14 Apr 2017 Adhe Teras Penerbit

Esai ini adalah panduan untuk produksi buku dengan teknik offset memakai mesin besar, bukan memakai mesin kecil atau mesin Toko maupun printer POD (Print On Demand).

AKU SUDAH nulis esai “Cara Kere Nerbitin Buku” (http://www.pocer.co/read/cara-kere-nerbitin-buku), sebuah panduan ringkas untuk bikin rumah penerbitan buku dengan pola yang sederhana. Ngindie, begitulah. Gaya Jogja pula.

Aku juga sudah bikin simulasi produksi buku indie di esai “Simulasi Cetak Offset” yang bisa kamu baca di blog http://adheoctopus.wordpress.com. Nah, esai yang sekarang ini adalah lanjutannya.

Kita mulai dengan sebuah buku yang akan kamu terbitkan. Ini cara menghitung biaya cetak, ya. Kamu harus maklum kalau esai ini penuh angka. Moga-moga kamu gak bingung.

Rumah penerbitanmu mau bikin buku setebal 200 halaman. Ukuran buku itu 14 x 20 cm. Kamu ingin mencetak dengan kertas jenis Bookpaper. Oplahnya 500 eksemplar. Lalu, berapa dana yang harus kamu siapin supaya buku itu bisa dicetak hingga kelar dan siap untuk dijual?

Komponen pokok untuk cetak buku adalah kertas. Jumlah kertas dan ukuran kertas yang kamu butuhkan tergantung sama mesin cetak offset yang cocok untuk mencetak bukumu. Mesin cetak offset yang biasa dipakai adalah mesin Oliver 58 dan Oliver 52.

Mesin Oliver 58 punya area cetak 43 cm x 56 cm. Sedangkan area cetak di Oliver 52 adalah 50 cm x 36 cm. Mesin yang cocok untuk bukumu yang ukurannya 14 cm x 20 cm adalah Oliver 58. 

Kok bisa?

Gini. Kecocokan itu didapat dengan rumus: lebar buku 14 cm x 2 sisi (kanan dan kiri) = 28 cm x 2 = 56 cm. Artinya, 56 cm itu cocok dengan area cetak 58 cm. Sedangkan panjang buku 20 cm cocok dengan area cetak 43 cm karena 20 cm x 2 saja menghasilkan 40 cm.

Sampai sini kamu paham, ya.

Lalu, kertas ukuran berapa sih yang cocok untuk area cetak di mesin cetak Oliver 58?

Kamu harus memakai kertas Bookpaper ukuran plano 61 cm x 86 cm. Alasannya, area cetak adalah 43 cm x 56 cm. Berarti dari 86 cm di ukuran plano bisa dibagi 2, yaitu masing-masing 43 cm atau 43 cm x 2 = 86 cm. Sedangkan ukuran plano 61 cm cocok untuk area cetak 57 cm, bahkan menyisakan sisa potongan kertas. Sisa potongan ini sedikit lho alias kamu lebih hemat kertas dibanding kalau kamu memakai mesin Oliver 52.

Jadi, kamu akan mencetak bukumu dengan mesin cetak Oliver 58 dan memakai kertas ukuran plano 61 cm x 86 cm.

Berapa banyak kertas yang kamu butuhkan untuk mencetak bukumu?

Begini cara menghitungnya.

Tebal bukumu adalah 200 halaman. Bagilah dengan 16.

Kok bisa muncul angka 16?

Angka 16 itu muncul dari hitungan 8 bidang atau area cetak 43 cm x 56 cm. Angka 8 itu menjadi 16 karena bukumu dicetak bolak-balik alias 8 x 2 muka = 16. Maka, hitungannya adalah 200 halaman : 16 = 12,5 lembar. Artinya, 200 halaman tebal bukumu sama dengan mencetak 12,5 lembar kertas isi bukumu bolak-balik.

Pusing ya?

Nah, biar kamu tahu jumlah kertas yang kamu butuhkan, pakailah rumus ini: 12,5 lembar x oplah 550 eksemplar buku = 6.875 lembar. Atau, jumlah total kertas untuk mencetak buku setebal 200 halaman dan oplah 550 eksemplar adalah 6.875 lembar kertas.

Kenapa oplahnya menjadi 550, bukan 500 eksemplar?

Percetakan tak mungkin garap cetak bukumu sesuai jumlah buku yang kamu order. Ditambahin jadi 550 eksemplar supaya percetakan bisa mengatasi problem kerja produksi, misalnya kertas isi terlipat, tinta tidak terserap, ada halaman buku yang tidak tercetak, dan lain-lain. Selain itu dengan menambah oplah dari 500 ke 550 eksemplar, kamu bisa dapat hasil cetakan lebih 500 eksemplar yang kamu order.

Kembali ke jumlah kertas yang kamu butuhkan, ya.

6.875 lembar kertas : 1.000 = 6,8 rim plano.

Oya, angka 1.000 itu muncul karena 1 plano adalah 500 lembar kertas, padahal bukumu dicetak bolak-bolak alias 500 lembar x 2 muka = 1.000.

Berapa tadi hasilnya? 6,8 rim plano ya? Bulatkan jadi 7 rim plano.

Berapa dana untuk kertas segitu?

Harga kertas Bookpaper per plano (500 lembar) ukuran 61 cm x 86 cm adalah Rp 258.000. Maka, 7 rim plano x Rp 258.000 = Rp 1.806.000.

Kelar ya soal kebutuhan kertas isi untuk mencetak bukumu.

Kita lanjut ke kebutuhan kertas untuk cetak sampul bukumu.

Kamu akan bikin 500 eksemplar buku, atau sama dengan 500 lembar sampul buku. Lebihkan pesananmu menjadi 600 lembar. Alasannya sama dengan alasan melebihkan orderan untuk cetak isi.

Gunakanlah kertas Ivory 230 gram untuk sampul bukumu.  Maka, rumusnya adalah 600 lembar : 8.

Kok bisa muncul angka 8?

Angka 8 itu berasal dari kecocokan ukuran kertas dengan area cetak di mesin Oliver 58. Yang 8 bidang kayak sudah dijelasin di atas itu lho.

Hasil dari rumus 600 : 8 adalah 75. Artinya, kamu perlu 75 lembar kertas sampul ukuran plano.

Berapa dananya?

Harga kertas Ivory 230 gram per lembar adalah Rp 2.500, maka 75 lembar x Rp 2.500 = Rp 187.500.

Yuk kita bahas soal kebutuhan plat untuk cetak isi bukumu.

Plat adalah master yang akan diaikkan ke mesin cetak lalu mencetak kertas-kertas untuk bukumu.

200 halaman bukumu harus dibagi 8. Angka 8 itu, kembali ke awal, sesuai hasil pembagian dari area cetak mesin Oliver 58 (area ukuran 56 cm x 43 cm).

Kenapa dibagi 8, bukan dibagi 16?

Percetakan akan mencetak bukumu dengan per lembar kertas secara bolak-balik. Setiap plat itu hanya untuk satu muka. Yang diganti dalam pergantian halaman ketika buku dicetak adalah platnya, bukan kertasnya. Ah, kamu perlu ketemu aku untuk menjelaskan soal ini secara teknis disertai coret-coretan.

Hasil dari 200 halaman : 8 adalah 25 plat. Artinya, bukumu setebal 200 halaman itu memerlukan 25 plat sebagai master cetak. Harga per plat adalah Rp 25.000. Jadi, 25 plat x Rp 25.000 = Rp 625.000.

Selanjutnya kita lihat biaya cetak isi dan cetak sampul bukumu.

Biaya cetak isi bukumu itu 25 plat x Rp 40.000 per plat = Rp 1.000.000. Harga plat di setiap percetakan itu beda-beda, tergantung kemauan mereka. Carilah percetakan yang kasih harga plat paling murah. Ingat: kamu harus hemat.

Bagaimana dengan biaya cetak sampul bukumu?

Kamu akan tahu biaya ini berdasarkan biaya plat cetak sampul dan biaya cetak sampul.

Harga plat sampul buku adalah Rp 25.000 x 4. Angka 4 itu muncul karena cetak sampul bukumu bersifat full color (4 warna CMYK). Jadi, harga plat untuk sampul bukumu adalah Rp 25.000 x 4 = Rp 100.000. Sedangkan harga cetak untuk sampul bukumu adalah Rp 180.000.

Sekarang kita bahas soal tahap akhir pengerjaan produksi bukumu.

Hasil cetak isi harus dilipat dan disusun oleh percetakan. Mereka memakai mesin lipat/susun. Kalau memakai tenaga manusia, wah bisa lebih lama tuh ngerjainnya. Nanti bisa keriting pula tangan mereka. Kasihan.

Ada 6.875 lembar kertas isi yang sudah dicetak, atau kita bulatkan jadi 7.000 lembar. Biaya untuk ngelipat dan nyusun kertas-kertas itu adalah Rp 40. Maka, Rp 40 x 7.000 lembar = Rp 280.000.

Selanjutnya adalah biaya laminasi sampul bukumu yang sudah dicetak. Rumus yang digunakan oleh percetakan adalah P (Panjang) x L (lebar) x 0,30. Angka 0,30 itu memang sudah ditentukan oleh percetakan.

Karena laminasi sampul itu tidak mungkin hanya laminasi untuk area desain sampulmu saja tapi juga area kosong di kertas sampulmu, maka hitungan “aman” untuk sampul bukumu yang berukuran 14 cm x 20 cm adalah: P 32,5 cm x  L 25 cm x 0,30 = 244. Kamu harus terusin dengan menghitung begini: 244 x 550 lembar kertas hasil cetak sampul = Rp 134.200.

Tahap berikutnya adalah binding atau penjilidan, yaitu gabungin hasil cetak isi buku dengan hasil cetak sampul buku. Alat yang dipakai adalah mesin binding. Biaya binding per buku setebal 200 halaman itu Rp 600. Jadi, Rp 600 x 500 eksemplar buku = Rp 300.000.

Kenapa gak dihitung 550 eksemplar?

Itu karena percetakan akan balikin biaya binding ke hitungan order riil bukumu, yaitu 500 eksemplar. Kalau akhirnya kamu dapat lebih dari 500 eksemplar buku, maka itu adalah hakmu juga.

Tahap paling ujung adalah wrapping (membungkus buku dengan plastik). Biayanya Rp 500 per buku. Jadi, Rp 500 x 500 eksemplar = Rp 250.000.

Udah begitu doang.

Selesai deh.

Ini rincian biaya total produksi bukumu:

(1) Kertas isi Rp 1.806.000

(2) Kertas sampul Rp 187.500

(3) Plat untuk cetak isi Rp 625.000

(4) Plat untuk cetak sampul Rp 100.000

(5) Biaya cetak isi Rp 1.000.000

(6) Biaya cetak sampul Rp 180.000

(7) Biaya lipat/susun hasil cetak isi Rp 280.000

(8) Biaya binding Rp 300.000

(9) Biaya wrapping Rp 250.000

(10) Biaya laminasi doff Rp 124.200

Biaya cetak total Rp 4.852.700.

Kalau dirinci per biji, maka kamu akan tahu Harga Pokok Produksi (HPP) per buku. Menghitungnya: Rp 4.852.700 : 500 eksemplar = Rp 9.705. Kamu bisa bandingin HPP cetak memakai mesin offset mesin besar ini dengan HPP cetak memakai mesin Toko ataupun POD. Lebih murah, Bung. Lebih hemat, Nona.

Kalau oplahmu lebih dari 500 eksemplar, HPP itu bisa lebih murah lagi lho. Kok bisa? Ya karena prinsip dasar produksi itu lebih banyak oplahnya maka lebih murah harganya. Nanti kujelasin deh rincian teknisnya kalau aku ketemu kamu.

Sekarang mending kamu hitung harga jual bukumu dengan biaya produksi di atas, ya.

Harga jual buku itu bisa kamu bikin kalau kamu sudah menghitung semua biaya bukumu: pracetak (royalti penullis atau penerjemah, biaya penerjemahan naskah, editing, setting isi buku, desain sampul) dan cetak. Yuk kita praktekkan.

HPP bukumu itu Rp 9.705. Coba kamu kalikan tujuh, atau Rp 9.705 x 7 = Rp 67.935. Kamu bulatkan deh jadi Rp 70.000.

Hitunglah seolah-olah bukumu laku semua, yaitu 500 eksemplar x Rp 70.000 = Rp 35.000.000.

Kamu harus menghitung juga diskon untuk reseller sebesar 30-35%. Ambil tengahnya, yaitu 25% karena banyak juga pembeli satuan yang gak usah kamu kasih diskon. Buku indie itu eksklusif kok, wajar aja kalau gak diskon untuk transaksi satuan. Nah, menghitungnya adalah Rp 70.000 x 75% = Rp 52.500 x 500 eksemplar = Rp 26.250.000.

Bagaimana soal royalti penulismu?

Anggap saja bukumu itu sebuah karya yang penulisnya kamu bayar dengan sistem royalti sebesar 10%. Rumusnya: 10% x oplah buku yang dicetak x harga jual buku. Misalnya 10% x 500 eksemplar x Rp 70.000, maka kamu harus bayar royalti penulismu itu sebesar Rp 3.500.000. Aku berbaik hati menghitung royalti penulis dari harga buku brutto, bukan dari harga buku netto setelah diskon untuk reseller.

Lanjut, ya.

Kamu harus menghitung juga diskon untuk reseller sebesar 30-35%. Ambil tengahnya, yaitu 25% karena banyak juga pembeli satuan yang gak usah kamu kasih diskon. Buku indie itu eksklusif kok, wajar saja kalau gak diskon untuk transaksi satuan. Nah, menghitungnya adalah Rp 70.000 x 75% = Rp 52.500 x 500 eksemplar = Rp 26.250.000.

Sekarang kamu bisa menjumlahkan semuanya.

Omset total Rp 26.250.000 – biaya cetak Rp 4.852.700 – biaya pracetak Rp 1.500.000 – royalti Rp 3.500.000 = Rp 16.397.300. Itulah keuntunganmu. Bersih Rp 16.397.300 dari 500 eksemplar bukumu yang terjual.

Dana segitu sudah beres buatmu. Kamu bisa membayar percetakan. Bisa membayar royalti. Bisa membayar desainer. Sudah kasih diskon ke reseller juga.

Selanjutnya ngapain?

Ya ngopi-ngopi dong. Bercanda juga bareng teman-temanmu.

Kerja, iya. Nongkrong, iya.

Jangan lupa, kamu kerjakan buku berikutnya. Dan kalau kamu mau belajar dari cara hitungan di esai ini, kayaknya kamu gak bakal ditipu percetakan dalam soal biaya cetak buku.

Salam buku.


Adhe
Adhe adalah salah satu tokoh perbukuan Jogja. Penulis buku Declare, dan saat ini berdiri di balik penerbit Octopus.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara