Buku, setumpuk kertas bersampul berisikan seabrek tulisan, dengan sedikit gambar. Semenjak duduk di bangku TK hingga perguruan tinggi, kita selalu berkutat dengannya. Bukankah itu sangat membosankan?

MUNGKIN ITU pula alasannya buku lantas sering kali terserak, berdiam dengan waktu yang lama di atas rak. Dibiarkan berdebu. Tidak tersentuh. Jari kita lebih lanyah menggeser layar sentuh gawai ketimbang membuka halaman demi halaman buku. Mata kita lebih tertarik dengan pendaran radiasi alat komunikasi modern itu.

Memang, lembaran kertas yang dipenuhi dengan huruf pada setiap halaman itu sekilas tidak menarik, ukuran dan jenis hurufnya itu-itu saja.

Meskipun demikian, tidak sedikit orang, yang begitu gandrung dengan buku. Kalau beruntung kadang bisa kita jumpai mereka tengah asyik membaca buku di bangku-bangku kereta, bus, stasiun, terminal, dan tempat-tempat orang biasa duduk menunggu antrean.

Fenomena seperti itu hampir tidak ada di kotaku, kota kecamatan bagian Cilacap barat, lha gimana, di tempatku tidak ada stasiun. Hanya terminal. Itu pun sepi. Di kotaku juga terdapat ruang publik seperti alun-alun dan taman kota. Tidak begitu sepi memang, apalagi ketika akhir pekan.

Setiap sabtu sore, alun-alun akan dipadati anak-anak bermain remote control, mandi bola, naik kereta mini, muda-mudi dan remaja lebih memilih untuk kongkow, ngobrol sambil menikmati aneka makanan yang dijajakan, dari mulai mendoan, pisang, kopi, jahe, atau wedang ronde. Minggu pagi taman kota akan cukup ramai pengunjung untuk menghadiri pengajian, senam, atau sekedar refreshing menghabiskan waktu.

Tidak ada buku di tempat-tempat ini.

Di kotaku juga ada lembaga pendidikan, pesantren, dan sekolah umum dari mulai TK hingga rintisan perguruan tinggi. Isi perpustakaan masih minim. Kebanyakan buku-buku yang ada adalah buku-buku mata pelajaran. Buku pengayaan dan bacaan umum hanya sedikit. Akan sukar ditemui buku-buku sastra kesukaan remaja dan kaum muda misal saja Rendra, Tere Liye, Pidi Baiq, atau Sapardi Joko Damono berjejer di rak perpus, apalagi buku-buku bergizi hasil pemikiran tokoh dan para ahli.

Dengan kata lain, janganlah coba bertanya Kafka itu siapa? Sigmund Freud, dan sosok-sosok lainnya baik lokal maupun dunia. Bagi mereka (santri dan siswa), kesemuanya itu asing, mereka lebih akrab dengan Lembar Kerja Siswa, Kisi-kisi UN, kitab-kitab kuning dan buku pelajaran yang itu-itu saja.

Begitu juga mahasiswa dan mahasiswi rintisan perguruan tinggi di kota kami, termasuk saya. Ketika membutuhkan buku referensi untuk membuat makalah atau skripsi, yang tidak bisa ditemui di kampus, maka kami harus melakukan kunjungan ke kota satria, kota gudeg, kota hujan atau ke ibu kota sekalian. Tentu, akomodasinya kurang bersahabat untuk kantong pelajar. Ah, kapan di kota kami ada perpustakan daerah atau toko buku yang berjejer?

Lantas, jika kondisi kami seperti itu, bagaimana dengan mereka yang tidak menjadi santri ataupun siswa? Apa kabar kisah mereka dengan buku?

Gelaran Buku

Syukur, pertanyaan semacam itu juga bergelayut di benak Khairil Anhar, Wulan Diarti, dan Daru Sima Suparman. Pada Oktober 2016, mereka lalu berinisiatif menggagas kegiatan pustaka. Dimulai dengan cara mengumpulkan buku-buku koleksi pribadi, tidak sampai seratus judul. Dengan bekal optimisme, mereka menggelar buku di taman kota untuk dibaca gratis. Pada gelaran buku ketiga, saya berjumpa dengan mereka melalui Daru. Terlihat beberapa anak melingkar mendengar dongeng yang dibacakan oleh mbak Wulan, lima remaja membaca buku novel dan puisi.

Tidak mudah ternyata. Mereka bercerita kali pertama dan kedua gelaran, pengujung taman kota tampak abai dengan kehadiran mereka. Sempat disangka sedang jualan buku karena memang tidak memasang pengumuman. Maklum belum ada dana untuk membuat banner, kata mereka terkekeh.

Pojok Pustaka

Perjumpaan berlanjut dengan pertemuan sederhana di pojok alun-alun kota Majenang, tepatnya di lapak wedang ronde babeh. Mengungkapkan impian masing-masing mengenai buku, membahas mengenai nama, bentuk, arah, tujuan, dan program dari gerakan literasi yang akan dilakukan. Kesepakatan dan persamaan persepsi terjadi. Dengan visi yang sederhana yaitu "Mengubah Paradigma Membaca Yang Membosankan Menjadi Menyenangkan" dan program yang dirancang pun sederhana, yakni “Mendirikan Pojok-Pojok Baca Untuk Masyarakat.” Dengan harapan minat baca masyarakat akan meningkat.

Pada tanggal 15 oktober 2016 kami menyatakan Pojok Pustaka berdiri.

Sepenggal Kisah

Membaca merekatkan cinta.

Itulah slogan bagi kami kaum pojokan untuk terus berusaha menumbuhkan semangat membaca.

"Saya percaya, cuma perlu satu buku untuk gemar membaca buku. Buku itu sudah ditulis sejak 2.000 tahun yang lalu, jadi hampir tidak ada limitasinya. Apapun hobi kita semua, pasti sudah ada yang pernah menulisnya," kata putri Quraish Shihab (Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia 2016 – 2020).

Menumbuhkan semangat baca memang tidak mudah. Itu yang kami rasakan. Berbagai inovasi diperlukan untuk mendongkrak minat masyarakat membaca buku. Publikasi dan komunikasi juga penting. Bantuan, saran, dan motivasi dari berbagai pihak harus dijemput, jangan ditunggu. Beberapa kunjungan kami lakukan untuk mendapatkan itu semua.

Di antara beberapa yang kami kunjungi adalah Komunitas Perpustakaan dan Sekolah Rakyat Bhinneka Ceria yang lahir pada satu Mei 2010 bertempat di Purwokerto. Dari mas Akbar kami mendapatkan tips dan pelajaran dari cerita perjalanan komunitas mereka. Taman Bacaan Masyarakat Bale Sinaoe yang beralamat di Jl.Raya Genteng Wetan, Cimanggu, Cilacap. Disini kami dapat mengambil pelajaran pentingnya mengetahui buku macam apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan itu dapat diketahui dengan adanya komunikasi.

Publikasi kami lakukan melalui jejaring sosial, dan juga melalui kegiatan nyata. Bulan lalu kami mengadakan kegiatan Lomba Cipta Puisi Pojok Pustaka yang pertama & kegiatan kepenulisan esai bekerja sama dengan Lesbumi NU Cilacap, dengan harapan dapat lebih dikenal oleh masyarakat. Peribahasa lama menyatakan “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.”

Ternyata acara tersebut dapat terlaksana dengan baik. Tercatat ada 180 peserta yang mengirimkan naskah puisinya dan 20 peserta yang bersedia datang untuk mengikuti kegiatan pelatihan kepenulisan esai. Suksesnya acara perdana tersebut tentu tidak lepas dari bantuan, saran, dan motivasi dari berbagai pihak yang harus dijemput itu.

Terima kasih kami ucapkan kepada pak Badruddin Emce dari Lesbumi NU Cilacap atas bantuan dan kerjasamanya. Kepada mas Eko Triono, mas Abdul Aziz Rasid, paman Abdulloh Omir atas saran, motivasi serta kerelaan waktunya untuk menjadi juri sekaligus tutor pada kegiatan tersebut. Mbak Erin Cipta  untuk hibah bukunya. Juga berbagai pihak yang membantu berupa moril dan materiil. PoCer.co terimaksih untuk kesediaannya mempublikasikan cerita ini.

Setelah kegiatan tesebut terselenggara, syukur kami ucapkan. Pojok Pustaka yang baru beberapa bulan lalu berdiri mulai mendapat perhatian dan tempat di masyarakat. Buku-buku sudah mulai disentuh, pengunjung gelaran yang diadakan pada hari minggu bertambah.

Semoga, buku-buku tidak dibiarkan berdebu lagi, bacalah dan hasilkan tulisan. Semoga cinta semakin erat, buku-buku mendapatkan tempat. Salam penggerak-penggerak literasi, di seluruh penjuru bumi.

Majenang, 29 Maret 2017


Amri Yahya
Suka dadar gulung & buku, nimbrung di Pojok Pustaka, klik fb. Pojok Pustaka.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara