Hamid Jabbar, salah satu penyair kita yang produktif dalam berkarya, sekaligus dalam mengenalkan karya sastra pada generasi muda. Tetap setia menempuh jalur puisi sampai meninggal pada usia 54 tahun.

KERIUHAN sedang terjadi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta pada 29 Mei 2004. Sebuah panggung pertunjukan diadakan sebagai salah satu acara memperingati hari jadi universitas itu. Hadir beberapa tokoh penting tanah air untuk memeriahkannya. Ada Putu Wijaya, Franz Magnis Suseno, Franky Sahilatua, dan Hamid Jabbar yang didaulat tampil berorasi.

Setelah membawakan orasinya masing-masing, Romo Magniz dan Putu Wijaya pulang terlebih dahulu. Adapun Franky dan Hamid masih bertahan di lokasi acara. Hamid yang juga sudah selesai berorasi bahkan meminta waktu kepada panitia untuk membacakan puisi. “Saya janji, nanti setelah baca puisi, saya akan pulang,” ujar Hamid meyakinkan panitia.

Kesempatan itu pun didapatnya. Adapun dua puisi dibacakan Hamid dengan gaya mitraliur-nya yang khas, pelafalan kata yang cepat berentet seperti bunyi senjata itu. Penonton dibuat takjub olehnya seperti biasa. Hingga menginjak akhir puisi kedua, Hamid jatuh tersungkur ke lantai, di samping mimbar. Semua penonton bertepuk tangan, menambah riuh suasana. Namun Hamid tidak bangkit kembali untuk memberikan penghormatan setelah tepuk tangan mereda. Serangan jantung telah menutup usianya malam itu di atas panggung. Hamid tepati janjinya pada panitia untuk segera “pulang” usai membacakan puisi.

Kematiannya yang dramatis di atas panggung begitu monumental. Adapun sahabatnya, Emha Ainun Nadjib mengibaratkan kematian Hamid itu “bak panglima perang yang meninggal di titik pusat medan peperangan”. Sementara Sutardji Calzoum Bachri, karib Hamid yang lain, menyebut kematian itu menjadikan Hamid sebagai “pahlawan puisi.”

Hamid Jabbar adalah salah satu penyair tanah air yang cukup aktif berkarya. Ia berkarya lewat puisi-puisi religius maupun puisi-puisi parodi antara lain, “Sebelum Maut datang”, “Ya Allah”, “Setitik Nur”, “Jihad”, “Zikrullah”, “Ketika Khusyuk Tiba pada “Tafakur ke Sejuta ”, “Perjamuan”, “Nisan”, “Angin”, “Pantai dan Pasir”, dan “Homo Homini Lupus”, yang telah mewarnai kesusastraan Indonesia. Sedangkan buku kumpulan puisi karya Hamid di antaranya Wajah Kita, terbit 1981, Poco-Poco, 1974, dan Dua Warna, 1975. Hamid juga berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai wartawan Indonesia Ekspres, Redaktur Balai Pustaka dan redaktur senior di Horison.

*

Hamid Jabbar, dilahirkan di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1949. Selepas menjalani masa kecilnya di Ranah Minang, ia merantau ke Sukabumi, Bandung, dan Jakarta. Dari kampung halamannya, Hamid Jabbar lalu melanjutkan SMA di Sukabumi, kemudian pindah ke Bandung. Di sini ia mulai aktif menulis tentang banyak hal yang ia alami di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Pendidikannya memberikan pemahaman tentang realitas sosial yang ia lihat. Kepekaan sosialnya mulai terasah. Hamid kemudian mengamati banyak hal dan menuliskannya.

Pada tahun 1966 Hamid putuskan untuk berhenti sekolah. Ia lalu ikut bergabung dengan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia sampai dengan 1969. Aktif di organisasi ini membuat namanya dikenal banyak pelajar dan guru. Salah seorang kepala sekolah di Bandung yang ia temui, menyarankan Hamid kembali bersekolah. Usulan itu lalu ia pertimbangkan baik-baik. Hasilnya, Hamid kembali bersekolah dan masuk SMA 3 Bandung dan duduk di kelas 3 SMA.

Meskipun kembali bersekolah, aktivitas Hamid di organsiasi tidak surut. Pun dengan aktivitas menulis yang justru kian sering ia lakoni walau belum berani dipublikasikan secara luas. Di Bandung pula ia “nyantrik” atau magang kepada Sutardji yang kala itu menjadi pengasuh Indonesia Ekspres. Dalam kesehariannya di aktivitas magang itu, Hamid Jabbar mengetikkan kredo puisi Sutardji yang kala itu dicetak stensil.

Sejak 1973, Hamid mulai berani mempublikasikan karyanya. Tulisan-tulisannya lalu muncul di majalah Horison, Aktuil, Sarinah, Hai, Sinar Harapan, dan Singgalang. Namun, Hamid tidak melulu menulis saja. Banyak jenis pekerjaan lain yang ia kerjakan. Pernah sebagai mandor perkebunan teh di Sukabumi, kepala gudang beras di Bandung dan Padang, sampai asisten manajer keuangan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Hamid pun sempat mencicipi profesi jurnalis. Di antaranya sebagai wartawan di Indonesia Ekspres di Bandung, Pos Kota Malaysia di Kuala Lumpur, redaktur harian di majalah Singgalang, Padang, serta editor majalah Sarinah di Jakarta. Di luar itu, Hamid pernah menjadi redaktur Balai Pustaka pada 1980-1983, dan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta 1993-1996.

Di bidang pendidikan, khususnya perihal sastra, Hamid juga turut ambil bagian. Untuk mendekatkan puisi kepada para pelajar, Hamid Jabbar menginisiasi ide gerakan Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab. Tak lelah dan tak bosan-bosannya, ia dan beberapa rekan penyairnya keluar masuk dari satu sekolah ke sekolah lain untuk bersama-sama mengapresiasi karya puisi.

Soal tema puisi-puisi yang dihasilkan Hamid Jabbar, seperti yang diutarakan Rosihan Anwar dalam bukunya Sejarah Kecil Petite Historie Jilid 6, para pengamat menyebut sajak-sajak Hamid memperlihatkan penyatuan keterlibatan sosial dan unsur religius-sufistik. Tema-tema religius dengan mudah masuk ke dalam karya-karyanya lantaran latar belakang budaya keluarganya yang cukup agamis.

Sebut saja puisinya yang berjudul “Astaghfirullah” atau “Aroma Maut” yang menghadirkan realitas sosial kehidupan dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam diri seorang Hamid Jabbar, ia merasa sendiri, sunyi, dan sepi yang membuatnya merasa lemah di hadapan Tuhannya.

Indonesianis Berthold Damshauser menyebut tema utama puisi-puisi Hamid Jabbar adalah tentang Tuhan. Selain itu, ciri yang menonjol dalam puisinya adalah adanya kontras yang tajam. Di satu sisi ia seorang manusia yang riang, di sisi lain ia menderita, menderita karena dunia yang ganas membuat sesamanya menderita. Namun, dalam segala kesedihan yang disebabkan oleh keadaan di sekelilingnya, ia tetap merasa perlu meriangkan dunia, sesamanya. Itulah jalan yang dipilihnya. Dan, menurut Damshauser, pilihan itu sangat tepat dan bijaksana.

Puisi-puisi Hamid menurut A. Teeuw, merupakan puisi oral, puisi yang memerlukan pengucapan atau kelisanan. Senada dengan apa yang diutarakan oleh Cecep Syamsul Hari, bahwa puisi-puisi Hamid Jabbar sangat memperhitungkan bunyi. Ada unsur musikal dalam puisi-puisinya. Bunyi-bunyi yang begitu loyal ia jaga dan sebarkan bahkan sampai kematian menjemputnya secara dramatis di panggung aula UIN Syarif Hidayatullah 13 tahun silam.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara