"Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu" adalah novel yang tipis tapi banyak diperbincangkan. Ada apa dengan novel yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 ini?

DAWUK hanya setebal 181 halaman dengan ukuran standar tata letak novel-novel pada umumnya. Tergolong tipis. Bandingkan dengan novel pertama Mahfud Ikhwan, Ulid edisi lawas, 399 halaman dengan ukuran buku yang lebih besar. Sama-sama berlatar pedesaan di daerah sekitar Pantura, sama-sama memiliki tokoh-tokoh yang merantau ke Malaysia, namun bisa menjadi sangat berbeda nuansa kisahnya. Kemungkinan besar, Dawuk ditulis sebagai apa-apa yang belum dimunculkan Mahfud Ikhwan mengenai gambaran kompleksitas masyarakat desa yang mengalami transformasi sosial setelah kesempatan menjadi buruh migran menjadi pilihan dominan untuk mengadu nasib.

Membedah Dawuk, artinya saya membongkar sebuah bangunan cerita yang ditulis dengan sangat padat-ringkas namun sarat dengan sindiran yang jenaka, detail-detail varian tokoh yang anomali, hingga latar waktu yang panjang. Bayangkan dengan novel setipis itu pembaca tidak hanya dapat menghayati sisi tragis kehidupan Dawuk, seorang mantan pembunuh bayaran, tapi juga memahami sejarah sebuah desa dan asal-mula dendam terpendam dalam rentang waktu tiga generasi sekaligus.

Dalam membongkar sebuah bangunan cerita, hendaknya saya memilih bagian mana saja yang harus saya preteli dengan cermat dan menemukan apa-apa yang rasanya menarik untuk saya sampaikan di sini. Lantas saya mempertanyakan tiga poin utama yang saya anggap mendapat porsi minimalis—dan cenderung diabaikan (atau disembunyikan?) dalam menempati keseluruhan bangunan cerita, yakni: 1. Ada apa dengan Malaysia? 2. Ada apa dengan Inayatun? dan 3. Ada apa pula dengan narator?

Motivasi rasional dan emosional

“Ke mana, heh?” Pak Imam bertanya dengan jengkel.

“Malaysia,” Inayatun menjawabnya dengan ringan.

“Mau jadi sundal kamu, heh?” bentak Pak Imam murka.

“Siapa tahu…,” sahut si anak gadis dengan gigi meringis. (hal. 18)

Percakapan di atas menggambarkan bagaimana relasi bapak dan anak gadisnya begitu timpang saat seorang kiai, salah satu jenis lelaki yang punya kuasa dalam lingkungan masyarakat pedesaan, tidak berdaya menghadapi kebengalan anak gadisnya sendiri. Yang menarik justru saat keduanya sepakat, baik Pak Imam maupun Inayatun, bahwa mereka memandang Malaysia sebagai tempat yang memungkinkan Inayatun yang badung semakin tak terkendali. Malaysia berpotensi membuat seseorang menjadi semakin liar. Seperti Dawuk yang awalnya hanyalah seorang anak jalanan dan preman kecil-kecilan, dikabarkan setelah berada di Malaysia dia menjelma sakti dan menjadi pembunuh bayaran. Memang, ada apa dengan Malaysia?

Selanjutnya, kita menemukan motivasi Inayatun pergi ke Malaysia—meski diceritakan dengan tidak cukup meyakinkan, semata-mata untuk lari dari sistem sosial yang mengukungnya.

Pak Imam mencoba mengirim Inayatun ke pondok pesantren yang jauh begitu ia tamat tsanawiyah. Tapi, boleh jadi karena tahu bahwa itu adalah cara bapaknya membuangnya, atau memang ia ingin lebih bebas menikmati pemujaan lelaki atas dirinya, Inayatun malah minta izin untuk pergi lebih jauh. “Sekalian, biar Bapak senang,” imbuhnya, dengan cara yang enteng saja. (hal. 18).

Apa motivasi emosional semacam ini jamak ditemukan di antara jutaan buruh migran Indonesia di luar sana?

Malaysia menjadi tempat pelarian, bukan hanya untuk Inayatun, tapi juga berlaku bagi Dawuk yang di desanya sendiri dianggap sebagai sampah masyarakat, dan bagi Blandong Hasan, yang ketakutan jika sewaktu-waktu didatangi Dawuk yang hendak membalas dendam atas kematian istrinya. Sangat jauh berbeda dengan motivasi rasional Tarmidi, Kaswati, orang-orang Lerok, bahkan Ulid sekali pun yang pergi ke Malaysia karena berpikir bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi finansial keluarganya adalah dengan mengadu nasib ke negeri jiran.

Mahfud Ikhwan rupanya mencoba memberikan kasus dan opsi yang lain, tidak hanya seperti yang dipaparkan Hery Santoso dengan dalam Ada apa dengan Ulid: Orang-Orang Lerok dan Dilema Modernitas atau esai bernas Wahmuji, Desa adalah Ruang Aktual dan Dinamis, bahwa keberangkatan orang-orang desa ke luar negeri tidak hanya semata-mata didasarkan oleh suatu dorongan kolektif saat melihat para tetangganya berbondong-bondong meninggalkan rumah dan kembali dengan sukses atau semakin bangkrut dan didorong secara matematis mengenai imajinasi kemakmuran yang diciptakan oleh sistem pasar, melainkan juga disebabkan oleh motivasi emosional—yang sebenarnya mengacu pada imajinasi kebebasan menjadi manusia modern. Mungkin tampak klise. Namun begitulah adanya. “Umumnya, ada dua alasan mengapa mereka nekat berangkat ke luar negeri. Pertama, karena ingin membayar utang selekasnya; Kedua, karena patah hati,” ujar seorang teman yang berasal dari Indramayu, salah satu daerah asal buruh migran terbesar di Indonesia.

Malaysia adalah simbol perubahan, baik maupun buruk yang dilegitimasi oleh masyarakat Rumbuk Randu demi merawat hasrat menjadi manusia modern yang tentu saja, menanggung banyak konsekuensi moral di dalamnya.

Orang Rumbuk Randu, setelah berpuluh tahun, mulai membiasakan diri menerima kabar perkawinan siri, kawin yang kelewat sederhana, menikah seadanya, atau apa pun kalian menyebutnya, dari anak atau kerabat mereka di Malaysia. Tapi mendengar Inayatun menyebut Mat Dawuk sebagai suaminya tetaplah sulit diterima (hal.15).

Sedangkan Dawuk adalah simbol kemunduran zaman karena bersatunya Inayatun dan Dawuk tanpa sadar memantik memori kolektif warga Rumbuk Randu mengenai mitos asal-mula sejarah desa mereka, tentang status orang buangan nenek moyang mereka dan kutukan (stereotip?) bahwa perempuan Rumbuk Randu doyan serong dan lelakinya tak bisa menafkahi anak-istri.    

Sayangnya, di Novel Dawuk, Malaysia hanyalah menjadi sebuah latar belakang tempat kedua tokoh utamanya bertemu, jatuh cinta dan bersepakat kembali pulang ke desa. Malaysia belum dipertimbangkan Mahfud Ikhwan menjadi ruang tumbuh-kembang identitas yang layak diberi panggung. Padahal di sanalah nilai-nilai modernitas dan kegamangan identitas bertemu, di sana pula Inayatun dan Dawuk yakin mengakhiri petualangan hidup masing-masing yang epik lantas dengan membawa optimisme orang modern yang terbuka pada setiap tantangan zaman, kembali pulang dengan alasan yang mungkin susah untuk dicerna; “Untuk hidup yang lebih baik,” ujar Dawuk suatu ketika saat berpamitan kepada teman-temannya di Malaysia.

Apakah Dawuk dan Inayatun balik ke Rumbuk Randu dengan membawa imajinasi tentang sebuah desa yang permai? Apakah mereka pulang ke desa untuk mewujudkan gambaran utopis urban yang lelah dengan kesemrawutan kota, menyingkir dari hiruk-pikuk kemajuan zaman? Mereka berdua digambarkan hidup secara subsisten, berkebun (organik?) untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, dan tidak terbebani untuk berinteraksi secara komunal dan intens dengan warga desa, tipikal sosok individualis-kota yang berjarak dengan sekitarnya. Malaysia, sebuah fase yang potensial atas pengembangan karakter dalam novel ini dipersingkat, karena pada intinya, Mahfud Ikhwan berfokus pada cita-rasa tragedi kali ini.   

Perempuan sebagai Pusat Tragedi

Dalam beberapa ulasan mengenai Ulid, dan saya merasakannya sendiri, tokoh-tokoh yang hidup di Desa Lerok cenderung alim dan tak cukup memiliki potensi untuk melakukan tindakan yang terkesan liar. Sedangkan tokoh-tokoh Desa Rumbuk Randu digambarkan dengan penuh anomali, pembunuh bayaran yang suka menolong, perempuan yang bolak-balik kawin dengan banyak pria tapi bisa sangat setia pada suami buruk rupa, hingga kiai kampung yang punya dendam kesumat pada menantunya. Tapi, sejujurnya, siapakah tokoh dalam Novel Dawuk yang mempunyai karakter paling kuat? Mengapa penting untuk menemukan karakter yang paling solid dan potensial?

Setelah pembacaan yang berulang saya mulai menyadari bahwa kesan paling kuat yang melekat pada ingatan saya tentang novel Dawuk adalah Inayatun. Segala ciri perempuan Jawa yang anomali berhasil digambarkan Mahfud Ikhwan dengan pemilihan diksi dan analogi yang canggih seperti panggilan Ina si Indomelek (tubuhnya semlohai dan mekar mendahului teman-teman sebayanya) hingga menjadi Ina-lillahi (setelah sempat saat masih kecil ia serupa maskot bayi Posyandu yang montok imut-imut idaman semua ibu hamil di Rumbuk Randu kemudian berangsur-angsur menjadi simbol musibah bagi orangtuanya, ia menjelma sebagai anak gadis yang bengalnya amit-amit).   

Berkat Malaysia, Inayatun tumbuh menjadi seorang perempuan matang yang tangguh sekaligus rapuh. Malaysia memang membuatnya liar tapi tidak jatuh ke tipikal femme fatale yang berhasrat menaklukkan lelaki. Ia mempelajari rumusan pasangan ideal di Malaysia bahwa kebutuhan pokok dalam hidupnya, yakni: hasrat birahi yang terpenuhi, keamanan finansial dan cinta yang penuh. Itulah mengapa ia berani menanggung risiko bolak-balik nikah dan bergonta-ganti pasangan karena keempat pasangannya selama di perantauan tidak bisa memenuhi rumusan ideal Inayatun.

Bos agen TKI yang dinikahinya adalah pelaku poligami, sehingga waktu dan energinya untuk bercinta harus terbagi; sesama buruh migran yang menjadi suami keduanya terlalu miskin untuk menafkahi Inayatun sementara upahnya yang tak seberapa juga harus dikirim untuk anak dan istri di kampung; yang ketiga seorang kontraktor Malaysia yang sanggup memberinya kepuasan materi dan lahiriah namun sialnya, gay sehingga Inayatun tidak merasakan cinta dalam hubungannya, dan terakhir pemuda yang gairahnya membara namun posesif, labil dan hanya berguna sebagai teman tidur.

Dan ujungnya, dengan kesadaran penuh dan ilham yang tak main-main, Inayatun mengajak Dawuk menikah. Dari tiga prasyarat yang sempat diyakininya dalam mencari pasangan ideal, Inayatun mengabaikan kemapanan finansial sebagai faktor krusial dan menemukan hasrat yang selama ini tidak ia hitung, yakni kebutuhan untuk dilindungi oleh sifat-sifat maskulinitas laki-laki.

Mengapa karakter Inayatun begitu kuat, melebihi sosok Dawuk yang menjadi judul novel ini? Menarik jika ditelusuri dengan lebih cermat bahwa dinamika plot kisah ini berasal dari tindakan aktif Inayatun. Inayatun dan Dawuk saling mencintai, tapi yang meyakinkan untuk berumah tangga adalah Inayatun. Mereka berdua sepakat untuk pulang kampung, tapi yang benar-benar ngotot tinggal di Rumbuk Randu dan mengancam akan mendirikan tenda di balai desa jika tidak diberi tanah untuk didiami pasangan pengantin baru lagi-lagi Inayatun. Dan Inayatun-lah yang menampakkan perjuangan mempertahankan bahtera rumah tangga dari godaan eksternal. Sampai di sini, saya berani bertaruh bahwa jika judul novel berganti menjadi Inayatun—bukan Dawuk, maka kisah ini bisa menjadi dua kali lipat ketebalannya. Karena dalam sosok Inayatun segala macam kemungkinan pengembangan karakter dan plot hadir, namun yah, apa boleh buat, sejak awal, dengan tangan dinginnya, Mahfud Ikhwan memutuskan membatasi lakon Inayatun.

Tentu saja, kematian Inayatun dapat dipandang sebagai peristiwa monumental Novel Dawuk sebagai sumber nuansa kelabu dalam keseluruhan bangunan cerita ini. Tapi apakah satu-satunya cara untuk menghadirkan kisah roman yang tragis adalah dengan mematikan tokoh perempuan? Ada apa dengan kematian Inayatun yang sesungguhnya bukanlah diputuskan sebagai sebuah resolusi konflik melainkan premis cerita? Bahwa seorang lelaki semaskulin apa pun akan hancur karena kehilangan perempuan yang dicintainya. Perempuan adalah sumber energi seorang lelaki. Dawuk yang selama hidupnya sudah berkali-kali kehilangan, yang pengalaman hidupnya luar biasa keras, tidak berdaya saat dihadapkan dengan kematian istri yang belum lama-lama amat ia nikahi. Ketidakberdayaan Dawuk benar-benar menyayat saat ia kehilangan arah hidup dan hampa. Ia tidak membalas dendam, tidak pula melawan penganiayaan terhadap dirinya. Sesungguhnya, ia telah mati dalam raga yang hidup.

Perempuan sebagai pusat tragedi telah berulang kali didaur-ulang oleh cerita-cerita roman klasik. Romeo dan Juliet, Qais dan Laila, Situ Nurbaya dan Syamsul Bahri, serta Zainuddin dan Hayati adalah segelintir contoh bagaimana perempuan dalam sastra sengaja dimatikan sehingga menjadi sekadar objek yang menjadi inti dari cerita yang mengharu-biru. Karakter Inayatun yang potensial harus dilenyapkan sebagai konsekuensi menghadirkan kembali narasi klasik yang membuat mata berlinang dan tentu saja, digemari pembaca. Hemat saya, Mahfud Ikhwan masih terjebak dalam penggambaran perempuan dalam karya sastra sebagai bumbu penyedap yang tanpanya narasi cerita tidak akan gurih tapi cukup gurih saja, ia tidak dibiarkan menjadi bahan utama masakan yang bergizi. Jika demikian, Novel Dawuk belum berpihak pada perempuan, lantas di manakah letak keberpihakan narator?

Keberpihakan dalam dua lapis narator

Jika kebanyakan orang membaca Dawuk dengan cepat dan mudah, bahkan penulisnya sendiri mengaku bahwa ia memang berniat membuat novel yang lebih ringan daripada Ulid, sehingga perlu repot-repot menulis naskah awal di buku catatan klasik agar ringkas saja, maka saya termasuk pembaca yang sialnya begitu tersendat di awal bab dan begitu lama mengkhatamkan novel tersebut.

Saya temukan perkara yang membuat saya tersendat membaca pembukanya; sebab seorang pembual muncul begitu saja dengan gaya sok tahu dan seenak udelnya menghakimi orang-orang di warung kopi sebagai orang kudet alias kurang update.

"Terkutuklah kalian yang hanya tertarik dengan hasil coblosan kepala desa di Tegal Londo!” Ia menghardik lagi, tapi kali ini sepertinya ditujukan kepada seluruh warung. “Apa kalau Kaji Jarkasi yang menang kalian akan diberangkatkan gratis ke Mekah? Atau, kalau Carik Wibowo naik jadi kepala desa kalian akan diangkat jadi perangkatnya? Sungutnya, yang kemudian disambung dengan teriakan yang mendekati gonggongan: “Kopi!” (hal.2).

Kamu sebal, tidak? Sebagai tipe pembaca lamban, tiba-tiba seorang tokoh baru muncul dan mengambil semua kecerewetan narasi dengan isu yang dijelaskan samar tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, jelas membuat dahi saya berkerut. Apalagi kalau kamu membayangkan sedang duduk bergerombol di warung kopi, sedang asyik-asyiknya membahas Jokowi dan Ahok... tiba-tiba seseorang yang terkenal pembual menghardikmu, “Jokawaow-Jokowi saja bahasan kalian! Apa kalau Jokowi tahu kalian membelanya mati-matian lantas akan memberimu sepeda baru gratis? Apa kalau Ahok menang pilkada Jakarta lantas Pantura jadi lebih makmur? Jalan depan rumahmu yang bolong-bolong itu langsung ditambal dengan kualitas aspal terbaik? Dasar cebong!”

Warto Kemplung, nama pembual tadi, mengantarkan pembaca selanjutnya pada sebuah kisah cinta yang tragis antara Mat Dawuk dan Inayatun. Selanjutnya, saya menerima dengan lapang dada Warto Kemplung menjadi narator yang gemar menginterupsi dan menjeda kisah Dawuk pas lagi seru-serunya, seolah saya tidak punya pilihan lain selain menyimaknya di satu meja, sungguh-sungguh menyimak kisah yang magis, romantis, jadul, dan sekaligus menegangkan dari pasangan mantan buruh migran. Tak mengapa. Yang penting, Warto bersungguh-sungguh menuntaskan kisah Dawuk dan Inayatun. Sejujurnya masa bodoh, saya tak peduli apakah kisah cinta Dawuk dan Inayatun itu sebuah karangan belaka atau nyata. Atau diam-diam justru itulah cara Warto Kemplung untuk mengumbar kisah hidupnya yang tragis dengan menunjukkan cerita orang lain yang jauh lebih tragis?

Pada akhirnya, otoritas Warto sebagai narator diberangus begitu saja, setelah kisah tragis Dawuk selesai, oleh kecerewetan sekaligus keresahan seorang jurnalis media lokal. Ternyata ia yang selama ini menuliskan kisah tentang Dawuk sebagai sebuah cerita bersambung (cerbung) gara-gara tak sengaja menyimak Warto mendongeng di warung kopi. Tentu, pada mulanya saya sebal. Kali ini pada Mahfud Ikhwan. Mengapa kisah Dawuk yang sudah paripurna tragisnya harus ditutup dengan curhatan sang jurnalis yang terkesan remeh-temeh? Mengapa repot-repot menjelaskan perkara teknis proses penulisan kisah Dawuk dan apa saja kendalanya di balik layar? Apa pentingnya buat pembaca mengetahui kegelisahan seorang jurnalis yang tidak sanggup memverifikasi cerita tentang hidup Dawuk ke pihak-pihak terkait di Desa Rumbuk Randu dan lantas mengubahnya menjadi produk fiksi?

Sebagai pembaca sastra amatir, saya merasa kemunculan ego sang jurnalis di penutup cerita hanya merusak nuansa kelabu dari Dawuk. Tapi… tunggu! Ada apa dengan penulis yang memilih gaya bercerita dua lapis narator seperti ini? Mengapa narasi yang disajikan dengan tradisi lisan yang sangat kental kemudian perlu ditegaskan bahwa narasi ini adalah karya sastra—yang bagaimanapun dieksekusi dalam tradisi tulis dan cetak (terbit di suratkabar)? Apa gagasan di balik mempertemukan seorang jurnalis dengan seorang pendongeng yang melahirkan kombinasi gaya bercerita yang unik?

Life of Pi karya Yann Martel, dibuka dengan kehadiran seorang penulis di sebuah kedai kopi  dan mendapat ide cerita yang menarik dari informasi pemilik kedai mengenai seorang anak laki-laki India yang bertahan hidup di tengah Pasifik berbulan-bulan dengan seekor harimau. Tapi untuk selanjutnya, Pi, tokoh utama, dilepaskan untuk menceritakan dirinya sendiri dengan sudut pandang pertama seorang protagonis. Mengapa Dawuk tidak dibiarkan bercerita dari suaranya sendiri? Apa karena ia seorang lelaki pendiam yang susah mengungkapkan isi pikiran dengan kata-kata? Kalau begitu, kenapa bukan Inayatun saja yang menjadi narator kisah kelabu ini?

Saya teringat pengantar panjang yang ditulis oleh Tia Setiadi dalam buku kumpulan cerpen Hari Anjing-Anjing Menghilang (Affiq, dkk, 2017). Ia mempertanyakan di manakah posisi sastrawan di tengah-tengah kondisi yang menggambarkan produk jurnalistik melimpah ruah. Apa beda laporan jurnalistik dengan sastra?

Hematku, ada satu hal yang tak diudar oleh tayangan televisi, tak terjamah oleh laporan jurnalistik, tak teranalisis oleh para pakar, yakni: makna. Itulah tugas sastrawan... (hal. 8).

Tapi, apakah sebuah laporan jurnalistik tidak menawarkan makna di dalamnya?

Saya pikir, baik karya sastra maupun karya jurnalistik sama-sama menawarkan makna. Bagaimana pun “kebermaknaan” sebuah teks sangat relatif terkait penafsiran dan isi kepala orang yang berbeda-beda. Hanya saja laporan berita ditulis dengan tujuan utama menambah pengetahuan pembaca atas sebuah peristiwa atau isu tertentu dengan cara memaparkan data yang lugas. Sedangkan karya sastra sesungguhnya terpusat pada bagaimana menyalurkan variasi perasaan para tokohnya sehingga pembaca dapat berempati pada kasus-kasus tertentu. Oleh karena itu, dapat dibilang bahwa karya sastra menawarkan ruang negosiasi makna yang lebih besar daripada laporan jurnalistik. Namun, benarkah itu yang dimaksud Mahfud Ikhwan? Mengapa Dawuk harus tampil sebagai cerbung di suratkabar lokal? Mengapa tidak diceritakan Dawuk adalah sebuah novel yang diberi label “Berdasarkan Kisah Nyata. Bestseller!?” Mengapa bukan pula diceritakan ditulis sebagai naskah novel yang gagal memenangkan sayembara sastra atau tidak laris di pasaran?

Mungkin disadari oleh Mahfud Ikhwan, pemilihan atas teknik penulisan yang mengombinasikan tradisi lisan dan tradisi cetak adalah resistensinya terhadap industri media massa. Yang pertama, ia menggelisahkan bagaimana pengaturan kolom dan pemilihan isu menjadi sedemikan ketat dan terbatas. Kedua, ia tentu jengkel bahwa dengan aturan media cetak yang membatasi, membuat peristiwa-peristiwa lokal tentang isu orang-orang kecil diberitakan dengan porsi yang tidak layak dalam halaman suratkabar, dan bahkan seringkali isu elite mendominasi pemberitaan media di rubrik yang paling kecil sekali pun. Sehingga isu orang kecil semakin tersingkir dan dianggap rendah kadar nilai beritanya.

Berita tentang gubuk Dawuk yang terbakar di Rumbuk Randu hanya dimuat di rubrik “Kisar” (Kabar dari Sekitar), di pojok halaman daerah yang lebih banyak diisi iklan baris dan berita remeh-temeh dari kegiatan pejabat dan instansi-instansi pemerintah tingkat kecamatan (hal. 169). Itu mengapa si Jurnalis memutuskan untuk menghadirkan kisah lengkap pembakaran gubuk di tepi hutan secara panjang dan detail. Ia tengah melawan mayoritas (warga Rumbuk Randu) dengan mendramatisasi kisah hidup kaum minoritas (Dawuk dan Inayatun), sekaligus tengah menekankan bahwa desas-desus kaum pinggiran di warung kopi tak selamanya dapat dianggap picisan atau sekadar cerita angin lalu. Dalam posisinya sebagai awak pers di tengah ideologi media massa yang berorientasi ke pasar (cenderung mengumbar isu elite, kontroversial, dan seksualitas) cerbung diyakini sebagai satu-satunya jalur alternatif untuk menunjukkan keberpihakannya pada isu pinggiran tentang orang-orang kecil sekaligus cara yang efektif untuk membagikan gagasan keberbihakannya melalui bingkai kisah tragis-satir yang jelas laris manis. Saya pikir, dengan Dawuk Mahfud Ikhwan berhasil menyajikan menu kisah roman yang padat, gurih, sarat sejarah dan tak terlupakan.

 

* Esai ini ditulis dalam rangka memeriahkan acara bedah buku “Perempuan Membaca Dawuk” di Djendelo Koffie (Toga Mas Affandi), Yogyakarta (1 Maret 2018).


Amanatia Junda
Domisili Sleman, Yogyakarta. Kesibukan sehari-hari membaca berita lokal. Beberapa tulisannya dapat ditemukan di mesin pencari. Dapat dihubungi di amanatia@gmail.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara