Seorang cendekiawan selalu akrab dengan buku. Sosok sekelas Cak Nur misalnya bahkan mengatakan bahwa buku adalah "istri pertama"-nya. Setelah meninggalnya seorang cendekiawan, nasib koleksi buku mereka beragam.

 “Saya seperti kehilangan Cak Nur lagi.” Kalimat itu disampaikan dengan suara parau oleh Omi Nurcholish Madjid, istri Nurcholish Madjid dalam sambutan keluarga di acara peresmian Perpustakaan Prof. Dr. Nurcholish Madjid di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 03 November 2017. Selain istri, juga ada dua anak dan menantu Cak Nur yang memberikan sekilas sambutan tentang buku yang membersamai mereka selama puluhan tahun sampai akhirnya buku itu harus dikeluarkan dari rumah, menjadi milik publik.

Omi yang mengenakan busana putih pada waktu itu menceritakan, “buku-buku itu jiwa-raga Cak Nur.” Kita dihentak sebuah pernyataan kecil, buku-buku yang tetap menghuni rumah menghadirkan sosok suami dan papa, sebutan anak untuk Cak Nur. Kesibukan ibadah membaca dan menulis masih dirasakan keluarga. Pun peristiwa lain di sekitar buku yang tertata di rak menemani keseharian mereka meski secara ragawi Cak Nur telah tiada.

Perpustakaan Prof. Dr. Nurcholish Madjid

Keluarga Cak Nur mengakui sangat berat ‘melepas’ buku-buku itu sekaligus menyadari dan mengakui buku-buku akan lebih bermakna saat bisa diakses oleh banyak pembaca daripada sering berdebu, jarang terjamah tangan dan mata pembaca. Selain itu, anak-anak Cak Nur, sebagai pewaris buku-buku papa mereka, tidak berada di jalur keilmuan yang dulu pernah dipilih dan ditekuni Cak Nur. Mikail, anak laki-laki Cak Nur mengakui kurang lebih seperti ini: “kalau nunggu saya senang membaca membutuhkan waktu lama”. Bagi mereka, sudah sewajarnya buku beralih ruang seperti pernah diputuskan oleh keluarga intelektual lain di Indonesia.

Omi Madjid dan dua anaknya, Nadia dan Mikail, bercerita di podium tentang keluarga berbuku dalam kehidupan mereka bersama Cak Nur. Di pangkuan papa, Nadia dan Mikail kecil tidak hanya diajak bermain, hal yang lumrah mereka lihat, tapi selalu ada buku-buku di tangan papa. Kita bisa membayangkan, buku-buku bergantian judul di tangan papa ditangkap mata anak, menjadi mainan sekaligus teladan keluarga berbuku meski pada akhirnya etos hidup berbuku tidak mereka warisi.

Gunting pita peresmian perpustakaan oleh Omi Madjid

Cerita Omi sebagai istri pembaca dan penulis buku bisa juga dijumpai dalam sebuah seri video dokumenter Maestro Indonesia tentang Cak Nur yang dibawakan oleh Nicholas Saputra. Dalam video berdurasi 16 menit 33 detik itu, Omi bercerita usai akad nikah dilangsungkan, saat isi koper hendak ditata di lemari, separuh isi koper memuat buku-buku. Omi dengan tersenyum bercerita kalau buku-buku menjadi “istri” pertama Cak Nur. Buku-buku dan mushaf Alquran itu tidak pernah dilupakan Cak Nur di rumah ataupun di luar rumah.

Kita berimajinasi, barangkali: dalam benak Cak Nur usai akad nikah dengan koper penuh buku, dia ingin membangun keluarga di bawah naungan buku, membentuk keluarga beretos buku, keluarga pecandu buku.

*

Seperti banyak diketahui publik, kepustakaan Cak Nur berpijak pada tradisionalisme Islam (turats) yang kuat dan modernisme Islam. Modernisme Islam Cak Nur ingin mencapai keselarasan Islam dan tradisi lokal Indonesia dengan nalar kontekstualisasi arus perubahan zaman. Dari semua gagasan yang dirumuskan Cak Nur, kita mengenal sumbangan terbesar Cak Nur dalam buku Keindonesiaan, Keislaman dan Kemoderenan. Buku ini menjadi salah satu tonggak pemikiran keislaman di Indonesia. Tentu semua pemikiran Cak Nur dibangun dan ditopang dengan pengumpulan buku selama puluhan tahun yang menjadi koleksinya. Inilah saksi nyata kerja intelektual Cak Nur!

Kini, buku-buku warisan Cak Nur diwakafkan ke FAH UIN Jakarta, fakultas tempat Cak Nur belajar dan mengabdi. Di FAH, perpustakaan Prof. Dr. Nurcholish Madjid terpisah dari perpustakaan fakultas. Perpustakaan ini menampung koleksi pustaka Cak Nur yang berjumlah 6000-an buku dalam berbagai bahasa mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, juga bahasa Arab. Buku yang dikumpulkan selama menjadi pembelajar di dalam atau di luar negeri.

Acara peresmian perpustakaan ini diawali dengan seminar bertema “Kepustakaan Pembentuk Pemikiran Cak Nur: Relasinya dengan Konteks Sosial”. Azyumardi Azra, Yudi Latif dan M. Wahyudin Nafis menjadi pembicara untuk mengenang, bercerita persahabatan, dan pergulatan gagasan mereka dengan Cak Nur.

Kalau Azra bercerita keterlibatan dirinya dengan gagasan Cak Nur, Yudi Latif justru sempat mengajukan pertanyaan makna hibah buku di zaman media sosial, zaman yang memungkinkan hanya sebagian kecil mahasiswa nekat untuk menjadi pembaca buku. Dengan seloroh, Yudi Latif mengatakan bahwa Fakultas Adab dan Humaniora perlu ‘diadabkan’ kembali dengan gagasan-gagasan peradaban yang dulu pernah ditulis Cak Nur.

Yudi Latif-M Wahyudi  Nafis-Azyumardi Azra dalam Diskusi Pemikiran Cak Nur

Satu institusi keilmuan (mungkin) bisa sedikit lebih gampang menerima hibah buku dan beradab buku. Tapi kenapa kita seperti selalu mewarisi kegagalan kaum cendekiawan yang gagal mewariskan etos berbuku kepada keluarga mereka sendiri?

*

Dalam liputan majalah Tempo edisi 20 September 2015, kita mendapat berita nasib buku koleksi intelektual-intelektual di Indonesia. Ribuan buku intelektual yang sudah meninggal ada yang terselematkan dengan pembentukan perpustakaan umum seperti warisan buku Moh. Hatta di Yogyakarta. Ada yang dirawat dan dikelola mandiri oleh keluarga seperti koleksi buku Kuntowijoyo untuk publik pembaca. Ada yang diserahkan ke perpustakaan-perpustakaan kampus tempat sang intelektual dulu mengajar dan mengabdi, seperti koleksi Nurcholish Madjid sekarang atau koleksi sejarawan Sartono Kartodirdjo (meski bukan di perpustakaan UGM tapi di Sanata Dharma).

Yang paling mengenaskan adalah saat buku-buku warisan intelektual berakhir di toko loakan dan semua itu dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Puluhan tahun buku dibeli dan dikoleksi, dengan menyicil atau menghutang, lalu tiba-tiba terjual (terbuang?) dalam waktu singkat. Di Jakarta, banyak keluarga tidak siap menjadi pewaris buku-buku suami atau orangtua mereka seperti kisah koleksi buku Adam Malik. Tidak ada usaha penyelamatan atau penghormatan paling kecil yang dilakukan keluarga, alih-alih mereka menjualnya ke pedagang buku loakan dengan harga kecil atau besar. Buku-buku itu disingkirkan dari rumah.

Itulah yang dialami nasib buku Wiratmo Soekito, yang ditemukan bertumpuk di sebuah toko buku loak di kawasan terminal Pasar Senen. Jose Rizal Manua, sutradara teater anak-anak berhasil menyelamatkannya meski diyakini itu hanya sebagian kecil dari ribuan koleksi yang pernah dimiliki Wiratmo. Dari penyelidikan kecil Jose Rizal Manua yang ditanyakan kepada pedagang, buku-buku dijual oleh keluarga almarhum Wiratmo.

Sejak Wiratmo meninggal pada tahun 2001, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai tempat Wiratmo mengajar pernah meminta secara resmi kepada keluarga dengan mengirimkan surat agar keluarga menghibahkan buku itu ke perpustakaan kampus tapi keluarga menolak dan memilihnya ‘membuang’ ke toko buku loak. Barangkali ekonomi keluarga sedang terancam, dan menyimpan buku disimpulkan sebagai kerugian ruang, apalagi tanpa ada yang mau membacanya.

Saat bagi sebagian keluarga, perpindahan buku dari rumah menuju ruang publik dianggap episode hidup paling berat, bagi sebagian ahli waris lain justru menjadi episode paling remeh dan sepele. Keluarga tidak pernah mempertimbangkan jejaring persahabatan almarhum suami atau bapak mereka atau mahasiswa-mahasiswa di kampus sebagai kaum pewaris yang memungkinkan menjadi pembaca buku-buku itu.

Selain Wiratmo, ada museum Adam Malik yang terpaksa ditutup pada tahun 2005. Selain banyak buku yang hilang, keramik-keramik koleksi mantan presiden itu juga banyak yang hilang. Para arkeolog Indonesia berduka atas semua ini, terutama atas hilangnya salah satu dari koleksi keramik-prasasti Adam Malik bernama Shankara. Padahal keramik Shankara menjelaskan di zaman Borobudur hanya ada satu dinasti bernama Syailendra. Dan sialnya, Shankara dijual oleh keluarga ke tukang loak yang lewat di depan rumah mereka!

*

Tampaknya, jika dibandingkan dengan nasib buku keluarga intelektual di Jakarta, buku-buku intelektual lebih bernasib mujur di Yogyakarta. Buku-buku ada yang dibentuk menjadi perpustakaan umum bergandeng dengan yayasan seperti koleksi buku Umar Kayam di kawasan Bausasran, Yogyakarta. Yayasan Umar Kayam yang didirikan sejak tahun 2009 hanya menampung sebagian kecil buku Kayam yang dihibahkan keluarga, sekitar 1500 koleksi.

Dalam cerita buku warisan Kayam, kita masih menemukan penghormatan keluarga merawat buku Kayam dengan membaginya menjadi milik publik dan sebagian lain tetap berada di rumah. Kusen, pengelola yayasan, meyakini koleksi Kayam melampaui jumlah yang dihibahkan. Kita pun tahu, keluarga masih menginginkan Kayam hidup di rumah dengan membiarkan sebagian buku tetap menghuni rumah.

Selain Umar Kayam, buku-buku Kuntowijoyo justru lebih dipertahankan untuk tetap menghuni rumah meski sudah pernah mendapat surat lamaran dari perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat Kunto mengajar. Susilaningsih, istri almarhum Kuntowijoyo, bercerita untuk membiarkan buku tetap di tempatnya, dalam tatanan yang hampir sama dengan waktu Kuntowijoyo masih hidup. Tatanan buku yang tidak rapi justru lebih menghadirkan sosok suami. Tanpa katalog seperti pengakuannya, Kuntowijoyo tetap bisa menemukan buku yang diperlukannya.

Susilaningsih juga bercerita kehadiran buku-buku di rumah itu tidak pernah diketahuinya dengan jelas, buku-buku itu tiba-tiba hadir begitu saja dan biasanya dari perjalanan dinas baik ke luar kota atau luar negeri. Buku-buku beragam keilmuan dan beragam bahasa membentuk Kuntowijoyo menjadi intelektual ampuh. Dari ilmu budaya, sastra, budaya, agama, sejarah pernah dibacanya.

Intelektual lain di Yogyakarta seperti Sartono Kartodirdjo lebih memilih mewariskan buku-bukunya ke ruang publik. Seperti wasiat yang disampaikan pada keluarga, buku-buku itu akan lebih aman dan bermakna di hadapan masyarakat luas. Keluarga menjalankan wasiat itu dengan amanah. Sejak Kartono meninggal, buku-buku itu ditawarkan oleh keluarga ke Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tempat mengajar Sartono tapi pihak kampus tidak menerima tawaran itu dan malah kampus sebelah, Universitas Sanata Dharma memilih untuk merawat buku Sartono.

*

Dari masa ke masa, kita akan terus mendapat cerita nasib koleksi buku para intelektual Indonesia. Nasib semua buku itu sangat ditentukan oleh kualitas dan dedikasi intelektualitas anak-anak mereka: dijual, dihibahkan, atau tetap mendekam di rumah (entah dibaca atau jadi pajangan saja). Banyak anak intelektual Indonesia memilih menekuni bidang lain dan akhirnya buku-buku menemui babak paling gawat dan mengenaskan: sering para cendekiawan itu begitu menggebu mendidik publik agar cinta pustaka, tapi justru sering gagal mewariskan etos berbuku pada anak-anak mereka.

Mewarisi ribuan buku memang jauh lebih rumit daripada mewarisi kekayaan harta benda lain. Saya pun tidak menganggap pernyataan Yudi Latif sebagai kecandan lagi: “Saya juga tidak tahu nasib buku saya di masa mendatang, anak-anak saya tidak ada yang suka membaca, hahahaha.”


Mutimmatun Nadhifah
Mahasiswa Pengkajian Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tempo, Kompas, Jawa Pos, Solopos, Lampung Post, Radar Surabaya dan Majalah Basis. Tulisannya terkumpul juga dalam beberapa buku bersama.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara