Pameran buku, Boyolali. Pendopo Ageng Alun-alun Kidul menjelma sebuah ruang di mana musik, puisi, dan buku berkolaborasi. Deret buku berujung di sebuah panggung yang menawarkan beragam acara.

“Galang Press, 3G Production, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Boyolali,” kata seorang pengunjung dalam sesi kuis berhadiah buku Jokpin ketika menjawab siapa saja yang ada di balik Pameran Buku di Boyolali. Saat itu suara penyair Jokpin membawakan puisinya belum lama usai bergema, malam kian hidup di alun-alun kidul Boyolali.

Minggu malam, 3 September 2017, Pendopo Ageng Alun-Alun Kidul Boyolali. Malam itu bukan malam pertama pameran buku pertama dan terbesar bertajuk Boyolali Baca Buku tersebut, melainkan malam terakhir dari rentetan acara yang dimulai sejak 26 Agustus 2017. Tema malam itu: Malam Musik dan Puisi.

Maka tak heran pada malam itu musik dan puisi bergema di Pendopo Ageng, di sela keriuhan alun-alun yang dipenuhi pengunjung dan deret pedagang. Musik dari Saka Band dan dari Fajar Merah, puisi dari penyair Jokpin. Setiap malam, semenjak pameran buku dibuka, acara demi acara diadakan silih berganti: berbagai lomba, diskusi buku, penampilan musik.

Kuis itu sendiri hanyalah sesi singkat pada jeda acara, tapi bukannya tanpa peminat. Acungan tangan dari pengunjung nampak banyak tiap kali satu pertanyaan dilontarkan. Celetukan guyonan sesekali terdengar memancing tawa, santai tapi tertib.

*

Pendopo Ageng. Di depan undakan yang memisahkannya dengan keriuhan alun-alun, sebuah gapura berdiri, kokoh dan tinggi, dengan tulisan “Boyolali Baca Buku” pada bagian atasnya. Bahkan dari jauh saat memulai langkah menuju ke sana, bagian dalam pendopo sudah terintip sebagian: terang lampu neon dan tugu-tugu buatan yang tugur memuat beragam epigram tentang literasi.

Setelah memasuki gapura, di sisi kanan nampak banner bertuliskan deretan acara pameran lengkap sejak awal sampai akhir. Pada sisi kiri ada tempat untuk berfoto dengan latar belakang foto beberapa tokoh yang akrab, di antaranya: Soekarno, Gus Dur, Jokowi, Rendra, Sapardi, dengan sebuah kutipan pernyataan Bung Hatta di atasnya:

Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.

Lalu saat sepenuhnya masuk ke pendopo, deret buku pun menyambut dalam ruang yang tak pengap. Ruang luas itu ditata rapi dengan bagian tengah lurus dari tempat masuk berujung pada deret kursi di ujung yang lain, menghadap panggung. Untuk sampai ke ujung, ruang kosong terbentang diapit tempat-tempat buku dipajang. Sebagian kursi menyelinap ke ruang kosong itu, tiga-tiga, tiga baris, menyusun huruf T yang tak sempurna.

Tapi acara malam itu nampak sempurna, terutama karena tak setiap kali musik, puisi, dan buku bisa ditemukan pada satu ruang dan tempat yang sama di bawah terang neon dan kenyamanan hawa yang diciptakan arsitektur lokal sebuah pendopo. Pendopo malam itu terasa hangat, dan ramai.  

Termasuk ramai oleh puisi.

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu

Walau kadang rumit dan membingungkan

Ia mengajari saya cara mengarang ilmu

Sehingga saya tahu

Bahwa sumber segala kisah adalah kasih

Bahwa ingin berawal dari angan

Baris-baris itu bagian pembuka dari salah satu puisi yang dibacakan penyair Jokpin, pukul 20.10. Ada beberapa puisi yang dia bacakan di panggung, tapi puisi yang satu ini termasuk salah satu yang paling memikat ketika dibacakan penyairnya sendiri dengan suara yang tenang dan jelas. Kandungan pararima yang ada pada hampir tiap barisnya (kisah-kasih, ingin-angan) merupakan piranti yang memungkinkannya menarik perhatian saat dilafalkan. 

Pun bagi mereka yang sebelumnya mungkin tak akrab dengan puisi.

Pameran buku Boyolali itu menawarkan beragam buku dari pelbagai penerbit. Dari pintu masuk pendopo, di sisi kiri nampak buku-buku dari Media Pressindo, di sisi kanan kasir, lalu lebih masuk ke pendopo nampak buku-buku dari Diva Press. Berbagai penerbit yang lain di antaranya: Galang Press, Citra Media, dan penerbit buku-buku Indie dari Yogya.

Harga yang ditawarkan buku-buku itu pun beragam. Dari mulai buku obral murah meriah sampai yang harganya di atas seratus ribu. Pengunjung bisa menemukan dari mulai kamus, novel, sampai buku-buku sejarah, dari mulai buku Soekarno, terjemah novel Kafka, sampai terjemah Bhagawadgita yang terhitung sangat tebal.

Pada tugu-tugu buatan yang tugur dengan balutan banner, nampak beragam epigram dan tulisan-tulisan singkat yang kreatif dan sebagian memancing senyum. Ada misalnya tertulis pada salah satunya “harga mulai Rp. 5000”, sementara pada yang lain tertulis “udah ga zamannya mama minta pulsa, sekarang zamannya mama minta buku”.

Kursi yang disediakan untuk penonton di depan panggung memang tak terhitung banyak, tapi hal itu nampaknya tak menganggu niat pengunjung yang ingin menonton acara. Saat penyair Jokpin membaca puisi misalnya, semua kursi terisi, sebagian penonton ada yang nampak berdiri, sementara sebagian yang lain nampak dengan nyaman duduk lesehan pada titik yang sekiranya masih bisa melihat panggung dengan jelas.

Acara diagendakan ditutup pukul sembilan malam. Empat puluh lima menit sebelumnya, Fajar Merah naik ke panggung. Setelah bertegur sapa sejenak, dia mulai memetik gitarnya. Penampilannya di panggung Boyolali Baca Buku itu merupakan penampilan penghujung acara, musik yang menutup keakraban dengan buku dan puisi. Suaranya lepas melagukan baris-baris akrab yang mudah diingat, sebuah kontemplasi tentang puisi dan hidup, puisi kehidupan:

Ibu, oh ibu, lama dan lengkap

Seperti novel, berliku-liku

Beberapa pengunjung nampak beranjak dari deret buku-buku yang dipajang di sisi kiri dan kanan pendopo bergabung dengan deret penonton. Saat tak menemukan kursi kosong, sambil berdiri mereka mengarahkan pandangan ke panggung dari mana suara Fajar Merah lantang terdengar:

Bapak seperti puisi, rumit dan singkat

Bapak seperti puisi, berlapis arti

Sementara musik mengalun mengiringi lirik yang mengingatkan pada puisi, sebagian pengunjung yang lain nampak membagi perhatian mereka pada musik dan buku, menjelajahi deret-deret pajangan sampai kemudian berhenti saat mereka sampai ke ujung, dan barulah mereka memfokuskan pandangan ke panggung.

Perjalanan menjelajahi deret pajangan buku pada Boyolali Baca Buku malam itu kemudian seperti sebuah perjalanan literasi yang dipandu irama musik, dan puisi. Perjalanan yang berakhir di depan panggung sebelum pengunjung kemudian memutuskan menetap sepenuhnya menikmati petikan gitar dan vokal Fajar Merah atau justru pergi ke kasir, membayar buku dan pergi keluar melintasi gapura, menikmati kembali ruang luas Boyolali.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara