Setiap penerbit mungkin lahir dari orang-orang dengan latar belakang yang satu sama lain berbeda. Penerbit Katarsis Book misalnya, lahir dari orang yang suka membaca Taman Pamekar alih-alih buku serial Lima Sekawan.

PENGALAMAN SAYA MEMBACA buku tidaklah seperti di dalam adegan-adegan film yang berkisah tentang seorang bocah soliter yang memilih menyembunyikan diri di sebuah gudang tua atau di atas loteng kayu membaca sebuah buku berdebu dengan tekun. Sebuah dunia yang lebih mirip dengan kehidupan Mussolini kecil yang menghabiskan waktunya di sebuah palang kayu di atas kandang sapi, menyuntuki lembar-lembar Les Miserables karya Victor Hugo.

Pengalaman saya tidak pula seperti Sartre belia yang memperoleh hiburan ketika berkunjung ke perpustakaan di rumah kakeknya dan memilih bertengger di atas sebuah ranjang besi asyik membaca Sans Famille (Sebatang Kara) karya Hector Mallot milik sang kakek.

Saya, tidak seheroik Sartre dan Mussolini.

Sewaktu masih Sekolah Dasar, waktu saya lebih banyak dihabiskan untuk bermain di luar rumah. Rumah saya berada di sebuah pedesaan yang memberikan ruang yang luas untuk menjelajah pematang dan merambah hutan kecil di tepi lembah Cicakung. Akar lingkungan keluarga saya bukan berasal dari keluarga yang punya tradisi membaca buku dengan disiplin. Satu-satunya orang di rumah yang selalu menimang-nimang buku di sore hari adalah ayah.

Meskipun demikian, ayah saya bukanlah tipe pemborong buku atau rutin membeli buku baru dari toko-toko buku besar. Ayah lebih suka membeli satu-dua buku bekas yang dibelinya dari tukang loak di Alun-alun Bandung. Dan itupun tentu saja kalau sedang ada kelebihan uang di saku. Seingat saya, ayah adalah pengagum Bung Karno, maka sering pulalah saya melihat ayah sedang membaca buku-buku Sukarno selepas magrib.

Selain buku-buku Di Bawah Bendera Revolusi dan Penjambung Lidah Rakjat, dibacanya juga buku-buku biografi, cerita wayang, sejarah, agama dan buku-buku pertanian. Kalau sedang penat membaca non-fiksi, biasanya ayah membaca kisah-kisah petualangan Karl May atau James F. Cooper.

Hampir setiap sore saya melihat ayah membaca buku dengan tawaduknya. Dan saya hanya melihat kebiasaan itu sebagai hal yang biasa saja. Saya sama sekali tidak merasakan semacam gereget tentang betapa menyenangkan dan pentingnya membaca buku. Dingin-dingin saja. Apalagi ayah hampir tidak pernah memaksa atau menyuruh saya untuk membaca buku, selain menyuruh saya untuk membaca dan menghapal buku pelajaran sekolah.

Pikir saya saat itu tentu saja begini: ah, apa asiknya sih membaca buku bila dibandingkan dengan bermain di sungai, mencuri nangka di kebun tetangga atau menembak burung-burung kecil dengan ketapel.

Hingga pada suatu hari ayah menunjukan buku-buku cerita petualangan. Judulnya Suku Mohawk Tumpas karangan James F. Cooper, Winnetou Ketua Suku Apache  karangan Karl May dan empat jilid tipis buku pelajaran bahasa Sunda, Taman Pamekar. Buku terakhir itu sebenarnya adalah buku pelajaran sekolah yang berisi cerita-cerita yang sarat muatan moral tentang sebuah keluarga di sebuah desa, yang hidup tenteram dan damai dengan tokoh 3 kakak-beradik yang rukun: Aman, Ade dan Isah.

Saya sangat suka cerita-cerita ketiga kakak-beradik itu yang saya rasakan seperti tidak jauh dengan apa yang saya alami sehari-hari: bermain di ladang, berenang di sungai, menangkap ikan di kolam dan memelihara merpati. Supaya tidak berceceran dan hilang, keempat jilid buku tipis-tipis yang terpisah itu dibundel sedemikian rupa dengan cara di paku. Pada akhirnya, ke manapun saya pergi buku karangan James F. Cooper, Karl May dan buku pelajaran Taman Pamekar itu selalu turut serta.

Dari sanalah saya kemudian mendapatkan pengalaman membaca yang ternyata mampu memanjakan khayal. Bukan buku serial Lima Sekawan karya Enid Blyton yang lazimnya dikonsumsi oleh bocah-bocah sepantaran dengan saya, melainkan Taman Pamekar yang merasuki jiwa saya sedemikian rupa.

Saya selalu berimajinasi tentang suasana rumah yang rukun tenteram, tentang padang-padang rumput hijau, tentang kuda yang berkejaran, tentang nyala api unggun di tengah alam terbuka di malam hari, bahkan tentang sebuah peperangan antar suku Indian yang mengerikan.

Saya terbuai oleh kisah-kisah heroik suku  Mohawk dengan tokohnya Chingachgook dan Uncas yang pemberani, atau kisah persahabatan antara Winnetou dan Old Shatterhand, dan tentunya kisah petualangan-petualangan kecil si tiga bersaudara: Aman, Ade dan Isah yang menjelajah alam desa nan permai.

Begitulah, siapapun akan terkenang-kenang dengan bacaan pertamanya.

Bagaimana Katarsis Book berdiri

Berbekal pengalaman membaca buku-buku bertema klangenan, petualangan, romantisme dan kenangan masa lalu itulah saya seperti dikutuk untuk terus hidup bersama buku. Hasrat itu kemudian mendapat tempatnya yang paling pas ketika saya pernah bekerja di sebuah toko buku reguler di Palasari.

Di sana, setiap hari saya berjumpa buku. Lambat laun saya pun mulai paham tentang bagaimana regulasi buku itu bekerja dalam sebuah sistem yang bernama pasar buku. Di sela-sela rutinitas pekerjaan dan berjualan buku secara daring di akun Facebook, saya pun mulai bertemu dengan titik jenuh. Kemudian saya mendapatkan tempat pelarian yang pas atas kejenuhan saya itu, yaitu dengan bergabung dengan komunitas sejarah di kota Bandung.

Dalam komunitas itulah hasrat lama saya terhadap buku kembali menyala. Saat itu entah kejatuhan ilham dari mana, saya ingin sekali mendirikan penerbitan. Keinginan itu lahir bukan tanpa dasar, sebab di kota Bandung, terlebih setiap anggota komunitas sejarah yang saya ikuti tersebut ternyata berisi orang-orang pelahap buku sejarah yang rakus dengan tingkat fanatisme yang tinggi terhadap buku. Dan buku apapun yang berkaitan dengan tema Kota Bandung pasti akan diburunya, sampai-sampai kemudian lahir pemeo: barang siapa memiliki buku paling langka dan antik tentang kota Bandung, dialah juara.

Hingga pada suatu hari, komunitas kami akan menyelenggarakan sebuah kegiatan reading group bertema Tionghoa Bandung tempo doeloe. Buku yang akan kami daras adalah sebuah roman percintaan Tionghoa di Bandung, Rasia Bandoeng karangan Chabanneau yang terbit tahun 1917.

Gayung bersambut, ternyata naskah roman itu sudah rampung diketik ulang oleh Hernadi Tanzil dua tahun sebelumnya. Maka dengan modal pengetahuan yang pas-pasan tentang bagaimana cara mencetak dan menerbitkan buku, naskah itu pun diterbitkan dengan oplah sesuai dengan jumlah anggota komunitas: 30 eksemplar saja! Namun di luar dugaan, buku itu ternyata banyak juga peminatnya, bahkan dari luar kota bandung. Apakah ini yang dinamakan sebagai ‘permintaan pasar?’

Kualitas cetakan pertama buku itu jangan ditanya: jelek banget! Karena di Bandung tidak ada percetakan yang menerima mencetak buku di bawah 100 eksemplar dengan kualitas cetak yang baik. Paling minimal menerima cetak 500 eksemplar. Daripada dibayang-bayangi ancaman buku yang menumpuk tidak laku terjual, akhirnya niat mencetak buku dalam jumlah banyak itu pun dibatalkan.

Setelah itu, saya pun berpikir keras, di mana kira-kira adanya percetakan yang menerima pesanan cetak buku dalam jumlah minimal 50 eksemplar saja. Dan jawaban itu ternyata ada di Jogja. Senangnya bukan main ketika mendapatkan buku dengan kualitas cetak yang baik, murah pula ongkos cetaknya.

Berbekal pengalaman mencetak buku lawas Rasia Bandoeng yang lumayan laku itulah saya pun mulai tergerak untuk menyeriusi ranah baru dalam usaha buku: mendirikan penerbitan indie yang konten bukunya tidak jauh-jauh dari tematik sejarah lokal, memoar atau tema-tema yang berbau tempo doeloe. Dan di tengah-tengah rutinitas kerja sebagai supervisor toko buku yang kerjanya mengurusi faktur-faktur penjualan, saya mencuri-curi waktu mengetik ulang naskah buku Bandung Baheula karangan Rd. Moech. A. Affandie dengan memakai komputer kantor.

Naskah ketikan buku tersebut pada akhirnya bisa rampung setelah enam bulan kemudian. Keinginan untuk mengetik ulang dan menerbitkan buku tersebut berdasarkan pada naluri saja: “Buku ini pasti bakal laku, nih...”, batin saya. Buku itu akhirnya dicetak dengan jumlah terbatas.

Sebagai penerbit yang mengikrarkan diri sebagai ‘penerbit indie’, semua proses pra-cetak buku saya kerjakan sendiri. Mulai dari mengetik ulang, menyunting dan menyusun tata letak isi buku. Berbekal ilmu Photoshop yang seadanya, saya pun mencoba-coba membuat desain sampulnya sendiri. Itu semua dilakukan bukan karena siasat kemandirian, melainkan karena alasan menekan biaya produksi.

Untuk kategori buku terjemahan, saya juga menerbitkan buku memoar Kisah Seorang Sinyo yang ditulis Fried Muller. Aslinya naskah ini berbahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Sugihardjo Adirono. Naskah ini sebenarnya sudah diunggah di internet. Jadi tugas saya hanya membukukan saja. 

Walau begitu, demi tatakrama penerbitan yang paling indie sekalipun, saya mulai berpikir tentang hak cipta. Saya mengistilahkannya dengan ‘Izin Terbit’. Saya pun kulonuwun minta izin ke pak Fried Muller bahwa tulisannya yang tersebar di internet itu akan saya terbitkan jadi buku. Ternyata nasib baik sedang berpihak pada saya. Pak Muller bukan saja memberi izin tulisannya itu diterbitkan, melainkan juga mengirim saya sejumlah uang yang cukup besar. Tentu saja saya gembira karenanya.

Demikianlah waktu berputar. Saya masih terus mencari bentuk dan banyak belajar tentang bagaimana menerbitkan buku.  Bagaimana membangun manajemen dan penguatan basis komunitas-komunitas para pecinta buku, sebab disanalah tumpuan leher Katarsis Book akan digantungkan.


Andrenaline Katarsis
Andrenaline Katarsis, nama akun yang aslinya bernama Andrias ini nyemplung di dunia buku sejak tahun 2000. Tahun 2004-2006 pernah jadi penjaga perpustakaan - tokobuku 'Das Mutterland'. Kini sedang coba-coba menerbitkan buku secara "indie".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara