Tak ada batasan panjang pendek sebuah cerpen. Maka tak heran jika kemudian lahir cerpen-cerpen pendek sekali dari tangan Ugo Untoro. Lebih jauh lagi: di dalamnya ada kesenadaan antara cerita dan lukisan.

SEUSAI MENUNTASKAN 80 cerita tulisan Ugo Untoro, hanya kelucuan yang masih menyisa di perasaan saya. Wajar saja, dari 80 cerita, lebih dari separuhnya berisi cerita lucu; 44 kisah dan 7 ungkapan satu kalimat; yang mengundang tawa spontan dan menjejak kegelian. Penulisan cerita lucu tersebut sebagian besar berlangsung pada periode Desember 2004 hingga Januari 2005. Sisanya, 29 cerita, berupa kisah yang tragis, satir, atau semacam penyampaian kabar. Rangkaian cerita pendek sekali alias cerpenli ini dibuka dengan kisah bernuansa persilatan dengan tokoh-tokoh dalam pewayangan yang mengetengahkan heroisme laki-laki dalam peperangan dan ditutup dengan kisah misteri.

Cerpenli dengan periode pembuatan 2003-2005 ini seperti catatan harian Ugo yang memuat kisah-kisah imajinasi, ungkapan-ungkapan spontan, atau rekaman peristiwa yang dialaminya. Cerita yang tak berupa satu kalimat menjadi semacam potret atau gambar yang mengetengahkan satu peristiwa pada sebuah momen. Namun demikian, cerita tersebut tak hanya memuat siapa, sedang apa, dan apa saja yang ada dalam satu bidang potret atau gambar. Cerita tersebut juga memuat kisah-kisah lain yang menyertainya dalam tarikan waktu mundur sehingga membentuk gambaran yang sarat makna.

Sementara, cerita yang berupa satu kalimat, walaupun dengan pengungkapan yang ringkas, tak hanya menjadi berita atau informasi, tapi lebih jauh mengajak berimajinasi dan mengandung makna yang tak kalah saratnya dengan cerita pendek lainnya. Pun demikian, ada pula 4 cerita yang berupa berita atau menyampaikan informasi tanpa tendensi tertentu dan makna sepenuhnya diserahkan pada pembacanya.

Ugo Untoro memang tak asing dengan tulisan, kisah, cerita. Sejak kecil, ia gemar membaca dan mendapatkan kesempatan itu dari ayahnya yang seorang guru. Kisah-kisah wayang pun telah ia dapatkan dari ayahnya yang juga mendalang wayang kertas. Ia juga suka berfantasi melakukan petualangan di masa kecilnya karena suka membaca novel petualangan anak-anak. Ugo juga menggemari cerita bergambar dan kisah persilatan.

Kesemuanya itu, ditambah dengan pengalaman hidup yang ia lalui, hadir dalam gaya tutur, alur, penokohan, latar, dan cerita yang ia suguhkan dalam buku ini. Satu hal lagi yang lekat pada Ugo adalah kejujuran dan spontanitas emosinya dalam bertutur yang tampak pada pilihan kata yang digunakan dan cerita yang disajikan.

Ugo Untoro memang lebih dikenal sebagai perupa dan pelukis. Membaca cerpenli Ugo, tampak kesenadaan antara cerita dan lukisan, serta karya-karya seni rupa lain yang dibuat Ugo. Hal itu nampak pada cara ia menyerap kisah-kisah yang berlangsung di sekitarnya dan menyublimkan pemaknaan kisah-kisah tersebut untuk selanjutnya disampaikan tanpa banyak pemanis dan penghias. Pula, tampak pada otoritasnya sebagai pembuat karya sehingga tanpa segan-segan ia memotong sebuah cerpenli yang berpotensi menjadi panjang (cerpenli 78). Hanya saja, dalam cerpenli ini, Ugo lebih spontan, lugas, dan bebas bertutur. Dan, Ugo menuturkan cerita-ceritanya dengan rapi dan runtut.

Pasca-2005, karya-karya Ugo berupa cerita atau teks juga dihadirkan dalam bentuk lukisan dan karya-karya seni objek dalam pameran tunggalnya 8 tahun kemudian dengan tajuk Melupa. Dalam pameran tersebut, ia menghadirkan karya-karya cerita yang dibuatnya pada periode 2011 s.d. 2013. Ada perbedaan antara cerita yang ia suguhkan dalam CERPENLI dan lukisan-lukisannya. Dalam lukisan-lukisannya, selain aspek visual yang juga menjadi pertimbangan Ugo, cerita yang disuguhkan pun lebih panjang, bervariasi, terorganisasi dengan baik, namun tak utuh dan terpotong. Memang ada pula cerita-cerita pendek sekali dan ungkapan-ungkapan dalam karya seni objek dan lukisannya, namun tak banyak.

Sebelum itu, pada tahun 2011, Ugo pernah memajang satu lukisan cerita dalam pameran tunggalnya berjudul Drawing di Taman Budaya Yogyakarta. Lalu, pada tahun 2014, Ugo membuat satu lukisan berisi puisi. Pada tahun 2016, juga ada satu lukisan cerita yang ia sertakan dalam sebuah pameran di Borobudur, Magelang. Secara ringkas, Ugo Untoro mulai membuat lukisan dan karya seni rupa lainnya yang berisi cerita atau teks sejak tahun 2011.

Lantas, adakah kaitan antara CERPENLI periode 2003-2005 dan lukisan-lukisan atau karya-karya seni teksnya sejak tahun 2011? Mendedah jejak arsip karya Ugo Untoro, sebenarnya, Ugo telah memulai proses kreatif berkaitan dengan pengolahan teks sejak tahun 2000. Sebelumnya, ada pula drawing-drawing Ugo berisi teks, namun bercampur dengan gambar alam benda dan manusia, serta dalam porsi yang sangat kecil.

Sepanjang proses eksplorasinya tentang karya seni rupa teks, tahun 2002 - 2003 merupakan periode vakum Ugo membuat karya seni rupa teks. Tahun 2004 - 2006, Ugo memulai kembali proses pergulatannya dengan teks dalam lukisan teks bercampur figur dan sketsa teks. Ugo mulai mengolah karya seni rupa teks secara total dan intensif sejak 2007. Dan, CERPENLI yang pada tahun 2006 telah diterbitkan secara mandiri dalam jumlah terbatas ini (50 eks) dibuat dalam periode 2003 -2005. Ada kaitan antara CERPENLI dengan karya-karya seni rupa teks yang ia ciptakan 6 tahun kemudian dan belum tampak pada masa CERPENLI pertama kali diterbitkan. Ke-80 Cerita Pendek Sekali ini merupakan bagian dari proses eksplorasi Ugo Untoro atas karya seni rupa teksnya.

Dan sebagai seniman, ia tentu saja tak segan mempresentasikan cerita-cerita pendek tersebut menjadi sebuah buku yang termasuk kategori sastra meski seni rupa merupakan media utamanya sehingga ia berpredikat pelukis atau perupa. Dalam perjalanan sebuah proses kreatif yang panjang dan mendalam, sangatlah dimungkinkan adanya keluaran/output karya seni yang beragam. Sejauh si pencipta yakin dengan kelayakan karya tersebut, ia dapat mempresentasikannya pada publik dalam bentuk apa pun. Dalam konteks proses kreatif karya seni teks Ugo Untoro, Cerita Pendek Sekali ini serta lukisan teks dan karya seni rupa teks Ugo merupakan ragam keluaran karya seninya yang lintas bidang seni. Akankah Ugo menciptakan keluaran karya yang melintasi disiplin pengetahuan?

 

OPée Wardany

Rumah gerimisUngu 170129

 

Sumber:

Naomi, Omi Intan (2008), The Sound of Silence and Colors of the Wind between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter, Museum dan Tanah Liat (MDTL), Yogyakarta, Indonesia

Untoro, Ugo (2017), Cerita Pendek Sekali, Penerbit Nyala, Yogyakarta, Indonesia.

Wardany, OP (2016), Proses  Kreatif Penciptaan Seni Lukis; Studi Kasus Pameran Tunggal Ugo Untoro Melupa, Tesis Pengkajian Seni Program Magister Pengkajian Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia.

 


Octalyna Puspa Wardany
Dikenal sebagai OPée Wardany. Aktif menyelenggarakan, mengkurasi, dan menulis pengantar pameran seni rupa sejak 2008. Salah 1 pendiri kelompok gerimisUngu yang berdiri tahun 2011, dan salah 1 konsultan INSIST bidang manajemen dan sistem keuangan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara