31 Jan 2018 Bandung Mawardi Sosok

Pembaca, sekaligus penulis yang rajin, Daoed Joesoef memberikan contoh bagaimana hidup bergelimang buku, sejak masa kecil sampai masa tua.

MASA lalu itu buku. Daoed Joesoef mengenang saat mengalami hidup pada masa pendudukan Jepang. Ia berada di Medan, kota pernah digagas meniru Paris. Pada masa kaum Eropa hidup di Medan, suasana kota sengaja berselera modern. Medan pun maju dan moncer. Pada saat Jepang masuk, perubahan tiba-tiba membuat segala impian mendefinisikan Medan dengan mata Eropa berguguran. Daoed Joesoef malah mendapat “keajaiban” meski hidup selalu susah akibat perintah-perintah militeristik Jepang.

Jepang datang ke Medan melakukan razia ke gedung-gedung perkantoran Belanda. Ribuan buku jadi sitaan. Militer Jepang tak membuang atau membakar. Buku-buku itu dikumpulkan di gedung AVROS. Ribuan buku berjenis ensiklopedia, teks pelajaran, keilmuan umum, dan novel. Buku-buku berbahasa asing: Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Gedung perlahan dimengerti sebagai perpustakaan umum tak resmi diurusi bumiputra. Kebijakan terasa aneh tapi mengejutkan saat melihat para tentara Jepang berlaku keras dan represif. Daoed Joesoef dalam buku berjudul Rekam Jejak Anak Tiga Zaman (2017) mengenang bahwa orang-orang diperkenankan membaca buku-buku cuma di tempat. Pengecualian adalah sekian novel boleh dipinjam dan dibawa pulang asal memberi jaminan. Di mata Daoed Joesoef berusia remaja, perpustakaan itu surga. Ia sering mendapatkan bekal dari emak berupa setermos air teh agar bisa mendekam di perpustakaan seharian penuh.

Pertemuan dan percumbuan dengan buku-buku itu lanjutan dari keranjingan membaca sejak masa bocah. Ia rajin membaca dan memiliki penggenapan sebagai pelukis. Cara mengerti sastra tak melulu dengan membaca tapi membuat gambar sampul di terbitan novel dan ilustrasi. Pada masa 1930-an akhir, Daoed Joesoef adalah penggambar sampul novel-novel terbitan Medan. Penerbit Tjenderawasih di Medan menjadi awalan persekutuan diri sebagai penggambar dan pembaca. Pekerjaan membuat gambar sampul dan ilustrasi dijalani saat Daoed Joesoef berusia 13 tahun. Tugas menggambar tak selesai saat novel sudah terbit. Si remaja itu harus memenuhi janji membacakan isi novel pada emak tercinta. Emak tak mengerti huruf Latin. Daoed Joesoef pun pembaca, berbagi suara dan kata membentuk cerita disempurnakan memamerkan gambar. Di Medan, Daoed Joesoef menempuhi jalan sastra meski tak seheboh manusia-sastra di kota-kota di Jawa.

Pada suatu hari, rumah keluarga Daoed Joesoef kedatangan tokoh pergerakan politik dari Jawa bernama Singgih. Kedatangan dengan kopor-kopor, tinggal sekian hari. Singgih pergi tanpa pamitan, meninggalkan surat dan kopor. Ia harus terus bergerak demi impian Indonesia dan melawan kolonialisme. Singgih tampak sengaja meninggalkan kopor. Daoed Joesoef dan emak membuka. Kopor itu berisi buku dalam pelbagai bahasa. Mata pun lekas membaca judul-judul buku berbahasa Melajoe-Indonesia: Depok Anak Pagai (A Damhoeri), Patjar Merah (Matu Mona), Hikajat Kadiroen (Semaoen), dan Student Hidjo (Marco Kartodikromo). Novel-novel turut membentuk biografi imajinasi dan pengisahan Indonesia (Daoed Joesoef, Emak: Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne, 2003).

Tahun demi tahun berlalu, Daoed Joesoef mengembara ke pelbagai kota. Ia membuat capaian keilmuan sampai ke Prancis. Hari-hari tetap berbuku. Sastra masih panduan ke pemenuhan kebenaran dan keluhuran sesuai pesan-pesan emak. Bacaan mulai beragam bahasa dengan tafsir-tafsir kritis, tak seperti keluguan pada masa lalu. Pada masa Orde Baru, ketangguhan intelektualitas Daoed Joesoef mengantar ke jabatan mentereng: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983). Ia rajin berpidato, tanpa jemu selalu berpesan agar orang-orang gandrung membaca buku. Pada 12 Mei 1980, ia berpidato dalam Pameran Buku Nasional IKAPI. Ia mengatakan agar para orangtua menunaikan kewajiban: mengajak anak-anak biasa membaca buku. Rumah itu permulaan membentuk biografi pembaca, sebelum sekolah dan perpustakaan umum.

Diri sebagai pejabat tak merusak hasrat memikirkan buku dan pemuliaan sastra. Pada 17 Juni 1980, Daoed Joesoef memberi pesan-pesan kehormatan bagi para pemenang Yayasan Buku Utama. Daftar pemenang berupa novel: Selembut Bunga oleh Aryanti (Haryati Soebadio) dan Tuyet (Bur Rasuanto). Peran menteri dijalani dengan kemunculan polemik-polemik meski Daoed Joesoef tak kehabisan argumentasi. Urusan buku malah sengaja sering disampaikan ke publik ketimbang menuruti perdebatan pelik berkaitan politik-pendidikan.

Jabatan tak kekal. Daoed Joesoef tetap menempuhi jalan keintelektualan dan mengurusi buku-buku. Daoed Joesoef urun tulisan di buku tebal berjudul Bukuku Kakiku (2004) dengan editor St Sularto, Wandi S Brata, dan Pax Benedanto. Di tulisan berjudul “Budaya Baca”, ia berbagi cerita tentang keluarga dan buku:

“Sebagai anak tunggal semata wayang, anakku memang selalu sendirian di rumah, tetapi dia kelihatannya tidak pernah merasa kesepian berkat kebiasaannya membaca. Di hari ulang tahunnya atau bila dia membuat sesuatu prestasi uang pantas dihargai dengan sebuah hadiah, hadiah itu kami berikan dalam bentuk buku. Kami bertiga selalu berusaha meluangkan waktu secukupnya untuk bisa bersama-sama mengunjungi pameran buku. Pembentukan perpustakaan pribadinya sudah dimulai sejak dia duduk di bangku sekolah dasar.”

Manusia-buku memang bermula di rumah. Daoed Joesoef membuktikan dengan meneladani emak saat menjalani masa bocah-remaja di Medan.

Tahun demi tahun berlalu, Daoed Joesoef menua meski selalu keranjingan membaca dan menulis buku. Pada 2016, terbit buku berjudul Teman Doedoek. Buku itu berisi cerita-cerita gubahan Daoed Joesoef. Cerita-cerita dipersembahkan ke pembaca: bersahaja dan berlimpahan amanat bercap nasihat bijak. Daoed Joesoef mengiringi cerita dengan gambar-gambar hitam-putih.

Salah satu ceritanya: berjudul “Patung Guru”, mengisahkan sejarah Indonesia, pendidikan, dan perubahan kota. Cerita itu mendapat pengaruh besar atau meniru dari Oscar Wilde. Cerpen membuktikan Daoed Joesoef membaca khazanah sastra dunia. Si guru dianggap berjasa. Orang-orang menghormati dengan membuat patung di alun-alun. Patung dibuat elok dengan dilapisi emas. Si patung tersiksa batin melihat kaum miskin dan ambisi kelimuan orang-orang terhambat duit. Pada burung gelatik, patung itu memohon emas dibagikan ke orang-orang paling berhak.

Cerita beramanat pembuktian orang berilmu harus disokong dengan pelbagai hal. Daoed Joesoef mungkin membuat sindiran agar pemerintah, partai politik, perusahaan, ormas, dan komunitas tak perlu bermewahan membuat patung para tokoh berdalih memajukan pendidikan dan literasi di Indonesia. Daoed Joesoef tentu tak menjadikan patung berongkos mahal di Solo sebagai contoh. Di depan Stadion Manahan, Solo, ada patung beradegan Soekarno sedang memegang buku. Konon, pemerintah membuat patung demi mengabarkan ke orang-orang agar meneladani Soekarno sebagai pembaca buku. Di bawah patung, air mancur. Orang-orang memang berdatangan tapi tak bermaksud membaca buku. Mereka memilih berpotret diri atau berpotret bersama patung Soekarno memegang buku, bukan membaca buku.

Kini, Daoed Joesoef sudah selesai menunaikan peran sebagai pembaca buku dan pemberi persembahaan bacaan bagi kita. Pada usia 91 tahun, ia masih mengabarkan ke orang-orang agar jangan pensiun sebagai pembaca buku. Masa  jabatan dan usia tua bukan alasan paling resmi untuk berhenti membaca dan menulis. Pilihan menjadi pembaca buku sejak bocah sampai tua mengesahkan Daoed Joesoef hidup bergelimang buku. Kemauan menulis buku-buku memastikan ikhtiar mengedarkan janji membaca bersumber dari kitab suci. Daoed Joesoef seperti memenuhi takdir, bermula dari perintah membaca di Al Quran, ia memilih jadi pendakwah buku, dari masa ke masa. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara