19 May 2017 Marsus Teras Penerbit

Sebuah penerbit bisa lahir dengan cara apa saja dan dari mana saja. Salah satu penerbit indie di Yogya misalnya, Penerbit Sulur, lahir bermula dari lapak buku, berlanjut sampai kini sudah menerbitkan 8 buku.

SEMUANYA BERAWAL dari buku. Saya sebut begitu, karena pada tahun 2013, memilih sebagai penjual buku adalah cikal bakal berdirinya Penerbit Sulur.

Menjual buku bukan semata bertujuan keuntungan finansial. Yang paling berharga adalah mempunyai banyak teman. Karena itu, jualan buku tidak hanya via media sosial, tetapi dengan membuka lapak, menggelar buku di berbagai kegiatan seminar dan diskusi sastra. Itu merupakan alternatif memperkenalkan koleksi buku-buku saya kepada banyak orang.

Dengan begitu saya tahu, bahkan bisa bertatap langsung dan mengenal penulis besar di Yogyakarta maupun dari luar Yogya. Selain para penulis, tentu mengenal banyak teman sesama penjual buku, salah satunya adalah Wijaya Kusuma Eka Putra, alias Eka Pocer (Penerbit Oak). Sesama pelapak, kami saling bertukar kabar pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan buku. Kemudian, duduk berdampingan di sela-sela acara, menggelar buku masing-masing, dan berharap-harap cemas untuk memetik kebahagiaan.

"Ada yang beli merupakan sebuah keuntungan. Tidak ada yang beli pun kita tidak rugi.” Ungkap Eka suatu saat ketika kami melapak di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

“Sebab, dengan menggelar buku, orang-orang sudah tahu koleksi buku kita. Barangkali, mereka tidak beli sekarang bukan karena tidak suka buku, namun karena belum punya uang (anggaran) untuk beli buku. Suatu saat nanti, mungkin ia akan menghubungi kita dan menanyakan stok buku yang pernah dilihat." Lanjutnya. Bijak. Kalimat itu sampai saat ini terus melekat dalam ingatan saya. Sejak itu saya makin mengaguminya.

Selain di TBY, saya juga menggelar buku di berbagai kampus, seperti di UIN, UAD, UGM, UNIBRAW, bahkan di berbagai acara resmi, seperti Borobudur Writers, dan berbagai diskusi sastra lain. Semakin banyak menjejaki berbagai tempat untuk memamerkan buku, semakin bertambah pula jaringan pertemanan saya.

Sebagai penjual buku, tidak dipungkiri teman saya juga banyak yang menyukai buku. Mereka adalah penulis, akademisi, cerpenis, sastrawan, dan masyarakat umum. Suatu saat ada yang bertanya kepada saya: selain jualan buku apakah punya penerbitan? Pertanyaan itu mula-mula tidak saya hiraukan. Saya masih asyik dengan buku-buku saya. Saya lebih suka melirik buku-buku bagus untuk saya koleksi dan menjualnya kembali.

Pertanyaan segelintir orang itu, hari demi hari malah semakin bertambah. Terutama dari kalangan mahasiswa dan dosen. Mereka menginginkan agar karyanya bisa terbit menjadi sebuah buku. Keinginan itu tentu dengan spirit berbeda-beda. Ada yang bilang sekadar ingin mengarsip karyanya dalam bentuk buku, ada pula yang ditujukan untuk kepentingan kenaikan pangkat sebagai tenaga dosen.

Iktikad Mendirikan Penerbit

Berawal dari sinilah iktikad mendirikan penerbit mulai tumbuh. Minimal saya harus punya penerbit indie (self publishing), pikir saya. Niat itu dimulai dengan belajar desain grafis (isi dan kover). Guru saya adalah google. Namun sesekali saya juga bertanya langsung kepada teman yang mahir ilmu desain. Setelah memahami sedikit demi sedikit dasar-dasar desain, saya berinisiatif membuat iklan jasa layout dan penerbitan. Iklan tersebut saya taruh di web jualan buku, sebagian yang lain diprint out, lalu diselipkan dalam sebuah paket ketika ada orang yang beli buku. Ternyata, ada beberapa orang merespon. Mula-mula mereka meminta bantuan untuk mencetak naskah bukunya yang sudah selesai layout, dan tinggal cetak saja.

Tidak lama setelah itu, seorang dosen sastra di Madura yang biasa membeli buku kepada saya mengatakan, bahwa ia ingin menerbitkan buku yang ber-ISBN. Saya kebingungan, bagaimana cara mendapatkan ISBN dan cara mengurusnya. Akhirnya, saya menghubungi teman yang punya penerbit indie. Meminta bantuannya agar bisa bekerja sama. Akhirnya, buku tersebut berhasil terbit.

Berselang tidak begitu lama, Mahwi Air Tawar bertanya kepada saya, apakah bisa melayout buku? Saya jawab bisa. Lantas ia memberikan naskah untuk didesain, dan katanya akan dicetak. Saat itu saya belum tahu, akan dicetak dengan memakai penerbit apa? Kebetulan pemilik naskahnya adalah rekan sekomunitas di Kaleles, sebuah wadah kajian seni budaya Madura. Oleh karena itu, akhirnya buku tersebut akan diterbitkan dengan nama penerbit Kaleles Publishing, meski saat itu masih belum berbadan hukum, dan belum bisa mendaftar ISBN. Untuk mengatasinya, lagi-lagi saya menghubungi teman yang punya penerbit. Meminta bantuan agar bisa bekerja sama memakai ISBN penerbitnya. Buku tersebut akhirnya juga berhasil terbit.

Sejak itu, saya mulai merasakan bahwa menerbitkan buku dengan sistem seperti itu cukup rumit, karena terkait dengan pihak lain—yang saya mafhum akan berbeda visi-misi. Oleh karena itu, saya berpikir perlu punya penerbit sendiri yang berbadan hukum. Tujuannya untuk mewadahi para penulis dalam mempublikasikan karyanya sebagai buku. Sehingga, atas bantuan dan dukungan Mahwi Air Tawar, akhirnya, saya bersama Novita E.S, bersepakat untuk mendirikan sebuah penerbit buku. Modalnya hanya keberanian dan keyakinan.

Niat mendirikan penerbit sudah mantap. Namun dalam mewujudkannya, ternyata tidak mudah, terutama bagi saya sebagai sosok yang masih awam dalam dunia penerbitan. Meskipun iktikad sudah benar-benar bulat, namun sampai langkah itu masih belum tahu, kira-kira apa nama penerbitnya? Usul demi usul, pertimbangan demi pertimbangan, akhirnya kami menyepakati dengan nama Sulur. Pada bulan Juni 2016 Penerbit Sulur (CV. Sulur Pustaka) resmi didirikan.

Sulur dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti akar atau ranting sebuah tumbuhan, yang menjalar atau merambat. Sederhananya, saya menganalogikan, dengan Sulur saya menaruh spirit dan harapan: supaya buku-buku terbitannya dapat tersebar ke berbagai tempat, ke tangan-tangan para pembaca, dan dapat menyuguhkan perkembangan khazanah ilmu pengetahuan.

Sampai hari ini, ada 8 buku yang telah diterbitkan. Mayoritas adalah buku genre sastra, antara lain: Teduh (novel) karya Sigit Apriyanto; Cengkal Burung (puisi) karya Lukman Hakim AG; Blater (cerpen) karya Mahwi Air Tawar, dan lain sebagainya.

Dalam waktu dekat ini, Sulur akan menerbitkan esai sastra karya Abdul Hadi WM yang pernah dimuat surat kabar pada tahun 1970-an sampai 1980-an (masih dalam proses ketik ulang). Selain itu, esai-esai karya penyair celurit emas, D. Zawawi Imron, yang pernah dimuat dalam berbagai surat kabar (insyaallah) juga akan diterbitkan oleh Sulur (masih menunggu konfirmasi dari penulisnya).

Sulur konsen dalam menerbitkan karya sastra, khususnya esai atau ulasan dan kritik sastra-budaya. Namun demikian, bukan berarti naskah-naskah non sastra dinafikan. Sulur tetap terbuka untuk siapa saja, dan akan mewadahinya dengan lini penerbit. Kehadiran Sulur diharapkan dapat memberi manfaat bagi perkembangan dunia perbukuan, dan ikut memajukan khazanah ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, Mei 2017


Marsus
Marsus, pendiri Penerbit Sulur. Menulis cerpen di sejumlah koran dan majalah. Tinggal di Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui: marsus20@gmail.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara