Lokalitas yang diangkat ke dalam novel, digarap dengan piawai, dan disajikan murni sebagai cerita seringkali memikat. Salah satu di antara deret novel semacam itu adalah novel "Telembuk".

JIKA Ahmad Tohari dengan apik bercerita tentang jagat hiburan ronggeng di desa imajiner dukuh Paruk, sepertinya ada nuansa yang sama dalam novel ‘Telembuk’. Kedung Darma Romansha dengan penuh kejelian menceritakan dangdut dan kisah-kisah keparat lainnya di jagat pantura. Hiburan, prostitusi, pemabuk, tukang kelahi dan pemuka agama tingkat desa diaduk sepanjang cerita. Dengan menggali timbunan-timbunan pengetahuan lokal, tentunya.

Novel ini merupakan lanjutan dari karya Kedung sebelumnya, ‘Kelir Slindet’. Tapi jangan khawatir, ‘Telembuk’ hadir dengan ramah dan hangat ke tangan pembaca. Kedung memberikan prolog singkat dari karya sebelumnya. Sehingga, pembaca tak perlu repot-repot mencari ‘Kelir Slindet’ untuk membaca ‘Telembuk’. Bagi yang belum tahu, tlembuk adalah istilah yang biasa dipakai di daerah pantura untuk pekerja seks komersial (PSK).

“Minuman oplosan, pil groyok, destron, lekso, itulah pemandangan yang akan Anda temui di kampung kami. Kampung bajingan yang tak akan pernah diimpikan setiap penduduknya” (hal. 10).

Cerita ini dikisahkan dengan latar tempat di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dari satu desa ke desa-desa lainnya. Kedung terasa begitu lincah dan akrab menarasikan rasa, bau dan penggambaran suasana dengan gaya tutur yang etnografis. Bisa jadi karena Indramayu merupakan tanah kelahiran Kedung.

Kisah yang Sengit

Semuanya berawal dari cerita Safitri. Seorang bunga desa yang terpaksa menjadi penyanyi tarling dangdut.Sebelumnya ia penyanyi kasidah kampung pimpinan ustadz Mushtafa, anak dari Haji Nasir. Safitri merupakan anak dari Saritem, seorang mantan tlembuk. Ayahnya, Sukirman, seorang pemabuk yang doyan nelembuk. Artinya, Safitri digambarkan sebagai anak dari orang tua yang hidupnya acak adut.

Tokoh-tokoh lainnya seperti Mukimin, Aan, Govar, Kartam, Kriting, Beki mendapat porsi dominan dalam komposisi cerita. Mereka adalah pemuda kampung Cikedung, satu desa dengan Safitri. Sementara Mak Dayem, Carta, Haji Nasir, Pak Darmawan, Sondak hanya muncul di bagian-bagian tertentu, namun, begitu lekat dan sangat terkait dengan kehidupan Safitri.

“Penyanyi dangdut melempar pantatnya ke hadapan penonton, Safitri terus bergoyang asyik masyuk di hadapan orang-orang. Haji Caca naik ke atas panggung, menyawer, dan meraba tubuh Safitri dengan hasrat yang naik turun. Sampai pada akhirnya Haji Caca merasa janggal dengan perut Safitri.” (hal. xii)

Sarkasme yang digambarkan Kedung bukan hanya pada kata-kata umpatan yang kerap muncul dari mulut para tokoh-tokoh. Tapi juga penggambaran sensualitas pada hiburan dangdut. Dalam hal ini, bagaimana penyanyi tarling bergoyang, meliuk manja, menunggingkan bokong hingga menebar berahi kepada para penontonnya. Mungkin juga kepada para pembaca novel setebal 414 halaman ini. Kirik!

Kehamilan Safitri menjadi titik awal rentetan kisah yang tak berujung. Secara blak-blakan Safitri mengakui kehamilannya di depan umum. Lantas, bajingan mana yang telah menghamili Safitri? Menariknya, kehamilan ini terus disimpan menjadi misteri dalam sekujur cerita. Kedung tidak membeberkan siapa pelakunya. Yang pasti, perempuan malang bernama Safitri ini berusaha keras untuk tetap hidup meski topan badai terus mendatanginya.

Membaca novel ini juga serasa sedang nongkrong di angkringan bersama teman-teman karib. Kenikmatannya seperti menyesap kopi hitam sembari menghisap rokok kretek bersama. Karena Kedung tidak sendirian sebagai pencerita. Terkadang Aan, Govar, Mukimin atau Safitri mengambil alih cerita. Kedung tak hanya ampuh menghidupi karakter, tapi juga karakter-karakter dalam novel ini ‘turut membantu’ Kedung dalam bercerita.

Gosip kehamilan Safitri menyebar ke seantero Cikedung. Ia bingung dan memutuskan untuk pergi dari kampung keparat itu. Di tengah perjalanan, bagai jatuh tertimpa tangga—kecemplung comberan—diseret kucing, Safitiri kembali apes. Ia diperkosa dalam kondisi hamil di gerbong kereta oleh sekelompok orang. Nahas kembali menghampirinya.

Hingga akhirnya Safitri bertemu dengan Mak Dayem, seorang ahli dalam dunia pertlembukan. Safitri dimandikan kembang tujuh rupa, sajen dan tetek bengek ritual lainnya agar menjadi tlembuk yang andal dan mahal. Namun sebenarnya, apakah profesi tlembuk menjadi satu-satunya pilihan di pantura bagi perempuan malang seperti Safitri? Kedung mengurai benang merah ini dalam suatu narasi sosio-historis yang ciamik.

Kedung menceritakan, Indramayu seperti daerah yang ditakdirkan menjadi terbelakang atas tekanan sosial-politik dari pusat. Sementara kebutuhan ekonomi kian mendesak. Sejak zaman VOC, Jepang hingga Indonesia merdeka, Indramayu kerap menderita kelaparan, padahal daerah itu penghasil padi terbesar se-Jawa Barat. Pula penghasil ikan laut, petis dan garam yang tidak pernah menjadi tuan di rumahnya sendiri. Pil pahit ini yang mesti ditelan oleh Mak Dayem dan Safitri.

Kebetulan Indramayu adalah kota persinggahan, maka sangat memungkinkan perempuan-perempuan mengambil ‘jalur alternatif’ untuk mencari kebutuhan ekonomi. Bisa menjadi tlembuk, penyanyi dangdut atau keduanya. Boleh dibilang menjadi tlembuk bukan keinginan, tapi keterpaksaan atas tekanan-tekanan hidup. Seperti pengakuan Safitri.

Yang juga membuat novel ini kian memikat, Kedung mencampur-adukkan yang suci dan yang profan. Antara pengajian dan permabukan. Pelacuran dan peribadatan. Bisa kita simak dalam penceritaan sosok kepala desa, Pak Darmawan. Sejak menjadi kepala desa, ia mengurangi kebiasaan nyawer dan nelembuknya. Ia salat berjamaah di masjid sebagai pencitraan serta menjaga pamornya. Meski demikian, ia tetap minum dan nelembuk secara sembunyi-sembunyi jika sedang ingin. Secara tak langsung, Kedung menyindir oknum politikus yang kerap melakukan hal serupa.

Begitu pula dengan sosok Mukimin, pemuda kampung Cikedung yang doyan minum dan main perempuan. Tiba-tiba ia menjadi penceramah agama di berbagai pengajian. Meski levelnya masih jadi penceramah pembuka, bukan penceramah inti seperti ustadz-ustadz yang didatangkan dari luar kota. Namun, Kedung tetap menjadi pencerita yang netral: tidak memberikan penghakiman moral pada sosok manapun. Justru satire-satire demikian terkesan menjadi lelucon segar.

Novel yang masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kategori prosa ini tergolong unik dalam penceritaan. Selain tokoh-tokoh yang ikutan nimbrung sebagai pencerita, Kedung juga menampilkan dialog antar tokoh. Perdebatan jalan cerita dari versi masing-masing tokoh. Bahkan sang narator, Kedung, juga muncul pada dialog akhir cerita. Kemunculan dialog ini semakin menambah kesan humor sekaligus sebagai pengingat jalan cerita kepada pembaca agar tak bosan.

Membaca buku ini mengajak kita menyelami riak-riak kehidupan di jalur pantura. Dengan segala macam unsur kelokalannya. Juga bagaimana dangdut tarling menjadi kontestasi atas konstruksi sosial: prostitusi, hiburan, kesalehan, sejarah, politik dan ekonomi. Tanpa menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga tak bisa terus menerus menaruh stigma negatif terhadap Indramayu sebagai daerah penghasil mangga sekaligus PSK, tanpa pernah memahami dan mengalami realitas sesungguhnya.


Gunawan Wibisono
Domisili di Solo. Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Sebelas Maret. Tulisan-tulisannya tersebar di media cetak dan daring.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara