (Marah Roesli), dan lain-lain. Novel-novel lawas tersebut lebih menceritakan romantika dalam situasi yang masih lekat dengan kearifan lokal, di mana rasa cinta lahir dari pertemuan di kampung halaman; berbeda dengan Dilan dkk. Yang menemukan cinta di sekolah ataupun kampus, yang kemudian kids zaman now menyebutnya Cinta Lokasi (Cinlok), serta terkesan dibuat-buat (gombal).

Kita semua pasti tahu, sekalipun tidak melalui buku, bahwa cinta orang terdahulu lebih kuat dan murni dibandingkan dengan cinta manusia sekarang yang labil dan cenderung dipermain-mainkan. Korbannya rata-rata adalah perempuan, seperti Milea dalam novel Dilan yang akhirnya kecepritan kata-kata “Kamu tak usah merindu. Rindu itu berat. Biar aku saja.”

Menyentuh, sih, iya. Tapi kita lihat, berapa banyak korban pembaca dan penonton filmnya yang hari-harinya terpenjara oleh kata-kata itu, yang bahkan berimbas pada dosen (lihat Mojok.co: Surat Terbuka dari Seorang Dosen Kepada Pidi Baiq).

Kebaperan yang Dirahasiakan

Saya percaya bahwa generasi hari ini adalah generasi labil (untuk tidak mengatakan lebay), mulai dari penciptaan dan penyingkatan kata-kata hingga terkesan gaul (Kece, misalnya), hingga gaya hidupnya. Salah satunya adalah Bawa Perasaan alias ‘Baper’. Kata ‘Baper’ tidak lama ini ditemukan oleh ilmuwan Kece di Negeri Indonesia dan mendapat sambutan hangat semua penghuni negeri alay tersebut, hingga mereka pun menggunakannya; baik di facebook, twitter, whatsapp, dan rumah bayangan (framing) lainnya.

Di kalangan mahasiswa, sejauh pengalaman saya, di Grup Media Sosial mereka (Whatsapp, misal), tak boleh kritis hingga terkesan marah, atau pakai kata-kata romantis. Bila ada yang demikian, maka serentak anggota grup yang lain akan ramai dengan komentar macam-macam: dasar Baper, huuu bocah Baper, gak usah Baper kelezzz, dan sebagainya. Sehingga anggota yang gelisah atau punya unek-unek pasti terkurung dengan kegelisahannya. Karena di grup mereka tak boleh curhat. Nanti dibilang ‘Baper’, dan kata itu—dengan maknanya yang berkonotasi pada kurangnya kemampuan mengendalikan diri—bisa jadi sangat menyakitkan.

Padahal pada faktanya, para mahasiswa yang sok anti baper itu, ketika di kelas, mereka adalah manusia paling baper dan bawel. Sedikit-sedikit, mengutarakan keluhan. Sedikit-sedikit, mengomentari dosen dengan nada nyinyir gara-gara tugas yang menumpuk. Karena untuk menghindari Baper lahir pada dirinya, nampaknya mahasiswa generasi sekarang menginginkan tugas-tugas yang ringan; makalah yang diperbolehkan diselesaikan dengan mode salin-tempel (copy paste), misalnya. Tak mau ada tugas yang sifatnya riset. Saya pun bergumam “Sungguh, ini akan menjadi ke-Baper-an Dosen yang nyata.”

Puncaknya, saya temukan pada booming-nya Novel Dilan. Gara-gara Dilan, semua media sosial dipenuhi status dan komentar yang erat dengan Dilan. Mereka menghubung-hubungkan kata Dilan “Kamu jangan Rindu. Rindu itu berat. Biar aku saja.” dengan berbagai hal, mulai dari tugas kuliah, skripsi sampai dengan gerhana bulan (31/01/2018) kemarin. Misal, “Andai saja dosenku bilang gini ‘kamu gak usah revisi skripsi. Skripsi itu berat. Biar aku saja.’”

Terakhir, anggota grup WA ‘Menulis Di Koran’ yang saya ampu berkomentar perihal gerhana bulan, “Cintamu gak usah gerhana. Itu berat. Biar bulan saja.” Kata salah satu anggota. Kemudian anggota yang lain ikut berkomentar, “Kemarin, ngomongin Dilan. Sekarang, Gerhana Bulan. Lama-lama Dilan si Dilan datang Bulan.”  Saya pun ikut berceletuk dalam hati, “Ini bukan lagi ke-Baper-an yang dirahasiakan. Kali ini, ke-baper-an mereka benar-benar lepas. Mirip kebelet yang sudah lama ditahan, lalu disemprotkan keras-keras.”


Ali Munir
Lahir di Sumenep Madura. Sekarang menjadi penulis lepas di Yogyakarta. Puisi-puisinya pernah dimuat di media online maupun Koran Lokal dan Nasional.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara