16 Apr 2017 F Daus AR Bicara Buku

Dikotomi timur dan barat sering dianggap sebagai dikotomi yang sudah usang. Benarkah demikian? Mungkin tidak benar-benar usang, terutama ketika barat dan timur belum sepenuhnya saling mengenal, dan akrab.

Aku adalah Papua//Aku adalah Maluku//Akulah Nusa Tenggara//Akulah Sulawesi

Suara dari kemiskinan//yang tak pernah berujung//semenjak republik ini berdiri//

Suara Kemiskinan - Franky Sahilatua

*

Empat wilayah kepulauan di timur Indonesia dalam imaji Franky Sahilatua masihlah kantong kemiskinan walau penduduknya tidur di atas emas dan berenang di atas minyak. Ironi yang terus tumbuh ketika usia republik semakin menua.

Selain kemiskinan. Imajinasi timur dipenuhi kekerasan dan tertinggal dalam segala aspek. Itu tak sepenuhnya salah meski kebenarannya tak bisa disapurata. Di dalamnya, kelas sosial tetap ada. Di Sulawesi Selatan, penjualan kendaraan roda empat dan roda dua terus meningkat.

Di ibu kota provinsi, Makassar, kamacetan sudah menjadi hantu kota yang menakutkan. Berjarak puluhan kilometer. Di desa saya dan di sebagian besar desa di Sulawesi Selatan, pada keluarga yang dilabeli miskin dan berhak atas beras raskin, dapat dijumpai sepeda motor sesuai jumlah manusia dalam satu keluarga.

Timur bagi orang timur di sisi yang lain tak ubahnya menonton potret kemiskinan masyarakat di Jawa, Kalimantan, atau Sumatera melalui layar kaca. Tak ada bedanya.

Keheranan Roem Topatimasang ketika menerima telepon seorang kenalannya dari Jakarta yang ingin berjumpa di bandara Pattimura Ambon karena pesawatnya sedang transit. Roem menjelaskan kalau dirinya berada di Tual kepulauan Kei. Kenalannya itu malah enteng menjawab akan menunggu – mengingat jeda transit enam jam. Baginya cukup menanti kedatangan. Roem tidak menggubrisnya. Kenalannya itu mungkin menganggap jarak Tual ke Ambon sama dengan Grogol ke Cengkareng.

Cara pandang kenalan Roem adalah generalisasi. Ambon sebagai pusat kota barangkali telah menjadi lalu lintas utama. Padahal jarak itu dipisahkan lautan. Hal ini apa bedanya bagi orang timur yang telanjur mengimajinasikan barat, pulau Jawa, misalnya, sebagai pusat pembangunan infrastuktur. Maka, kelirulah kawan saya yang pernah transit di bandara Adisutjipto, Yogyakarta lalu meminta kenalan Jawanya yang tinggal di Semarang agar datang menemuinya. Baginya, apa yang keliru. Bukankah DI. Yogyakarta dan Semarang sama-sama berada di kepulauan Jawa bagian tengah.

Dua kasus anggapan bengkok, meminjam istilah Roem, soal pemahaman wilayah menunjukkan minimnya pemahaman geografis atas wilayah kepulauan. Kekeliruan ini bisa berdampak pula pada pemahaman geliat kehidupan di dalamnya.

*

Kumpulan feature Kardono Setyorakhmadi di buku Melawat ke Timur, Menyusuri Semenanjung Raja-Raja menghamparkan realitas di sebagian wilayah timur. Dijelaskan oleh Nurwahid, Pemimpin Redaksi Jawa Pos yang membubuhkan pengantar singkat kalau ulasan dalam buku ini sudah dimuat di harian Jawa Pos dalam sajian Jelajah Semenanjung Raja-Raja selama Ramadan antara Juni-Juli 2015.

Berdasarkan info grafik yang ditampilkan, jelajah Kardono mencakup ujung Sulawesi, Menado. Namun, di buku merangkum petualangan di pulau Maluku dan dan sebagian Papua saja. Selain menampilkan sejumlah gambar pendukung, istilah bahasa lokal juga tersedia di Glosarium yang memudahkan pembaca yang belum akrab pada beragam istilah bahasa di timur sehingga tetap bisa tenggelam dalam alur cerita.

Meski sebatas memberikan pengantar atas rimba kehidupan di Maluku dan Papua. Buku ini lebih dari diari ataupun liputan jurnalistik. Di dalamnya mengandung magis untuk segera memesan tiket perjalanan ke bagian timur Indonesia.

Anggapan bengkok lainnya yang diterangkan Roem yang juga mengisi kata pengantar mengenai agama di Papua dan Maluku hanya Nasrani. Padahal, kesultanan Tidore bernafas Islam sudah lama membumi. Di Papua, ulama Islam lebih dulu masuk ketimbang para pastor.

Hebatnya, keberagaman itu terjalin dengan baik. Kehidupan warga di Fak-Fak, Papua Barat membumikan toleransi dalam falsafah Satu Tungku Tiga Batu, merujuk pada tiga agama: Islam, Katolik, dan Kristen dalam menjaga kerukunan kehidupan di semua aspek.

Jika ada rencana pembangunan masjid, maka yang menjadi ketua panitianya bukanlah dari kalangan Islam begitu juga sebaliknya. Terdengar absurd memang, tetapi itulah faktanya.

Malah, jika dalam satu keluarga kebanyakan menganut Islam, di antaranya dipersilakan menganut Kristen atau Katolik. Begitupun jika yang dominan menganut Kristen dan Katolik, harus ada yang menganut Islam. Ikatan keluarga yang dibangun seperti itu menjadi perekat jika ada sentimen isu agama yang dapat menyulut konflik.

Ketika peristiwa pembakaran musala dan pembubaran salat Id di Tolikara, isu yang kita terima melalui media sosial dikatakan konflik agama. Dari dalam, oleh masyarakat Islam di Papua atau warga beragama Kristen menyebutnya provokasi yang dapat memecah Papua. Seorang tokoh Papua menganggap kalau masuknya pihak luar yang ingin berjihad justru akan merunyamkan situasi.

Mereka tidak percaya kalau itu konflik agama karena tatanan struktur kehidupan beragama di Papua sangat kuat dan toleran. Beberapa hasil liputan di kepulauan Maluku juga mendapatkan indikasi kalau konflik yang pernah terjadi di tahun 1999 adalah ulah para provokator dari luar yang mendesain perkelahian biasa antar pemuda menjadi perang agama yang menggiring umat Islam dan Kristen saling membunuh.

Kehadiran pihak keamanan. TNI, misalnya, terbawa dalam psikologi konflik yang membawanya larut membela sesama muslim bagi tentara beragama Islam dan prajurit beragama Kristen membela seimannya.

*

Jelajah yang ditampilkan Kardono bukan soal keunikan struktur sosial saja. Kuliner dan pesona wisata menjadi nafas kehidupan warga dan menjadi suguhan bagi penjelajah yang datang. Berbuka dengan Air Guraka menyajikan liputan soal geliat penjaja makanan di pinggir Pantai Falawija, Ternate.

Ada penganan bernama ashida yang marak dijual di bulan puasa saja. Bentuknya menyerupai bakpau berwarna hitam. Kenyal serupa dodol karena terbuat dari tepung terigu, santa, gula, dan mentega.

Di sepanjang tepian pantai. Ada banyak sekali sajian makanan dijual. Mulai dari makanan khas lokal hingga masakan Jawa mengingat banyak perantau dari Jawa turut meramaikan gerak ekonomi kuliner di Ternate.

“…. Dibuka dengan air guraka, air jahe merah Halmahera berpadu gula merah dan potongan buah kenari di dalamnya. Dan tersaji dalam keadaan hangat….” (Hal. 67).

Dari catatan yang ada, hanya feature soal air guraka inilah yang spesifik mengulas kuliner. Selebihnya lebih banyak menyajikan sejarah relasi sosial dari era kesultanan dan warisan yang ditinggalkan dan masih terawat hingga sekarang. Utamanya kuartet kerajaan: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Kardono mampu menampilkan relasi masa lalu keempat kerajaan itu dalam kaitannya dengan situasi masa sekarang. Hubungan yang terbangun dengan pemerintahan negara, dalam hal ini pemerintah kabupaten juga provinsi setempat terjalin erat dan terbangun komunikasi serta jauh dari politik perebutan kekuasaan.

Selain itu keunikan sosial yang berdiri di atas tradisi yang kuat ditopang syariat juga menjadi daya pikat kehidupan sosial. Bermalam di Kampung Kristen mengetengahkan keunikan Pulau Haruku. Terdapat kampung Kristen dan Islam, tetapi dalam satu keluarga tak jarang terdapat dua agama. Adiknya Kristen dan kakaknya Islam.

Lebih dalam. Memasuki kehidupan suku nomaden di rimba Halmahera. Ada suku Togutil yang sesungguhnya telah membangun interaksi dengan manusia luar.

“…Beberapa kilometer dari mereka terdapat perkampungan. Namun, mereka memilih mempertahankan gaya hidup mereka. Togutil benar-benar memilih hidup seperti kehidupan orang-orang 3.500 tahun yang lampau.” (Hal. 107).

Menyelami kehidupan suku Togutil menunjukkan kehidupan yang juga penuh toleransi dan saling menghargai. Mereka menjunjung petua adat nenek moyang. Bila ada konflik yang harus diselesaikan dengan cara berperang. Hari dan jadwal peperangan harus disepakati dua belah pihak yang hendak berperang. Setelah perang usai, maka masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan dialog dianggap selesai dan kedua pihak kembali lagi rukun dan berburu bersama.

*

Melawat ke Timur bukan saja mengunjungi jejak kehidupan semenanjung raja yang terus hidup. Ke timur juga menunjukkan hamparan kamus kehidupan yang teramat sempit jika sebatas menyaksikannya di layar kaca.

Pesona alam Raja Ampat di Papua Barat yang terus digemborkan sebagai lokasi wisata hanyalah bagian kecil kehidupan. Di sana bukan hanya obyek tetapi ada subyek kehidupan yang berdenyut. Ada ketimpangan ekonomi dan miskinnya akses di tengah iklan wisata.

Topografi timur dan barat ke-Indonesia-an adalah produk politik yang memaksa kita terjebak pada imajinasi politik pembangunan. Bahwa di barat bergerak ke depan dan timur berjalan di tempat atau malah mundur.

Namun, ketika di barat mengalami krisis kemanusiaan akibat bias modernisme. Kadang, di timur juga mengalami hal serupa yang tak bisa dilepaskan dari relasi di barat. Rangkaian kisah yang disajikan Kardono mencoba menautkan ekses itu dan tak lupa menampilkan kehidupan di timur sebagai cermin yang bisa digunakan di barat untuk menatap diri.

Makassar, 5 April 2017


F Daus AR
F Daus AR, saat ini terlibat kerja apa saja. Menerbitkan catatan di sejumlah media daring dan harian lokal di Sulawesi Selatan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara