Penerbit Indie tercipta dari ketiadaan, untuk dikenal maka ia harus memperkenalkan diri sekaligus membuat kesan bahwa dia memang layak untuk dikenang.

JIKA ada anggapan penerbit indie Jogja jago bikin buku, sebenarnya enggak juga. Bukunya memang 'keren-keren' kalau dibahas di warung kopi, tapi di pasar bebas, ternyata keren saja tidak cukup.

Gerakan memang sat set. Malam diskusi, besoknya buku jadi.

Masalah cuap-cuap distribusi tidak khawatir. Medsos musti ramai dan berisik. Gempur terus. Jumlah pemesan harus berbanding lurus dengan jempol yang nyangkut.

Jual seratus eksemplar, megap-megap minta ampun. Jangan kira teman tujuh ribu di Facebook itu jadi jaminan buku lima ratus ludes.

Grup reseller? Tidak menjamin juga. Untuk buku tertentu, jelas jadi rebutan. Tinggal diam kayak bagi sembako. Kamu segini, kamu segitu. Giliran judul 'tidak menjual' ditawarkan, satu per satu tiba-tiba meninggalkan grup. Alasannya sederhana: kepencet.

Sebenarnya, 50 buku saja yang terjual, itu sudah bagus. Dua ratus terjual? Balik modal. Empat ratus? Traktir teman makan-makan. Lima ratus? Berarti ludes. Boleh berharap beli tanah, sekarung.

Membuat memang lebih mudah. Berencana hanya butuh imajinasi. Toh evaluasi bisa nanti. Itu pun kalau ingat.

Pas buku laku, langsung buat statistik. Pembaca cerdas masih banyak. Strategi daring memang jitu. Giliran kandas, selera pembaca disalahkan. Porsi pasar untuk tema tertentu dijadikan kambing hitam.

Itu kondisi daring, kondisi luring tentu lain lagi.

Sebagai contoh, pameran Ponorogo tak terlupakan. Itu kedua kalinya. Berdasarkan catatan tahun lalu, kali ini layak optimis.

Sebelumnya, gigit jari kaki. Duduk dua belas jam sehari, selama seminggu, hanya untuk dua puluh dua eksemplar buku yang terjual. Heroik.

Berangkat bawa 15 kardus. Pulang jadi 16. Epik. Setelah diselidik, ternyata karena salah packing, sehingga jumlah kardus yang dibutuhkan lebih banyak. Humoris.

Rupanya, di kota Sate Tukri Sobikun itu, buku indie masih mental dan mentah. Apalagi penerbitnya, menarik dikenal tapi tak layak dikenang.

Deretan judulnya aneh-aneh, penulisnya susah dieja, gambar kovernya bikin berkerut. Cukup sudah alasan bagi pembeli merundung. Ditambah harga yang parah dan diskon yang payah, nyinyir adalah kunci.

Sudah banyak jumpa orang, yang merengut melihat buku-buku, lantas pergi sambil menyumpahi. Juga telah banyak kata manis keluar, untuk merayu mereka datang kembali. Kadang gagal, kadang hanya hampir berhasil.

Jadi, jangan remehkan penerbit buku. Bilang sama Ibumu, menantu idaman, adalah penerbit/pekerja/pedagang buku dan orang-orang yang ada di lingkarannya. Amin.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara