Pameran buku bisa jadi ajang memperkenalkan penerbit Indie dan produknya lebih jauh. Selain itu, ia juga menawarkan keuntungan tersendiri, khususnya di Ponorogo: mencicipi lezatnya Sate H. Tukri Sobikun.

1

BERJARAK SEKITAR 146 kilometer dari Yogya, kami tiba pukul empat dini hari. Jalanan Ponorogo lengang, masih mengantuk. Kami berhenti tepat di depan gedung tempat pameran akan berlangsung, memandanginya sembari mencari alternatif tempat istirahat terdekat.

Salah seorang dari kami, Tyo, memiliki fokus sendiri. Ditatapnya dua tanjakan yang mengapit anak tangga mengantarkan ke pintu masuk. Tak sukar untuk tahu bahwa anak tangga itu berjumlah tidak sedikit. Menyadari beban tubuhnya, ia yakin sepenuhnya tidak menyukai kondisi itu. Tidak pernah ia merasa bisa bersahabat dengan tanjakan, anak tangga, atau apapun lainnya yang berundak.

Setelah menemukan satu penginapan untuk merebahkan badan, kami beristirahat sampai pukul setengah dua belas siang. Bangun dengan rasa lapar mendera, kami memperoleh kabar bahwa tujuh belas koli buku indie sekaligus perlengkapan telah sampai diantarkan oleh pikap langganan kami dua jam lalu.

Sudah sejak berangkat kami memutuskan hanya akan mengisi perut dengan makanan khas kota ini. Sate ayam. Tidak ada perdebatan tentang di mana, sebab mufakat di awal tertuju pada warung H. Tukri Sobirin. Berjarak hanya lima menit dari penginapan, kami memesan lima porsi sate sambil sekali lagi membicarakan kemungkinan pasar bagi buku-buku yang kami bawa.

Perhatian kami kemudian teralihkan oleh suasana warung yang diisi banyak pigura foto bergantung, memperlihatkan orang-orang besar (salah satunya mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono) yang pernah makan di sini. Deretan potret yang menunjukan betapa warung ini menyimpan sejarah panjang.

H. Tukri Sobikun, ia barangkali masih tetap akan menjadi pegawai PJKA (Pusat Jawatan Kereta Api) tanpa memikirkan pensiun dini jika bukan karena usia mbah Sobikun yang semakin senja. Mbah Sobikun, tidak akan pernah dalam hidupnya merasakan pesawat Hercules atau diundang oleh Presiden Soekarno jika bukan karena Mbah Suro Semin. Dan jika Mbah Suro Semin memilih terus mengolah sawah atau berjualan di pasar, tanpa mau mengunjungi saudarinya Eyang Sate di Ngawi untuk belajar bagaimana memotong tiga ekor ayam kampung, menusuk dan memanggangnya, untuk kemudian dibawa keliling Ponorogo dengan angkringan yang dipikul, maka cerita legendaris tentang warung sate ini tidak akan sampai di telinga, ataupun tidak akan membuat kami menyantap setiap tusuk dengan penuh nafsu hewani yang membuat kami akhirnya memilih tidur beberapa jam lagi karena kekenyangan.

 

2

Baru sekitar pukul lima sore, kami bergerak ke gedung Sasana Praja, bangunan milik pemerintah Ponorogo yang terletak berdekatan dengan alun-alun kota. Kami masuk dan mulai mencari posisi jatah stan kami, membawa masuk kardus buku ke dalam, membentangkan kain hitam yang merupakan ciri khas, mengatur floor display, dan menggantung bingkai. Semua itu demi menyajikan buku-buku sesuai dengan apa yang kami yakini:

Buku Indie perlu memperhatikan tata letak, selebihnya ia akan memperkenalkan dirinya sendiri. Dengan visualnya. Dengan judulnya. Dengan bentuknya.

Ini merupakan pameran perdana kami di Ponorogo. Walau sudah dihelat ketiga belas kalinya oleh ThreeGProduction selaku EO. “Sekitar tujuh tahun lalu  semua dimulai dari sini.” Anwar Abidin, salah seorang kru menerangkan. “Pada tahun 2010, di gedung yang sama, dipimpin oleh Awaludin, Bondet dan Kidi.”

Kami mengangguk saja.

Data statistik penjualan daring kami untuk pengiriman ke Ponorogo memang tidak banyak. Itu artinya merupakan satu pertaruhan berat untuk membawa sekian buku alternatif, di tengah stan lain yang kami lihat banyak menawarkan buku anak atau keluarga.

“Mulanya pameran di Ponorogo berlangsung dua kali dalam setahun. Akhir tahun 2012, kami sempat pindah ke gedung Apolo (tepat di depan alun-alun Ponorogo). Namun pada 2014, kami pindah kembali ke gedung Sasana Praja. Berbareng dengan kebijakan baru jadwal pameran yang hanya sekali setahun. Mengingat berkurangnya jumlah penerbit dan menurunnya jumlah produksi buku yang berpengaruh pada keberagaman.” Hinu Os, pimpinan Threegp menambahkan.

Jauh hari kami berdiskusi tentang kemungkinan pasar, daya beli dan pengunjung, mencari informasi di sana-sini. Kami mempercayai bahwa buku Indie harus bergerak. Media sosial memang menjembatani masalah penyebaran, tapi penyebaran luring juga penting karena bisa menjadi ajang memperkenalkan penerbit dan produknya lebih jauh.

Pukul sebelas malam lebih lima puluh saat kami hampir usai dengan display. Roby dan Arab hanya perlu memastikan lampu menyala dan ada pada posisi yang tepat untuk menerangi beberapa bingkai dan buku pada sudut tertentu. Kami lantas kembali ke penginapan dan istirahat. Tiga dari kami akan pulang besok, sedang saya kali ini bertugas menjaga.

 

3

Salah satu kisah tentang menjaga (toko) buku pernah ditulis dengan baik oleh George Orwell dalam “Bookshop Memories” (diterbitkan versi terjemahannya oleh penerbit OAK dalam antologi Bagaimana Si Miskin Mati). Tokoh “aku” dalam tulisan itu  menggambarkan betapa menyebalkannya terkadang menjadi penjaga toko. Anda akan berhadapan dengan orang yang hanya melihat-lihat dalam waktu yang lama tanpa membeli, merayu agar bisa berhutang, menanyakan buku yang tidak ada, atau meminta Anda menyimpan judul tertentu dan berjanji akan kembali tanpa pernah benar-benar muncul mengambilnya.

Saya membayangkan akan menghadapi hal yang sama selama tujuh hari ke depan sejak pertama kali membuka kain penutup stan pameran. Orang-orang telah berdatangan. Saya malas mengatakan bahwa yang banyak saya lihat adalah anak-anak berseragam. Entah mungkin karena sudah pulang (jam tangan saya menunjukan pukul sepuluh), atau memang sekolah-sekolah tertentu memang mengirim siswanya wisata buku sebagaimana demikian halnya saat pameran di Semarang.

Beberapa stan lain tentu buka lebih awal. Melayani pembeli-pembeli kecil yang nampak bersemangat menyisihkan uang jajan mereka. Saya sempat berpikir, bagaimana jika nanti anak-anak ini sampai di stan kami dan melihat judul-judul yang aneh.

Tahun lalu di Semarang, saat wisata buku, seorang Ibu Guru protes pada saya agar bersedia mengganti judul Para Pelacurku yang Sendu karya Gabriel Garcia Marquez dan Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! milik Muhidin M Dahlan.

Sang Ibu Guru menawarkan opsi judul misalnya Perempuanku untuk Marquez, Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Astronot! untuk Muhidin. Saya dengan sopan menjelaskan posisi sebuah judul, dan memilih jalan tengah untuk menyingkirkan sementara buku-buku tersebut selama wisata berlangsung.

Saya masih sibuk merapikan kain ke dalam kardus, mengeluarkan nota, juga menyiapkan kantong plastik saat beberapa siswa sudah sampai di stan. Seperti dugaan saya, mereka mengernyitkan dahi melihat buku Albert Camus, Vargas Llosa, atau James Joyce. Mereka nampak menimang-nimang buku Sejarah Estetika Martin Suryajaya seperti mainan. Antar mereka saling beradu menggenggam dengan satu tangan. Mereka membolak-balik setiap judul dengan wajah yang membuat saya gagap dan gugup. Stan kami tidak memiliki buku yang mungkin diinginkan mereka, namun saya cukup tenang setelah sadar dua karya Reda Gaudiamo, Nawilla dan Aku, Meps, dan Beps, ada di sana. Setidaknya saya punya cukup sampel ketika ditanya adik-adik itu.

Seharian saya hanya duduk mengamati lalu-lalang dan interaksi antara pengunjung dengan buku-buku. Mula-mula mereka melihat dari judul. Kemudian harga. Ketika membalik sebuah buku dan melihat harga tidak menarik, mereka akan meletakkannya dan mundur teratur. Terkadang beberapa dari mereka menggenggam judul tertentu dalam waktu yang lama, seolah mempertimbangkannya, untuk kemudian berjalan ke arah saya. Saat saya siap membuka nota yang masih kosong, mereka kembali berbalik. Meletakkannya di tempat semula, tersenyum pada saya dan mengangguk pergi.

Dari beberapa yang berbalik pergi itu, ada sekali dua yang benar-benar menuju meja saya. Tapi saya enggan membuka tutup bolpoin sampai benar-benar tahu mereka menginginkannya.

“Ada diskon?” Begitu pertanyaan yang diajukan, dan saya tersenyum, menggeleng. Ini adalah keisengan seorang pedagang. Saya sering melakukannya dengan pertimbangan bahwa buku alternatif yang dicetak terbatas memiliki hak untuk dibeli dengan harga penuh. Ini nampak seperti perang pikiran. Masing-masing dari kami memberi ruang untuk saling menimbang. Siapa yang akan mengalah.

Tentu saja saya lebih sering kalah.

Sampai hampir pukul setengah empat sore, saya masih menunggu dengan sabar. Saya meyakinkan diri dengan menyadari bahwa ini kota baru. Sebuah permulaan bagi buku-buku indie memperkenalkan dirinya sendiri. Sisa dua orang yang mondar-mandir di stan kami. Yang seorang pergi, yang seorang lagi membawa satu judul menuju saya.

“Ini mas…”menyodorkan buku babon A Study of History milik Toynbee.

“Empat ratus ribu, mas. Tapi maaf, tidak ada diskon.” Saya perlu memastikan padanya. Seorang yang tidak jauh umurnya dengan saya.

“Tidak masalah” tersenyum.

Saya lekas mencatatnya. Memasukan ke dalam kantong kertas. Memberikan flyer sambil mengatakan padanya agar memberitahu temannya yang lain. Saya menyadari diri saya tertawa sendiri setelah transaksi perdana di hari pertama itu. Seorang pedagang di belakang saya, yang dugaan saya telah panen karena banyak membawa buku anak, melihat kejadian itu dan berkata pada saya:

“Tenang, baru hari pertama.”

Kami lantas sama-sama tertawa. Baru hari pertama. Saat itu tanggal 24 Februari, pameran sendiri akan berlangsung sampai tanggal 2 Maret. 


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara