20 Jun 2017 Raedu Basha Sosok

Kemudahan menerbitkan buku kiwari tak hanya memberikan efek baik. Efek buruknya: kontrol kualitas buku yang diterbitkan menjadi mengendor. Lalu bagaimana menimbang kualitas buku menurut penyair D. Zawawi Imron?

MENERBITKAN BUKU di zaman sekarang sangatlah mudah. Kita bisa secepat kilat menulis manuskrip dan bisa lebih cepat lagi menerbitkannya menjadi bentuk buku cetak ber-ISBN bahkan tampilan atak luar, atak dalam, serta hasil cetakannya kadang seciamik buku yang terkenal dari penulis yang terjamin mutu karyanya.

Semua orang tahu dunia penerbitan saat ini cair dan terbuka. Hal itu penulis anggap sebagai bagian dari demokratisasi. Entah demokratisasi sebenarnya atau makna yang mbablas, yang menjadikan siapa saja bisa dianggap dan menganggap diri telah menjadi penulis buku, sekalipun kualitas karya tulisnya tidak berbentuk apa-apa dan bahkan penulisnya tidak tahu tulisannya masuk pada genre apa pada kategori apa, mau nyastra tapi aneh, mau ilmiah tapi ngalor-ngidul ditambah referensi asal comot dan tanpa sadar mencopet gagasan orang lain alias plagiat.

Kini, naskah semacam itu, hanya cukup dengan menyiapkan biaya, bisa dari kantong pribadi maupun mencari donatur atau sponsor kemudian menghubungi nomor kontak penerbit—bisa penerbit indie bisa pula penerbit mayor—lantas setelah mengobrol ini-itu diproses lanjut menjadi buku. Apa jadinya kemudian?

Tentu saja buku yang demikian tak lebih dari hanya menimbun-nimbun tinta dan kertas tanpa memberikan faedah untuk dunia literasi, membuat tinta dan kertas percetakan mubazir karena bukunya telah memboroskan pohon, entah berapa pohon ditebang tiap waktu di muka bumi demi menghasilkan kertas yang menjadi bahan dasarnya. Entah berapa barel cairan limbah tiap saat dalam produksi tinta dan kertas menyebarkan racun di air sungai yang awalnya jernih dan sehat.

Dan yang paling menyedihkan adalah andaikan karya tak berbentuk itu—alih-alih bilang karya matang—dianggap karya buku yang layak dibaca oleh orang lain. Prosesnya “penganggapan layak” itu pun kini bisa dirancang: dia tinggal memesan sebuah tulisan timbangan buku kepada sebagian teman-temannya yang biasa meresensi buku di media massa, lalu dia berhak menyandang status sebagai penulis buku seperti penulis buku profesional.

Tak kalah penting lagi, dia menyiapkan dana untuk mendatangkan penulis profesional atau senior untuk menjadi pembedah buku pada acara peluncurannya. Dan tak kalah lebih penting juga, karena dia banyak modal, dia menabur ribuan kupon ke publik sebagai tiket menukarkan buku cuma-cuma saat acara peluncuran. Maka semakin kukuhlah gelar penulis itu disandangnya.

Proses tak sehat berikutnya, dia mulai mendekati investor atau juragan parpol serta rekanan PH untuk mengusahakan karyanya diangkat ke layar lebar, lalu terpajanglah namanya di dinding-dinding bioskop. Sungguh “kiamat kubro majazi” dunia literasi.

Beberapa waktu lalu penulis berjumpa dengan seorang penyair senior, D. Zawawi Imron, di sebuah hotel di Yogyakarta. Kepada penulis, penyair yang biasa disapa Kiai Zawawi itu bercerita tentang kegelisahannya merespon fenomena dunia penerbitan yang marak dan dengan mudahnya buku di negeri ini diterbitkan.

“Karya buruk tak berkualitas zaman sekarang gampang dibukukan dengan banyaknya penerbit,” demikian kata Kiai Zawawi tak ubahnya keluh kesah orang tua yang melihat anaknya tak kunjung dewasa. Lantas dia bertanya kepada saya, “Terus bagaimana cara mengukur sebuah manuskrip sastra itu layak disebut berkualitas karena telah diterbitkan menjadi buku?”

Saya tidak menjawab melainkan diam menunggu pertanyaan yang toh sebenarnya Kiai Zawawi sendiri mampu menjawabnya, sembari saya memikirkan sosok penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand pada 2012 itu yang kendati usianya sudah sepuh, yang ke mana-mana mengisi seminar, pelatihan, baca puisi dan ceramah agama, menyangga tongkat berkepala naga cokelat tapi tetap sehat dan kuat berkeliling dari kota ke kota baik dalam maupun luar negeri, namun rupanya perhatiannya terhadap dunia penerbitan buku-buku sastra mutakhir masih bernyali.

Terlihat betapa gelisahnya saat itu dia tampak lama tafakur, berpikir keras untuk menemukan jawaban suatu timbangan kualitas buku yang terbit di penerbit indie maupun mayor, baik penerbit kecil yang kantornya di kos-kosan gang sempit maupun yang telah merajai penerbitan dan pasar buku yang kantornya di pusat kota dengan gedung menjulang tinggi. Karena penerbit mayor pun tidak menjamin kebagusan sebuah buku besutannya, terutama kualitas isi naskahnya.

Terlebih di zaman kiwari, setiap produk dihasilkan guna mengikuti keinginan pasar, tak terkecuali produk buku bacaan. Ambil contoh, mengapa buku karya Toba-Toba (bukan nama sebenarnya; nama ini diambil dari seorang tokoh berkarakter tamak dam konyol dalam serial drama India anak-anak, Balfeer; kegemaran adik bungsu saya yang baru menginjak SD) yang sering menerbitkan novel-novel populer dan selalu bertengger di rak-rak best seller tiba-tiba menulis buku kumpulan puisi yang kualitasnya memperihatinkan diterbitkan oleh sebuah perusahaan penerbitan buku yang konon “pembaptis penulis besar” dan susah ditembus, lebih laris ketimbang buku puisi karya penulis yang memang dikenal sebagai penyair tulen?

Sukur-sukur bila itu disebut sebagai kumpulan status facebooknya atau kicauan akun twitternya, tapi dengan gamblang tanpa sungkan membubuhkan informasi “kumpulan puisi” di bawah judul bukunya yang tak ada kesan puitis-puitisnya itu, dan pernah saya temui di toko buku akan buku kumpulan puisi karya Toba-Toba itu terpajang di rak best seller bersama novel-novelnya yang lain. Pada momen saat buku itu sedang hangat, hanya buku puisinya yang menembus cetakan ulang yang tak biasa untuk ukuran buku puisi.

Tak dapat dipungkiri, sekali lagi, yang demikian terjadi karena pasar yang memintanya. Toba-Toba sudah kadung memiliki banyak pembaca novel-novel “kentir”nya, jadi mau menulis karya seburuk apapun dan semahal akik zamrud pun harga bukunya, dia tetap memiliki pangsa pasar yang memikat jutaan pembaca, dia telah merajai isi kepala pembacanya yang senantiasa mengamini Toba-Toba sebagai penulis buku bergengsi dan karyanya layak dibaca dan diamini. Ditambah bahwa kenyataannya penerbit mayor yang besar suka dengan rasa manis kata laris dan hati terkesan saat memandang tingginya angka penjualan.

Setelah lama diem-dieman antara saya dan Kiai Zawawi, seperti dugaan saya sebelumnya, pada akhirnya dia menjawab sendiri pertanyaannya tadi. Katanya:

“Ukuran buku sastra yang bagus saat ini setidaknya bisa dilihat dari siapa yang memberikan kata pengantar bukunya dan siapa yang mengulasnya.”

Lalu, bagaimana menurut Anda?


Raedu Basha
Pria yang merasa sebutan “suami” baginya sudah lebih dari cukup untuk gagal bunuh diri. Pasti istrinya berseri-seri membaca biodata ini.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara