13 Aug 2017 Doel Rohim Bicara Buku

Suatu hari dulu pernah ada ramalan bahwa buku konvensional akan dikalahkan oleh buku elektronik. Kenyataan menunjukkan bahwa sampai kini buku konvensional masih tak tergantikan posisinya. Kenapa?

DALAM SEBUAH cerita pada tahun 1949, seorang guru berasal dari Spanyol, Ruiz Robles, sedang mengamati muridnya yang sedang mengangkut setumpuk buku yang berbeda-beda, untuk satu hari kegiatan belajar di sekolah. Dalam hati Ruiz timbul keinginan untuk meringankan beban murid-muridnya tersebut.

Ruiz kemudian menciptakan alat baca otomatis, berbentuk seperti koper kecil, yang digunakan oleh murid-muridnya untuk membaca beberapa buah buku dalam satu perangkat. Alat ciptaannya tersebut pada akhirnya dijadikan sebagai prototipe pembaca e-book, buku elektronik, seperti Kindle atau Nooks: alat yang digunakan untuk membaca buku elektronik pada generasi selanjutnya .

Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang setiap orang hanya memerlukan sebuah gawai untuk mengakses e-book. Adanya website hingga platform yang menyediakan jasa layanan e-book,  menjadikan masyarakat kian mudah mengakses buku digital. Seperti itulah sedikit cerita tentang sejarah awal mula e-book  hingga saat ini, tidak begitu mengesankan sebenarnya, terutama jika dibandingkan dengan bagaimana buku cetak telah menorehkan catatan panjang tentang sejarah peradaban dan kebudayaan manusia.

Kalau kita lihat lebih jauh, awal munculnya e-book memang tidak berdasarkan pada landasan epistemologi yang kuat. Hal ini bisa  dijelaskan dengan munculnya e-book yang didasarkan pada kegelisahan seseorang yang tidak menghargai proses. Padahal kalau kita lihat cerita di atas, Ruiz Robles  hanya ingin meringankan beban muridnya. Kalau saya pikir, andai saja Ruiz Robles menghargai proses, ketika melihat muridnya dia seharusnya senang melihat muridnya yang rajin dengan membawa banyak buku.

Begitu pula munculnya e-book juga dilandasi oleh ekspansi modernitas yang mendewakan teknologi dengan semboyan efektfitas dan efisiensi. Dari hal tersebut menurut saya, e-book sebenarnya muncul didasarkan pada kepentingan pasar teknologi yang sedang berkembang pesat. Karena itulah munculnya e-book bukan lantas mempermudah manusia, tetapi justru sebaliknya, efek merusak mata misalnya, dan bentuk apresiasi terhadap karya tidak lagi dapat dilakukan secara material, melainkan sebaliknya berbentuk digital.

Pada dasarnya saya tidak begitu suka dengan e-book, yang jelas seperti itu. Maka jangan salahkan kalau argumen di atas tidak berdasarkan objektifitas yang jelas. Walaupun seperti itu, dalam tulisan ini saya berusaha membangun argumen bahwa e-book memang belum relevan di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dengan salah satu liputan yang dilakukan oleh salah satu pers mahasiswa, Balairung, pada tahun 2016 lalu, yang menemukan fakta bahwa pasar e-book masih sepi dan masih belum banyak diminati.

Dalam perkembangannya, memang beberapa penerbit lokal nampak sudah mulai melakukan digitalisasi buku. Seperti penerbit Bentang Pustaka dan Kanisius, semuanya sudah mulai merintis penerbitan digital. Dalam liputan itu, dijelaskan seperti yang dilakukan oleh penerbit Kanisius sebenarnya telah memberikan perhatian terhadap e-book sejak sepuluh tahun yang lalu. Dari hal tersebut akhirnya pada tahun 2011, penerbit Kanisius memebentuk divisi baru yang bernama digital publishing. Dalam pernyataan salah satu pegawainya, yaitu Rini, dijelaskan bahwa dibentuknya divisi ini ditujukan untuk mengeksplorasi penerbitan digital lebih dalam lagi, mualai dari format digital publishing, pengkonvensian, hingga pemasarannya.

Selain penerbit Kanisius, penerbit  Bentang Pustaka juga telah merespon adanya perkembangan pasar digital. Menurut penuturan Salman Faridi, CEO Bentang, dinyatakan bahwa penerbitannya telah memproduksi e-book sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya perkembangan pasar digital telah membuat konsumen terbiasa dengan bacaan yang lebih pendek dari segi jumlah halaman.

Walaupun demikian, ternyata upaya mengkonvensikan buku cetak ke dalam buku digital tidak menjadi prioritas utama setiap penerbit di atas. Hal ini dibuktikan dengan data yang didapatkan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) tahun 2016, yang menyebutkan bahwa 95% penerbit belum tertarik untuk mengembangakan buku digital. Di samping itu, IKAPI juga menunjukan bahwa pada tahun 2010 pertumbuhan e-book hanya tumbuh 2% saja.

Banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh para penerbit, salah satunya mengenai keuntungan yang didapatkan dari penujualan buku digital tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Eka Indrianto, salah satu anggota tim riset di Information and Comunication Technology For Developmen UGM, perbandingan penjualan buku cetak dengan buku digital hanya satu banding lima hingga satu banding enam saja. Mengenai keuntungan ini penerbit Kanisius juga menyatakan bahwa setiap tahun hanya dapat penghasilan sekitar 70 juta dari penerbitan digital, sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan penerbitan cetak yang mencapai 40 miliyar. Masih menurut Rini pula, pendapatan buku digital tersebut masih lebih rendah dari investasi yang dikeluarkan.

Di samping itu, lesunya pasar e-book juga dipengaruhi oleh konsumen yang masih banyak  memilih buku konvensional dibandingkan dengan buku digital. Salah satu teman saya yang sangat gemar membaca buku, Zulfan Arif, menyatakan bahwa dirinya lebih suka dengan buku cetak, karena lebih mempunyai nilai prestise dan terutama tidak merusak mata. Di samping itu, alasannya adalah ini:

“Dengan e-book mobilitasnya terbatasi, karena membutuhkan saluran listrik, apalagi kalau mengunakan laptop untuk membaca, sangat ribet.”

Selain berkaitan dengan kenyamanan, belum menyebar luasnya akses internet terutama di Indonesia menjadi persoalan tersendiri bagi popularitas e-book. Apalagi dengan budaya literasi masyarakat kita, sudah mau baca buku cetak aja sudah bagus. Belum lagi untuk buku cetak saja bahkan di beberapa daerah aksesnya masih sangat minim dan belum maksimal penyebarannya. Dalam kondisi semacam itu, membicatakan e-book saya rasa masih melangit, belum membumi.

Begitulah kiranya beberapa catatan tentang e-book yang dapat saya himpun, dengan segenap kecintaan saya dengan buku cetak. Intinya, sampai kapanpun e-book tidak akan dapat menggantikan kemesraan saya dengan buku cetak. Kalau boleh dikatakan secepat apapun perkembangan teknologi dan secepat apapun mobilitas seseorang, banyak orang masih memilih membaca buku cetak.

Kalau saya pribadi alasannya sederhana: dengan buku cetak, setiap lembaran yang dibalik memberikan cerita tersendiri tentang cakrawala pengetahuan, sedangkan bau kertasnya sendiri mengisyaratkan ketenangan. Dan buku cetak, pada akhirnya, menjelma sebagai teman, sebagaimana juga pasangan.


Kredit Gambar : wall street journal
Doel Rohim
Pegiat Lembaga Pres Mahasiswa Arena UIN Sunan Kalijaga, mahasiswa yang malas cepat lulus, senang membaca buku sampai tertidur.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara