23 Mar 2017 Adhe Teras Penerbit

Ini adalah panduan untuk nerbitin buku tapi bukan dengan duitmu sendiri. Ditulis saat aku bosan dan pengen jualan rumah atau punya bisnis kos-kosan 25 kamar.

KALAU KAMU KERE, tapi pengen jadi penerbit buku, maka modalmu hanya mulutmu. Orang-orang akan bekerja dan ngasih uang ke kamu. Kere yang keren tuh harus begitu.

Mari kita mulai.

Pilihlah naskah terbaik menurutmu yang layak diterbitkan, cukup diperbincangkan khalayak penyuka buku, dan laku dalam standar cetak-terbatas. Ambillah naskah-naskah lokal yang penulisnya punya jumlah penggemar lumayan banyak. Kalau mulutmu gagal meyakinkan si penulis gara-gara ia enggan karyanya diproduksi dalam jumlah sedikit (dan justru ia ingin bukunya dipajang di Toko Buku Gramedia), tinggalkan. Pindahkan pilihan tema terbitanmu pada naskah-naskah tua atau klasik, lokal maupun asing alias berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Inggris. Dan stok naskah semacam itu banyak.

Lalu, gunakan mulutmu untuk ngerayu dan memperalat orang lain agar sejak awal mereka mau ngebantu pekerjaanmu. Kalau pilihanmu adalah naskah lokal berbahasa Indonesia, cari temanmu atau orang selintas yang mau kamu peralat untuk ngerjain pracetak buku yang akan kamu terbitkan. Suruhlah mereka ngetik naskah. Katakan bahwa honor dia akan kamu bayar setelah ada uang yang masuk dari hasil penjualan buku tersebut.

Honor pengetikan naskah tua Rasa Mardika karya Mas Marco Kartodikromo, misalnya, kamu tentukan saja Rp 1.000 per halaman-jadi (403-4-3) 1,5 spasi. Kalau hasilnya adalah 200 halaman, maka utang pertamamu tentu saja Rp 200.000. Santailah, utang segitu sih bakal mudah dilunasi kalau kamu jualan buku Marco. Laku tuh barang. Eh, kalau mau sih kamu juga bisa ngetik sendiri. Lumayan menghemat, kan?

Gimana kalau ternyata kamu mau nerjemahin naskah tua berbahasa Inggris?

Misalnya kamu mau nerbitin Notes from Underground-nya Fyodor Dostoevsky, maka kamu harus punya penerjemah yang bagus cara kerja dan hasil kerjanya. Kalau kamu ngerasa mampu, ya terjemahin aja sendiri. Paling hasilnya jelek. Makanya, carilah orang yang bisa nerjemahin naskah itu dengan baik. Gak ngawur, taat deadline, dan mau dibayar sesuai kemampuanmu. Ideal banget, ya? Ada gitu yang mau? Ada aja, tentu. Asal kamu mau nyari, pasti nemu.

Cara bayarnya entar gimana?

Jawaban: Gunakan mulutmu untuk merayu si penerjemah.

Honor untuk kerja nerjemahin itu gak ada standar bakunya. Bikin aja pakai sistem royalti. Bilang ke dia kalau ini model penerbitan kere, atau bahasa kerennya “penerbitan indie”. Royaltinya 15%, dikalikan oplah 300 eksemplar, dikalikan harga netto buku ketika dijual. Contoh ngitung riilnya gini: 15% x 300 eksemplar x Rp 50.000 = Rp 2.250.000.

Gede ya? Ah nggak, nerjemahin kan kerjaan susah. Lagipula kamu bisa bayar nyicil 2 atau 3 kali ke dia, terhitung sejak bulan pertama setelah penjualan. Oke, inilah utang pertamamu untuk penerbitan buku terjemahan gaya kere.

Naskah udah siap, utang udah tercatat. Berikutnya adalah ngedit supaya naskah itu enak dibaca dan gak ngawur. Siapa yang mau ngedit? Ya editor dong. Siapa? Kalau bisa, ya kamu. Kalau kamu gak mampu, atau males, kasih aja kerjaan itu ke orang lain. Bilang entar dibayar kalau bukunya dah laku. Honornya anggap aja Rp 3.000 per halaman. Dikali 200 halaman, maka utang mutakhirmu adalah honor ngedit sebesar Rp 600.000. Dicatat lho.

Naskahnya udah diedit? Selanjutnya ya di-setting dong, alias dibikin desain isinya. Kamu pasti gak paham software InDesign atau CorelDraw, makanya…kasih kerjaan itu ke profesional yang honornya terjangkau. Paling entar kamu cuma perlu bayar dia Rp 200.000. Ini utangmu kesekian.

Kerjaan berikutnya adalah bikin desain kover bukumu. Honornya Rp 300.000. Kapan si desainer itu kamu bayar? Ya jelas, entar dong. Orang bukunya saja belum terbit kok.

Sudah berapa banyak utangmu? Kalau naskah lokal: (1) Ngetik Rp 200.000 + (2) Ngedit Rp 600.000 + (3) Nyetting Rp 200.000 + (4) Desain kover Rp 300.000 = Rp 1.300.000. Kalau naskah terjemahan: (1) Nerjemahin Rp 2.250.000 + (2) Ngedit Rp 600.000 + (3) Nyetting Rp 200.000 + (4) Desain kover Rp 300.000 = Rp 3.350.000.

Sekarang naskahnya tinggal dicetak ya. Kalau model Print On Demand (POD) begini: isinya POD, sampulnya dicetak offset. Itu pilihan pertama, hasilnya oke. Bisa juga isi dan kovernya dicetak offset.

Cara ngitung dengan pola POD-offset:

Harga cetak isi per buku Rp 15.000 x oplah 300 eksemplar = Rp 4.500.000

Harga cetak 300 kover = Rp 500.000

Jumlah = Rp 5.000.000

Kalkulasi biaya total penerbitan: (1) Ongkos pracetak buku lokal Rp 1.300.000 + Rp 5.000.000 = Total Rp 6.300.000. Berapa ongkos total per buku? Ya hitung saja Rp 6.300.000 : 300 eksemplar = @ Rp 21.000.

Cara ngitung dengan pola offset-offset:

Harga cetak isi per buku Rp 8.000 x oplah 300 eksemplar = Rp 2.400.000

Harga cetak 300 kover = Rp 500.000

Jumlah = Rp 2.900.000

Kalkulasi biaya total penerbitan: (1) Ongkos pracetak buku lokal Rp 1.300.000 + Rp 2.900.000 = Total Rp 4.200.000. Berapa ongkos total per buku? Ya hitung saja Rp 4.200.000 : 300 eksemplar = @ Rp 14.000.

 

Bukunya sudah terbit, ya. Mau dijual, kan? Mari kita hitung harga jualnya.

Pola offset-POD:

Ongkos produksi Rp 21.000 x 4 = Banderol @ Rp 84.000.

Diskon reseller online/offline untuk pembelian minimum 3 eksemplar adalah 30%, maka Rp 84.000 – 30% = Rp 58.800. Diskon untuk pembelian satuan adalah 10%, maka Rp 84.000 – 10% = Rp 71.600. Ambil rata-rata diskon 20% untuk semua buku ini sehingga Rp 84.000 – 20% = Rp 67.200. Total pemasukan kalau semua buku itu terjual adalah Rp 67.200 x 300 eksemplar = Rp 20.160.000. Ngitung keuntungan: Rp 20.160.000 – modal Rp 6.000.000 = Rp 14.160.000. Itu udah bersih, utangmu untuk segala urusan pracetak dan cetak pun udah terbayar. Keren, ya?

Kalau pakai offset-offset kamu malah lebih enak. Modal produksi per biji Rp 14.000. Tinggal kamu pakai saja rumus kayak untuk pola offset-POD. Yang jelas kalau pakai pola offset-offset, biasanya harga jual buku itu gak bakal semahal offset-POD.

Cara kere nerbitin buku inilah yang biasa dipakai anak-anak Jogja. Banyak hal yang bikin cara ini mudah dipraktekin di kota kami: banyaknya desainer grafis freelance, percetakan yang bisa diajak rembukan soal pembayaran, dan lain-lain. Bahkan, kalau kamu gak mau belajar ngerjain semua itu sendirian, kamu bisa ngelempar kerjaaannya sepenuhnya ke penerbit-penerbit indie yang melayani jasa produksi, kayak Diandra Creative dan Indie Book Corner.

Oh iya, jangan lupa soal legalisasi penerbitan dan ISBN bukumu. Ah, tapi itu sepele. Entar kita ngobrol lagi saja ya. Sekalian nanti kita ngopi dan ngerembuk teknik jualan paling yahud untuk buku-buku alternatif.

Cukup ya.

Selamat berjuang. Semoga kamu gak ngandelin lowongan CPNS yang kamu pikir bisa nyelametin hidupmu.


Adhe
Adhe adalah salah satu tokoh perbukuan Jogja. Penulis buku Declare, dan saat ini berdiri di balik penerbit Octopus.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara